loading...

Faktor Yang Mempengaruhi Kebutuhan Air Minum Pada Ternak

Posted by

Cara Menghitung Kebutuhan Air Minum Pada Ternak Sapi Perah
 

Keberhasilan usaha peternakan baik itu peternakan sapi potong, sapi perah, kambing, domba, itik dan ayam sangat dipengaruhi ketersediaan air minum yang berkualitas. Seperti diketahui manusi saja masih bisa bertahan beberpa hari tanpa makanan asal tersedia air minum. Demikian juga pada binatang ternak, air minum merupakan sarana vital yang sangat diperlukan ternak.



Kenutuhan air minum pada masing-masing ternak memang berbeda-beda. Ada yang membutuhkan air minum dalam jumlah besar dan harus selalu ada setiap saat, tetapi ada juga yang hanya butuh air sekedarnya saja dan bahkan jika terlalu banyak akan mengganggu pencernaan hewan tersebut.


Ternak besar seperti sapi potong dan apalagi sapi perah sangat membutuhkan air minum dalam jumlah banyak dan berkualitas. Jumlah air yang dibutuhkan bisa berbeda-beda pada kondisi tertentu dan banyak faktor yang bisa mempengaruhinya. Kebutuhan air  pada masing-masing hewan sangat bervariasi tergantung oleh berbagai factor seperti:
  • Jenis dan ukuran tubuh hewan. Semakin besar tubuh hewan tentu semakin besar pula kebutuhan air.
  • Status fisiologis hewan. Hewan bunting, menyusui dan pada masa pertumbuhan membutukan lebih banyak air. Sapi yang menyusui membutuhkan tambahan 0,86 kg air/kg susu. Sapi bunting dan pedet meningkatkan konsumsi air 30-50%
  • Tingkat aktifitas. Hewan yang sering beraktifitas tentu saja membutuhkan air minum yang lebih banyak
  • Jenis dan kualitas pakan/Dry matter intake (DMI). Hewan yang di beri Pakan kering membutuhkan air yang lebih banyak daripada yang diberikan pakan basah. Terbatasnya air akan menurunkan intake pakan (DMI)
  • Kualitas air. Rasa dan salinitas air mempengaruhi jumlah air yang konsumsi.
  • Jarak dan ukuran Tempat air minum. Sedikitnya tempat minum atau terlalu padatnya populasi memungkinkan terjadinya kesulitan mendapatkan air pada beberapa ternak
  • Temperature air. Hewan pada umumnya menyukai air dengan suhu lebih rendah dari suhu tubuhnya. Air yang terlalu dingin atau terlalu panas tidak disukai hewan ternak.
  • Temperature udara
Kebutuhan air di penuhi melalui 3 sumber yaitu dari:
  • air minum
  • air yang terkandung dalam pakan
  • air dari hasil metabolisme tubuh
Memprediksi Kebutuhan air minum untuk  sapi perah
Sapi perah membutuhkan air dalam jumlah yang cukup banyak karena sebagian besar komponen penyusun susu (87%) adalah air. Berbagai penelitian telah dilakukan untuk menghitung berapa banyak kebutuhan air minum pada sapi perah. Salah satu rumus yang sering dipakai untuk mengetahui kebutuhan air minum pada sapi perah per hari ialah:

Drinking water intake (kg/d) = 15.99 + (1.58 x DMI, kg/d) + (0.9 x milk, kg/d) + (0.05 x Na intake, g/d) + (1.20 x min temp C) (Murphy et al., 1983)
 
Sedangkan untuk sapi kering kandang :
Free water intake (kg/d) = -10.34 + (0.2296 x dry matter % of diet) + 0.2212 x DMI (kg/d) + (0.03944 x (CP% of diet)2) (Holter and Urban, 1992)*CP: Crude protein
Tipe sapi
Produksi susu
(kg/hari)
Range konsumsi air
(Lt/hari)
Rata-rata konsumsi air
(Lt/hari)
Pedet (1 – 4 bulan)
4,9 – 13,2
9
Dara (5 – 24 bulan)
14,4 – 36,3
25
Induk Laktasi
13,6
68 – 83
115
22,7
87 – 102
36,3
114 – 136
45,5
132 – 155
Induk kering
34 – 49
41
Kualitas air minum
·Salinitas , Total Dissolved Solids (TDS)
Salinitas adalah tingkat keasinan atau kadar garam yang terlarut dalam air. TDS (Total Dissolve Solid) yaitu ukuran zat terlarut (baik itu zat organic maupun anorganic, mis : garam, dll) yang terdapat dalam air. Salinitas sering kali di ukur sebagai TDS atau TSS yang menggunakan satuan ppm (parts per million) setara dengan mg/l atau µg/ml. Salinitas bisa juga diukur dengan electrical conductivity (EC) dengan satuan micro ohms per centimeter (µmhos/cm), dimana 1ppm mendekati 3/5 µmhos/cm.
Salinitas
Keterangan
Kurang dari 1000 ppm
(kurang dari 1670 µmhos/cm)
Bagus untuk air minum
1000 ppm – 2999 ppm
(1670µmhos/cm – 5008 µmhos/cm)
Aman digunakan untuk berbagai jenis hewan ternak.Walaupun kadang menyebabkan sedikit diare pada hewan yang sensitive tetapi tidak menganggu kesehatan
3000 ppm – 4999 ppm
(5010µmhos/cm – 8348 µmhos/cm)
Boleh digunakan sebagai air minum tetapi kadang menyebabkan diare pada hewan ternak dan jelek untuk air minum unggas.
5000 ppm – 6999 ppm
(8350µmhos/cm – 11688 µmhos/cm)
Boleh digunakan sebagai air minum pada hewan ternak, tetapi jangan diberikan untuk hewan bunting dan menyusui.
Dapat menghambat pertumbuhan dan meningkatkan angka kematian pada unggas
7000 ppm – 10.000 ppm
(11690µmhos/cm – 16700 µmhos/cm)
Menyebabkan heat stress, kehilangan
air dlm tubuh, dan berbahaya untuk hewan bunting
Lebih dari 10.000 ppm
( lebih dari 16.700 µmhos/cm)
Tidak direkomendasikan untuk air minum
35.000 ppm
(58450µmhos/cm)
Air asin, efek tergantung zat yang terkandung
Tingkat Kesadahan / Hardness
Merupakan banyaknya kandungan ion Ca2+ dan Mg2+ dalam air. Kesadahan juga di pengaruhi oleh adanya polyvalent metal seperti Al, Fe, Mn, Sr dan Zn. Air dikatakan sadah jika kandungan ion dari mineral tersebut tinggi. Dan dikatakan lunak (soft) jika kandungan kandngan ion tersebut rendah.
Klasifikasi air berdasarkan kesadahan
Tingkat kesadahan
Ppm (CaCo3)
Lunak (Soft)
0 – 60
Agak sadah (moderat)
60 – 120
Sadah (hard)
120 – 180
Sangat sadah ( very hard)
Lebih dari 180
Tingkat kesadahan tinggi tidak begitu berpengaruh pada sapi hingga 290 ppm. Air sadah sering menyebabkan terjadinya kerak pada wadah atau pipa saluran air.
·
pH
Air minm untuk hewan ternak termasuk sapi perah sebaiknya pH berkisar antara 6.0 – 8.0 (mendekati netral). pH yang terlalu tinggi (basa) atau terlalu rendah (asam) bias menyebabkan gangguan non spesifik pada saluran pencernakan, diare dan nafsu makan menurun.
·
Nitrat
Nitrogen dalam bentuk nitrat sebenarnya tidak beracu bagi sapi ruminansia, tetapi ketika di reduksi menjadi nitrit dalam rumen dan di absorbsi kedalam darah, nitrit akan menyebabkan terjadinya penurunan kemampuan Hb dalam mengikat oksigen. Pada sapi yang diberikan pakan dengan kandungan nitrat tinggi (mis: silase) dan kandungan nitat dalam air minum juga tinggi maka berbahaya. Keracunan Nitrat juga dapat menyebabkan pertumbuhan terhambat, infertilitas, abortus, defisiensi vit. A dan penurunan produksi susu.

Nitrat
/ NO3
(ppm)
Nitrat-nitogen / NO3-N
(ppm)
Keterangan
0 – 44
10
Aman digunakan sebagai air
minum untuk hewan ternak
45 – 132
11 – 20
Masih aman digunakan asal pakan tidak mengandung kadar nitrat yang tinggi
133 – 220
21 – 40
Bisa berbahaya jika dikonsumsi dalam waktu lama
221 – 660
41 – 100
Berbahaya jika diberikan, mungkin bias menyebabkan kematian pada sapi
661 – 800
101 – 200
Beresiko tinggi menyebabkan kematian
Diatas 800
Diatas 200
Jangan di gunakan sebagai air minum
·
Sulfat
Sulfat dalam air biasanya bersenyawa dengan calcium(Ca), besi(Fe), magnesium(Mg) dan sodium(Na) dan semuanya bersifat laxsative (merangsang pengeluaran feses). Hydrogen sulfide merupakan senyawa sulfat yang paling toxic. Sapi yang meminum air mengandung sulfat lebih dari 5000 mg/l dapat menurunkan konsumsi pakan dan air. Kandungan sulfat dalam air yang direkomdasikan adalah:
  • · Pedet : < 500 ppm
  • Dewasa : < 1000 ppm
·
Mikroorganisme
Air yang digunakan sebagai sumber air minum sebaiknya mempunyai jumlah total bakteri (coliform + non coliform) dibawah 200 per 100 ml. Sedangkan air dengan total bakteri lebih dari 1 juta per 100 ml sebaiknya jangan dugunakan sebagai sumber air minum.
Bakteri yang sering menyebabkan gangguan kesehatan adalah coliform. Coliform bisa berasal dari tanah (nonfecal coliform) maupun berasal dari feces (fecal coliform). Untuk pedet jumlah total dan fetal coliform harus kurang dai 1 per 100 ml. Sedangkan untuk dewasa jumlah total coliform harus kurang dari 15 per 100 ml dan untuk fecal coliform kurang dari 10 per 100 ml.
Pada sumber air yang menggenang dan tersinar matahari sering kali terdapat cyanobacteria (Blue-green algae). Beberapa jenis cyanobacteria tersebut dapat menimbulkan keracunan pada hewan ternak.
·
zat / senyawa lainnya

Cara mengurangi kontaminasi bakteri
Desinfektan
Desinfektan yang sering digunakan adalah chlorine. Chlorine merupakan senyawa oksidatif yang kuat sehingga mampu membunuh bakteri dalam konsentrasi kecil. Penggunaan chlorine untuk jangka panjang tidak direkomdasikan karena memungkinkan berikatan dengan senyawa lain membentuk trihalomethan yang bersifat karsinogenik.
Sinar ultraviolet
Efektivitas sinar uv tergantung pada kemampuan radiasinya melewati air. Pada air yang keruh perlu dilakukan filtrasi terlebih dulu agar  bisa mencapai mikroorganisme.
Mengurangi kadar Nitrat, Sulfat dan mineral dalam air
Destilasi
Prinsip destilasi adalah air dipanaskan hingga menjadi uap kemudian uap tersebut ditampung dan didinginkan kemudian air ditampung kembali (diembunkan).
Reverse osmosis (R/O)
Air dipisahkan dari  nitart sulfat dan mineral lain dengan menggunakan membrane semi permiabel dengan tekanan tinggi.
Ion exchange system (system pertukaran ion)
Air dilewatkan sebuah  bahan penukar kation (biasanya sejenis resin) yang memiliki kemampuan mengikat mineral lebih kuat. Akibatnya mineral yang terlarut dalam air akan diikat oleh resin sedang sisanya akan terus mengalir dan hasilnya adalah air yang lebih bersih.
Perlakuan
Bakteri
Sulfat
Nitrat
TDS
Hardness
Chlorine
V
Sinar UV
V
Reverse Osmosis
V
V
x
x
Destilasi
V
V
x
x
Pertukaran ion
x
x
x
x
V=menghilangkan kontaminan; x= mengurangi
kontaminan
Referensi:
D. Ward and K. McKague. 2007. Water Requirements of Livestock. Factsheet order no. 07-023. Ministry of Agriculture, Food and Rural Affairs. Ontario
Greg Markwick. 2007.Water requirements for sheep and cattle. Primefact 326. State of New South Wales. www.dpi.nsw.gov.au
Jim Linn and Mary Raeth-Knight. Water Quality and Quantity for Dairy Cattle. Department of Animal Science, University of Minnesota
Lance Brown. 2006. Livestock Watering Requirements Quantity and Quality. Livestock Watering Factsheet Order No. 590.301-1. British Columbia Ministry of Agriculture and Lands. Abbotsford, BC
Richard S. Adams and William E. Sharpe. Water intake and quality for dairy cattle. Department of Dairy and Animal Science The Pennsylvania State University. Pennsylvania
Subcommittee on Dairy Cattle Nutrition, Committee on Animal Nutrition, National Research Council. 2001. Nutrient Requirements of Dairy Cattle: 7th Revised Edition. National Academy Press. Washington D.C.

loading...

FOLLOW and JOIN to Get Update!

Social Media Widget SM Widgets




Peternakan dan Herbal Updated at: 23:00

0 komentar:

Post a Comment

Copyright@2014-2016. www.AgrobisnisInfo.com . Powered by Blogger.