loading...

Pemenuhan Bibit Sapi, Kunci Kemandirian Peternakan Sapi

Posted by

Perlunya Mengupayakan Pengadaan Bibit Ternak Sapi Secara Mandiri

Di Indonesia belum tersedia bibit ternak dengan mutu yang baik dan dalam jumlah yang cukup. Kondisi itu mendorong Balai Pembibitan Ternak Unggul – Hijauan Pakan Ternak (BPTU-HPT) SembawaSumatera Selatan berusaha menghasilkan kebutuhan bibit ternak unggul secara nasional.



Nugroho Budi Suprijatno, Kepala Balai BPTU-HPT Sembawa mengatakan, ada beberapa permasalahan dalam perbibitan ternak di Indonesia. Kelembagaan pembibitan yang ada pun belum mampu memenuhi permintaan bibit ternak.

Ia melanjutkan, permasalahan perbibitan diantaranya belum terintegrasinya antara pembibit dan peternak, baik jenis ternak maupun sebarannya. “Sumber-sumber perbibitan ternak masih relatif kecil dan tersebar sehingga menyulitkan pembinaan produksi, pengumpulan, dan distribusi bibit dalam jumlah sesuai,” papar Nugroho.

Karena itu, BPTU-HPT Sembawa diharapkan melaksanakan tugas dan fungsi dengan efisien dan optimal menghasilkan bibit sapi Brahman, baik jantan maupun betina yang unggul. Dengan potensi lanskap yang mendukung, BPTU-HPT Sembawa ditopang oleh lahan padangan luas, ternak unggul, sarana dan prasarana, serta sumber daya manusia yang berkompeten. BPTU-HPT Sembawa terletak pada 103º – 18º Lintang Selatan dan 104º - 18º Bujur Timur, berlokasi di kilometer 29 Jalan Raya Palembang-Pangkalan Balai Desa Lalang Sembawa Kecamatan Sembawa Kabupaten Banyuasin Provinsi Sumatera Selatan. “Fungsi strategis BPTU-HPT Sembawa sebagai pusat sumber bibit (Centre of Exellence) dalam pembibitan ternak,” tandas Nugroho.

Meningkatkan Populasi
Berdasarkan catatan BPTU-HPT Sembawa, sampai dengan Februari 2016, jumlah sapi Brahman mencapai 930 ekor ditambah sapi Peranakan Ongole (PO) sekitar 145 ekor. Padahal, saat awal berdiri, populasi di BPTU-HPT Sembawa hanya sekitar 200 ekor. “Jika ditotal tak kurang dari 1.075 ekor berada di BPTU-HPT Sembawa terdiri dari golongan pedet, sapihan, muda, dan dewasa,” terang Nugroho.

Ia menjelaskan, pembentukkan sapi Brahman diidentifikasi secara individu melalui seleksi kualitatif dan kuantitatif. Dalam faktor reproduksi dan kesehatan pun tak luput dari proses identifikasi. Sementara proses perkawinan dilakukan dengan teknik inseminasi buatan (IB) dan alami, menggunakan semen pejantan unggul Brahman yang diimpor dari Australia, Kanada, dan Amerika Serikat.

Untuk menghasilkan bibit sapi Brahman yang unggul dengan mutu genetik tinggi, telah dilakukan tahapan seleksi, dengan memiliki keunggulan yaitu normal dalam performa reproduksi dan sehat memenuhi persyaratan kesehatan hewan. “Pemeliharaan dan pengembangan ternak sapi mengacu pada penerapancara pembibitan yang baik atauGood Breeding Practice (GBP),” ucapnya.

BPTU-HPT Sembawa membentuk sapi Brahman berwarna putih, tidak bertanduk, berdaun telinga panjang, bergelambir, bokong besar, tahan di daerah panas dan serangan caplak, mampu beranak dengan jarak 15 – 18 bulan, serta memiliki sifat mudah beranak. Hal tersebut terlihat dari tampilan sapi yang ada, pertambahan berat badan sekurang-kurangnya 0,4 kg per hari. “Pada umur 1 tahun mencapai berat badan sekurang-kurangnya 225 kg (betina) dan berat sekurang-kurangnya 325 kg (betina pada usia dewasa),” kataNugroho.

Manajemen Breeding
Sistem pemeliharaan ternak sapi di BPTU-HPT Sembawa mengadopsi sistem padang penggembalaan dan rumput potong. Dengan kualitas tanah yang ada, maka rasio pengembangan 1 hektar lahan di padang pengembalaan dapat menampung 3 ekor sapi sepanjang tahun. “Rasio ini adalah paling ideal, sehingga pada musim penghujan terlihat berlebih. Kelebihan ini dimanfaatkan untuk persiapan musim kemarau, namun dari hasil uji laboratorium dan analisis maka rasio yang disarankan 1 hektar : 2 ekor,” jelas Nugroho. Sementara untuk rumput potong (King grass) sebanyak 15 ekor/ha/tahun.

Manajemen breeding yang dilakukan dimulai dari pemeriksaan kebuntingan. Induk bunting dipisahkan dari kawanan lainnya. Untuk ternak yang baru lahir akan dilakukan pemasangan identitas, penimbangan, dan pengukuran. Selain itu, penimbangan juga dilakukan pada umur sapih (105 hari), kemudian 205 hari, lalu ketika menginjak umur 1 dan 2 tahun. Ketika dilakukan penimbangan disertai pula dengan pengukuran performa.“Kesehatan induk dan pedet senantiasa diperhatikan. Pedet akan dipelihara sampai siap kawin. Sementara induk yang telah beranak harus segera kembali estrus untuk kebuntingan selanjutnya,” terang Nugroho.

Tahapan dan Alur Seleksi
Dengan sistem padang penggembalaan, proses pembibitan akan maksimal dilakukan. Padang rumput seluas 45 hektar dan kebun potong 25 hektar mendukung pembibitan tersebut. “Dalam satu paddock akan diisi satu populasi sapi sekitar 20 ekor selama 7 hari, sapi-sapi tersebut akan menggembala selama 2 jam per harinya. Berputar rotasi sesuai masa umurnya,” kata Kori Karim, Kepala Seksi Pelayanan Teknis BPTU-HPT Sembawa.

Satu paddock luasannya berkisar 3 hingga 5 hektar. Oktober 2015, BPTU-HPT Sembawa telah melakukan eksekusi berupa hamparan yang rencananya akan dijadikan padangan kurang lebih 75 hektar.

Dalam pola breeding, bila lahir jantan 100 ekor per tahun, maka 10% akan diperuntukan sebagai bull (pejantan penghasil sperma), sebanyak 20% pejantan untuk BIB daerah, dan 30 % pejantna untuk kawin alam. Sisanya,akan digemukkan atau apkir. Sementara untuk betina, sebanyak 10% digunakan untuk resipien/donor, sebanyak 30% untuk pengganti, dan bibis sisanyaakan disebar.Penyebaran bibit sapi sudah ke beberapa daerah, antara lain ke Jogjakarta, Lembang, Sumatera Utara, Lampung, dan Bengkulu.

Dengan sistem padang pengembalaan, tingkat stres sapi cenderung rendah dan birahi terpantau baik. Bull akan dikawinkan baik secara alami ataupun IB. Perkawinan secara alami menggunakan sapi impor induk dan semen dari Australia. Sedangkan IB menggunakan impor semen dari Amerika dan Kanada. “Jika modal bull sebanyak 200-300 ekormaka diperkirakan sebanyak 20%diantaranya memiliki sifat jeleksehingga per tahunnya dilakukan cullingatau apkir baik jantan maupun betina,” terang Kori.

Jumlah bibit unggul sapi Brahman dari BPTU-HPT Sembawaini menambah total ternak sapi bibit nasional yang telah disertifikasi setelah didirikannya LS Pro Benih dan Bibit Ternak. "Bibit sapi Brahman yang diluncurkan adalah hasil dari proses panjang hingga disertifikasi oleh LS Pro Benih dan Bibit Unggul,” katanya.

Dia berharap, dengan upaya yang dilakukan bisa mendukung swasembada bibit yang telah dicanangkan. "Dengan bibit berstandar, tentunya kita tinggal menambah populasi betina sehingga kebutuhan daging sapi nasional dapat segera terpenuhi," ujarnya.



Dengan bibit berstandar atau unggul membuat Indonesia tidak harus mengimpor pejantan. Hal itu memberikan keuntungan sangat besar lantaran biaya membeli satu ekor pejantan dari luar negeri cukup tinggi, yakni mencapai ratusan juta rupiah. "Dengan program pemurnian secara terus-menerus melalui proses uji performa dan seleksi terpilih, akhirnya kita bisa memperoleh bibit sapi Brahman sesuai dengan kualifikasi dan standar SNI(Standar Nasional Indonesia)," klaim Kori.

Sumber Trobos.com

loading...

FOLLOW and JOIN to Get Update!

Social Media Widget SM Widgets




Peternakan dan Herbal Updated at: 23:51

0 komentar:

Post a Comment

Copyright@2014-2016. www.AgrobisnisInfo.com . Powered by Blogger.