loading...

Sejarah Singkat Universitas Al-Azhar Kairo Mesir

Posted by

Sejarah Berdirinya Universitas al-Azhar

Sudah menjadi suatu kaedah tak tertulis bahwa peradaban Islam di suatu daerah selau dikaitkan dengan peran masjid jami' (masjid negara) di kawasan tersebut. Hal ini mungkin diilhami dari kerja nyata Rasulullah saw ketika hijrah kemadinah, tugas pertama yang yang beliau lakukan adalah membangun Masjid. Ini menandakan peran masjid yang tidak hanya terbatas dengan kegiatan ritual semata. Tapi lebih dari itu, masjid adalah sentral pemerintahan Islam, sarana pendidikan, mahkamah, tempat mengeluarkan fatwa, dan sebagainya.Hal inilah yang kemudian dilakukan oleh 'Amru bin 'Ash ketika menguasai wilayah Mesir. Atas perintah Khalifah Umar, Panglima Amru bin 'Ash mendirikan masjid pertama di Afrika yang kemudian dinamakan Masjid 'Amru bin 'Ash di kota Fushtath, sekaligus menjadi pusat pemerintahan Islam Mesir pada waktu itu. Selanjutnya dimasa Dinasti Abbasiyah, ibu kota pemerintahan ini berpindah lagi ke kota yang di sebut al-Qatha'i dan ditandai dengan pembangunan sebuah masjid bernama Ahmad bin Thoulun.

Masa demi masa berlalu, pemerintahanpun silih berganti hingga tiba era Daulah Fathimiyah di Mesir. Ibukota Mesir pun berpindah ke daerah baru atas perintah Khalifah al-Mu'iz Lidinillah yang menugasi panglimanya, Jauhar ash-Shiqili[16], untuk membangun pusat pemerintahan. Setelah melalui tahap pembangunan, daerah ini dinamai kota al-Qahirah.

Sebagaimana sejarah Islam masa lalu, setiap berganti daulah selalu di tandai dengan pembangunan masjid di pusat ibukota. Sehingga kurang setahun kemudian, beriringan dengan pembangunan kota al-Qahirah didirikan pula sebuah masjid bernama jami' al-Qahirah (meniru nama ibu kota). Seluruhnya masih dalam penanganan panglima Jauhar Ash-shiqili. Pada masa khalifah al-Aziz Billah[18], sekeliling Jami' al-Qahirah dibangun beberapa istana yang disebut al-Qushur az-Zahirah. Istana-istana ini sebagian besar berada di sebelah timur (kini sebelah barat Husein), sedangkan beberapa sisanya yang kecil di sebelah barat (dekat masjid al-Azhar sekarang), kedua istana dipisahkan oleh sebuah taman nan indah. Keseluruhan daerah ini dikenal sengan sebutan "Madinatul Fathimiyin al- Mulukiyah". kondisi sekitar yang begitu indah dan bercahaya ini mendorong orang menyebut Jami' al-Qahirah dengan sebutan baru, jami' Al-Azhar (berasal dari kata zahra' artinya: yang bersinar, bercahaya, berkilauan).

Masjid besar al-Azhar inilah yang kemudian menjadi pusat kajian keislaman hingga saat ini. Sebagaimana telah penulis uraikan di atas, perjalanan panjang Al-Azhar yang dibangun pertama kali pada 29 Jumada al-Ula 359 H (970 M.) oleh panglima Jauhar ash-Shiqilli lalu dibuka resmi dan shalat Jum’at bersama pada 7 Ramadhan 361 H ini telah menjelma menjadi sebuah perguruan tinggi tertua dan terbesar hingga saat ini. Al-Azhar merupakan karya terbesar dari bangunan peradaban Islam yang dibangun Dinasti Fathimiyah di Mesir.
Dinasti Fathimiyah di Mesir dapat dikatakan mengungguli prestasi Bani Abbas di Baghdad dan bani umayyah di spanyol pada saat yang sama, terutama prestasi dalam bidang ilmu pengetahuan (sains). Pengembangan sains saat itu bermula dari tradisi yang berhasil dirintis oleh khalifah al-Aziz. Ia adalah seorang sastrawan yang mempunyai perhatian besar dalam bidang sains, seperti al-Makmun di Bani Abbas. Tidak heran jika istana dijadikan sebagai pusat kegiatan keilmuan, tempat diskusi pada ulama, fuqaha, qurra’, nuhat, ahli hadits dan para pejabat yang ikut juga terlibat di dalamnya. Sebagian para pejabat dan pegawai terdiri dari para ilmuan dalam berbagai disiplin ilmu.[20]
Al-Aziz memberi gaji yang besar kepada para pengajar, sehingga banyak ulama besar pindah dari baghdad ke Kairo. Al-Azhar dijadikan sebagai pusat studi ilmu-ilmu agama baik naqli maupun aqli.

Di samping al-Azhar, pada tahun 1005 M al-Hakim mendirikan Dar al-Hikmah sebagai pusat studi pada tingkat tinggi, sehingga di dalamnya dilakukan diskusi, penelitian, penulisan dan penerjemahan serta pendidikan.

Para khalifah jauh-jauh hari menyadari bahwa kelanjutan al-Azhar tidak lepas dari segi pendanaannya. Oleh karena itu setiap khalifah memberikan harta wakaf baik dari kantong pribadi maupun kas negara. Penggagas pertama wakaf bagi al-Azhar dipelopori oleh khalifah Al-hakim bin Amrillah, lalu diikuti oleh para khalifah berikutnya serta orang-orang kaya setempat dan seluruh dunia Islam sampai saat ini -harta wakaf tersebut kabarnya pernah mencapai sepertiga dari kekayaan mesir. Dari harta wakaf inilah roda perjalanan al-Azhar bisa terus berputar, termasuk memberikan beasiswa, asrama dan pengiriman utusan al-Azhar ke berbagai penjuru dunia. Dari Masjid 'Amru bin 'Ash dan Ahmad bin Thoulun, perlahan poros pendidikan berpindah ke al-Azhar.

Perkembangan dan Dinamika Universitas al-Azhar

Sudah menjadi semacam perjanjian tak tertulis, pada setiap khalifah Daulah Fathimiyah selalu diadakan restorasi bangunan jami' Al-azhar. Hingga ketika gempa hebat sempat merusak al-azhar pada tahun 1303 M., Sultan An-Nashir yang memerintah saat itu segera merehab kembali bangunan masjid yang rusak. Ciri spesifik pemugaran bangunan mulai nampak pada masa Qansouh al-Ghouri (1509 M.)yang merestorasi satu menara Al-azhar nan indah dengan dua puncak (Manaratul Azhar Dzatu ar-Ra'sain). Penyempurnaan jami' al-azhar kembali dilanjutkan pada periode daulah Utsmani, dengan kegiatan renofasi yang tak jauh berbeda seperti sebelumnya. Puncaknya dicapai pada masa Amir Abdurrahman Katakhda (wafat 1776 M.) dengan menambah dua buah menara, mengganti mihrab dan mimbar baru, membuka lokal belajar bagi yatim piatu, membangun ruaq sebagai pemondokan mahasiswa dan pelajar asing, membuat pendopo ruang tamu, terasa tak beratap dalam masjid, dan tangki air tempat berwudhu'. singkat kata, hampir seluruh bangunan tua yang masih tersisa di masjid al-azhar kini adalah hasil karya Amir tersebut.

Fase Peralihan

Seiring gelombang pasang surut sejarah, berbagai bentuk pemerintahan silih berganti memainkan perannya dilembaga tertua ini. Selain sebagai masjid, proses penyebaran paham syi'ah turut mewarnai aktivitas awal yang dilakukan Dinasti Fhatimiyah. Khususnya dipenghujung masa Khalifah al-Mu'iz li dinillah ketika Qadhi Qudhah Abul Hasan Ali bin Nu'man Al-Qairuwani mengajarkan fiqh madzhab syi'ah dari kitab mukhtasar yang merupakan pelajaran agama pertama di masjid al-azhar pada bulan Shafar 365 Hijriah (Oktober 975 M.).
Sesudah itu proses belajar terus berlanjut dengan penekanan utama pada ilmu-ilmu agama dan bahasa, walaupun tanpa mengurangi perhatian terhadap ilmu manthiq, filsafat, kedokteran, dan ilmu falak sebagai tambahan yang diikutsertakan. Namun semenjak Shalahuddin al-Ayyubi memegang pemerintahan Mesir (tahun 567 H/1171 M.), Al-azhar sempat diistirahatkan sementara waktu sambil dibentuk lembaga pendidikan alternatif guna mengikis pengaruh syi'ah. Disinilah mulai dimasukan perubahan orientasi besar-besaran dari mazdhab syi'ah ke mazdhab sunni yang berlaku hingga sekarang.

Penutupan sementara al-Azhar dilakukan pada jangka waktu yang cukup lama, kurang lebih 98 tahun, yaitu sejak masa Shalahuddin al-Ayyubi hingga pemerintahan Dinasti Mamalik.

loading...

FOLLOW and JOIN to Get Update!

Social Media Widget SM Widgets




Peternakan dan Herbal Updated at: 12:41

0 komentar:

Post a Comment

Copyright@2014-2016. www.AgrobisnisInfo.com . Powered by Blogger.