loading...

Prospek Indigofera Sebagai Pakan Alternatif Yang Menjanjikan

Posted by

Hijauan Pakan Ternak, Indigofera. Indigofera mulanya diabaikan, kini dinilai prospektif dan sedang dikembangkan Direktorat Jenderal Peternakan Hewan (PKH) Kementerian Pertanian. Alternatif pakan tengah dicari para peternak, sebab biaya terbesar usaha peternakan yaitu penyediaan pakan yang mencapai 70-80% dari keseluruhan biaya produksi.

Mulut ke mulut banyak yang membuktikan dan banyak permintaan. Jual benih, jual tepung, jual pellet pasti laku.

"Indigofera tengah booming sebagai alternatif pakan baru. Proteinnya tinggi, mudah ditanam, bisa menghemat, ditanam di mana saja cocok. Hasil riset dari IPB yang aplikatif dan cukup prospektif, makanya kita kembangkan," ungkap Mursyid Maksum, Direktur Pakan Ditjen PKH Kementerian Pertanian, di ruangannya, Gedung C Kementerian Pertanian, Kamis (6/8).

Mursyid menjelaskan, daun dari tanaman legum ini digemari ternak seperti sapi perah, sapi potong, dan kambing. Tahun ini pihaknya memulai pilot project di beberapa daerah mengembangkan tanaman indigofera.

"Kami kembangkan mulai dari benih, sengaja kami minta tanam ke kelompok-kelompok percontohan. Beberapa kelompok pilot project bahkan sudah bisa buat tepung indigofera. Secara ekonomis lebih murah dari sumber protein yang lain termasuk jagung," terangnya.

Tanaman yang belum dimanfaatkan ini, punya nilai protein kasar tiga kali lebih besar dari jagung.
Jagung punya protein kasar 8,9% sedangkan indigofera mengandung protein kasar 27,97%. Ini yang menjadikan jenis legum ini prospektif untuk pakan ternak hijauan.

Selain itu, dengan memanfaatkan indigofera, ternak mendapat asupan protein kasar yang tinggi. Tidak hanya kenyang jerami seperti yang selama ini dilakukan peternak.

"Peternak kita selama ini orientasinya masih dikasih jerami yang banyak dan sapi kenyang. Tapi gizinya belum diperhitungkan. Sapi butuh pakan yang kualitasnya baik. Sapi butuh 14-16% protein kasar," kata Mursyid.

Respons pasar pun muncul, pabrik pakan mulai tertarik. "Peternak bisa menjual dalam bentuk tepung, pellet atau bibit. Bijinya sekarang harganya Rp 300.000/kg. Pabrik pakan mulai tertarik dengan tepungnya," ungkap Mursyid.

Meski demikian diakui Mursyid, ada kendala persaingan lahan dengan komoditas lain untuk menanam indigofera.

Padahal sebetulnya, menurut Mursyid indigofera cocok dikembangkan karena tidak bersaing penggunaannya.

"Jagung saingan dengan makanan manusia. Indogofera belum termanfaatkan, benihnya lokal, sedangkan lainnya benih masih impor. Bisa dikembangkan dimana-mana. Sudah diuji lab di Singapura. Tinggal kembangkan secara massal," tutur Mursyid.

Mursyid berharap, kelompok pilot project bisa berhasil dan direplikasi ke daerah lain. Terutama kelompok yang sudah dibantu fasilitas pengolahan tepung dan pellet. Langkah ini dapat berkontribusi menyediakan pakan yang berkualitas.

Peluang pasar pun terbuka. Mursyid ingin mencontoh Thailand yang sudah bisa menjadikan tanaman pakan ternak punya pasar sendiri.

"Kami terinspirasi Thailand yang punya pasar bibit tanaman pakan. Bibit tanaman pakan ternak saja bisa jadi pasar tersendiri. Kami ingin ke depannya seperti itu," tutupnya.

Sumber: http://www.medanbisnisdaily.com

loading...

FOLLOW and JOIN to Get Update!

Social Media Widget SM Widgets




Peternakan dan Herbal Updated at: 21:36

0 komentar:

Post a Comment

Copyright@2014-2016. www.AgrobisnisInfo.com . Powered by Blogger.