loading...

Cara Mencegah Penyakit Marek Pada Unggas

Posted by

Penyebab dan Cara Pencegahan Penyakit Marek Yang Sering Menyerang Ternak Unggas

Bisakah Penyakit Marek Diobati?. Penyakit Marek adalah suatu penyakit neoplastik dan neuropathic pada unggas, terutama ayam, disebabkan oleh virus sangat infeksius dari herpesvirus cell-associated (Adjid et al.,2002). Penyakit Marek dapat ditularkan melalui sumber infeksi berasal dari folikel bulu ayam yang terinfeksi dan secara mekanik dapat ditularkan melalui kandang yang terkontaminasi atau petugas kandang. Penyakit biasanya menyerang ayam yang berumur tiga minggu ke atas tetapi paling sering menyerang ayam yang berumur 10 − 15 minggu atau 16 − 20 minggu, walaupun demikian wabah dapat pula terjadi pada ayam berumur 60 minggu (Huminto et al., 2000).

Di Indonesia Marek telah dikenal sejak tahun 1956 yaitu dengan nama neurolimfomatosis. Meskipun berbagai macam vaksin Marek telah diproduksi dan beredar di pasaran namun kejadian Marek dilaporkan tetap terjadi secara sporadis, baik pada flok ayam yang telah divaksin terhadap Marek maupun pada flok ayam kampung yang dipelihara secara intensif (Huminto et al., 2000).

Penyakit Marek yang disebabkan oleh virus herpes serotipe 1 paling sering menyerang ayam yang berusia muda (Adjid et al.,2002) dan secara eksperimental dapat menginfeksi kalkun, burung puyuh dan itik (Damayanti et al.,2002). Manifestasi penyakit sangat bervariasi karena dalam satu flok ayam dapat terserang oleh satu atau kombinasi dari beberapa galur virus Marek.

Virus Marek ditularkan secara horizontal langsung maupun tidak langsung melalui sel epitel pada folikel bulu yang mengandung virus dan mengkontaminasi udara, kandang, peralatan dan petugas kandang. Virus ini sangat tahan terhadap lingkungan sehingga dapat bertahan hingga akhir siklus produksi. Selain ditemukan pada folikel bulu, virus juga ditemukan pada darah, mulut, hidung, mukosa trakhea dan kloaka, tetapi penularan yang efektif terjadi melalui saluran pernapasan (Shane, 1998).

Tanda-tanda dan Gejala Unggas Terserang Marek
Ada beberapa versi yang dibuat untuk mengklasifikasi gejala klinis Marek. Menurut Payne (1985) Marek terbagi atas Marek klasik dan akut. Marek klasik ditandai oleh kerusakan syaraf yang berakibat pada kelumpuhan sehingga ayam dalam posisi satu kaki ditarik ke belakang, satu kaki dijulurkan ke depan. Selain itu, dapat pula terjadi kelumpuhan sayap, tortikolis dan sesak napas. Tumor superfisial secara klinis dapat terlihat pada mata, dasar pial, kulit, jari kaki dan folikel bulu. Marek yang akut adalah Marek yang tidak ditandai dengan gejala klinis seperti di atas dan ayam tiba-tiba mati. Menurut Bambang (1992) gejala klinis Mareks Disease dapat dibedakan menjadi 4 bentuk, yakni:

1. Bentuk Neural, bentuk khas adalah jengger pucat, kelumpuhan pada sayap dan kaki.
Add caption


2. Bentuk Viceral, dengan tanda khas pada hati, ginjal, testis, ovary, dan limpha. Warnanya menjadi pucat dan hati menjadi 2 – 4 kali lebih besar dari ukuran normal.
Add caption

3. Bentuk Ocular, dengan tanda khas terjadinya kebutaanatau iris pada mata yang berwarnakelabu atau seperti mutiara.
Add caption

4. Bentuk Skin Form, dengan tanda khas terjadinya tumor di bawah kulit dan otot.
Add caption


Selain Marek klasik dan akut menempatkan transient paralysis (kelumpuhan sementara) sebagai gejala klinis yang ketiga dimana ayam tiba-tiba terserang kelumpuhan 1 − 2 hari lalu ayam sembuh kembali. Menurut Huminto (2000) kematian akut tersebut sebelumnya ditandai oleh depresi dan ataksia, tetapi jika penyakit menjadi kronis ayam terlihat pucat, anoreksia, dehidrasi, diare, pincang, lumpuh sayap, buta, sesak napas, produksi telur menurun, dan angka konversi pakan menurun. Secara klinis Ginting (1980) membagi Marek atas tiga kelompok: Marek Klasik sesuai dengan yang digambarkan oleh Marek pada tahun 1907 dengan gejala utama berupa kerusakan syaraf kronis dan pembentukan limfoma. Marek Akut yang bersifat lebih patogen dan mulai mewabah pada tahun 1950 an di berbagai negara yang ditandai dengan limfoma di berbagai organ. Marek Perakut yang bersifat paling patogen dan mulai muncul pada tahun 1980-an sampai sekarang yang ditandai dengan kematian mendadak atau early mortality syndrome (EMS).

Bagaimana Cara Penyakit Marek Menulari Unggas Lain
Hewan yang sakit ataupun hewan yang sembuh dari Marek dan menjadi karier akan mengeluarkan virus ke lingkungan. Penyakit Marek menular secara horizontal, tetapi tidak secara vertikal (Tabbu, 2000). Penularan penyakit secara horizontal dapat secara langsung maupun tidak langsung secara per inhalasi ke saluran pernafasan. Folikel bulu sampai saat ini dianggap sebagai tempat yang paling produktif dalam perkembangan virus infeksius dan sangat potensil menyebarkan infeksi, meskipun virus Marek dapat berada dalam darah, pada mulut, hidung, mukosa trakhea dan kloaka. Shane (1998) menyatakan virus MD ini kemudian mengkontaminasi lingkungan (udara, litter, debu, peralatan kandang, petugas kandang, dan lain-lain).

Penularan penyakit dari sumber infeksi potensial (folikel bulu dan debu kandang terkontaminasi virus MD, dan lain-lain) paling efektif terjadi melalui inhalasi ke saluran pernapasan. Huminto (2000) menyatakan penularan penyakit melalui vektor serangga dan koksidia tidak terjadi, kecuali sejenis kumbang (darkling beetles/Alphitobius diaperinus) yang dapat membawa virus secara pasif. Meskipun penyakit Marek tidak selalu berakhir dengan kematian namun sekali ayam terinfeksi maka viremia akan tetap berlangsung sehingga ayam menjadi karier yang berpotensi untuk menyebarkan infeksi (Adjid et al.,2002).

Cara Mengendalikan Penyakit Marek Pada Unggas
Penyakit Marek tidak dapat diobati dengan efektif baik secara individual maupun pada flok secara keseluruhan, namun demikian kejadian penyakit Marek dapat dicegah dengan melakukan berbagai cara, antara lain: vaksinasi, pemilihan galur ayam yang lebih resisten terhadap Marek serta sistem manajemen untuk meningkatkan sanitasi dan biosekuritas.

Vaksinasi
Sampai saat ini vaksinasi masih dianggap sebagai strategi utama dalam mencegah penyakit Marek. Vaksin Marek dapat berbentuk monovalen atau bivalen, 1. Vaksin monovalen biasanya berasal dari serotipe 1 yang diatenuasi (misalnya Rispen) atau serotipe 3 (HVT), sedangkan vaksin bivalen biasanya berupa gabungan serotipe 3 (HVT) dan serotipe 2 (misalnya SB-1 atau 301B). Vaksin Marek dapat diberikan dengan cara menginjeksi embrio pada hari ke 18 (in ovo) atau pada saat ayam baru menetas (sub kutan). Oleh karena vaksinasi baru akan memberikan proteksi penuh pada 7-10 hari pasca vaksinasi, maka pengawasan ketat terhadap sanitasi amat dibutuhkan pada masa kritis ini. Jika vaksinasi sudah diberikan tetapi wabah tetap terjadi maka revaksinasi oleh vaksin sejenis percuma untuk dilakukan karena ini pertanda bahwa ayam terserang oleh virus Marek dari jenis yang lebih virulen Hal ini memperlihatkan suatu kegagalan vaksinasi. Payne (2000) menyatakan beberapa hal yang dapat mengakibatkan kegagalan program vaksinasi, yaitu (1) ayam terinfeksi oleh virus ganas sebelum vaksin bekerja sempurna dalam tubuh ayam; (2) pembentukan respon kekebalan akibat vaksinasi terhambat karena adanya antibodi maternal dalam tubuh ayam; (3) ketidaksesuaian dalam aplikasi vaksin; (4) vaksin yang digunakan berasal dari strain yang tidak protektif. Bila ada ayam yang terserang Marek tidak ada pengobatan dan sebaiknya ayam yang terindikasi haurs dimusnahkan dan bangkainya harus dibakar (Ginting, 1980).

Resistensi genetik
Mentransfer gen asing dengan cara menyisipkan gen virus Marek pada genom ayam sehingga terjadi superinfeksi antigen protektif virus Marek (Adjid et al.,2002).

Sistem manajemen
Penerapan sistem manajemen yang semata-mata mengutamakan peningkatan produksi ayam dapat mendukung terjadinya mutasi virus Marek. Upaya-upayamencegah Marek Disease seperti menutup area kandang dengan sistem penyaringan udara; penggunaan ayam specific pathogen free (SPF); desinfeksi kandang setiap kali selesai siklus produksi dan pemanfaatan materi transgenik untuk memblok replikasi virus secara in vivo (Adjid et al.,2002).

Diferensial Diagnosa
Penyakit lain yang mirip dengan MD adalah Limfoid leukosis (LL). Marek’s disease ditemukan pada ayam muda dan menimbulkan lesi pada saraf perifer. Penyakit ini ditandai oleh adanya sel-sel limfoid yang berbentuk heterogen. Meskipun demikian, Marek dapat juga menimbulkan tumor pada berbagai organ ayam dewasa dan menimbulkan tumor pada bursa fabricius. Penyakit ini ditandai oleh adanya sel-sel tumor tipe blas yang berbentuk seragam. Asumsi yang penting di dalam diagnosis LL adalah terbentuknya tumor pada burca fabricius pada ayam umur >16 minggu (Tabbu., 2000).

Pada pemeriksaan pasca-mati, MD kerapkali dikelirukan dengan ML (Mieloid leukosis) sehubungan dengan tidak terbentuknya tumor pada bursa fabricius dan adanya tumor pada berbagai organ viseral. Namun, tumor spesifik pada kasus ML, yang tergolong mielositoma pada mukosa laring, trakea, koste, sternum dan kranium akan membedakan penyakit ini dengan MD (Tabbu., 2000).


Catatan:
1. Penyakit Marek adalah suatu penyakit neoplastik dan neuropathic pada unggas, terutama ayam, disebabkan oleh virus sangat infeksius dari herpesvirus cell-associated .
2. Penyakit Marek dapat ditularkan melalui sumber infeksi berasal dari folikel bulu ayam yang terinfeksi dan secara mekanik dapat ditularkan melalui kandang yang terkontaminasi atau petugas kandang. Penyakit biasanya menyerang ayam yang berumur tiga minggu ke atas tetapi paling sering menyerang ayam yang berumur 10 − 15 minggu atau 16 − 20 minggu, walaupun demikian wabah dapat pula terjadi pada ayam berumur 60 minggu.
3. Penyakit Marek tidak dapat diobati dengan efektif baik secara individual maupun pada flok secara keseluruhan, namun demikian kejadian penyakit Marek dapat dicegah dengan melakukan berbagai cara seperti vaksinasi, resistensi genetik dan perbaikan manajemen.

DAFTAR PUSTAKA

Adjid, R.M.A. Damayanti, R. Hamid, H. Sjafriati, T. dan Darminto. 2002. Penyakit Marek Pada Ayam: I. Etiologi, Patogenesis Dan Pengendalian Penyakit. WARTAZOA Vol. 12 No. 2. Balai Penelitian Veteriner. Bogor.
Bambang. 1992. Pengendalian Hama dan Penyakit Ayam. Yogyakarta : Kanisius.
Damayanti, R dan Hamid, H. 2002. Penyakit Marek pada Ayam: II. Aspek Klinis, Patologis dan Diagnosis. WARTAZOA Vol. 12 No. 2. Balai Penelitian Veteriner. Bogor.
Ginting, Ng. dan B.P.A. Radjaguguk. 1980. Data tentang penyakit Marek di Indonesia. Bulletin LPPH 19:33- 41.
Huminto, H., B.P. Priosoeyanto, I.W.T. Wibawan, D.R. Agungpriyono, E. Harlina, dan S. Fatimah. 2000. Kasus diagnostik penyakit marek pada ayam. Prosiding Seminar Nasional Peternakan dan Veteriner. Pusat Penelitian Peternakan, Bogor. Hlm 543-546.
Payne, L.N. 1985. Marek’s Disease: Scientific Basis and Methods of Control. Martinus Nijhoff Pub. Boston. Dordrecht. Lancaster.
Payne, L.N. dan K. Venugopal. 2000. Neoplastic diseases: Marek’s disease, avian leucosis and reticuloendotheliosis. Rev. Sci. Tech.off Int. Epiz. 19(2):544-564.
Shane, M.S. 1998. Buku Pedoman Penyakit Unggas. American Soybean Association. pp.66-69.
Tabbu., C.R. 2000. Penyakit Ayam dan Penanggulangannya, Volume 1. Kanisius. Yogyakarta. Hal. 142 – 150

loading...

FOLLOW and JOIN to Get Update!

Social Media Widget SM Widgets




Peternakan dan Herbal Updated at: 21:33

0 komentar:

Post a Comment

Copyright@2014-2016. www.AgrobisnisInfo.com . Powered by Blogger.