loading...

Faktor Penting Untuk Keberhasilan Penanganan Reproduksi Ternak Sapi Perah

Posted by

Manajemen Reproduksi pada Sapi Perah (Penanganan Reproduksi)

Penanganan reproduksi pada sapi perah sebenarnya lebih mudah daripada ternak lainnya, karena tanda-tanda berahi pada ternak betina jelas dan peternak setiap hari selalu ada di kandang. Walaupun demikian pengetahuan, keterampilan dan pengalaman dalam penanganan reproduksi sangat diperlukan. Tujuanpenanganan reproduksi adalah untuk mencapai efsiensi reproduksi yang tinggi. Artinya, bagaimana usaha kita agar setiap memasukan sel sperma ke dalam alat reproduksi sapi betina dapat menghasilkan pedet yang hidup, sehat, dan normal, serta tanpa mengalami kesulitan pada waktu proses kelahiran.

Kegagalan reproduksi bukan hanya disebabkan oleh betina, tetapi juga pejantan yang digunakan. Untuk mendapatkan efisiensi reproduksi yang tinggi diusahakan memperbaiki kondisi (genetis, biologis dan kesehatan) ternak tersebut baik betina maupun pejantan. Selain itu memperbaiki manajemen pemeliharaan juga dilakukan seleksi  secara ketat.

Di Indonesia, penentuan efisiensi reproduksi dengan cepat dan tepat belum dapat dilaksanakan, karena keterbatasan peralatan untuk pemeriksaan (deteksi) kebuntingan secara dini. Sampai sekarang pemeriksaan kebuntingan masih dilakukan melalui palpasi/perabaan, sehingga memerlukan keahlian dan sensitivitas seseorang. Untuk menentukan kebuntingan yang tepat, maka palpasi dilakukan setelah 40-60 hari sesudah perkawinan.

Faktor-faktor yang diperlukan dalam penanganan reproduksi adalah :

1.   Kartu Ternak

Setiap individu ternak harus mempunyai kartu ternak yang memuat informasi tentang kondisi ternak tersebut selama dipelihara. Isi dari kartu ternak tersebut harus rinci, teratur, akurat dan dapat dipertanggungjawabkan.

2.   Pengamatan Berahi

Pengamatan estrus ini penting, karena untuk menentukan waktu perkawinan yang tepat. Gejala berahi dapat dilihat selama kurang lebih 16 jam (Partodihardjo, 1980). Oleh karena itu, peternak sapi perah lebih mudah melihat gejala berahi tersebut, karena minimal 2 kali sehari peternak dekat dengan ternaknya. Hal yang perlu diperhatikan adalah apabila sapi tersebut kurang jelas memperlihatkan tanda-tanda estrus. Oleh karena itu, kartu ternak dapat membantu untuk menentukan perkiraan kapan sapi tersebut kembali estrus. Hasil penelitian Pennington (2003) menunjukkan, bahwa3–4 kali dalam periode 60 menit deteksi berahi cukup efisien yaitu 71-78%

Tabel 1. Efisiensi Deteksi Berahi

Frekuensi

Pengamatan berahi

Periode Pengamatan

10 menit

20 menit

30 menit

60 menit

1 x

22%

31%

36%

39%

2 x

33%

43%

55%

61%

3 x

45%

55%

65%

71%

4 x

49%

61%

71%

78%

3.   Kawin Pertama setelah Beranak

Bagi sapi yang beranak normal, sebaiknya dikawinkan kembali 2 bulan setelah beranak. Apabila sapi mengalami distokia, retensi plasenta, dan sebagainya, sebaiknya perkawinan ditunda 90 – 120 hari setelah beranak.

4.   Pejantan/Semen

Pejantan yang digunakan harus unggul, sehat, menghasilkan sperma dengan fertilitas yang tinggi dan memiliki kartu catatan baik silsilahnya maupun produk-tivitasnya.

5.   Waktu Perkawinan

Pada sapi dara sebaiknya dikawinkan pada umur 14 – 16 bulan atau berat badan berkisar antara 275 – 325 kg. Perkawinan dilakukan pada waktu yang tepat yaitu 6 – 12 jam setelah tanda-tanda estrus telihat.

6.   Pengelompokan Sapi

Sapi-sapi betina dikelompokkan berdasarkan umur kebuntingan, waktu berahi yang hampir bersamaan (kelompok kawin), kering kandang, dan baru beranak (awal laktasi).

7.   Pemeriksaan Kebuntingan

Pemeriksaan kebuntingan dilakukan secara teratur dan interval yang pendek yaitu 30-40 hari sekali dan diperiksa kembali setelah 90-120 hari setelah pemeriksaan pertama.

8.   Angka Konsepsi

Pada usaha peternakan dengan manajemen baik angka konsepsi mencapai 60% untuk IB pertama dengan nilai S/C berkisar 1,5-1,7. Pada IB ketiga angka konsepsi mencapai 90% dengan nilai S/C = 1,1

9.   Pengamanan Reproduksi

Dalam hal ini yaitu pengawasan reproduksi terhadap gejala penyakit reproduksi atau masalah-masalah reproduksi lainnya. Peternak secara rutin harus me-meriksa kesehatan reproduksi ternaknya oleh dokter hewan. Peternak harus tanggap apabila ternak yang dipeliharanya memperlihatkan efisiensi reproduksi-nya rendah. Yang mudah untuk menentukan efisiensi reproduksi rendah yaitu dengan melihat angka konsepsi (conception value) dan service per conseption.  Angka S/C berkisar 1,5-1,7 atau CV = 60% untuk IB pertama atau90% untuk  IB ketiga (Partodihardjo, 190).

Efisiensi reproduksi diukur dengan berbagai derajat fertilitas yaitu :

1.   Tingkat Fertilitas

Pejantan yang baik dapat menghasilkan semen dengan tingkat fertilitas yang tinggi yaitu lebih dari 90%. Tingkat fertilitas semen dapat dipengaruhi oleh genetik, ransum yang diberikan, frekuensi perkawinan atau pengambilan semen.

1.1.   Service per Conseption (S/C)

S/C adalah suatu nilai efisiensi yang dihitung berapa kali betian tersebut dikawinkan sampai bunting. Nilai S/C dapat untuk individu maupun untuk kelompok sapi yang dikawinkan. Nilai S/C bergantung pada tingkat fertilitas semen dan kesuburan betina. Semen dengan tingkat fertilitas 70% dapat menghasilkan nilai S/C = 1,4 dan pada tingkat fertilitas 90% menghasilkan nilai S/C = 1,1  Betina dengan nilai S/C tinggi (repeat breeders) sangat merugikan

1.2.   Non Return Rate (NR)

NR yaitu nilai persentase dari betina-betina yang tidak kembali minta kawin (tidak memperlihatkan gejala berahi) dalam waktu tertentu yaitu 28-35 hari atau60-90 hari setelah perkawinan. Sapi-sapi yang tidak mau kawin diasumsikan bunting.

Rumus nilai NR :

NR

=

Jumlah sapi yang di IB – Jumlah sapi di IB kembali

X

100%

Jumlah sapi yang di IB

Kenyataan di lapangan ada sapi-sapi yang tidak bunting, tetapi tidak mem-perlihatkan gejala berahi (silent heat). Ada juga sapi-sapi memperlihatkan gejala berahi kembali tetapi dalam keadaan bunting (repeat breeders). Gejala ini dapat mencapai 3,6% dan umumnya terjadi pada sapi betina muda. Nilai NR dengan pemeliharaan yang baik mencapai 80% (pada pemeriksaan 60-90 hari setelah perkawinan). Di Amerika Serikat nilai NR berkisar 65-7228-35 hari) lebih tinggi 10-15% dari pada pemeriksaan 60-90 hari (55-67%). Hal ini disebabkan ada beberapa sapi setelah pemeriksaan  35 hari, terjadi abortus atau mumifikasio.

Faktor-aktor yang mempengaruhi nilai NR antara lain metode pengukuran, waktu IB sampai pemeriksaan estrus berikutnya, tingkat kesuburan, penyakit, diagnosa kebuntingan, pelaporan dan sebagainya.

1.3.   Angka Konsepsi (Conception Value, CV)

CV yaitu persentase sapi betina yang bunting pada perkawinan/IB pertama pada pemeriksaan 40-60 hari setelah kawin/IB. Nilai CV pada umumnya lebih rendah 5,5-6,0% dari pada nilai CR.

CV

=

Jumlah betina bunting

X

100%

Jumlah betina yang dikawinkan (di-IB)

1.4.   Tingkat Beranak (Calving Rate, CR)

CR merupakan nilai persentase anak yang lahir dari hasil satu sampai tiga kali perkawinan/IB. CR digunakan apabila sulit untuk menentukan kebuntingan lebih awal dan banyak kematian embrional. CR merupakan nilai efisiensi  reproduksi mutlak, karena yang dihitung pedet yang lahir, sehat dan normal.

Contoh :

Sekelompok betina fertil, pada IB pertama menghasilkan CR 62%, Pada IB kedua bertambah 20% dan seterusnya. Nilai CR dianggap baik dapat mencapai 85-95% dengan S/C = 3

Betina dengan S/C lebih dari 3 sebaiknya dikeluarkan/diafkir.

1.5.   Calving Interval (CI)

Calving interval adalah selang waktu antar kelahiran/beranak. CI yang baik berkisar12–14 bulan. CI dapat mempengaruhi produksi susu. Semakin tinggi nilai CI, produksi susu per laktasi tinggi, tetapi rata-rata produksi susu perhari rendah. CI dipengaruhi oleh kawin pertama setelah beranak dan service period.

2.   Infertilitas (Kemajiran Sementara)

Infertilitas pada sapi perah dapat mengakibatkan kerugian, karena terjadi kegagalan reproduksi. Infertilitas dapat terjadi karena faktor internal ternak, faktor manajemen, dan faktor kecelakaan (accident)

2.1. Faktor intern ternak yaitu kegagalan reproduksi karena hal-hal yang sudah terdapat di dalam tubuh ternak yaitu antara lain:

a. Kerusakan alat reproduksi karena infeksi mokroorganisme, sehingga adanya kelainan anatomi organ reproduksi. Mikroorganisme ini yaitu bakteri, virus, protozoa dan jamur.

Brucellosis (Bang’s Disease)

Penyebab Bakteri Brucella abortus BangPenularan Melalui tractus digestivusTidak memperlihatkan gejala sakit, karena bersifat subklinisOrganisme bersarang di ambing dan placentaChorion menjadi bengkok eudematos, sehingga pasokan darah ke fetus kurang, menyebabkan fetus matiPencegahan Vaksinasi dan sanitasi rutin

Vibriosis

Penyebab Bakteri Vibrio fetus veneralisPenularan melalui semen/perkawinan yang mengandung bakteri tersebutGejalaPejantan yang kena penyakit ini tidak memperlihatkan gejalaAbortus sampai 90% terjadi pada umur kebuntingan 5-7 bulanPencegahanVaksinasiPerkawinan dengan IBGunakan pejantan yang sehat

Diarrheae

Penyebab Virus Diarrheae PenularanSangat menular, melalui oral, menyerang semua umur GejalaErosi pada mukosa à rinderpest, penyakit mulut dan kukuSuhu tubuh tinggi sampai 39,5 ºCProduksi susu turun sekaliFeses cair bercampur darah dan berbauDenyut jantung cepatDari mulut dan hidung keluar ludah dan ingus yang berlebihanPencegahan Belum ada obat yang efektif

Trichomoniasis

Penyebab Trichomonas fetus PenularanMelalui perkawinan alam GejalaGejala hampir sama dengan VibriosisSiklus estrus tidak teraturAbortus muda (umur kebuntingan 4 bulan)Pencegahan Pada betina dengan antibiotik secara lokal (intrauterinum)

b. Kelainan anatomi organ reproduksi, sehingga tidak berfungsi dengan baik.

Hipoplasia ovari à Biasanya ovairumnya mengecil, epitel benih sedikit atau tidak ada sama sekali. 87,1% sapi penderita hiplasia hanya pada ovarium sebelah kiri

Hymen yang tebal dan mengkerut à bersifat genetis

c.   Kelainan fungsi hormonal.

Ada beberapa macam yaitu ovari sistik, anestrus, korpus luteum persisten, berahi tenang, ovari licin dan kawin berulang (repeat bredeers). Yang baru diketahui penyebab kelainan fungsi hormonal adalah ovari sistik. Penyebabnya ada dua hal yaitu pertama kelenjar endokrinmengalami gangguan (tumor, radang dan sistem syaraf), dan kedua organ targetdari hormon mengalami gangguan,

Beberapa faktor penyebab infertilitaspada sapi perah yang disebabkan gangguan fungsi hormonal antara lain : kegagalan berahi (anestrus), korpus luteum persisten, berahi tenang (silent), overi licin (hipofungsi), dan kawin berulang (repeat breeders).

Siklus estrus abnormal, yaitu siklus estrus yang tidak teratur. Siklus estrus yang normal berkisar 18-24 hari. Siklus estrus abnormal ini dapat terjadi karena :

1.   Anestrus atau kegagalan berahi. Sapi tidak memperlihatkan gejala berahi. dapat disebabkan banyak faktor diantaranya faktor genetis dan faktor manajemen yaitu pengawasan berahi yang kurang ketat serta kekurangan pakan baik kualitas maupun kuantitasnya, sehingga pertumbuhan ovari tidak normal.

a.   Anestrus dengan corpus luteumnormal mengakibatkan siklus estrus panjang walaupun sedang bunting.

b.   Anestrus dengan korpus luteum menetap (persisten) menye-babkan berahi tenang (silent heat).  Penanggulangannya dapat diberikan hormon gonadotropin (Follicle Stimulating Hormon,  dosis tinggi.

2.   Ovari sistik ( Ovary

Sering disebut nymphomaniakarena 75% sapi-sapi yang menderita ovari sistik memperlihatkan gejala nymphomania. Gejalanya berahi tidak teratur,  berahi panjang dan terus menerus. Kejadian ovari sistik 25% tidak memperlihatkan gejala berahi.

Ovari sistik menyebabkan:nymphomania. silent heat, anestrus

3.   Berahi tenang (Silent Heat

Korpus luteum tidak cukup menghasilkan hormon progesteron, maka estrogen yang dihasilkan folikel tidak menyebabkan timbulnya gejala berahi. Pengawasan terhadap berahi kurang, sehingga berahi terlewat.

2.2.   Faktor manajemen/pengelolaan

Faktor manajemen atau pengelolaan merupakan penyebab terbesar terjadi-nya infertilitas. Mutu genetik yang rendah, karena tidak ada seleksi yang ketat. Ransum yang diberikan kualitas dan kuantitasnya rendah serta pengelolaan reproduksi yang lemah/kurang diperhatikan.

1.   Faktor manusia :

Infertilitas/kegagalan reproduksi karena faktor manusia, dapat terjadi akibat kurangnya pengetahuan dan ketrampilan tentang kebutuhan hidup ternak yang dipeliharanya secara normal (biologis maupun zooteknis). Dapat juga terjadi akibat kurangnya pengawasan terutama deteksi berahi

2.   Faktor pakan

Prinsip pemberian pakan pada ternak berlangsung sejak fetus sampai ternak tersebut dikeluarkan/culling. Pakan yang diberikan harus cukup dan seimbang kandungan nutrisinya untuk kebutuhan hidup pokok dan berproduksi secara optimal. Apabila kekurangan pakan dapat mengakibatkan gangguan reproduksi baik secara fisiologis maupun kelainan anatomi, karena pertumbuhannya tidak normal. Ternak yang kekurangan energi dan protein mengakibatkan ovari infertil dan pubertas terlambat. Kekurangan vitamin A menyebabkan abortus anak sapi yang lahir lemah dan mati. Kekurangan vitamin D pedet yang lahir rachitis. Kekurangan mineral dapat mengakibatkan pubertas terlambat sampai siklus estrus terhenti.

2.3.   Faktor kecelakaan (

Kejadiannya tidak dapat diduga misalnya apabila terjadi kecelakaan (sapi jatuh), dan gangguan pada proses reproduksi yaitu antara lain distokia (fetus sulit keluar), torsio uteri (perputaran uterus), prolapsus (keluarnya mukosa uterus melalui vagina), mumifiksi fetus (Bovine mummification), retensio plasenta (retained placentaretensio secundinarum) Apabila terjadi distokia dan tidak ditangani secara serius dapat mengakibatkan sapi steril

a.   Distokia :

Proses kelahiran yang sulit dan memerlukan pertolongan. Tanpa pertolongan dapat kegagalan kelahiran dan mengakibatkan kematian induk. Distokia dapat terjadi karena fetus dan karena induk. Distokia karena posisi fetus dan kelainan bentuk badan fetus abnormal, sedang-kan karena induk dapat terjadi karena kelainan hormonal (serviks me-nutup), tidak terjadi perejanan, induk lemah dan sebagainya.

b.   Torsio uteri : adalah perputaran/terpuntir uterus sekitar sumbu me-manjangnya.

c.   Mumifikasio fetus : Dapat terjadi pada umur kebuntingan 3-8 bulan. Cairan tubuh dan darah fetus diserap oleh dinding uterus, sehingga fetus tinggal kulit dan tulang

d    Retensio secundinarum atau retained placenta (retensio plasenta) yaitu tertahannya plasenta di dalam uterus setelah fetus dilahirkan. Fetus lahir karena abortus, distokia atau prematur. Retensio plasenta ini sering terjadi pada sapi perah. Apabila kelahiran normal plasenta ini keluar beberapa jam dan paling lama 12 jam setelah pedet lahir. Penyebab tertahannya plasenta di dalam uterus karena tidak lepasnya hubungan antara plasenta induk dan plasenta anak setelah pedet lahir. Hubungan kedua plasenta tersebut berupa pertautan antara vili-vili dari alanto-chorion yang masuk ke dalam celah-celah (kripta-kripta) yang terdapat dalam karunkula dari  endometritium.

loading...

FOLLOW and JOIN to Get Update!

Social Media Widget SM Widgets




Peternakan dan Herbal Updated at: 06:21

0 komentar:

Post a Comment

Copyright@2014-2016. www.AgrobisnisInfo.com . Powered by Blogger.