loading...

Bagaimana Proses Terjadinya Sebuah Goa?

Posted by

PROSES TERBENTUKNYA GOA 
 
Gua  adalah suatu lubang di tanah, atau di batuan, atau di gunung yang terbentuk secara alamiah. Jadi bentukan-bentukan seperti gua yang dibuat manusia sebenarnya tidak dapat dikelompokan sebagai gua, tapi lebih tepat sebagai suatu terowongan.

Gua adalah suatu bentukan alam yang umumnya terjadi akibat adanya suatu proses alam yang melubangi batuan. Bisa berbentuk suatu lorong yang panjang, gelap dan berkelok-kelok, tetapi dapat pula sebagai suatu ceruk dalam. Secara umum dikenal terjadi pada dua batuan yang jauh berbeda, yaitu pada batu gamping yang sangat intensif dan luas kejadiannya, dan pada kasus-kasus khusus di aliran lava basalt, tetapi dapat pula terjadi pada semua jenis batuan yang mengalami tingkat abrasi / erosi yang kuat melewati struktur-struktur tertentu.
  • TEORI KLASIK MENGENAI PERKEMBANGAN PERGUAAN menurut Reeder, (1988)
Banyak debat intensif yang terjadi selama abad ini yang menyangkut ilmu pengetahuan geomorfologi yang berhubungan dengan asal muasal gua di batu gamping. Apakah gua terbentuk diatas water table (zona vadose), dibawah water table (zona phreatic), atau pada bidang dari water table itu sendiri? Beberapa teori dapat dikelompokkan sebagai berikut:
  1. Teori Vadose-Dwerry house (1907), Greene (1908), Matson (1909), dan Malott (1937) mempertahankan bahwa sebagian besar perkembangan gua berada di atas water tabel dimana aliran air tanah paling besar. Jadi, aliran air tanah yang mengalir dengan cepat, yang mana gabungan korosi secara mekanis dengan pelarutan karbonat, yang bertanggung jawab terjadap perkembangan gua. Martel (1921) percaya bahwa begitu pentingnya aliran dalam gua dan saluran (conduit) begitu besar sehingga tidak berhubungan terhadap hal terbentuknya gua batu gamping sehingga tidak relevan menghubungkan batugamping yang ber-gua dengan dengan adanya water table, dengan pengertian bahwa permukaan tunggal dibawah keseluruhan batuannya telah jenuh air.
  2. Teori Deep Phreatic-Cjivic (1893), Grund (1903), Davis (1930) dan Bretz (1942) memperlihatkan bahwa permulaan gua dan kebanyakan pembesaran perguaan terjadi di kedalaman yang acak berada di bawah water table, sering kali pada zona phreatic yang dalam. Gua-gua diperlebar sebagai akibat dari korosi oleh air phreatic yang mengalir pelan. Perkembangan perguaan giliran kedua dapat terjadi jika water table diperrendah oleh denudasi (penggundulan) permukaan, sehingga pengeringan gua dari air tanah dan membuatnya menjadi vadose dan udara masuk kedalam gua. Selama proses kedua ini aliran permukaan dapat masuk ke sistem perguaan dan sedikit merubah lorong gua oleh korosi.
  3. Phreatic Dangkal atau Teori Water Table-Swinnerton (1932), R Rhoades dan Sinacori (1941), dan Davies (1960) mendukung gagasan bahwa air yang mengalir deras pada water tabel adalah yang bertanggungjawab terhadap pelarutan di banyak gua. Eleveasi dari water table berfluktuasi dengan variasi volume aliran air tanah, dan dapat menjadi perkembangan gua yang kuat didalam sebuah zone yang rapat diatas dan dibawah posisi rata-rata. Betapapun, posisi rata-rata water table harus relatif tetap konstan untuk periode yang lama. Untuk menjelaskan sistem gua yang multi tingkat, sebuah water table yang seimbang sering dihubungkan dengan periode base levelling dari landscape diikuti dengan periode peremajaan dengan kecepatan down-cutting ke base level berikutnya.
  • GUA PADA BATU GAMPING, KAWASAN KARST
Dari seluruh proses kejadian terbentuknya gua, yang paling luas dan intensif adalah gua-gua yang terbentuk pada formasi batu gamping yang umumnya kemudian berkembang menjadi suatu bentang alam khas yang dikenal sebagai bentang alam kars (karst, istilah internasional, berasal dari bahasa Jerman yang diperkenalkan oleh Cvijic pada sekitar tahun 1850 dari istilah asli bahasa Slavia krs atau kras setelah ia meneliti suatu daerah gersang di Slovenia/dulu Yugoslavia, timur laut Trieste).  Hampir semua goa yang ada dibentuk dari karst (dari bahasa Slavia Krs/Kras yang berarti batu-batuan). Istilah karst dipakai untuk suatu kawasan batu gamping (limestone) yang telah mengalami pelarutan sehingga menimbulkan relief dan pola pengaliran yang khas. Hal ini dicirikan dengan adanya proses geokimia dan kehadiran atmosfer, biosfer, dan hidrosfer sekaligus.
Sejarah geologi karst dimulai pada zaman karbon (sebutan untuk sebuah masa di 354-290 juta tahun lalu) akhir, hingga Perm (290-248 juta tahun lalu) awal yang menimbulkan batuan tertua. Umumnya pada akhir masa Perm awal, terjadi aktivitas tektonik berupa pengangkatan dan pelipatan satuan sabak serta timbulnya sesar mendatar. Pada zaman Trias (248-206 juta tahun lalu) awal, terjadi proses susut laut yang membentuk morfologi batu gamping. Ini akan diikuti dengan intrusi ke permukaan yang menerobos batu gamping, hingga mengakibatkan batu gamping menjadi marmer. Akibat proses gaya-gaya geologi yang berpengaruh, akan terbentuk struktur rekahan yang disebut diaklas, yakni jalur resapan air permukaan dan membentuk morfologi karst.

Hal ini akan terus terjadi, entah sampai kapan berakhirnya. Mengapa pembentukan gua sangat intensif di kawasan kars yang batuannya didominasi batu gamping / batu kapur / limestone? Hal ini sangat terkait dengan sifat batu gamping yang unsur utamanya adalah karbonat CaCO3 yang sangat reaktif terhadap larutan asam, khususnya larutan senyawa asam yang mengandung CO2. Walaupun secara kimiawi prosesnya sangat rumit dan kompleks, tetapi proses pelarutan batu gamping secara sederhana mengikuti persamaan reaksi berikut:

CaCO3 + H2O + CO2 Ca+ 2HCO3
Proses dengan panah bolak-balik tersebut menunjukan bahwa air yang mengandung senyawa asam CO2 akan melarutkan karbonat menjadi kalsium dan bikarbonat. Reaksi balik dari kanan ke kiri akan kembali menghasilkan karbonat. Maka selain adanya proses pelarutan yang membawa partikel karbonat sehingga terjadi pelubangan dan pengguaan pada batu gamping, di tempat lain terjadi proses pengendapan karbonat berikutnya. Ini menerangkan proses selain terbentuknya gua itu sendiri, juga terbentuknya hiasan-hiasan gua (stalactite, stalagmite, flowstone, guardam, dll) yang merupakan hasil endapan karbonat dari pelarutan karbonat di tempat lain.
Namun demikian tidak sembarang batu gamping dan tidak sembarang tempat bisa membentuk gua. Gua batu gamping (yang berlorong panjang dan berliku-liku) umumnya berkembang akibat adanya proses pelarutan dan diperbesar oleh proses erosi / abrasi yang mengikuti suatu jaringan retakan pada batu gamping. Sebelumnya, faktor iklim, tanah penutup dan keberadaan air tanah menjadi kontrol utama proses pengguaan ini. Selain itu batu gampingnya sendiri umumnya harus padat, murni karbonat dengan sedikit campuran partikel lain, berlapis baik dan dalam kedudukan mendatar / tidak miring terjal. Kondisi ideal di atas merupakan kondisi ideal bagi berkembangnya perguaan dan biasanya berkembang menjadi kawasan kars tyang luas. Contoh daerah yang mempunyai kondisi ideal tersebut antara lain di Pangandaran, Jawa Barat ; Karangbolong, Gombong Selatan di Jawa Tengah ; Gunung Sewu yang sangat luas mulai dari Yogyakarta, selatan Wonogiri Jawa Tengah hingga Pacitan di Jawa Timur, yang kemudian bahkan menerus ke Tulungagung dan Blitar. Di Sumatra kawasan kars cukup luas berada di Payakumbuh hingga Sawahlunto, di Kalimantan terdapat di Sangkurilang, Kalimantan Timur bagian utara, Sulawesi Selatan di Maros dan Toraja, serta di berbagai tempat di Papua.
  • GUA PADA LAVA BASALT
Lain lagi Pembentukan gua pada batu basalt aliran lava. Proses ini tidak ada kaitannya dengan reaksi kimia, tetapi lebih terkait dengan proses aliran magma yang encer-panas-membara yang keluar dari kawah gunung api. Ketika magma keluar dari kawah, ia akan mengalir di permukaan menuruni lembah sebagai aliran lava (ingat …!!! bedakan dengan lahar yang merupakan banjir bandang dari lereng gunung api). Tentu saja aliran lava ini masih sangat panas membara dalam suhu sekitar 1000oC. Tetapi ketika keluar, segera lava ini kontak dengan suhu udara normal dan lava mulai membeku. Bagian yang membeku dan mengeras lebih dulu adalah bagian permukaan, sementara bagian dalam masih bisa mengalir ke arah lereng bawah. Maka ketika seluruh bahan lava yang masih mengalir di bagian dalam keluar di lereng bawah, akan menyisakan lubang yang di batasi oleh lapisan lava yang mengeras lebih dahulu di permukaan.
Proses gua pada lava biasanya terjadi pada magma yang bersifat encer, umumnya magma basalt yang ketika mengeras menjadi batu berwarna hitam. Jarang sekali gua terbentuk pada lava andesit yang lebih kental, karena begitu magma andesit keluar dari kawah gunung api, begitu pula ia membeku dan mengeras. Namun demikian lorong-lorong pendek yang sempit dan tidak beraturan bisa terbentuk pada bongkah-bongkah lava yang umumnya terjadi pada bagian lereng bawah suatu gunung api. Contoh gua-gua lava yang terkenal berada di Kepulauan Hawaii, sebagian malah berada di bawah laut. Di Indonesia diketahui ada di Purworejo di Gua Lawa.
  • GUA ABRASI
Gua akibat proses erosi atau abrasi bisa terjadi pada berbagai batuan, tetapi umumnya terjadi pada batuan keras dan padat yang membentuk lereng-lereng terjal di tepi pantai dengan gelombang besar. Gelombang yang setiap saat menghantam tebing batu menciptakan proses erosi yang luar biasa yang sedikit demi sedikit mencungkil partikel-partikel pada batu. Lama-lama semakin besar semakin dalam, bahkan bisa tembus pada sisi yang lain. Kondisi struktur geologi berupa retakan yang menjadi zona lemah akan menjadi faktor pertama pembentukan gua abrasi. Nama-nama geografi di pesisir yang bernama karang bolong adalah gua-gua yang terbentuk akibat proses abrasi gelombang ini.

Tentang Goa Maharani
Goa merupakan suatu ruang bawah tanah yang bisa membuat kita begitu takjub. Misteri yang terkandung di dalamnya merupakan sebuah daya tarik tersendiri. Hampir di semua goa yang ada di Indonesia, bahkan di dunia, mempunyai cerita legendanya sendiri. Goa Maharani adalah salah satu Goa di Indonesia yang stalaktit dan stalakmitnya masih aktif atau masih hidup dengan pertumbuhan ± 1cm per sepuluh tahun, dengan panjang rute 350 meter.

Di atap Goa Maharani terukir Stalaktit nan indah dan beraneka ragam bentuk yang menakjubkan yang terbentuk secara alami. Daerah Lamongan merupakan daerah yang sangat miskin terhadap kegiatan volkanik. Sehingga jarang sekali di temui atau bahkan tidak ada jenis batuan beku. Umumnya daerah Lamongan merupakan daerah dataran rendah dengan komposisi batuan berupa Batu pasir, Lempung, Lanau dan batuan jenis endapan lainya. Daerah Lamongan juga mempunyai cadangan batu kapur yang cukup besar.

Di daerah Lamongan selatan terdapat pegunungan kapur yang membentang dari daerah Ngimbang ke timur hingga daerah Kecamatan Mantup. Sedangkan di daerah pesisir utara terdapat Pegunungan Kapur Utara, yang merupakan salah satu pegunungan kapur yang membentang di pesisir utara Pulau Jawa mulai dari Kabupaten Pati (Jawa Tengah) hingga Lamongan (Jawa Timur). Banyak kalangan menyebutnya juga sebagai Pegunungan Kendeng Utara, karena letaknya yang sejajar dengan Pegunungan Kendeng yang membujur di sebelah selatannya. Juga ada yang menyebutnya sebagai Pegunungan Serayu Utara.

Pada rangkaian pegunungan ini terdapat suatu gua yang sangat menarik, yang disebut dengan gua Maharani. Gua ini mempunyai stalaktit dan stalagmite yang masih hidup. Stalagtit dan stalagmite ini masih mengalami pertumbuhan dengan kecepatan 1 cm per sepuluh tahunya. Gua ini berjarak sekitar 500 meter dari pantai utara Jawa dan berada pada kedalaman 25 meter di bawah permukaan tanah. Gua dengan luas 2.500 m2 ini ditemukan pada 6 Agustus 1992 oleh sekelompok penambang fosfat di daerah gua tersebut.

Gua Maharani seperti gua-gua lain yang pada umumnya terbentuk pada daerah dengan batuan utama berupa batuan sedimen yakni lebih khusus lagi hanya pada tubuh batu gamping atau batuan karbonat. Jenis batuan ini memiliki kadar kalsium karbonat yang tinggi. Secara sederhana gua ini terbentuk karena larutnya material batu gamping dan meninggalkan jejaknya berupa rongga-rongga. Rongga-rongga ini bila kemudian saling berhubungan (connected) akan berkembang melebar dan memanjang akibat berlanjutnya pelarutan dan aliran air bawah tanah hingga akan terbentuklah gua-gua.
  • KONDISI LINGKUNGAN GUA MAHARANI
  1. Lokasi
Gua Maharani adalah sebuah gua yang terletak di kecamatan Paciran Kabupaten Lamongan Jawa Timur. Merupakan bagian dari pegunungan kapur utara yang memanjang dari Pati hingga pantai utara Lamongan, Jawa Timur. Gua yang bertempat di Jalan Raya Daen-deles (Pantura) itu kini mulai terkenal sampai ke luar Lamongan, bahkan hingga ke luar Provinsi Jawa Timur.
Berikut adalah Peta Wisata Kabupaten Lamongan:
  1. Kodisi Fisik dan Kimia Gua Maharani
Gua ini letaknya sangat strategis dan menarik karena terletak di dekat pantai kurang lebih 500 m dan berada di tepi jalan Gresik-Tuban tepatnya di kecamatan Paciran Lamongan. Salah satu keajaiban alam berupa gua istana maharani yang menyimpan keindahan alam lebih spesifik dan unik diatas rata-rata gua wisata yang lain. Bahkan menurut prof Dr. KRT.Khoo ahli perguaan internasional dari yayasan speleologi Indonesia di Bogor menilai bahwa stalaktit dan stalakmit di gua istana Maharani masih hidup karenanya keindahan gua ini bisa disejajarkan dengan gua Altamira di Spanyol. Gua Mamonth dan Carlsbad di Amerika Serikat serta Goa Coranche di Perancis.. Gua yang menyimpan sejuta keindahan ini berada dikedalaman 25 m dari permukaan tanah dengan rongga gua seluas 2500 m2.
Stalaktit dan stalagmit yang tumbuh di dalam goa dapat memancarkan cahaya warna warni bila terkena cahaya. Menyadari kelebihan tersebut Pemerintah Daerah Lamongan mengelolanya sebagai obyek wisata primadona. Fasilitas yang dibangun dibagi dalam tiga zone yaitu zone umum, zone peralihan dan zone inti, lokasi goa ini 100 m ketimur dari Tanjung Kodok.
  • KONDISI GEOLOGI GUA MAHARANI
A.Geologi Regional
Secara regional daerah wisata gua Maharani terdiri dari formasi batuan gamping Paciran (Tpp) yang terdiri dari Batu gamping dan lempung karbonat dengan kandungan fosfat yang cukup tinggi. Penyebarab batuan gamping ini hampir merata di sepanjang pantai utara Jawa Timur yang memanjang hingga ke timur hingga daerah Lamongan.

B. Stratigrafi dan Litologi Gua Maharani
Secara stratigrafi, batuan di daerah gua Maharani berupa batuan sedimen yang terdiri atas batu gamping Formasi Paciran, batu lanau Formasi Tuban. Formasi Paciran terdiri dari batu gamping dolomitan dan dolomit. Adanya organik seperti algae, foraminifera besar, molluska dengan ketebalan Formasi Paciran diperkirakan 100-750 m. Sementara Formasi Tuban terdiri dari batu lanau selingan batu gamping pasiran lempungan, setempat mengandung kongkresi dan batu gamping gampingan besian, ketebalan diperkirakan 600m.

C.Morfologi
Daerah sekitar gua maharani merupakan daerah perbukitan yang berhadapan langsung dengan laut Jawa. Di sepanjang pantai yang tepat di depan gua Maharani terdiri atas singkapan-singkapan batu karang yang masih satu Formasi dengan gua Maharani. Vegetasi yang hidup di sekitar gua Maharani merupakan tumbuhan-tumbuhan jenis ringan.

Gua dan Sungai Karst

Kawasan karst pada umumnya terbagi menjadi dua, yaitu eksokarst dan endokarst. Contoh-contoh eksokarst( morfologi permukaan) adalah dolina, uvala, dan polje. Contoh-contoh endokarst (morfologi bawah permukaan) adalah gua, terowongan, sungai bawah tanah, saluran.

GUA KARST
Gua karst merupakan bentuk akibat terjadinya peristiwa pelarutan beberapa jenis batuan akibat aktivitas air hujan dan air tanah, sehingga tercipta lorong-lorong dan bentukan batuan yang sangat menarik akibat proses kristalisasi dan pelarutan batuan tersebut.
Gua Karst

Gua karst yang terjadi dalam kawasan batu gamping adalah yang paling sering ditemukan (70 % dari seluruh gua di dunia). Diperkirakan wilayah sebaran karst batu gamping RRC adalah yang terluas di dunia. Gua karst lainnya terdiri dari gypsum (banyak di AS), halite / garam NaCl dan KCl (banyak di Rusia, Rumania, Hongaria) dan dolomite (banyak di Eropa Barat)

Proses Pembentukan Gua
Tahap awal, air tanah mengalir melalui bidang rekahan pada lapisan batu gamping menuju ke sungai permukaan. Mineral-mineral yang mudah larut dierosi dan lubang aliran air tanah tersebut semakin membesar.

Sungai permukaan lama-lama menggerus dasar sungai dan mulai membentuk jalur gua horisontal.

Setelah semakin dalam tergerus, aliran air tanah akan mencari jalur gua horisontal yang baru dan langit-langit atas gua tersebut akan runtuh dan bertemu sistem gua horisontal yang lama dan membentuk surupan (sumuran gua).

Ornamen-ornamen Dalam Gua Karst
• Geode:Batu permata yang terbentuk dari pembentukan rongga oleh aktifitas pelarutan air`tanah. Kemudian dalam kondisi yang berbeda terjadi pengendapan material mineral (kuarsa, kalsit dan fluorit) yang dibawa oleh air tanah pada bagian dinding rongga.

• Stalaktit ( stalactite )
Terbentuk dari tetesan air dari atap gua yang mengandung kalsium karbonat (CaCO3 ) yang mengkristal, dari tiap tetes air akan menambah tebal endapan yang membentuk kerucut menggantung dilangit-langit gua. Berikut ini adalah reaksi kimia pada proses pelarutan batu gamping : CaCO3 + CO2 + H2O à Ca2 + 2HCO3

• Stalakmit ( stalacmite )
Merupakan pasangan dari stalaktit, yang tumbuh di lantai gua karena hasil tetesan air dari atas langit-langit gua.

• Tiang ( Column )
Merupakan hasil pertemuan endapan antara stalaktit dan stalakmit yang akhirnya membentuk tiang yang menghubungkan stalaktit dan stalakmit menjadi satu.

• Tirai (drapery)
Tirai (drapery) terbentuk dari air yang menetes melalui bidang rekahan yang memanjang pada langit-langit yang miring hingga membentuk endapan cantik yang berbentuk lembaran tipis vertikal.

• Teras Travertin
Teras Travertin merupakan kolam air di dasar gua yang mengalir dari satu lantai tinggi ke lantai yang lebih rendah, dan ketika mereka menguap, kalsium karbonat diendapkan di lantai gua

Manfaat Gua Karst
Kawasan karst di daerah Gunung Kidul memang cukup tertinggal. Pemerintah tidak melakukan pembangunan karena menganggap kawasan ini tidak berpotensi. Ini karena kawasan karst memang kering dan tidak cocok untuk lahan pertanian. Iklimnya panas, tanahnya kering, dan air permukaan nya sedikit sehingga tanaman tidak akan bertahan lama jika ditanam.
Namun sebenarnya daerah karst mempunyai banyak potensi. Potensi tersembunyi daerah gua karst antara lain:
• Daerah potensi mineral:Batuan karbonat (batu gamping) merupakan salah satu dari sumber mineral terbesar di daerah karst. Batuan ini sering digunakan sebagai ornamen/hiasan, campuran pembuatan semen, serta bahan baku industri-industri seperti untuk bahan pemutih, penjernih air dan bahan pestisida.

• Objek Wisata: Banyaknya wisata yang dikembangkan, seperti wisata alam, wisata petualangan, wisata ilmiah. Hal ini tentu saja dapat menambah devisa negara dan menjadi mata pencaharian bagi warga setempat.

• Daerah penambangan: Daerah karst khususnya gua karst dapat dijadikan daerah penambangan, seperti penambangan untuk industri semen, gips, dan batu gamping.

• Daerah potensi air:Pada dasarnya, karena merupakan batuan yang kompak, batugamping bersifat impermeabel. Adanya sistem rekahan atau rongga-rongga pelarutan di dalamnya, menyebabkan batugamping dapat bertindak sebagai akifer yang cukup baik. Air ini dapat digunakan karena merupakan cadangan air bersih yang justru meluap pada musim kemarau.

• Terdapat banyak benda-benda arkeolog: Ada banyak fosil yang di temukan dalam gua-gua kapur yang ada di Pegunungan Sewu di selatan Jawa. Dari fosil binatang kecil purba, fosil binatang besar purba, sampai manusia prasejarah sampai artefak-artefak dari kebudayaan manusia.Fosil kerang laut dan mollusca juga banyak menghiasi dinding gua, tim dari UGM juga pernah menemukan fosil yang diidentifikasi sebagai fragmen taring kuda nil, dan juga telah ditemukan fosil manusia Pacitan.

• Habitat bagi banyak fauna: Pada gua karst biasanya terdapat banyak hewan menguntungkan yang bisa dijumpai, di antaranya ular, kelelawar, dan walet. Ular dapat bermanfaat sebagai predator tikus. Kelelawar bermanfaat sebagai pemakan serangga. Dan walet, tentu dapat mendatangkan banyak uang melalui sarang dan air liurnya yang berharga mahal.

Contoh-contoh Gua Karst
Berikut ini adalah contoh keberadaan beberapa gua karst:
• Karst Maros-pangkep di Sulawesi Selatan merupakan salah satu kawasan karst yang mempunyai bentang alam yang unik dan khas yang biasa disebut tower karst.
• Karst Pengunungan Sewu
• Karst Taman Leuser Taman Nasional Gunung Leuser (Aceh)
• Bohorok (Sumut)
• Payakumbuh (Sumbar)
• Gombong selatan (Jateng)
• Pacitan-Trenggalek (Jatim)
• Malang selatan, dan Blambangan (Jatim)
• Dan masih banyak lagi.

SUNGAI KARST
Sistem hidrologi daerah karst secara umum bersifat impermeabel, tetapi karena terdapat celah dan rekahan maka batuan menjadi impermeabel (atau bisa disebut permeabilitas skunder), dengan demikian air hujan dapat masuk ke dalam batuan, membentuk rekahan-rekahan yang melebar, terbentuk gua-gua dan menyatu antara rekahan satu dengan yang lain akhirnya terjadilah sungai bawah tanah.


Punkva Cave and River, Moravian Karst, Czech Republic

Manfaat Sungai Karst
Air tanah karst secara kulitatif tentunya mempunyai kualitas yang umumnya baik. Sebagian besar sumber air tanah karst ini digunakan oleh masyarakat sebagai sumber air minum.Umumnya kualitas air tanah karst mempunyai konsentrasi unsur Ca (kalsium), Mg (magnesium), dan kesadahan yang tinggi.Hal ini sesuai dengan komposisi mineral batuan karbonat yang memang didominasi Ca dan Mg. Oleh karena itu sumber air ini bila digunakan sebagai air minum sebaiknya diendapkan terlebih dahulu agar konsentrasi dua unsur tersebut dapat berkurang. Efek dari penggunaan air yang mengandung Ca dan Mg yang tinggi dapat mengakibatkan terganggunya kerja ginjal.

Pencemaran Sungai Karst
Pencemaran air tanah karst dapat terjadi terutama berasal dari daerah imbuhannya, misalnya dari kotoran kelelawar dalam gua, penebangan tanaman, penambangan batu gamping dan lainnya.

• Ilmu yang mempelajari mengenai gua dan kelingkungannya disebut speologi.
• Orang yang pertama kali memulai penelusuran gua adalah John Beaumont, seorang ahli bedah dari Somerset, Inggris. Ia adalah seorang ahli tambang dan geologi amatir.
• Orang yang paling berjasa dalam mendeskripsikan gua adalah Baron Johan Valsavor dari Slovenia. Ia mengunjungi 70 gua, memetakan dan membuat sketsa gua. Ia juga membuat 4 buku setebal 2800 halaman.
• Gua pertama kali digunakan sebagai wisata oleh kaisar Habsbrug Prancis I dari Austria meninjau gua Adelsberg (sekarang bernama gua Postojna) terletak di Yugoslavia .
• Para penjelajah gua juga mempunyai etika dalam menjelajah : Take nothing but picture, leave nothing but footprints, kill nothing but time. Rupanya motto ini perlu juga kita pakai dalam menjelajah alam untuk menjaga keaslian wilayah tersebut.

loading...

FOLLOW and JOIN to Get Update!

Social Media Widget SM Widgets




Peternakan dan Herbal Updated at: 18:13

0 komentar:

Post a Comment

Copyright@2014-2016. www.AgrobisnisInfo.com . Powered by Blogger.