loading...

Sentra Peternakan Rakyat (SPR), Minim Manajemen Reproduksi

Posted by

Kelompok peternak diharapkan berfungsi dominan dalam pembangunan peternakan era SPR (Sentra Peternakan Rakyat) yang digaungkan pemerintah saat ini.

Kelompok peternak sebagai organisasi peternak paling bawah diharapkan bukan hanya sebagai wadah pengikat tapi juga sebagai pelaksana fungsi-fungsi yang tidak bisa dijalankan sendiri oleh peternak karena keterbatasannya. Seperti menjalaknan fungsi manajemen reproduksi, recording dan kesehatan ternak.

Sebagaimana diungkapkan oleh Agung Budiyanto, dosen Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada, saat ini banyak kelompok peternak yang statusnya tidak aktif. “Dari pendampingan lapangan yang dilakukan secara pro aktif oleh tim kami, bahkan kelompok yang aktif pun, banyak yang kehilangan dinamika, alias stagnan,”  ungkapnya pada Workshop Kelompok Peternak yang digelar 19 Desember lalu di FKH UGM.

Menurut ahli reproduksi ternak yang meraih gelar doktoralnya di Jepang ini, kelompok peternak memerlukan upgrading, antara lain pada manajemen organisasi, kesehatan ternak, reproduksi, dan sustainability.

Untuk berhubungan langsung dengan ratusan peternak tanpa wadah yang aktif, SPR kemungkinan akan menemui kendala. Karena realitasnya kepemilikan ternak di Indonesia kecil-kecil dan lokasinya tersebar. Mereka pun masih mengalami problem teknis yang kompleks. “Maka kelompok peternak memiliki fungsi vital untuk pengembangan peternakan melalui SPR ini,” tegas Agung.
Selain perlu bimbingan teori dan pendampingan lapangan, kelompok peternak pun memerlukan benchmark kelompok lain yang sudah dikelola secara lebih baik. “Maka workshop peternak ini kami juga menggelar sesi praktek langsung ke kelompok peternak Mergo Andini Makmur (MAM), Seyegan – Sleman,” terang Agung.

Dokter hewan pendamping lapangan dari FKH UGM  Sunaryanto menjelaskan, dari sesi praktek yang dihadiri 50-an pserta ini terlihat mereka sebenarnya sudah tahu dasar-dasar manajemen pemeliharaan. Tetapi perlu update dengan ilmu dan teknologi terbaru. “Karena mereka pengurus kelompok. Dari pengakuan mereka, anggotanya banyak yang masih mengalami kawin berulang dan minim pengetahuan tentang manajemen reproduksi,” ungkap dia.

Bahkan, kata Sunaryanto, banyak kelompok peternak yang memiliki kandang kelompok namun belum tahu layout kandang yang benar. “Terlebih soal recording. Harusnya setidaknya ada satu pengurus yang diberdayakan untuk urusan recording ini. Contohnya seperti di kelompok MAM ini,” pungkasnya.

Sumber: Trobos.com

loading...

FOLLOW and JOIN to Get Update!

Social Media Widget SM Widgets




Peternakan dan Herbal Updated at: 23:20

0 komentar:

Post a Comment

Copyright@2014-2016. www.AgrobisnisInfo.com . Powered by Blogger.