loading...

Pro Kontra Import Sapi dengan Prinsip Zona Base

Posted by

Pulau Karantina: Digadang atau Ditentang?



Pro kontra rencana importasi sapi indukan dengan prinsip zone base kembali menghangat sejurus kian santernya kabar penyiapan pulau karantina oleh pemerintah. Bahkan dalam satu kesempatan mengisi kuliah umum di Universitas Hasanuddin, Makassar, Menteri Pertanian Amran Sulaiman sempat menyebutkan aturan dalam bentuk PP (Peraturan Pemerintah) akan segera terbit sebagai pijakan hukum beroperasinya pulau karantina (21/10), sebagaimana dikutip Tempo.com.

Amran mengatakan aturan tersebut bakal terbit November. Penerbitan PP tersebut, kata dia, akan diikuti dengan impor 22 ribu indukan sapi dari Australia yang bakal dibudidayakan di pulau karantina tersebut. Amran yakin, pembangunan pulau karantina akan menyelesaikan masalah ketergantungan Indonesia pada impor daging sapi.

Sebelumnya, di sela acara pelepasan ekspor Hatching Egg induk broiler ke Myanmar oleh PT Japfa Comfeed Indonesia di Bandara Soekarno Hatta (06/10), Kepala Pusat Karantina Hewan dan Keamanan Hayati Hewani, Kementerian Pertanian, Sujarwanto menyebutkan, dari 7 lokasi yang diusulkan, 3 pulau disebut-sebut memenuhi persyaratan kandidat pulau karantina. Meski saat itu kepada TROBOS Livestock Sujarwantomengaku lupa nama ketiganya, di kesempatan lain kepada wartawan ia menyebut Pulau Naduk di Belitung; Pulau Durian Besar di Kabupaten Tanjung Balai Karimun, Kepulauan Riau; dan Pulau Simuang, Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara. “Penentuannya menunggu proses legislasi,” ujarnya.

Saat dikonfirmasi, Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH), Muladno mengatakan, rancangan PP (RPP) sedang diajukan ke presiden untuk meminta prakarsa pembuatan PP Karantina. “RPP Karantina belum ada. Ada draft awal tapi masih perlu dibahas, anggaran juga sedang diusulkan. Jadi masih prematur, betul-betul mentah. Yang dibahas mulai dari filosofi, persepsi, substansinya masih banyak yang perlu dibahas,” jelasnya.

Lebih lanjut Muladno mengatakan, sampai sekarang masih ada perbedaan persepsi. Sebagian menyebut pulau karantina, sebagian lain pulau yang dilindungi (protective zone). “Belum ada kesamaan pendapat. Peninjauan sudah ke lapangan, jaraknya sudah cukup jauh, dari segi fisik sudah memenuhi syarat,” imbuh dia. Kalau protective zone, jelas Muladno, ternak dibudidayakan di lokasi tersebut selamanya, dan keturunannyalah yang kemudian disebar ke daerah lain. Sehingga, selain kandang juga menuntut lahan pakan, tempat berkembang biak, instalasi air, dan masih banyak lagi. Sedangkan karantina, sifatnya sementara, hanya rentang waktu tertentu dan fasilitasnya lebih sederhana.

Zone Base & Pulau Karantina

Selama ini, dikarenakan menganut prinsip country base, maka Indonesia hanya memasukkan sapi-sapi dari Australia dan New Zealand. Indonesia, oleh Badan Kesehatan Hewan Dunia (OIE) dinyatakan bebas penyakit PMK (Penyakit Mulut dan Kuku), karena itu hanya mengimpor sapi dari negara bebas PMK. Dan Australia serta New Zealand, adalah negara yang memiliki kemampuan ekspor, sekaligus punya status bebas PMK  dari OIE.

Tapi kini, importasi dengan menganut prinsip zone base dimungkinkan dilakukan setelah UU No 18 Tahun 2009 tentang  Peternakan dan Kesehatan Hewan direvisi dengan UU No 41  tahun 2014. Revisi ini menjadikan syarat ekspor induk sapi cukup berasal dari zona bebas penyakit hewan menular, tak harus seluruh wilayah dari negara asal itu bebas penyakit tersebut (country base).

Sehingga negara-negara seperti India dan Brazil yang punya kemampuan ekspor dan punya zona atau wilayah bagian (provinsi) yang bebas PMK berpeluang memasukkan sapi-sapinya ke Indonesia. Kepada TROBOS Livestock Muladno mengaku beberapa negara seperti Brazil, Meksiko, Polandia, Kanada, dan India sudah mengajukan diri untuk menjadi pemasok sapi ke Indonesia. Tapi, kata dia, tak semudah itu bisa masuk. “Baru daftar, belum disetujui. Masih ada persyaratan-persyaratan yang harus dipenuhi, apakah layak atau tidak,” terangnya.

Pulau karantina merupakan amanah UU No. 41 tahun 2014 yang hingga kini belum terealisasi. Pulau karantina dibuat sebagai perangkat untuk merealisasikan penerapan zone base. Tujuan utama pulau ini untuk mengarantina sapi-sapi indukan yang akan masuk ke Indonesia dari negara-negara yang belum dinyatakan bebas PMK oleh OIE. Pasal 36 D ayat 1 menyebutkan, “Pemasukan ternak ruminansia indukan yang berasal dari zona harus ditempatkan di pulau/tempat karantina sebagai instalasi karantina pengamanan maksimum untuk jangka waktu tertentu”.

Dan kini, penyiapan pulau karantina hampir rampung dikaji. Sujarwanto mengatakan, penyiapan pulau karantina sebenarnya telah dilakukan sejak 2011 dan telah disurvei oleh Badan Karantina Kementan. “Pulau Naduk yang paling memenuhi syarat diantara lainnya, sudah dilakukan kunjungan lapang,” ujarnya.

Pulau Naduk dapat dijangkau dalam 30 menit dengan mengendarai kapal motor dari dermaga pelabuhan nelayan Desa Pegantungan, Kabupaten Belitung. Luas pulau ini sekitar 2.200 hektar, tak berpenghuni sehingga memenuhi syarat sebagai pulau karantina.

Syarat utama pulau karantina sebagaimana Muladno sebutkan, antara lain jauh dari kawasan penduduk, tak berpenghuni, bebas dari penyakit dan bebas dari hewan lain, serta cukup luas untuk menampung sapi-sapi indukan yang bakal dikarantina. “Harus steril dari penyakit menular, tidak dihuni orang, sumber air bersih tersedia, dan berpotensi untuk pengadaan pakan dan penunjang produksi lainnya,” imbuh dia.

Sumber Trobos.com

loading...

FOLLOW and JOIN to Get Update!

Social Media Widget SM Widgets




Peternakan dan Herbal Updated at: 21:24

0 komentar:

Post a Comment

Copyright@2014-2016. www.AgrobisnisInfo.com . Powered by Blogger.