loading...

Potensi Limbah Kulit Kopi Untuk Pakan Ternak

Posted by

Perkebunan kopi yang dikelola oleh rakyat sampai saat ini terus berkembang di beberapa propinsi di Indonesia sehingga perluasannya terus meningkat. Luas perkebunan kopi di Indonesia 1,31 juta hektar, dari luasan tersebut dapat diproduksi buah kopi sebanyak 686.768 ton.

Produksi buah kopi di Indonesia menempati urutan ke empat terbesar di dunia setelah Kolumbia, Brazil dan Vietnam. Kulit luar kopi yang merupakan limbah hasil pengolahan buah kopi memiliki proporsi 40 – 45%, sehingga jumlah limbah tersebut adalah sebanyak 752,6 – 846,7 ton/hari. Kulit buah kopi cukup potensial untuk digunakan sebagai bahan pakan ternak ruminansia termasuk kambing.

Kandungan zat nutrisi yang terdapat pada kulit buah kopi seperti; protein kasar sebesar 10,4%, serat kasar sebesar 17,2% dan energi metabolis 14,34 MJ/kg (ZAINUDDIN dan MURTISARI, 1995) relatif  sebanding dengan kandungan zat nutrisi rumput. POND et al. (1994) melaporkan bahwa protein kasar rumput yang ada di Sumatera Utara berkisar 7 – 14%.

Dengan kandungan zat nutrisi tersebut, maka kulit buah kopi diperkirakan hanya mampu memenuhi kebutuhan hidup pokok, sehingga untuk pertumbuhan, bunting dan laktasi diperlukan pakan tambahan untuk memenuhi kebutuhan protein dan energi. Kuli buah kopi termasuk kategori limbah basah (wet byproducts) karena masih mengandung kadar air 75 – 80%, sehingga dapat rusak dengan cepat apabila tidak segera diproses. Perlakuan melalui pengeringan membutuhkan biaya yang relatif tinggi, sehingga perlu dikembangkan melalui teknologi alternatif lain agar produk tersebut dapat dimanfaatkan secara lebih efisien.

Teknologi silase adalah suatu proses fermentasi mikroba merubah pakan menjadi meningkat kandungan nutrisinya (protein dan energi) dan disukai ternak karena rasanya relatif manis. Silase merupakan proses mempertahankan kesegaran bahan pakan dengan kandungan bahan kering 30 – 35% dan proses ensilase ini biasanya dalam silo atau dalam lobang tanah, atau wadah lain yang prinsifnya harus pada kondisi anaerob (hampa udara), agar mikroba anaerob dapat melakukan reaksi fermentasi (SAPIENZA dan BOLSEN, 1993).

Keberhasilan pembuatan silase berarti memaksimalkan kandungan nutrien yang dapat diawetkan. Selain bahan kering, kandungan gula bahan juga merupakan faktor penting bagi perkembangan bakteri pembentuk asam laktat selama proses fermentasi (KHAN et al., 2004).

Pada fase awal proses ensilase, enzim yang bekerja dalam proses respirasi pada bahan mengoksidasi karbohidrat yang terlarut, menghasilkan panas dan menggunakan gulagula yang seyogianya siap pakai untuk proses fermentasi. Kehilangan gula pada proses respirasi merupakan hal yang menyulitkan baik dari sudut pandang pengawetan melalui proses pembuatan silase maupun dari segi nilai nutrisinya. Gula merupakan substrat bagi bakteri penghasil asam laktat yang akan menghasilkan asam yang berfungsi sebagai pengawet bahan yang disilase tersebut.

Mengingat limbah tersebut mempunyai potensi yang tinggi sebagai bahan pakan basal menggantikan rumput untuk ternak kambing, maka perlu dicoba pemanfaatannya dalam bentuk silase sehingga optimalisasi pemanfaatannya akan lebih jelas.

Tahap awal pembuatan silase adalah melakukan pengurangan kadar air kulit buah kopi (menggunakan panas matahari) selama ± 4 – 5 jam tergantung intensitas sinar matahari sehingga kadar air limbah pengolahan kopi tersebut berkisar 50 – 60%, kemudian diproses menjadi silase melalui cara dicampur dengan bahan aditif molases (gula tetes) 10% untuk merangsang aktivitas mikroba dalam proses fermentasi pembuatan silase, selain itu juga untuk meningkatkan kandungan energi dan protein silase yang dihasilkan nantinya. Setelah dicampur merata dimasukkan ke dalam kantong plastik (dua lapis) dengan ukuran 50 kg, dipadatkan untuk meminimumkan udara (proses fermentasi anaerob). Kemudian disimpan di tempat teduh (bebas sinar matahari) selama ±3 minggu tergantung cepat lambatnya proses silase. Setelah 3 minggu diambil sampel silase kulit kopi sebanyak 500 gram untuk dianalisis kandungan nutriennya.

Contoh Bahan penyusun konsentrat adalah; dedak halus, jagung giling, bungkil kelapa, urea, tepung ikan, tepung tulang, ultra mineral dan garam. Konsentrat yang disusun memiliki kandungan DE 2,8 Kkal/kg dan protein 17,1%. Pemberian pakan disesuaikan dengan kebutuhan bahan kering pakan untuk setiap ekor kambing dan diasumsikan bahwa kebutuhan adalah sebesar 3,8% dari bobot badan berdasarkan bahan
kering (NRC, 1981).

loading...

FOLLOW and JOIN to Get Update!

Social Media Widget SM Widgets




Peternakan dan Herbal Updated at: 18:11

0 komentar:

Post a Comment

Copyright@2014-2016. www.AgrobisnisInfo.com . Powered by Blogger.