loading...

Penyakit yang disebabkan Parasit pada Ayam

Posted by

Jenis-Jenis Penyakit Parasit

Kata parasit berasal dari bahasa Yunani Kuno, yaitu “para” dan “sitos”. Kata “para” artinya hidup bersama, dan “sitos” berarti makanan. Dengan kata lain, parasit dapat diartikan sebagai organisme yang menggantungkan sebagian atau seluruh hidupnya untuk mendapatkan makanan dari hospes atau induk semangnya.

Berdasarkan sifat hidupnya, parasit dibagi menjadi 2 macam yaitu parasit obligat dan fakultatif. Disebut parasit obligat apabila seluruh siklus hidup parasit bergantung pada hospes, contohnya protozoa, cacing, serta kutu. Dan disebut fakultatif apabila parasit tersebut tidak sepenuhnya bergantung padahospes dan masih dapat tetap hidup meskipun berada di luar tubuh hospes, contohnya lalat dan nyamuk.

Di peternakan sendiri, parasit yang menyerang unggas dibedakan menjadi endoparasit dan ektoparasit. Parasit yang hidup di dalam tubuh hospesdikenal dengan istilah endoparasit, dan parasit yang hidup di luar atau pada permukaan tubuh hospes dikenal dengan ektoparasit.

Protozoa dan cacing merupakan endoparasit yang sering menginfeksi ayam. Sedangkan ektoparasit terdiri dari kutu, caplak, tungau, dan pinjal. Protozoa sendiri menimbulkan tiga kasus infeksi, yaitu koksidiosis, leucocytozoonosis), dan malaria unggas, dimana masing-masing kasus disebabkan oleh agen protozoa yang berbeda.

Di Indonesia, serangan parasit pada ayam dapat ditemukan kasusnya sepanjang tahun, dengan akumulasi kasus lebih dominan terjadi di musim penghujan dibanding kemarau (lihat Grafik 1). Menurut data dari tenaga lapangan Medion, dilaporkan pula bahwa kasus penyakit parasit di tahun 2015 meningkat cukup signifikan dibanding tahun 2013 dan 2014 (lihat Grafik 2). Berikut uraian masing-masing penyakit parasit yang menyerang peternakan di Indonesia dan cara mengobatinya.

 

Penyakit Koksidiosis

Koksidiosis atau yang sering disebut sebagai berak darah adalah penyakt parasit protozoa yang menyerang saluran pencernaan ayam bagian usus halus, usus besar, dan sekum. Jumlah kasusnya paling tinggi dibanding kasus cacingan, malaria, dan serangan kutu.Dampak yang terjadi pada ayam apabila terserang penyakit ini antara lain pertumbuhannya terhambat, penurunan efisiensi penggunaan ransum, dan kematian yang dapat mencapai 80-90%. Serangan koksidiosis juga menimbulkan efek imunosupresif (turunnya kekebalan tubuh) sehingga ayam akan rentan terinfeksi penyakit lainnya.

Penyakit koksidiosisdisebabkan oleh koksidia, yaitu parasit protozoa yang berasal dari dari . Ada 7 spesies Eimeria yang menyebabkan sakit pada ayam, yaitu , E. acervulina, E. maxima, E. brunetti, E. mitis, dan . praecox. Setiap spesies  mempunyai predileksi (tempat kesukaan, red) tertentu di dalam usus ayam, sehingga luka yang ditimbulkan juga akan berbeda-beda. Contohnya  yang menyerang khusus di usus buntu (sekum), serta  dan lainnya yang menyerang usus halus.

Gejala klinis dan perubahan patologi anatomi yang muncul akibat koksidiosis sebenarnya bervariasi tergantung umur ayam yang terserang dan spesiesEimeria yang menyerang. Ayam yang terserang koksidiosis awalnya akan menampakkan gejala klinis mengantuk, sayap terkulai ke bawah, bulu kasar (tidak mengkilat), nafsu makan rendah (anorexia), dan anemia.

Untuk infeksi E. tenella, ayam mengalami berak darah yang diketahui dari adanya feses berwarna merah atau oranye pada litter atau di bawah kandang. Sedangkan pada infeksiE. maxima, akan ditemukan feses kental berwarna kemerahan dan bercampur bintik-bintik darah.

Dari hasil bedah ayam yang terindikasi koksidiosis, perubahan organ tubuh yang akan ditemukan jika penyebabnya E. tenella ialah sekum membesar sehingga besarnya menjadi 2-3 kali lipat, dindingnya menebal berwarna gelap, dan jika disayat ada gumpalan darah di dalamnya.

Sedangkan spesies Eimerialainnya menimbulkan kelainan berupa penebalan dinding usus yang disertai peradangankataralis (bernanah) sampaihaemorrhagis (berdarah). Pengamatan yang teliti menunjukkan adanya bintil-bintil berwarna putih di permukaan usus berisi ookista.

Identifikasi awal adanya serangan koksidiosis menjadi langkah penting untuk mengantisipasi terjadinya outbreak penyakit ini. Jika ada satu atau dua ekor ayam yang menggigil dan bersembunyi di belakang tempat ransum atau minum, serta ditemukan feses berdarah di kandang, maka sudah selayaknya kita langsung mengarahkan paradigma kita terhadap kemungkinan adanya serangan koksidiosis. Penanganan yang perlu dilakukan antara lain:

Isolasi ayam yang sakit

Jika memungkinkan, buang feses bercampur darah yang ada padalitter untuk menghindari ayam lain mematuknya. Hal ini karena warna merah pada feses akan menarik perhatian ayam lain untuk mematuk dan terjadilah proses penularan penyakit koksidiosis.

Berikan obat antikoksidia, seperti dari golongan sulfonamide (Coxy,Sulfamix, Antikoksi, Duoko, Maladex, atau Trimezyn),thiamine antagonist (Therapyatau Koksidex), atau golongan triazinetrione (Toltradex).Sebaiknya lakukan rollingpenggunaan antikoksidia dari golongan yang berbeda setiap interval 3-4 kali pengobatan.Adapun tata cara pengobatan koksidiosis yang harus diperhatikan diantaranya:

Pemberian antikoksidia tidak dilakukan bersamaan dengan produk yang mengandung vitamin B atau asam amino.

Selama masa pengobatan tidak diberikan vitamin B. Vitamin B baru bisa diberikan setelah pengobatan tuntas/selesai.

Jika ada gangguan ginjal, jangan gunakan antikoksidia golongansulfonamide.

Culling ayam yang kondisinya parah

Khusus untuk ayam pedaging, jika kasus penyakit terjadi di umur > 25 hari dan harga ayam di pasaran sedang bagus, disarankan agar ayam dipanen saja.

Perhatikan kondisi litter/sekam, jangan sampai lembab atau basah. Tambahkan sekam baru jika sekam sudah sangat lembab. Jika perlu, tambahkan kapur pada sekam yang baru ditambahkan.

Penyakit Cacingan

Penyakit parasit kedua yang cukup tinggi kejadiannya di peternakan adalah cacingan. Cacing yang menyerang unggas digolongkan menjadi 3 jenis, yaitu cacing daun (trematoda), cacing gilig (nematoda), dan cacing pita (cestoda). Dari ketiga jenis cacing tersebut, jenis nematoda dan cestoda-lah yang lebih sering ditemukan menyerang ayam komersial dan menyebabkan kerugian ekonomi cukup tinggi.

Cacing Nematoda (cacing gilig)

Cacing gilig memiliki karakteristik berwarna putih, tidak bersegmen, dan bentuknya bulat panjang seperti benang. Contoh cacing gilig yang sering ditemukan menyerang ayam adalah spesies Ascaridia galli. Selama hidupnya, cacing gilig melewati 3 tahap perkembangan meliputi telur, larva, dan cacing dewasa. Siklus hidup cacing ini tidak membutuhkan inang antara atau vektor, sehingga penularannya hanya terjadi melalui ransum, air minum, litter/sekam atau bahan lain yang tercemar feses yang mengandung telur infektif (telur yang mengandung larva cacing).

Secara sederhana, siklus hidup cacing gilig berawal ketika cacing dewasa yang hidup di dalam tubuh ayam menghasilkan telur yang kemudian dikeluarkan bersama feses. Selanjutnya telur berkembang menjadi telur infektif. Di lingkungan luar, jika telur infektif tertelan oleh ayam lain, maka telur akan menetas di dalam proventrikulus dan larva keluar. Setelah itu, larva akan tumbuh menjadi cacing dewasa di dalam tubuh ayam baru tersebut.

Cacing Cestoda (cacing pita)

Cacing pita merupakan cacing pipih berbentuk pita, berwarna putih, dan tubuhnya bersegmen. Cacing ini menginfeksi ayam melalui inang antara/vektor seperti lalat rumah (Musca domestica), semut, dan kumbang. Beberapa contoh spesies cacing pita yang diketahui sering menyerang ayam komersial adalah Raillietina sp. dan Davainea sp. Secara sederhana, siklus hidup cacing ini bermula ketika telur cacing pita termakan oleh inang antara, kemudian menetas di dalam saluran pencernaannya dan tetap tinggal di dalamnya hingga inang antara tersebut termakan oleh ayam. Setelah ayam memakan inang antara yang mengandung larva cacing, larva kemudian melekatkan diri pada dinding usus ayam. Setelah itu, segmen muda dari cacing sedikit demi sedikit terbentuk, dan cacing akan berkembang menjadi dewasa dengan banyak segmen-segmen yang matang dalam waktu 14-21 hari.

Di lapangan, penyakit cacingan lebih sering menyerang ayam petelur dibanding ayam pedaging. Selain itu, ayam petelur muda juga lebih rentan diinfeksi cacing dibandingkan dengan ayam petelur yang sudah produksi/tua.

Pada ayam muda (masastarter) dan awal masa pullet(umur < 12 minggu), biasanya sebagian besar kasus cacingan didominasi oleh infeksi cacing gilig. Hal ini terutama terjadi pada ayam yang dipelihara dalam kandang postal karena ayam masih kontak dengan litter yang bercampur dengan feses ayam. Jadi, jika di dalam populasi kandang, ada ayam yang sudah terkena cacingan, maka dengan cepat cacingan dapat menular ke ayam lain.

Sementara menjelang dewasa dan sepanjang masa produksi (umur > 12 minggu), ketika ayam petelur sudah menempati kandang baterai, umumnya yang menginfeksi adalah cacing pita. Hal ini berkaitan dengan keberadaan inang antara yang banyak berkembang seiring dengan kondisi feses yang mulai banyak, menumpuk di bawah kandang, basah dan lembab, serta adanya kontaminasi ransum oleh inang antara (lalat dan semut,red

Pada kasus cacingan, gejala klinis baru akan terlihat jika investasi cacing sudah cukup berat. Misalnya ayam terlihat pucat, diare, nafsu makan berkurang, terjadi penurunan produksi telur, dan ditemukan adanya cacing dewasa pada feses atau di dalam usus ayam. Dengan mempertimbangkan kondisi ini, maka mengendalikan cacing melalui program pencegahan adalah salah satu pilihan bijak yang bisa diambil peternak, terutama bagi peternak yang ayam peliharaannya pernah terserang cacingan.

Strateginya adalah dengan memberikan obat cacing pada 1 bulan pertama pemeliharaan, kemudian diulang tiap beberapa bulan. Jika ayam dipelihara di kandang postal atau non slat, lakukan pengulangan pemberian obat cacing tiap 21-56 hari atau sekitar 1-2 bulan. Sedangkan bila ayam dipelihara pada kandang baterai/slat, pengulangan bisa dilakukan tiap 3 bulan karena ayam tidak kontak dengan litter. Contoh program pencegahan cacingan dapat dilihat pada Tabel 1. Pada saat ayam sudah diketahui terlanjur terserang cacingan, peternak dapat memberikan Levamid. Levamidampuh membasmi cacing pita sekaligus cacing gilig pada ayam.

Penyakit Malaria

Kasus malaria pada ayam bisa disebabkan oleh dua agen protozoa yaitu Leucocytozoon sp. (penyebab kasus malaria like) dan Plasmodium sp. (penyebab kasus malaria unggas). Namun kasus malaria akibat infeksiLeucocytozoon sp. lebih banyak ditemui ketimbang malaria akibatPlasmodium sp.

Malaria like atau yang lebih tepat disebut leucocytozoonosis, adalah penyakit yang disebabkan oleh protozoa Leucocytozoon sp. yang hidup di jaringan maupun sel-sel darah. Leucocytozoonosisditularkan oleh lalat hitam (Simulium sp.) dan nyamukCulicoides sp. Kedua serangga tersebut bertindak sebagai vektor dan menginfeksi ayam sehat melalui gigitan. Genangan air merupakan media ideal bagi perkembangbiakan nyamuk dan serangga lain. Maka tak heran apabila saat musim pancaroba atau musim hujan, seranganleucocytozoonosis seringkali muncul.

Meskipun kasus penyakit ini lebih sering ditemukan pada peternakan ayam pedaging, bukan berarti peternakan ayam petelur luput dari serangan. Gejala klinis leucocytozoonosisantara lain munculnya bintik-bintik merah di bawah kulit dan otot, serta feses berwarna kehijauan. Ayam terlihat lesu, menggigil kedinginan dan bahkan mengalami muntah darah.

Perubahan yang ditemukan pada saat bedah bangkai diantaranya bintik-bintik atau bercak-bercak perdarahan pada hampir seluruh organ dalam tubuh (hati, paru-paru, limpa, timus, ginjal, pankreas, usus,proventrikulus, bursa Fabricius, otak, otot dada, dan otot paha). Pada rongga perut dan saluran pernapasan sering dijumpai adanya gumpalan darah. Perdarahan yang hebat akan menyebabkan kekurangan darah dengan gejala jengger mengkerut berwarna pucat/kecoklat-coklatan. Tingkat kematiannya pada anak ayam 7-50%, sedangkan pada ayam dewasa sekitar 2-60%.

Jika ayam sudah memperlihatkan gejala klinis penyakit leucocytozoonosis, langkah terbaik ialah segera melakukan pengobatan secara tuntas. Contoh obat yang bisa digunakan untuk mengobatileucocytozoonosis adalahMaladex, Antikoksi, Duoko atauCoxy (pilih salah satu dan gunakan sesuai aturan pakai).

Penyakit Ektoparasit

Parasit luar/eksternal pada ayam umumnya tidak menimbulkan kematian tetapi secara ekonomi merugikan. Parasit luar akan mengisap darah ayam dan menimbulkan kegatalan sehingga mengganggu pertumbuhan dan produksi telur. Penyakit kutuan yang sangat parah dapat menurunkan produksi telur sampai 20%. Kasus ektoparasit sendiri pada ayam pedaging jarang terjadi karena ayam dipanen pada umur 5-6 minggu. Sebaliknya, kutu bisa menjadi musuh utama bagi peternak yang memelihara ayam petelur dengan kondisi manajemen kandang yang kurang bagus.

Kutu yang menyerang ayam merupakan salah satu jenis ektoparasit. Selain kutu (lice), ektoparasit lainnya yang hidup di tubuh ayam ada bermacam jenis, antara lain tungau (mite), caplak (tick), dan pinjal (flea). Meski sekilas penampilannya nampak sama, namun sebenarnya masing-masing memiliki morfologi bentuk tubuh dan kebiasaan hidup yang berbeda. Adapun perbedaan antara kutu, pinjal, tungau, dan caplak tersebut dapat dilihat pada Tabel 2. 

Kasus serangan ektoparasit relatif mudah untuk diketahui dengan memperhatikan beberapa gejala yang muncul. Contohnya ayam terlihat tidak tenang, terus menceker, kurus, bulu kusam, kehilangan nafsu makan dan seringkali mematuki bulu serta tubuhnya.

Penanganan utama untuk membunuh ektoparasit seperti kutu, caplak, pinjal, tungau ialah dengan menggunakan obat anti kutu. Contohnya adalah Kututox Oral. Kututox Oral sangat efektif dan praktis karena diberikan lewat air minum. Antiparasit dalam Kututox Oral yang masuk ke dalam tubuh ayam kemudian akan diserap dalam usus, lalu beredar di dalam darah ayam. Saat kutu, tungau, pinjal, dan caplak menghisap darah ayam, zat aktif antiparasit akan kontak dengan ektoparasit dan kutu pun akhirnya lumpuh dan mati.

Demikian bahasan mengenai penyakit parasit yang menyerang selama tahun 2015 dan cara pengobatannya. Satu hal yang tidak kalah penting yaitu ketika musim hujan datang, peternak harus bersiap-siap menghadapi serbuan berbagai macam serangga, seperti lalat, nyamuk, dan kumbang. Peningkatan populasi serangga ini akan memperbesar peluang penyebaran berbagai parasit pada ayam, karena mereka bertindak sebagai inang antara atau vektor dari parasit. Oleh karena itu, semprotkan insektisida (fogging) pada areal di sekitar kandang untuk membasmi nyamuk dan kumbang. Namun perhatikan dosis pemakaian dan keamanannya. Gunakan pula kombinasi antara Larvatox (untuk membunuh larva lalat), Flytox(untuk membunuh lalat dewasa), dan Delatrin (untuk membunuh lalat dewasa) guna membasmi lalat yang banyak terdapat di areal kandang.

Info Medion Edisi Desember 2015
Www.info.medion.co.id

loading...

FOLLOW and JOIN to Get Update!

Social Media Widget SM Widgets




Peternakan dan Herbal Updated at: 05:29

0 komentar:

Post a Comment

Copyright@2014-2016. www.AgrobisnisInfo.com . Powered by Blogger.