loading...

Panjangnya Rantai Pemasaran Tataniaga Ayam Broiler

Posted by

Bidang peternakan merupakan soko guru perekonomian rakyat dimana rakyat adalah pelaku utama terutama masyarakat di pedesaan. Kelemahan industri peternakan rakyat biasanya banyak terkendala panjangnya rantai distribusi dan pemasaran yang kadang dan seringkali mengakibatkan roda ekonomi mengalir dengan biaya tinggi. Tidak terkecuali dalam pemasaran ayam broiler, berikut berita mengenai rantai pemasaran ayam broiler yang dikutip dari trobos.com.

Memahami Rantai Pemasaran Broiler


Dulu, Suparno yang  pemotong sekaligus pedagang karkas ayam di kawasan Pulo Gadung Jakarta Timur mendapatkan ayam hidup langsung dari peternak. Ketika itu tak ada istilah pangkalan ayam atau pengepul, sebutan bagi perantara peternak broiler (ayam pedaging) dengan pedagang daging ayam. Pria yang akrab disapa Nojeng ini menyebut rentang waktu 1985 – 2000 adalah era terbaik bagi perniagaan broiler. “Benar-benar tertata saat itu, tidak ada pangkalan ayam. Baik peternak maupun pedagang sudah punya jadwal panen yang pasti sehingga harga bisa stabil dan saling menguntungkan,” kenang Nojeng yang juga Ketua Paguyuban Pedagang Ayam Potong (PPAP) dengan jumlah anggota 2.000 – 3.000  orang, tersebar di seluruh Jakarta.

Nojeng mempermasalahkan keberadaan pangkalan ayam dalam rantai suplai broiler karena sejak ada pangkalan di Pulo Gadung, ia tak lagi bisa langsung ke kandang untuk memenuhi stok dagangannya. “Seolah tertutup akses langsung ke peternak. Mau tidak mau harus ambil ayam ke pangkalan,” ujarnya.

Harga yang didapat pun kini harga pangkalan bukan harga dari peternak. Selisih harga pangkalan dengan harga di kandang, sesuai pengamatan dia pada saat-saat tertentu, mencapai Rp 1.200 per kg broiler. Ia menyebut amsal, ketika harga broiler mencapai level Rp 13.000 per kg di kandang (9/15), Nojeng mendapatkan ayam seharga Rp16.000 dari pangkalan.
             
Apa boleh buat, Nojeng mengaku, ia dan pedagang lainnya tidak punya pilihan dan harus terima dengan harga beli live bird tersebut. Pasalnya, ia harus membeli ayam untuk mencukupi permintaan pelanggannya di pasar. Untungnya, menurut Nojeng, sejauh ini konsumen dia tidak mengeluh dengan harga daging ayam baik rendah maupun tinggi.
             
Tak hanya soal harga, keberadaan pangkalan menurut Nojeng menimbulkan masalah lain, yaitu turunnya tingkat efisiensi produk karkas ayam. Ia menunjuk angka mortalitas ayam meningkat akibat makin panjangnya alur transportasi broiler. Ia menggambarkan, ayam dipanen umumnya saat pagi – siang hari oleh bakul (penjual ayam hidup). Dalam perjalanan menuju pangkalan, dipastikan terjadi kematian dengan jumlah bervariasi.

Ayam masuk ke pangkalan sore hari, menunggu para pemotong datang membeli ayam sesuai kebutuhan. Setelah dibeli pemotong, ayam akan dibawa ke RPA atau ke tempat pemotongan yang terpisah dari lokasi pangkalan, untuk kemudian  akan disembelih di dini hari. Transportasi di level pemotong, sangat umum dijumpai menggunakan motor, broiler hanya diikat di atas motor dan kematian sangat mungkin terjadi. Artinya, kata Nojeng, risiko kematian menjadi dua kali ketimbang pemotong mengambil langsung ke kandang.
             
Nojeng menyebut, jumlah ayam yang mati selama pengangkutan menuju pangkalan dan menuju RPA, jika disatukan bisa mencapai ratusan ekor. Selain kerugian, ini berpotensi mengancam konsumen. Karena, jumlah ini cukup besar untuk dijadikan usaha ilegal ayam tiren (mati kemarin).

SPR jadi Solusi

Era emas yang pernah dilalui Nojeng, seharusnya bisa tercipta kembali dengan perbaikan tata niaga broiler. Kepada TROBOS Livestock, Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH), Muladno mengutarakan pemikirannya soal penataan perunggasan melalui konsep Sentra Peternakan Rakyat (SPR), sebuah program yang ia gagas dan beberapa tahun berhasil diterapkannya pada sapi potong di beberapa daerah. Program SPR untuk unggas akan meniru konsep SPR yang telah berjalan di sektor sapi potong. “Tujuan SPR adalah membentuk usaha kolektif sehingga memiliki kekuatan dalam tataniaga,” jelasnya.

Sumber:
http://www.trobos.com/detail_berita.php?sid=6548&sir=7

loading...

FOLLOW and JOIN to Get Update!

Social Media Widget SM Widgets




Peternakan dan Herbal Updated at: 01:58

0 komentar:

Post a Comment

Copyright@2014-2016. www.AgrobisnisInfo.com . Powered by Blogger.