loading...

Tanaman Buah Merah, Obat Alami Jantung, Hipertensi, Asam Urat dan Diabetes

Posted by

Loading...
Tanaman Buah Merah. Termasuk famili pandan. Batang bercabang, berbentuk bulat, berkayu dengan diameter mencapai lebih dari 10 cm.




Nama Ilmiah Pandanus conoideus
Nama Daerah Sauk eken, atau tawi


Ciri-ciri Umum :
Daun berbentuk pita, warna hijau tua, tepi berduri, lebar 5—10 cm, dan panjang 150 cm. Buah berbentuk lonjong, warna merah, diameter 5_ 15 cm, panjang 150 cm, berat 3-12 kg. Biji tumbuh menempel dan tersusun rapi di empulur (seperti gabus tapi sedikit fiat), panjang 1 cm, diameter 0,2 cm. Tinggi akar 150 cm, menempel di batang.


Kandungan Kimia :Karbohidrat, protein, lemak, serat, kalsium, fosfor, besi, vitamin B1, Vitamin C, niasin, dan air.


Khasiat dan Manfaat :
Kanker, AIDS, jantung, hipertensi, stroke, asam urat, dan diabetes mellitus.

Kanker dan Tumor
Buah merah merupakan obat ampuh bagi penyakit kanker dan tumor. Kandungan tokoferolnya yang mencapai 11.000 ppm dan betakaroten yang mencapai 7000 ppm mampu menghambat pertumbuhan sel kanker secara signifikan.

Stroke dan Darah Tinggi
Penyakit stroke disebabkan oleh darah yang membeku dan penyempitan pembuluh darah yang salah satunya disebabkan oleh tekanan darah tinggi. Kandungan tokoferol pada buah merah mampu membantu mengencerkan darah, sehingga mampu mencegah terjadinya pembekuan darah penyebab penyakit stroke.



Bagian yang Digunakan : Buah dan minyak.

Berita tentang khasiat Buah Merah
Meskipun belum ada penelitian secara medis mengenai buah merah yang panjangnya semeter dan beratnya 15 kg, namun masyarakat Papua khusus Kab. Wamena yang dikonsumsi oleh penderita HIV/AIDS bisa merasakan perubahan yang signifikan sehingga kondisi kesehatannya semakin membaik, walau belum dinyatakan sembuh total.

Drs. I Made Budi MSi., mengatakan kepada beberapa media massa, seorang pengidap HIV/AIDS yang bernama Agustina (22) mengalami perubahan kesehatan . Berat badannya semula 27 kg, karena terserang virus yang belum ada obatnya itu, namun setelah mengonsumsi sari buah merah, naik menjadi 42 kg.

Awalnya, Agustina yang mengidap HIV/AIDS dibawa Yayasan Pengembangan Kesehatan Masayarakat (YKPM) Papua kepada I made Budi yang sedang meneliti buah itu. YKPM Papua yang mengetahui adanya sari buah merah yang dapat merekondisi kesehatan penderita HIV/AIDS meminta I Made Budi untuk meminum sari buah merah kepada Agustina.

Setelah beberapa lama Agustina meminum sari buah merah, ia merasa lebih baik. Gejala diare berat dan sariawan yang muncul jika mengidap HIV/AIDS hilang. Ia merasa segar dan bisa melakukan kegiatan sehari-hari, bak orang sehat.

Fendy R. Paimin yang menjual sari buah merah itu di Bogor menyebutkan, ia mendapat pasokan buah itu dari Jayapura. Kemudian Ia menjualnya dalam botol kaca kemasan seberat 120 ml seharga Rp 150.000,-. Kini ia kehabisan stok karena permintaan akan sari buah merah itu sangat banyak. “Begitu pasokan dari Papua datang, hari itu juga terjual habis. Kami kini sedang menunggu kedatangan sari buah merah ,” ujar Fendy yang merasa kewalahan karena banyaknya permintaan.

SARI buah merah yang disebut kuansu oleh penduduk setempat menjadikannya sebagai obat HIV (Human Immunodeficiency Virus) dan AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome) secara tidak sengaja. Awalnya, lanjut Made, buah merah itu diambil oleh masyarakat Wamena sebagai bahan makanan.

Dosen Universitas Cendrawasih itu mengamati secara sakasama kebiasaan masyarakat tersebut yang mengonsumsi buah merah itu, ternyata masyarakat sekitar selain tidak mengidap HIV/AIDS juga jarang terkena penyakit hepatitis, kanker, jantung dan hipertensi. ” Saat itu saya menduga, jarangnya penyakit yang diderita masyarakat Wamena pasti berhubungan dengan buah itu,” ujar Made.

Setelah meneliti beberapa lama, ternyata buah merah itu banyak mengandung Antioksidan, Betakarotin, Omega 3 dan 9, serta banyak zat lain yang meningkatkan daya tahan tubuh. “Kemudian saya melakukan percobaan kepada 30 unggas karena virus yang berbahaya tersebut itu sedang menyerang unggas, ” ujar Made yang menyelesaikan S-2 bidang gizi masyarakat di Institut Pertanian Bogor (IPB).

Semula ahli gizi dari Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (Mipa) itu hanya ingin mengungkap kandungan gizi buah tersebut, namun akhirnya ia mencoba juga meneliti, apakah bisa untuk menangkal HIV/AIDS . Ternyata dari hasil analisis, kandungan kimiawi buah merah itu dapat yang mengilhami Made untuk menjadikan sebagai obat. Buah merah itu mengandung zat gizi bermanfaat dalam kadar tinggi. Di antaranya Betakatoren, Tokoferol, asam oleat, asam linoleat, asam linolenat, dan dekanoat. Semuanya merupakan senyawa obat aktif.

Betakaroten berfungsi memperlambat berlangsungnya penumpukan flek pada arteri. Jadi aliran darah ke jantung dan otak berlangsung tanpa sumbatan. Interaksinya dengan protein meningkatkan produksi antibodi. Ini meningkatkan jumlah sel pembunuh alami dan memperbanyak aktifitas sel T Helpers dan limposit. Suatu studi membuktikan konsumsi betakaroten 30 – 60mg/hari selama 2 bulan membuat tubuh memiliki sel-sel pembunuh alami terbanyak.

bertambahnya sel-sel pembunuh alami itu menekan kehadiran sel-sel kanker. Mereka ampuh menetralisir radikal bebas senyawa karsinogen, penyebab kanker.

Peran buah merah lainnya yaitu sebagai antikarsinogen yang makin lengkap dengan kehadiran tokoferol. Senyawa ini berperan dalam memperbaiki sistem kekebalan tubuh yang menjadi sasaran HIV/ AIDS.

Buah merah yang mengandung Omega 3 dan 9 dalam dosis tinggi itu sebagai asam lemak tak jenuh. ia gampang dicerna dan diserap sehingga memperlancar metabolisme. Lancarnya metabolisme sangat membantu proses penyembuhan. Sebab, tubuh mendapat asupan protein yang mampu meningkatkan daya tahan tubuh.

Asam lemak yang dikandung buah merah juga merupakan antibiotik dan antivirus. Mereka aktif melemahkan dan meluruhkan membran lipida virus serta mematikannya. Bahkan virus tidak diberi kesempatan untuk membangun struktur baru sehingga tak bisa melakukan regenerasi. Karena kemampuan itu, ia efektif menghambat dan membunuh beragam strain HIV/AIDS, termasuk virus hepatitis yang merusak sel hati. Ia juga terbukti menghambat dan membunuh sel-sel tumor aktif.

Pompom Emiria Frontala, salah seorang dokter dari “Rumah Cemara” (tempat rehabilitasi pengguna narkoba dan pengidap HIV/AIDS) mengemukakan, ia tidak mengetahui persis tentang sari buah merah dari Papua itu. Ia juga tidak tahu kandungan buah itu. “Saya mengetahuinya selintas dari televisi, buah itu dapat menyembuhkan HIV/AIDS ” ujar Pompom.

Meskipun demikian, jika sari buah merah itu memang tebukti dapat menyembuhkan pengidap HIV/AIDS di Papua, namun belum tentu bagi penderita HIV/AIDS di luar Pulau Papua. Alasannya Pompom adalah cara makan, pola hidup, serta lingkungan di Papua sangat berbeda jauh sekali dengan di daerah lain, di Pulau Jawa, misalnya.

Loading...
loading...

FOLLOW and JOIN to Get Update!

Social Media Widget SM Widgets




Peternakan dan Herbal Updated at: 01:23
Copyright@2014-2016. www.AgrobisnisInfo.com . Powered by Blogger.