loading...

Potensi Limbah Ubi Jalar dan Kentang Sebagai Pakan Ternak

Posted by

Permintaan Ubi Jalar Terus Meningkat Setiap Tahun

Ubi Jalar dari Indonesia adalah Ubi Jalar terbaik dunia, bahkan ubi jalar Cilembu telah dipatenkan secara Internasional sebagai bahan komoditi asli Indonesia, untuk produk pasta ubi mereka sangat menggemari penggunaan varietas Cilembu ini karena rasanya yang luar biasa manis dan gurih sehingga jenis ini digunakan sebagai ‘bumbu’ pada produk pasta Ubi Jalar. Disamping itu varietas lainnya dari Kuningan, Majalengka, Cianjur dan Banjaran (Bandung) juga tetap bisa masuk sebagai bahan baku untuk pembuatan pasta dan stick ubi dan terakhir dibuat pati ubi jalar.

Ke depan, permintaan ubi jalar akan terus meningkat seiring dengan kesadaran masyarakat modern akan kesehatan melalui diet makanan positif. Nasi (beras) saat ini juga telah menjadi makanan pokok dunia namun komoditi ini tidak bersahabat bagi para penderita diabetes karena kandungan gulanya yang tinggi. Terigu mulai di-diversifikasi karena kandungan protein glutennya yang bagi sebagian orang dapat memicu produksi asam lambung, sementara kentang adalah umbi dengan rasa gurih terbaik tetapi kandungan gizinya berada dibawah Ubi Jalar dan kapasitas panen yang lebih sedikit serta memiliki ketahanan rendah terhadap penyakit sehingga menyebabkan harganya tinggi.

Ubi jalar adalah tanaman masa depan, komposisi kandungan vitamin, karbohidrat dan gulanya sangat disukai oleh orang asing yang telah memahami dan menerapkan pola hidup sehat melalui diet dengan mengkonsumsi hanya makanan sehat yang hampir seluruh kandungannya termanfaatkan oleh tubuh tanpa efek yang akan menyebabkan penyakit. Ubi Jalar memungkinan memenuhi semua kebutuhan tubuh untuk menjadi sehat kecuali kandungan protein yang hanya bisa didapatkan dari sumber makanan hewani.

Dengan kualifikasi gizi seperti tersebut diatas, sekarang ini permintaan Ubi Jalar sebagai komoditi ekspor semakin terus meningkat, hal ini terlihat dari semakin banyaknya investasi asing yang mengkonsumsi Ubi Jalar sebagai bahan baku produknya, tercatat 3 perusahaan Korea dan 1 perusahaan Jepang di Jawa Barat dan 2 perusahaan Korea di Jawa Timur yang telah menanamkan uangnya untuk membangun pabrik pengolah berbahan baku Ubi Jalar.

Pabrik-pabrik tersebut mengekspor 100% produknya ke negeri asal mereka, kapasitas produksi perbulan pabrik-pabrik tersebut rata-rata 250 ton perbulan sehingga dari sana bisa kita perkirakan kuantitas ekspor produk ini berkisar antara 2000 – 2500 ton perbulan.

Sebagian besar Ubi Jalar dibuat pasta, Ubi Jalar dikupas diambil dagingnya kemudian masuk proses pematangan dan sterilisasi, dikemas (

vacuum pack) dan di ekspor ke Jepang, Korea dan Taiwan dalam freezingkontainer, sebagian lagi dibuat stick, digoreng dalam vacuum fry, dikemas dan diekspor. Satu pabrik lagi memisahkan ampas dan pati Ubi Jalar, mengambil patinya dan mengekspornya untuk bahan baku vermicelli (bihun) dan ampasnya untuk pakan ternak. Semua investor pabrik itu adalah Korea Selatan dan Jepang.

Potensi Limbah Ubi Jalar dan Limbah Kentang untuk Pakan Ternak

Kandungan nutrisi Limbah Kentang  dan Limbah Ubi jalar membuat kedua bahan tersebut memiliki potensi untuk digunakan sebagai bahan pembuatan silase pakan, namun informasi mengenai keduanya belumlah ada.

Kentang (Solanum tuberosum), ubi jalar (Ipomoea batatas L), dan limbahnya dalam pembuatan bioetanol dikoleksi dari proses pembuatan bioetanol skala kecil di laboratorium. Limbah gila bit (LGB) ditambahkan dalam proses pembuatan silase untuk meningkatkan kandungan bahan kering. Jagung digunakansebagai bahan tambahan dan silase pembanding. 

Ransum komplit (complete feed/CF)disusun atas 40% biomassa limbah bioetanol, 30% konsentrat, 20% GB, dan 10% jerami dan mengandung 50% moisture, 14%crude protein (CP) dan 70% total digestible nutrient (TDN).  Bakteri asam laktat (BAL) Chikuso-1(Lactobacillus plantarum)digunakan sebagai inokulan.

Fermentasi bahan dilakukan selama 60 hari, untuk kemudian di analisis komposisi kimia, komposisi mikroba, dan kualitas fermentasi.

Analisis statistik menggunakan rancangan acak lengkap pola searah dengan 6 perlakuan dan 4 ulangan.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa Limbah Kentang dan Limbah Ubi jalar  limbah pembuatan ethanol memiliki potensi mikroba dan nutrisi sebagai bahan baku fermentasi silase. Kandungan CP, EE, ADF, NDF meningkat beberapa kali dibandingkan bahan segarnya.

Sebaliknya OM, Oa, dan OCC cenderung turun. Kualitas fermentasi silase Limbah Kentang dan Limbah Ubi jalar  dengan inokulan Chikuso-1 secara umum meningkat sangat nyata (P < 0.01) dibandingkan kontrol baik pada inkubasi 30 maupun 60 hari.

Penambahan jagung ke dalam fermentasi Limbah Kentang dan Limbah Ubi jalar  dapat meningkatkan kualitas silase, sebaliknya penambahan LGB justru menurunkan kualitas silase Limbah Kentang  dan Limbah Ubi jalar. CF berbasis Limbah Kentang  dan Limbah Ubi jalat dapat dibuat silase menggunakan inokulan Chikuso-1 dengan hasil baik.

Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa Limbah Kentang dan Limbah Ubi jalar sisa pembuatan ethanol keduanya dapat digunakan dengan baik sebagai silase dan memiliki potensi sebagai sumber pakan ruminansia.

Varietas ubi jalar sangat banyak, menyebabkan perbedaan rasa, ukuran, bentuk, warna dan nilai gizi. Produksi ubi jalar antara 2,5-15 ton segar/ha/tahun. Ubi jalar merupakan sumber energy dan untuk ubi jalar yang berwarna kuning mengandung provitamin A dan karotenoid yang cukup.

Asam amino pembatas ubi jalar adalah luecine. Seperti pada umumnya umbi-umbian yang mempunyai kandungan protein yang rendah, pemberian ubi jalar perlu diimbangi pemberian kandungan protein yang tinggi.

Apabila digunakan lebih dari 90% pengganti jagung dalam ransum unggas sering terjadi luka-luka pada usus unggas yang dapat diikuti kematian. Pada ransum ruminansia umumnya digunakan pengganti jagung sebanyak 50%.

Jerami Ubi Jalar

Produksi jerami dalam bentuk segar berkisar antara 10-12,5% ton/ha/tahun. Berdasarkan penelitian Kernpton dan Leng pemberian jerami ubi jalar sebagai pengganti pucuk tebu pada ransum sapi perah dapat meningkatkan konsumsi ransum dan produksi susu. Akan tetapi percobaan Nuraeni mendapatkan penggantian rumput lapangan dengan jerami ubi jalar lebih dari 1/3 bagian dapat meyebabkan kadar lemak susu menurun.

loading...

FOLLOW and JOIN to Get Update!

Social Media Widget SM Widgets




Peternakan dan Herbal Updated at: 22:48

0 komentar:

Post a Comment

Copyright@2014-2016. www.AgrobisnisInfo.com . Powered by Blogger.