loading...

Faktor Penyebab Gagal Bunting Pada Sapi Yang Di Inseminasi Buatan

Posted by

Inseminasi Buatan (IB) dan Faktor-faktor Yang Berpengaruh Terhadap Keberhasilan IB

Keberhasilan IB atau Inseminasi Buatan sangat dinantikan oleh para petani peternak yang meng IB kan ternaknya pada mantri-mantri hewan ataupun praktisi IB. Kegagalan IB yang terus menerus tentunya sangat merugikan peternak (breeder).



Kerugian tidak hanya terbatas pada biaya IB tetapi juga pada waktu pemeliharaan sapi, pakan dan lain-lain. IB yang tidak berhasil akan memperpanjang calving interval dan tentu saja hal ini sangat merugikan peternak. Banyak faktor yang bisa menjadi penyebab kegagalan Inseminasi Buatan (IB) baik dari faktor internal atau sapinya sendiri dan juga dari faktor eksternal. Kegagalan IB atau dengan kata lain sapi tidak bunting meski sudah di IB dapat disebabkan oleh beberapa faktor yaitu :

  • Peternak dan Operator IB
  • Kualitas Semen dan Asal Semen
  • Ternak Betina
Peternak dan Operator IB
Keberhasilan inseminasi buatan sangat ditentukan oleh kemampuan dari peternak dalam hal deteksi estrus, sebab dengan deteksi estrus yang tepat dapat membantu operator IB dalam menentukan waktu yang tepat dalam melakukan inseminasi buatan. Ada beberapa cara untuk detaksi estrus antara lain dengan :

Melihat adanya leleran lendir pada vulva

Menggunakan teaser

Sistem recording yang baik

Operator IB selain berperan dalam menentukan waktu yang tepat untuk melakukan IB, operator juga harus berpengalaman dalam penanganan semen dan juga penempatan semen kedalam saluran reproduksi sapi betina. Tempat terbaik untuk menempatkan semen adalah di corpus uteri kira-kira 3 cm di depan cervik uteri.


Kualitas Semen dan Asal Semen

Kualitas semen yang baik untuk IB adalah konsentrasinya 25 juta untuk semen beku dan juga Post Thawing Motility (PTM) nya 40 % selain itu spermatozoanya tidak mengalami abnormalitas. Spermatozoa yang mempunyai bentuk abnormal menyebabkan kehilangan kemampuannya untuk membuahi sel telur dalam tuba falopii. Untuk itu semen dievaluasi secara periodik selam 6 bulan. Semen yang kualitasnya baik akan meningkatkan keberhasilan dari inseminasi buatan.

Kualitas semen juga dipengaruhi kualitas penyimpanan baik cara maupun tempat penyimpanan, suhu yang harus sesuai agar sperma atau semen tidak rusak dan lain-lain.

Kondisi Ternak Betina

Pada dasarnya kegagalan dari inseminasi buatan adalah adanya gangguan pada hewan betinanya baik itu adanya kelainan anatomi saluran reproduksi, gangguan hormonal dan juga abnormalitas sel telur.

Kelainan anatomi saluran reproduksi
Kelainan anatomi dapat bersifat genetik maupun nongenetik. Kelainan anatomi saluran reproduksi ini ada yang mudah diketahui secara klinis dan ada yang sulit untuk dideteksi, sehingga sulit didiagnosa. Termasuk pada kelompok kedua yang sulit didiagnosa adalah :

Tersumbatnya tuba falopii

Adanya adhesio antara ovarim dengan bursa ovarium

Lingkungan dalam uterus yang kurang serasi

Fungsi yang menurun dari saluran reproduksi
Yang paling sering dijumpai pada kelompok ini adalah adanya penyumbatan pada tuba falopii. Penyumbatan ini menyebabkan sel telur yang diovulasaikan dari ovarium gagal mencapai tempat pembuahan yaitu di ampula dan sel mani juga terhalang untuk mencapai tempat pembuahan, sehingga proses pembuahan gagal. Tuba falopii yang buntu dapat berbentuk :

Adhesio dinding tuba

Adhesio antara ovarium dengan bursa ovarii

Salpingitis baik akut maupun kronis

Hidrosalping

Kista pada saluran tuba

Piosalping

Hipoplasia tuba falopii yang bersifat genetik

Populasi m.o yang terlalu banyak di dalam uterus, serviks atau vagina

Gangguan hormonal
Adanya gangguan pada sekresi hormon gonadotropin (FSH dan LH) dan hormon estrogen akan menyebabkan terjadinya kegagalan fertilisasi. Kasus-kasus seperti silent heat (birahi tenang) dan subestrus (birahi pendek) disebabkan oleh rendahnya kadar hormon estrogen, sedangkan untuk kasus delayed ovulasi (ovulasi tertunda), anovulasi (kegagalan ovulasi) dan sista folikuler disebabkan oleh rendahnyanya kadar hormon gonadotropin (FSH dan LH).

Kadar estrogen yang rendah
Rendahnya kadar estrogen dalam darah karena defisiensi nutrisi : β karotin, P, Co dan berat badan yang rendah akan menyebabkan kejadian silent heat dan subestrus padi sapi. Kejadian in sering terjadi pada sapi post partus. Pada kasus silent heat, proses ovulasi berjalan secara normal dan bersifat subur, tetapi tidak disertai dengan gejala birahi atau tidak ada birahi sama sekali. Diantara hewan ternak, silent heat sering dijumpai pada hewan betina yang masih dara, hewan betina yang mendapat ransum dibawah kebutuhan normal, atau induk yang sedang menyusui anaknya atau diperah lebih dari dua kali dalam sehari. Sedang pada kejadian sub estrus, proses ovulasinya berjalan normal dan bersifat subur, tetapi gejala birahinya berlangsung singkat / pendek (hanya 3-4 jam). Sebagai predisposisi dari kasus silent heat dan sub estrus adalah genetik.

Hormon LH pada kejadian silent heat dan sub estrus mampu menumbuhkan folikel pada ovarium sehingga terjadi ovulasi, tetapi tidak cukup mampu dalam mendorong sintesa hormon estrogen oleh sel granulosa dari folikel de Graaf sehingga tidak muncul birahi.

Kadar hormon gonadotropin yang rendah (FSH dan LH)
Rendahnya kadar hormon LH dalam darah dapat menyebabkan terjadinya delayed ovulasi (ovulasi tertunda) dan sista folikuler. Karena rendahnya kadar LH, fase folikuker diperpanjang sehingga yang seharusnya folikel mengalami ovulasi dan memasuki fase luteal tertunda waktunya atau tidak terjadi sama sekali. Gejala yang nampak dari kasus ini adalah kawin berulang (repeat bredeeer).

Pada kasus anovulasi (kegagalan ovulasi), folikel de Graaf yang sudah matang gagal pecah karena ada gangguan sekresi hormon gonadotropin yaitu FSH dan LH.

Abnormalitas sel telur
Ketidakseimbangan hormon-hormon reproduksi dapat mengganggu proses ovulasi. Ovulasi yang tidak normal dapat menghasilkan sel telur yang tidak normal.
Beberapa bentuk abnormal dari sel telur adalah :

Degenerasi sel telur

Zona pelusida yang sobek atau robek

Sel telur yang muda

Sel telur yang bentuknya gepeng, oval (lonjong)

Mini egg cell dan giant egg cell

Adanya abnormalitas pada sel telur akan menyebabkan kegagalan pada proses fertilisasi sehingga sapi yang telah di IB tidak bunting.

Cara Mengetahui Sapi Betina Bunting (di Pasar Hewan)
Secara garis besar ada dua indikasi dalam menentukan kebuntingan pada hewan betina yaitu :

Indikasi kebuntingan secara eksternal

Indikasi kebuntingan secara internal (Pemeriksaan per rektum)

Indikasi kebuntingan secara eksternal jangan dijadikan patokan baku kebuntingan, karena beberapa hewan dapat memperlihatkan anomali walaupun memperlihatkan tanda tersebut. Diagnosa pasti kebuntingan hanya dilakukan berdasarkan hasil pemeriksaan per rektum.


Indikasi kebuntingan secara eksternal, meliputi :
  • lewat catatan/ recording
  • adanya anestrus
  • pembesaran abdomen sebelah kanan secara progresif
  • berat badan yang meningkat
  • adanya gerakan fetus
  • gerakan sapi melambat
  • bulunya mengkilat
  • sapi menjadi lebih tenang temperamennya
  • kelenjar air susu membesar secara progresif.
Indikasi kebuntingan secara internal
Dapat dilakukan secara per rektum. Cara ini lebih mudah, praktis, murah dan cepat. Dapat dilakukan setelah 50-60 hari perkawinan. Dengan cara ini dapat ditentukan adanya :

  • perubahan pada kornu uteri
  • adanya kantong amnion
  • adanya pergelinciran selaput janin
  • adanya fetus
  • adanya plasentom dan fremitus

Jika kita ada di pasar hewan dan disuruh memilikan sapi yang bunting cara yang dapat kita lakukan adalah dengan melihat kondisi fisik dari sapi, lalu melakukan tanya jawab dengan pedagang yang sapinya menunjukan gejala bunting tentang catatan siklusnya/perkawinannya, dan untuk pastinya dengan pemeriksaan per rektum jika diijinkan oleh pedagangnya.

Sumber:
https://jogjavet.wordpress.com

loading...

FOLLOW and JOIN to Get Update!

Social Media Widget SM Widgets




Peternakan dan Herbal Updated at: 19:36

0 komentar:

Post a Comment

Copyright@2014-2016. www.AgrobisnisInfo.com . Powered by Blogger.