loading...

Tata Cara dan Adab Khatib Shalat Jumat Saat Berkhutbah

Posted by

Al-Imam Ibnu Qudamah rahimahullah menjelaskan bahwa khutbah adalah syarat sahnya Jum’atan karena tidak pernah dinukil dari Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam bahwa beliau shalat Jum’at tanpa didahului oleh dua khutbah. Khutbah juga momen yang sangat tepat untuk menjelaskan perkara agama karena saat itu kaum muslimin berkumpul pada sebuah tempat atau kampung yang tidak seperti hari-hari biasa.

Berikut adalah beberapa adab bagi khatib Jum’at.

1. Mengucapkan salam kepada makmum ketika naik mimbar

Hal ini berdasarkan hadits ini Jabir radhiyallahu ‘anhu bahwa setelah naik mimbar, Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam mengucapkan salam. (Dinyatakan hasan oleh asy-Syaikh al-Albani dalam Shahih Sunan Ibnu Majah no. 917)

2. Duduk setelah menaikinya, sebelum menyampaikan khutbah sambil mendengarkan azan Jum’at yang dikumandangkan muazin serta menjawab azannya.

3. Selesai azan, ia berdiri menghadap makmum dan menyampaikan khutbah dengan menyandarkan tangannya pada tongkat atau busur panah.

Ini berlandaskan pada hadits al-Hakam bin Hazm al-Kulafi radhiyallahu ‘anhu bahwa ia menyaksikan/mengikuti Jum’atan bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam dan beliau berdiri (dalam khutbah) bersandarkan pada tongkat atau busur panah. (HR. Abu Dawud dalam Sunan-nya dan al-Hafizh menyatakannya hasan dalam at-Talkish al-Habir 2/65)

Dalam masalah ini memang ada perbedaan pendapat, sebagian ulama memandangnya tidak perlu. (-red)

4. Duduk di antara dua khutbah untuk istirahat sejenak lalu berdiri lagi untuk menyampaikan khutbah kedua.

Hal ini seperti penuturan sahabat Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam berkhutbah dengan berdiri lalu duduk kemudian berdiri. (Shahih al-Bukhari no. 920)

5. Mengeraskan suara (secara wajar) agar makmum mendengar apa yang diucapkannya.

Dahulu, apabila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam berkhutbah, kedua matanya memerah dan suaranya tinggi, seolah-olah beliau adalah seorang pemberi peringatan kepada pasukan bahwa musuh akan menyerang di waktu pagi atau sore. (Shahih Muslim, “Kitabul Jumu’ah”)

6. Memendekkan khutbah dan memanjangkan shalat.

Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda,

“Sesungguhnya panjangnya shalat dan pendeknya khutbah seseorang adalah pertanda (mendalam) pemahamannya. Panjangkanlah shalat dan pendekkanlah khutbah!” (Shahih Muslim no. 869 dari ‘Ammar bin Yasir radhiyallahu ‘anhu)

Hadits ini menunjukkan disyariatkannya memendekkan waktu (durasi) khutbah. Yang dimaksud adalah khutbah yang sedang, sebagaiman disebutkan dalam riwayat lain, yaitu pertengahan, antara pendek yang tidak mencukupi dan panjang yang berlebihan. Pendeknya khutbah menandakan keilmuan khatib yang mendalam, dilihat dari sisi bahwa dia bisa mengungkapkan sesuatu yang luas dengan kata-kata yang ringkas (padat). Apabila panjang, tidak sampai memberatkan para makmum atau sampai keluar waktu. (Ahaditsul Jumu’ah hlm. 355)

Namun, jika sesekali khatib memanjangkan khutbah karena kebutuhan, hal ini tidak mengapa.

Di antara faedah memendekkan durasi khutbah adalah agar materi khutbah mudah diserap dan dipahami serta agar makmum tidak bosan mendengarkannya.

7. Dimakruhkan bagi khatib mengangkat kedua tangannya saat berdoa karena apabila Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam berdoa saat khutbah hanya berisyarat dengan jarinya.

Hal ini berlandaskan hadits ‘Umarah bin Ruwaibah radhiyallahu ‘anhu bahwa dia melihat Bisyr bin Marwan di atas mimbar mengangkat kedua tangannya. Sungguh, aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam tidak lebih dari melakukan seperti ini -beliau berisyarat dengan jari telunjuknya.” (Shahih Muslim, “Kitabul Jumu’ah”)

Asy-Syaukani rahimahullah mengatakan bid’ahnya mengangkat kedua tangan saat berdoa di atas mimbar. (Nailul Authar 3/32)

Lain halnya ketika berdoa saat istisqa’ (meminta hujan), karena Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam dahulu mengangkat kedua tangannya sampai terlihat putih ketiaknya.

8. Berkhutbah sesuai dengan kondisi.

Misalnya, berkhutbah menjelaskan perkara-perkara yang terkait puasa Ramadhan menjelang masuknya bulan Ramadhan atau di awal-awal Ramadhan. Hal ini agar manusia menjalankan ibadah puasa di atas pengetahuan yang mendalam.

Demikian pula berkhutbah dengan bahasa yang jelas dipahami sehingga tidak menimbulkan salah tafsir.

KEBID’AHAN-KEBID’AHAN DALAM KHUTBAH

Ada beberapa perkara bid’ah yang dilakukan di saat khatib berkhutbah, di antaranya:

1. Sebagian muazin mengeraskan suara dengan menyebutkan hadits,

“Apabila engkau mengatakan kepada temanmu, ‘Diamlah,’ pada hari Jum’at dalam keadaan imam sedang berkhutbah, engkau telah melakukan yang sia-sia.”

Ini diucapkannya ketika imam keluar untuk khutbah sampai naik di atas mimbar.

2. Khatib menaiki mimbar dengan perlahan-lahan secara sengaja.

3. Khatib memukulkan tongkat atau semisalnya pada anak tangga mimbar ketika menaikinya.

4. Duduk di bawah mimbar saat berlangsungnya khutbah untuk mencari kesembuhan.

5. Mengkhususkan khutbah kedua untuk shalawat atas Rasul dan doa, serta mengosongkannya dari nasihat dan peringatan.

6. Melagukan khutbah.

7. Khatib selalu mengakhiri khutbah dengan menyebutkan ayat,

“Innallaha ya-muru bil ‘adli wal ihsani.”

loading...

FOLLOW and JOIN to Get Update!

Social Media Widget SM Widgets




Peternakan dan Herbal Updated at: 07:57
Copyright@2014-2016. www.AgrobisnisInfo.com . Powered by Blogger.