loading...

Potensi Produksi Lamtoro Hijauan Pakan Ternak Sekaligus Tanaman Konservasi Untuk Penghijauan

Posted by

Tanaman Lamtoro, Potensial sebagai Penyubur Tanah, Penghijauan dan Hijauan Pakan Ternak Berkualitas karena kandungan Proteinnya yang Tinggi.

Tanaman Lamtoro, Pakan Ternak Bermutu

Riwayat Lamtoro Gung. Tahun 1990an, lamtoro alias petai cina, pernah dihebohkan sebagai tanaman ajaib. Terutama varietas “lamtoro gung”. Di mana-mana ada upaya menanam lamtoro. Hingga ketika itu ada istilah “lamtoronisasi”. Introduksi varietas lamtoro unggul baru yang disebut lamtoro gung, telah mendatangkan jenis hama baru, yang disebut kutu loncat. Banyak tanaman lamtoro pelindung kopi dan kakao yang mati karena terserang kutu loncat. Produksi kopi dan kakao anjlok. Maka didatangkanlah kepik dari Afrika, yang merupakan predator dari kutu loncat.

Lamtoro gung, memang jauh lebih unggul dibanding dengan lamtoro biasa. Pertumbuhannya lebih cepat, ukuran batangnya lebih besar. Kalau diameter batang lamtoro biasa maksimal hanya 20 cm, maka lamtoro gung bisa mencapai 40 cm. Ukuran daun, dan juga buah lamtoro gung juga lebih besar dari lamtoro biasa. Produksi daun lamtoro gung, otomatis juga lebih tinggi dibanding lamtoro biasa. Kelemahan lamtoro gung adalah, rentan terhadap serangan kutu loncat. Sekarang sudah sangat sulit menemukan varietas lamtoro biasa di negeri kita.

Tanaman lamtoro (Leucaena leucocephala), merupakan pasangan dari kaliandra (Calliandra calothyrsus). Kalau kaliandra hanya bisa tumbuh baik di dataran menengah sampai tinggi, maka lamtoro justru menginginkan dataran menengah sampai rendah. Hingga lamtoro cocok untuk menghijaukan kawasan dataran rendah, sementara kaliandra cocoknya untuk menghijaukan dataran tinggi. Perbedaan yang juga cukup mencolok, buah dan biji lamtoro merupakan sayuran, sementara buah dan biji kaliandra tidak bisa dimakan. Lamtoro berbatang tunggal, kaliandra tumbuh membentuk rumpun yang sangat rapat.


Tahun 1980an, ketika diintroduksi lamtoro gung, orang sering menyebut lamtoro biasa sebagai lamtoro lokal. Padahal, lamtoro lokal pun, sebenarnya bukan tumbuhan asli Indonesia. Semua genus Leucaena, berasal dari Amerika Tengah dan Latin. Diintroduksi ke negeri kita, oleh bangsa Portugis dan Belanda. Lamtoro adalah tumbuhan berbentuk perdu. Meskipun diameter batang dan ketinggian tajuk lamtoro gung, bisa mendekati ukuran pohon. Kelebihan lamtoro adalah pertumbuhannya yang sangat pesat. Sama dengan albisia, dan kaliandra, lamtoro mampu menghijaukan kawasan yang gersang, hanya dalam jangka waktu sekitar lima tahun.

Manfaat Daun Lamtoro
Daun lamtoro adalah pakan ternak ruminansia, yang sangat tinggi nilai gizinya, terutama proteinnya. Namun daun lamtoro tidak bisa diberikan ke ternak secara tunggal, dalam jangka waktu lama. Sebab hal ini akan dapat mengakibatkan efek samping berupa kerontokan bulu. Buah lamtoro, bisa dipetik polong mudanya (kèpèk), untuk lalap atau disayur. Polong yang sudah tua, dipanen untuk diambil bijinya. Biji lamtoro ini lazim dimasak botok atau untuk lalap, sebagai pengganti petai. Biji yang sudah tua, biasa dijadikan tempe lamtoro. Rasa tempe lamtoro sangat khas, proteinnya tinggi, dan mengandung banyak serat yang baik untuk pencernaan.

Manfaat Kayu Pohon Lamtoro
Hasil utama lamtoro adalah kayunya. Dalam waktu hanya dua tahun, lamtoro sudah menghasilkan daun dan buah (polong maupun biji). Kemudian sekitar lima tahun. lamtoro bisa dipanen kayunya. Kayu lamtoro adalah bahan bakar yang berkalori tinggi. Selain bisa digunakan sebagai bahan bakar secara langsung, kayu lamtoro juga merupakan bahan arang yang cukup baik.

Meskipun arang lamtoro tidak sebaik kualitas Acacia catechu (akasia gunung), namun masih lebih baik dibanding dengan kaliandra. Karena cepatnya pertumbuhan, lamtoro bisa menjadi “pabrik” bahan bakar, berupa biomassa, kayu, maupun arang.

Ketika tanaman lamtoro sudah menginjak tahun ketiga, dan seterusnya, hasil biomassa kering dari ranting, dan daunnya, akan mencapai 20 ton per hektar per tahun.

Ketika pada tahun kelima lamtoro ditebang, maka dari tiap hektar lahan, akan dihasilkan kayu sampai 200 m3, atau setara dengan 40 m3 per hektar per tahun. 
Dari tiap hektar “hutan” lamtoro ini, setiap tahunnya juga akan dihasilkan nitrogen sekitar 500 kg, yang berasal dari bintil akar. Lamtoro, seperti halnya kedelai, mampu menyerap nitrogen dari udara, lalu berkat bantuan bakteri Rhizobium, akar lamtoro akan membentuk bintil akar guna menyimpan nitrogen tersebut.

Pohon Lamtoro Sebagai Penyubur Tanah dan Penghijauan
Hingga penanaman lamtoro, di lahan-lahan tandus, akan mampu mengembalikan tingkat kesuburan lahan tersebut. Sebab 20 ton biomassa yang dihasilkan dari ranting dan daun, akan mampu memberikan asupan bahan organik pada tiap hektar lahan lamtoro  tersebut. Selain itu, lamtoro juga mampu memberikan asupan nitrogen sebesar 500 kg, per hektar per tahun, yang akan aman tersimpan di dalam tanah. Hingga lahan bekas tanaman lamtoro, tidak memerlukan bahan organik maupun pupuk urea lagi. Karenanya, lamtoro sangat bermanfaat untuk mengembalikan tingkat kesuburan tanah, pada lahan-lahan kritis. Misalnya, lahan bekas tanaman singkong.

Singkong adalah komoditas yang sangat rakus hara tanah. Lahan bekas singkong pasti akan mengalami degradasi berat, karena kekurangan bahan organik, sekaligus kekurangan nitrogen. Dengan pemberian bahan organik sebanyak 10 sampai dengan 20 ton per hektar, barulah lahan tersebut akan bisa dipulihkan tingkat kesuburannya. Namun pemberian 20 ton bahan organik, memerlukan biaya yang sangat tinggi. Sebab bahan organik itu harus dibeli, dan juga harus diangkut ke lahan pertanian. Dengan mengistirahatkan lahan bekas singkong itu, dan merotasinya dengan lamtoro, maka dalam jangka waktu antara tiga sampai dengan lima tahun, lahan itu akan bisa dipulihkan tingkat kesuburannya.

Lamtoro juga merupakan tanaman pelindung (peneduh) kopi, dan kakao yang sangat baik. Salah satu kelemahan lamtoro adalah, akan menghasilkan biji yang cukup banyak, tersebar ke mana-mana, dan kemudian tumbuh menghasilkan individu baru. Ini telah terjadi di Hawaii.

Salah satu pulau di Hawaii, sekarang sudah sama sekali tertutup oleh lamtoro, sementara tumbuhan asli setempat mengalami kepunahan. Untuk mengantisipasi hal ini, pekebun kopi dan kakao, hanya mau menggunakan varietas lamtoro yang tidak menghasilkan polong. Dengan cara ini, kasus Hawaii tidak akan terulang lagi.

Demikian sejarah tanaman Lamtoro yang pada tahun 90 an sempat menjadi tanaman paling populer di Indonesia dengan jenis Lamtoro Gung nya. Potensi tanaman Lamtoro sebenarnya sangat besar terutama sebagai penyedia hijauan makanan ternak yang murah dan bisa dijadikan cadangan pada musim kemarau saat rumput susah dicari. Jika produksi daun lamtoro berlebih bias digunakan juga sebagai bahan baku untuk membuat tepung daun lamtoro.

Potensi Daun Lamtoro Untuk Pakan Ternak
Lamtoro merupakan tanaman leguminosa pohon yang punya potensi besar untuk dikembangkan sebagai penghasil hijauan makanan ternak sepanjang tahun.

Tanaman ini dapat menghasilkan 70 ton hijauan segar atau sekitar 20 ton bahan kering/Ha/tahun. Komposisi kimia zat makanannya dalam bahan kering terdiri atas 25,90 % protein kasar, 20,40 % serat kasar dan 11 % abu (2,30 % Ca dan 0,23 % P), karotin 530.00 mg/kg dan tannin 10,15 mg/kg (NAS, 1984). Lamtoro dapat digunakan sebagai sumber nitrogen fermentable di dalam rumen dan untuk mensuplai protein by-pass pada usus halus.

Penggunaan lamtoro dalam bentuk segar sebagai suplemen pada hijauan yang berkualitas rendah pada kambing menunjukkan bahwa kira-kira 65% dari protein lamtoro didegradasi dalam rumen, sementara diduga bahwa hanya 40% protein lamtoro yang didegradasi dalam rumen jika lamtoro kering digunakan sebagai suplemen pada makanan domba sama dengan ransum basal (Bamualim, 1985).

By-pass protein penting bagi ternak ruminansia karena besar persentase protein terdegradasi dalam rumen diserap sebagai amonia dan jika konsentrasinnya dalam rumen tinggi bisa hilang melalui urine sebagai urea.

Pada kambing yang sedang berproduksi ini merupakan pemanfaatan protein yang tidak efisien, sehingga meningkatkan jumlah protein yang melewati ke usus (by-pass) akan lebih efisien (Mathis, 2003). Dalam hijauan sekitar 20-30% dari protein dikandungnya adalah protein bypass, namun untuk ternak yang sedang tumbuh atau menyusui kebutuhan protein bypass mencapai 32-40 dari total kebutuhan protein (Klopfeinstein, 2006). 
Leguminosa pohon seperti kaliandra, gamal dan lamtoro merupakan sumber pakan ternak yang mampu menyediakan protein by-pass, karena mengandung tannin yang dapat memproteksi protein dari pencernaan mikroba rumen (Kavana et al., 2005 ; Lascano et al., 2003) menyatakan tannin dari kaliandra mampu meningkatkan jumlah protein by-pass untuk ternak. 

Sementara itu hasil penelitian Dahlanudin (2001) suplemen gamal dalam ransum kambing mampu meningkatkan pertambahan bobot badan. Manfaat Lamtoro Daun, ranting muda, bunga, buah, bahkan bijinya merupakan bahan baku pakan ternak yang bermutu tinggi.

Tanda dan sifat lamtoro berdaun dan berbiji banyak, berbiji polong, bunga bulat, tumbuh tinggi, cepat dipanen dan menyuburkan tanah.

Pemotongan/pemanenan pada tahun pertama dilakukan setelah tanaman berumur 6 bulan. Panen berikutnya 2-3 bulan sekali.

Banyaknya daun lamtoro yang dihasilkan tergantung pada umur tanaman, kesuburan tanah, dan iklim Panen biji diperoleh setelah tananman berumur satutahun. Pemangkasan daun jangan sampai lebih rendah dari satu meter di atas permukaan tanah. 
Daun dan bijinya lamtoro dapat diberikan pada ternak ruminansia seperti sapi, kerbau, domba dan kambing baik secara segar maupun dikeringkan. Dapat diberikan sebagai pakan tunggal atau dicampur dengan rumput-rumputan. Penggunaan daun lamtoro untuk menggantikan hijauan sebaiknya tidak melebihi dari 50 % kebutuhan hijauan pakan.

loading...

FOLLOW and JOIN to Get Update!

Social Media Widget SM Widgets




Peternakan dan Herbal Updated at: 19:48
Copyright@2014-2016. www.AgrobisnisInfo.com . Powered by Blogger.