loading...

Pakan Ternak dari Limbah Sawit, Menguntungkan dan Suply Terjamin

Posted by

Peternakan Integrasi Sawit Sapi Menjanjikan Keuntungan dan Kelangsungan Usaha.

Petani asal Pangkalan Lada, Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah, berhasil membawa Kelompok Tani Subur Makmur menjadi kelompok tani berbasis integrasi sawit-sapi terbaik di Indonesia, untuk kategori plasma.

Jika merunut ke belakang, pada tahun 2010 kelompok tani di mana ia menjadi ketuanya ini mendapat bantuan dari Dinas Perkebunan (Disbun)  Kotawaringin Barat, berupa 50 ekor sapi, bibit hijauan makanan ternak (HMT), mesin pencacah (chopper) dan sarana kandang. Selanjutnya dinas pertanian dan peternakan (Distannak) Kobar memberikan bantuan sapi sebanyak 20 ekor, mixer, kandang, HMT dan chopper untuk  pembuatan kompos. Saat ini jumlah sapi sudah berkembang menjadi 110 ekor yang dipelihara oleh tiga orang. Bantuan sapi ini merupakan bantuan bergulir dan sudah siap untuk menggulirkan ke kelompok yang lain.

Dengan ilmu gothak-gathuknya dalam menyusun ransum, Sutiyana, terbukti mampu memanfaatkan limbah sawit, yang terdiri dari pelepah, daun, solid dan bungkil inti sawit (BIS) menjadi pakan bermutu tinggi dan ketersediaannya kontinyu. Dengan pemberian konsentrat berbahan baku limbah sawit ini ternak sapi menjadi kuat. Pedet sapi dalam hal ini masih diberikan rumput, sedang sapi dewasa diberikan limbah sawit. Ransum yang dibuat dalam bentuk konsentrat juga telah dijual di pasaran.

Sutiyana juga dikenal ahli dalam memodifikasi mesin pencacah pelepah. Bahkan hasil modifikasi mesinnya banyak diminati oleh kelompok tani lainnya, termasuk oleh  dinas pertanian dan peternakan di luar Kotawaringin Barat. Modifikasi dilakukan terhadap pisau pencacah, sehingga lebih kuat dan kapasitasnya lebih besar. Harga mesin modifikasi dipatok sebesar Rp 60 juta.

Keuntungan Terbesar

Sutiyana menuturkan, keuntungan terbesar dari pemeliharaan sapi potong berbasis integrasi sawit- sapi, justru terletak di limbah sapinya. Kotoran  sapi diolah menjadi kompos. Pembuatan kompos dilakukan dengan menambahkan kotoran sapi dengan mikrobia tertentu, selama satu bulan. Dalam satu bulan tersebut setiap minggu di balik dan pada minggu ketiga ditambahkan dengan kapur atau dolomit yang dibeli dengan harga 20 ribu per kilogram. Kompos yang sudah jadi dihargai Rp 1.700 per kilogram. Pemasaran untuk kompos masih ke anggota untuk digunakan memupuk tanaman sayur–mayur. Ke depan ia berharap akan mampu menjangkau petani di luar kelompok.

Dalam hal pemasaran sapi, anggota kelompok telah bisa mensuplai, misalnya untuk hajatan, setelah hajatan baru dibayar, di samping itu juga melayani sapi kurban. Ke depan diharapkan kelompok mampu mempunyai bench mark sehingga mampu mendongkrak harga jual. Dengan pengalaman yang luar biasa ini, Sutiyana, berulang kali menjadi narasumber untuk menularkan ilmunya baik ke petani maupun ke instansi terkait.

Harmini – BPTP Kalimantan Tengah

Sumber tabloidsinartani.com

loading...

FOLLOW and JOIN to Get Update!

Social Media Widget SM Widgets




Peternakan dan Herbal Updated at: 16:54

0 komentar:

Post a Comment

Copyright@2014-2016. www.AgrobisnisInfo.com . Powered by Blogger.