loading...

Dilarang Mencela Sahabat Nabi, Ini Hukumnya

Posted by

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata: “Mencela shahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah haram hukumnya dengan dalil Al Kitab dan As Sunnah.” (Ash-Sharimul Maslul ‘ala Syatimir Rasul, hal. 571)

Al-Imam An-Nawawi rahimahullah berkata: “Mecela shahabat radhiyallahu ‘anhum adalah haram, termasuk perkara keji (buruk) yang diharamkan, baik yang dicela itu dari kalangan shahabat yang terlibat dalam fitnah (peperangan antara sesama muslimin, pen.) ataupun selain mereka, karena mereka itu berijtihad dalam peperangan tersebut dan melakukan penafsiran dalam perkara-perkara yang terjadi.” Al-Qadhi ‘Iyadh berkata: “Mencela para shahabat termasuk perbuatan maksiat yang termasuk dosa-dosa besar.” (Syarhu Shahih Muslim, 16/93)

Abu Zur’ah rahimahullah berkata: “Apabila engkau melihat seseorang mencela salah seorang shahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka ketahuilah orang itu adalah zindiq. Karena keberadaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam itu haq di sisi kita, demikian pula Al Qur’an. Dan hanya para shahabat Nabi saja yang menyampaikan Al Qur’an dan Sunnah-sunnah beliau kepada kita. Sementara para zindiq tersebut ingin mencacati persaksian kita terhadap mereka -para shahabat- agar mereka dapat membatilkan Al Qur’an dan As Sunnah yang kita ambil dari para shahabat beliau shallallahu ‘alaihi wasallam. Justru mereka itulah orang yang lebih pantas dicacatkan keberadaannya, mereka itulah para zindiq.” (Al-Kifayah fi ‘Ilmir Riwayah hal. 49)

Adapun bentu sanksi ataupun ‘iqab yang diberikan bagi orang yang mencela shahabat, diperselisihkan para ulama. Ada yang memvonis harus dibunuh, ada yang tidak. Jumhur ulama sendiri berpandangan orang yang berbuat demikian diberi hukuman ta’zir [1] dan tidak dibunuh. Sementara sebagian Malikiyyah berpendapat orang itu dibunuh. (Syarhu Shahih Muslim, 16/93)

Al-Imam Ahmad rahimahullah berpendapat orang yang mencela salah seorang dari shahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam baik dari kalangan ahlu bait ataupun selain mereka, maka hukumannya dengan dipukul keras, dan beliau tawaqquf [2] dalam masalah membunth dan mengkafirkan orang yang berbuat demikian. Ada yang berpendapat bahwa siapa yang melakukan hal itu maka ia harus diberikan “pelajaran”, dihukum dan diminta bertaubat. Demikian dihikayatkan hal ini oleh Al-Imam Ahmad dari ahlul ilmi yang pernah beliau jumpai. Dan Al-Kirmani menghikayatkannya dari Al-Imam Ahmad, Ishaq, Al-Humaidi, Sa’id bin Manshur dan selain mereka.

Al-Harits bin ‘Utbag berkata: “Didatangkan ke hadapan ‘Umar bin Abdil ‘Aziz seorang lelaki yang mencela ‘Utsman radhiyallahu ‘anhu.

‘Umar bin Abdul ‘Aziz bertanya: “Apa yang mendorongmu untuk mencercanya?”

“Aku membencinya, ” jawab si pencerca.

“Apakah jika engkau membenci seseorang, engkau akan mencelanya?” tanya ‘Umar lagi. Lalu ia memerintahkan agar si pencerca itu dicambuk 30 kali.

Ibrahim bin Maisarah berkata: “Aku belum pernah sama sekali melihat ‘Umar bin Abdil ‘Aziz memukul seseorang, kecuali seorang laki-laki yang mencerca Mu’awiyah, maka ‘Umar memukulnya dengan beberapa kali cambukan.”

Al-Imam Malik berkata: “Siapa yang mencerca Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam maka ia dibunuh dan siapa yang mencerca shahabat maka ia diberi “pelajaran”. (Semua atsar kami nukilkan dari kitab Ash-Sharimul Maslul, hal. 567, 568, 569, karya Syaikhul Islam Ibnt Taimiyah)

Sebagai kesimpulannya, mencela shahabat itu ada tiga macam:

Pertama: mencela para shahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dengan mengkafirkan mayoritas mereka atau menyatakan kebanyakan mereka itu fasik. Maka hukum orang yang berbuat seperti ini kafir karena ia telah mendustakan Allah dan Rasul-Nya yang telah memberikan pujian kepada para shahabat dan ridha terhadap mereka. Bahkan siapa yang ragu tentang kekufuran orang yang semisal ini maka ia pun kafir, karena kandungan dari pencelaan tersebut berarti para shahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang menyampaikan Al Qur’an dan As Sunnah kepada umat ini adalah orang-orang kafir dan orang-orang fasiq.

Dalam Al Qur’an Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Kalian adalah sebaik-baik umat yang dikeluarkan untuk manusia.” (Ali ‘Imran: 110)

Sementara sebaik-baik umat ini adalah generasi pertamanya (generasi para shahabat). Namun dengan adanya celaan yang ditujukan kepada generasi pertama ini berarti mayoritas mereka para shahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah orang-orang kafir atau fasiq. Konsekuensinya, umat ini adalah sejelek-jelek umat dan pendahulu umat ini adalah orang-orang yang paling jelek.

Kedua: mencela shahabat dengan melaknat dan menjelekkan mereka. Maka ada dua pendapat di kalangan ahlul ilmi, yang satu mengkafirkan pelakunya, adapun yang lain menyatakan pelakunya tidak kafir tapi ia harus dicambuk dan dipenjara sampai mati atau bertaubat dari apa yang diucapkannya.

Ketiga: mencela shahabat dengan perkara yang tidak berkaitan dengan agama mereka seperti mengatakan mereka penakut atau pelit. Maka pelakunya tidak dikafirkan namun diberi hukuman ta’zir yang bisa membuat dia jera dari perbuatannya. (Ash-Sharimul Maslul hal. 586-587, Syarh Lum’atil I’tiqad, Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin, hal. 152)

Wallahu a’lam bish-shawab.

________________


loading...

FOLLOW and JOIN to Get Update!

Social Media Widget SM Widgets




Peternakan dan Herbal Updated at: 15:33
Copyright@2014-2016. www.AgrobisnisInfo.com . Powered by Blogger.