loading...

Warisan Ramuan Obat Herbal Aneka Pengobatan Penyakit Secara Alami Pada Masyarakat Sasak di Lombok Barat

Posted by

Ramuan Obat Herbal. Pengobatan herbal memang sudah lama diwariskan oleh nenek moyang kita ke generasi-generasi berikutnya sampai hari ini. Hampir tiap daerah dan tiap suku bangsa di negeri ini memiliki warisan ramuan obat tradisional yang tidak ternilai harganya. Berikut ini akan coba dimunculkan warisan obat herbal yang biasa digunakan untuk mengobati berbagai penyakit secara alami oleh Suku Sasak di Lombok Barat, semoga bisa bermanfaat juga buat semua orang di negeri ini.

Tanaman Obat Herbal

Ini adalah hasil penelitian yang dilakukan oleh  peneliti dari LIPI dan Universitas Nasional, berikut hasil ringkasnya :


Pada Masyarakat suku Sasak di Lombok Barat, tercatat tidak kurang dari 25 jenis tumbuhan  yang dimanfaatkan untuk mengobati berbagai penyakit rakyat. Sekitar 16 jenis penyakit yang diobati dengan ramuan dari tumbuh-tumbuhan di antaranya adalah sakit batuk, diare, luka, cacingan, gatal karena jelatang, demam, gatal, cacar, terkena gigitan kalajengking, malaria, mata merah, goaman, “keloh”, desentri, sesak nafas dan terkena gigitan ular.

Dari informasi yang diperoleh, penggunaan masing-masing jenis tumbuhan tersebut adalah sebagai berikut. Kethuk ( Alocasia sp.) termasuk ke dalam suku Araceae , getah batangnya dioleskan ke kulit untuk menyembuhkan gatal-gatal karena terkena jelatang. Akar dari Alocasia indica digosok dengan garam merupakan obat terhadap gigitan ular, borok ganas dan ruam saraf. Pulai (Alstonia scholaris (L.) R.Br), getah batangnya dimanfaatkan untuk mengobati diare. Rebusan kulit batangnya digunakan sebagai febrifuge, tonik, emenagogue, dan anti-kolera. Sedangkan di Thailand, kulitnya digunakan sebagai tonik yang kuat, febrifuge, haid yang tidak teratur, disentri, diare dan artritis. Pulai sudah dikategorikan mempunyai status kelangkaan „jarang‟.

Srikaya bayan (Annona squamosa L.), daunnya dicampur dengan daun jarak cina ( Jatropha curcas) dan daun sesapa (Blumea balsamifera) diremas dan masukkan ke dalam ember berisi air, kemudian untuk memandikan anak-anak yang sakit demam. Berupa perdu atau pohon kecil, tinggi 2-7 m, kulit pohon tipis berwarna keabu-abuan, getah kulitnya beracun, termasuk pohon buah-buahan kecil yang tumbuh di tanah berbatu, kering, dan terkena cahaya matahari langsung. Daunnya juga berkhasiat sebagai obat borok, bisul, luka, kudis, eksema,batuk, dan demam .

Kekosok ( Ardisia javanica DC.), kulit batang luarnya ditambah dengan beras kemudian ditumbuk dan ditambah air, selanjutnya dibuat pupur untuk mengobati penyakit cacar.


Jenis-jenis Ardisia lain yang juga dimanfaatkan sebagai obat adalah Ardisia colorata , daunnya diminum sebagai obat mulas. Ardisia humilis, daunnya digunakan sebagai obat kudis dan buahnya sebagai obat cacing. Sedangkan Ardisia odontophylla , seduhan akarnya digunakan sebagai obat encok, dan seduhan daun diminum untuk mengobati perut mulas.

Daun sesapa (Blumea balsamifera (L.) DC.) digunakan untuk memandikan anak-anak yang demam. Berupa perdu, tumbuh tegak, tinggi sampai 4 m, berambut halus, termasuk suku Asteraceae. Daunnya mengandung borneol, cineole, limonene, di-methyl ether phloroacetophenone dan dimanfaatkan sebagai obat rematik sendi, influenza, kembung, diare, dan nyeri haid.

Geguthu (Bridelia stipularis (L.) Bl.) termasuk ke dalam suku Euphorbiaceae, berupa perdu yang memanjat tinggi. Kulit batangnya direbus ditambah sedikit garam dan diminum untuk mengobati desentri. Daun telingan bangket (Centella asiatica (L.) Urban) diremas-remas ditempelkan ke bagian yang luka. Berupa terna, menahun, tidak berbatang, mempunyai rimpang pendek dan stolon-stolon yang merayap, panjang 10-80 cm. Tanaman mengandung asiaticoside, thankuniside, isothankuniside, madecassoside, brahmoside, brahminoside, brahmic acid, madasiatic acid, hydrocotyline, mesoinositol, centellose, carotenoids, garam mineral, zat pahit vellarine dan zat samak. Tanaman ini mempunyai sifat kimiawi dan efek farmakologis sebagai berikut : rasa manis, sejuk, anti infeksi, antitoxic, penurun panas, dan peluruh air seni.

Daun bebenyah (Commelina diffusa Burm f.) termasuk suku Commelinaceae, daunnya diremas-remas ditempelkan pada bekas luka karena gigitan ular. Berupa herba tinggi 20-60 cm, tegak atau menjalar, bulat , lunak, beruas-ruas, berwarna hijau. Daunnya berkhasiat sebagai obat pelancar haid, demam, sakit kepala dan untuk peluruh keringat. Kandungan kimia daun adalah saponin dan polifenol. Di Indonesia, daun dan batang digunakan untuk mengobati haid yang tidak teratur. Daunnya juga dimanfaatkan sebagai. Kendal (Cordia obliqua Willd.), bagian dalam kulit batangnya dikerok dan dioleskan pada lidah dan bibir pada bayi yang baru lahir yang terkena sakit goaman. Berupa pohon tinggi 15-20 m; batangnya tegak, bulat, percabangan simpodial, permukaan kasar dan berwarna coklat. Kulit batang dan daun digunakan sebagai obat demam. Kulit batang, daun dan buah kendal mengandung saponin, disamping itu kulit batang dan daunnya juga mengandung flavonoida dan tanin, sedang buahnya mengandung polifenol.

Daun bakung ( Crinum asiaticum ) diikatkan pada perut yang perasaannya seperti ada daging di dalamnya (disebut dengan sakit keloh). Herba tahunan tinggi kira-kira 1.3 m; batangnya semu, diameter 10 cm, tegak, lunak, putih kehijauan. Akarnya dimanfaatkan sebagai peluruh keringat dan obat luka, dan daunnya sebagai obat bengkak. Akar dan daun mengandung alkaloida, saponin, flavonoida dan polifenol. Bunganya mengandung saponin, flavonoida dan tannin.

Daun Bakung

Daun geronong bodok (Crotalaria usaramoensis Baker f.) diremas-remas dan airnya dimanfaatkan sebagai obat tetes mata yang merah. Tumbuhan ini merupakan terna, umur agak panjang, berakar dalam, tumbuh tegak, tinggi 1 sampai 2.5 m, pada bagian kaki sering agak berkayu. Daun empet-empet (Desmodium triflorum (L.) DC.) diremas-remas ditempelkan ke bagian yang luka. Sedangkan seluruh tanaman direbus dan ditambah sedikit garam diminum untuk menyembuhkan diare. Bentuk perdu tinggi 3 m. Daun, buah dan akar mengandung saponin dan flavonoida, disamping itu daunnya mengandung polifenol serta akarnya juga mengandung tanin.

Daun seripa ( Emilia sonchifolia (L.) DC.) Masyarakat Sasak memanfaatkan daunnya untuk mengobati luka dengan cara diremas-remas dan kemudian ditempelkan pada bagian yang sakit. Berupa terna semusim, tumbuh tegak atau berbaring pada pangkalnya, tinggi 10-40 cm dan dapat mencapai 1.2 m. Tanaman ini mempunyai sifat kimiawi dan efek farmakologis sebagai berikut : pahit, sejuk, membersihkan panas, menghilangkan panas, antitoxic, antibiotik, anti bengkak.

Jambokan (Euphorbia hirtaL.), getah batangnya untuk obat luka, sedangkan daunnya diremas ditambah garam dan air sedikit kemudian diminum untuk mengobati desentri. Kandungan kimianya adalah myricyl alkohol, taraxerol, friedlin,-amyrin,- sitosterol, -eufol, euforbol, triterpenoid eufol, tirukalol, eufosterol, hentriacontane, flavonoid dan tanin. Seluruh bagian tanaman digunakan sebagai obat desentri, diare, gangguan pencernaan, dan radang ginjal.

Lembukik bulu (Ficus hispida L.) diambil pucuk daunnya dengan cara menggigit pakai gigi dan ditambah pucuk alang-alang (Imperata cylindrica ) disemburkan pada yang sakit ngeresan (sesak nafas). Tumbuhan ini berupa pohon dengan tinggi sampai 15 m. Kulit batangnya licin dan berwarna hijau. Termasuk ke dalam suku Moraceae. Mempunyai nama lokal Sunda beunying .

Lembukik (Ficus septica Burm f.) berupa perdu, jarang yang pohon kecil, panjang 1 – 5 m, permukaan kulit batang hijau muda atau putih.

Getah batang lembokik (Ficus septica ) dioleskan pada luka bekas gigitan kalajengking. Air batangnya untuk obat batuk dan mata, sedangkan jus akar digunakan juga sebagai obat mata.

Wareng (Gmelina asiatica L.) termasuk suku Verbenaceae, air buahnya untuk obat gatal-gatal. Buahnya disamping sebagai obat gatal-gatal, air dari daun dan buahnya dapat juga diteteskan pada sakit telinga.

Jarak ( Jatropha curcas L.), daunnya diremas- remas ditambah garam sedikit, kemudian ditempelkan ke bagian yang luka. Berbentuk semak tahunan, tinggi 1.5-5 m. Daunnya berkhasiat sebagai obat cacing, perut kembung dan luka. Daun dan batang mengandung saponin, flavonoida dan polifenol, sedangkan daunnya juga mengandung tanin.  

Kulit batang durenan (Knema sumatrana (Blume) W.J. de Wilde) direbus dan diminum untuk mengobati malaria. Selain itu juga sebagai minuman tiap hari sebagai pengganti minuman teh, karena warnanya seperti teh. Daerah penyebaran tumbuhan ini adalah Peninsular Thailand, Peninsular Malaysia dan Sumatra.

Blandengan (Leucaena glauca (Lamk.) de Wit Benth), bijinya dimakan untuk mengobati cacingan. Berupa perdu, tahunan, tinggi 2-5 m. Bijinya dimanfaatkan sebagai peluruh air seni dan obat cacing. Daunnya mengandung alkaloida, saponin, flavonoida dan tanin.

Daun kayu putih (Melaleuca cajuputi Powell) diremas-remas untuk mengobati luka bekas gigitan kalajengking. Daunnya yang diremas-remas juga bisa dioleskan ke leher untuk obat batuk. Kandungan kimia dari kulit batangnya adalah lignin dan melaleucin, sedangkan daunnya mengandung minyak atsiri terdiri dari sineol 50% - 65%, -twerpineol, valeraldehida dan benzaldehida. Wijayakusuma (1996) mengatakan bahwa daunnya bermanfaat sebagai obat rematik, neuralgia, diare, perut kembung, radang usus, sakit kepala, asma, sakit gigi, batuk, demam, flu, eksema, dan radang kulit.

Daun Kayu Putih
Tanaman sumangge ( Oxalis corniculata L.) direbus dan airnya diminum 3 kali sehari 1 gelas ditambah garam sedikit dapat untuk mengobati batuk. Tumbuhan merayap atau tegak tinggi mencapai 5-35 cm, tumbuh liar pada tempat-tempat yang Jurnal Farmasi Indonesia Vol. 4 No. 2 Juli 2008: 96 -103 102 lembab, yang terbuka maupun yang teduh di sisi jalan. Atau lapangan rumput. Di pulau Jawa tumbuhan ini terdapat dari pantai sampai pegunngan dengan ketinggian 3.000 m dpl. Mempunyai batang lunak dan bercabang-cabang. Termasuk suku Oxalidaceae. Tanaman ini mengandung asam oksalat. Mempunyai sifat kimiawi dan efek farmakologis sebagai berikut : rasa asam, sejuk, menurunkan panas, menetralisir racun, antibiotik, anti-inflamasi, penenang, dan menurunkan tekanan darah.

Tanaman sumangge ( Oxalis corniculata L.)

Terinjing (Sonchus oleraceusL.), masyarakat Sasak memanfaatkan daunnya untuk mengobati luka. Berupa terna semusim, tegak, pahit, mengandung getah yang berwarna putih, tinggi 0.3 sampai 1.25 m. Di Jawa ditemukan pada ketinggian 200 sampai 2200 m dpl. Di tempat-tempat tertentu tumbuh agak banyak di daerah yang menerima cukup cahaya matahari atau sedikit naungan, daerah tidak terlalu kering di ladang dan di kebun, di belukar dan pinggiran jalan, di daerah ini tumbuhan tersebut tidak merupakan tumbuhan yang mengganggu. Tumbuhan ini merupakan makanan ternak yang baik, batang yang muda serta daun merupakan lalab yang digemari.

Daun urut pemecut jaran ( Stachytarpheta jamaicensis (L.) Vahl.) diremas-remas ditambah garam sedikit, airnya diminum dapat sebagai obat batuk Berupa semak, tegak, tinggi 20-90 cm. Daunnya berkhasiat sebagai obat batuk,mencret dan luka. Daun dan akar mengandung saponin dan flavonoida. Disamping itu daunnya juga mengandung tanin, sedangkan akarnya juga mengandung polifenol . Jus dari daun dan akarnya digunakan sebagai tonik, emetik, expektoran, stimulan, purgatif, dan emenagogu .

Bunga kumbi ( Tabernaemontana sphaerocarpa Bl.) yang masih kuncup diambil airnya diteteskan ke mata yang merah. Pohon tinggi hingga 13 m, di Jawa Tengah dan Jawa Timur di bawah 800 m dan di banyak daerah sangat umum, tetapi tumbuhnya tidak pernah berkelompok. Getahnya dipergunakan untuk mengobati penyakit kulit dan daunnya sebagai obat luar terhadap keseleo. Buahnya berwarna jingga dan diketahui beracun. Nama daerah Sunda : hamperu badak. Jawa : jembirit, gembirit, kembirit, cempirit. Rebusan kulit batangnya digunakan sebagai obat penyakit kulit. Daun diremas dicampur dengan kapur untuk mengobati infeksi mata.

Hasil penelitian menunjukan bahwa pengobatan tradisional masyarakat Sasak di Lombok Barat masih mendominasi cara penyembuhan suatu penyakit yang diderita oleh masyarakat. Tercatat 16 macam penyakit yang memanfaatkan tumbuhan untuk pengobatannya di antaranya adalah sakit batuk, diare, luka, cacingan, gatal karena jelatang, demam, gatal, cacar, terkena gigitan kalajengking, malaria, mata merah,  goaman, “keloh”, desentri, sesak nafas dan terkena gigitan ular. Dari hasil penelitian tercatat sebanyak 25 jenis tumbuhan yang termasuk ke dalam 16 suku yang dimanfaatkan dalam pengobatan tradisional. Perlu dilakukan penelitian lanjutan sehubungan dengan kandungan kimia dari setiap jenis tumbuhan tersebut walaupun sudah ada beberapa tanaman yang diketahui kandungan kimianya namun masih perlu diuji lagi termasuk dosis yang tepat dalam penggunaannya beserta uji klinisnya.

Sumber dan Penulis:
Soedarsono Riswan dan Dwi Andayaningsih (Bidang Botani, Puslit. Biologi - LIPI, dan Fakultas Biologi Universitas Nasional)

loading...

FOLLOW and JOIN to Get Update!

Social Media Widget SM Widgets




Peternakan dan Herbal Updated at: 21:36
Copyright@2014-2016. www.AgrobisnisInfo.com . Powered by Blogger.