loading...

Tanaman Obat Untuk Menurunkan Akumulasi Lemak dan Memperbaiki Performan Ayam

Posted by

Tumbuhan Obat sebagai Feed Supplement untuk Menurunkan Akumulasi Lemak dan Memperbaiki Performans dan Kualitas pada Ayam.

Tanaman Katuk

Daun Katuk
Daun katuk sebagai feed supplement untuk broiler. Hasil penelitian Santoso dan Sartini (2001) menunjukkan bahwa tepung daun katuk (yang tua dan tidak dikonsumsi manusia) dapat diberikan kepada ayam broiler sebesar 3%. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pemberian tepung daun katuk meningkatkan efisiensi penggunaan ransum tanpa menurunkan berat badan. Selain itu, pemberian tepung daun katuk sebesar 3% tersebut mampu menurunkan akumulasi lemak pada ayam broiler. Penurunan lemak ini sangat menguntungkan bagi konsumen, karena mengkonsumsi daging berlemak tinggi dapat meningkatkan resiko terkena penyakit seperti stroke, tekanan darah tinggi, jantung koroner dll. Kandidat juga menemukan bahwa daun katuk tua mengandung kadar lemak kasar yang tinggi. Diketahui bahwa minyak yang berasal dari sayur-sayuran banyak mengandung asam lemak tak jenuh yang berguna untuk menurunkan kadar lemak pada broiler.

Santoso et al. (2001) juga menemukan bahwa pemberian ekstrak daun katuk sebesar 4,5 g/l air minum meningkatkan efisiensi penggunaan ransum, cenderung meningkatkan berat badan, dan menurunkan akumulasi lemak pada broiler. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa ekstrak tersebut menurunkan jumlah mikrobia patogen seperti Escherichia coli dan Salmonella sp. tetapi meningkatkan jumlah mikrobia yang menguntungkan yaitu Lactobacillus sp. dan Bacilus subtilis dalam kotorannya. 

Peningkatan jumlah mikrobia efektif dalam kotoran menyebabkan menurunkan produksi gas amonia. Selain itu, kandidat menemukan formula baru untuk menduga deposisi lemak. Pendugaan deposisi lemak tubuh dapat diduga dengan mengukur jumlah mikrobia tertentu dalam feses. Kelebihan formula ini dibandingkan dengan formula terdahulu adalah tidak perlu memotong ayam, mudah dan murah. Ekstrak daun katuk juga mampu meningkatkan warna kuning karkas dan shank. Hal ini disebabkan oleh kandungan -karoten yang tinggi dalam ekstrak daun katuk. Pemberian ekstrak daun katuk juga meningkatkan rasa daging broiler. Hal ini disebabkan oleh antara lain tingginya kalium dalam ekstrak daun katuk (0,58%). Kalium diketahui merupakan senyawa aktif utama untuk rasa pada daging ayam. 

Selain itu, metilpiroglutamat – merupakan salah satu senyawa utama dalam daun katuk – kemungkinan dikonversikan menjadi asam amino dalam saluran pencernaan. Asam amino tertentu—terutama asam glutamat – merupakan senyawa aktif rasa pada daging ayam. Kandidat juga menemukan bahwa ekstrat daun katuk menurunkan kelainan kaki pada broiler. Hal ini disebabkan karena ekstrak daun katuk banyak mengandung kalsium (0,28%) dan fosfor (0,28%0. Ekstrak daun katuk juga tinggi kadar energinya yaitu 3700 kkal/kg dengan kadar protein 19,8%. Pemberian ekstrak tidak menimbulkan toksisitas.

Santoso (2000, 2001a) menemukan bahwa pemberian ekstrak daun katuk sebanyak 18 g/kg ransum meningkatkan efisiensi penggunaan ransum, cenderung meningkatkan berat badan, dan meningkatkan tingkat keuntungan yang diperoleh peternak. Santoso (2001b) juga menemukan bahwa pemberian ekstrak daun katuk sebesar 18 g/ransum menurunkan cooking loss, cacat dada, cacat paha, deposisi lemak. Selain itu juga, ekstrak ini mampu meningkatkan rasa dan menurunkan bau amis daging broiler. 

Fujimura et al. (1994) menunjukkan bahwa yang menentukan rasa daging unggas adalah ion K+, asam glutamat dan IMP. Santoso (2001c) juga menemukan bahwa pemberian ekstrak sebesar 18 g/kg ransum menekan jumlah Salmonella sp dan Escherichia coli pada daging broiler. Selanjutnya dinyatakan bahwa penggunaan ekstrak tidak menimbulkan tanda-tanda keracunan. Hasil penelitian Santoso et al. (2002) menunjukkan bahwa cara pemberian ekstrak daun katuk yang terbaik adalah melalui kombinasi ransum dan air minum, yaitu 4,5 g/kg ransum + 2,25 g/l air minum.

Penggunaan ekstrak daun katuk sebagai feed supplement pada ayam broiler telah diperkenalkan kepada peternak di pusat peternakan ayam broiler di Propinsi Bengkulu. Publikasi penggunaan daun katuk dan ekstraknya sebagai feed supplement pada broiler adalah yang pertama baik di Indonesia maupun di level internasional. Pengaruh ekstrak daun katuk pada ayam petelur (Hibah Bersaing tahun 2002-2003). Hasil penelitian tahun 1 menunjukkan bahwa ekstrak daun katuk menurunkan akumulasi lemak pada perut, kadar kolesterol dan trigliserida dalam serum, kadar kolesterol telur (sebesar 40%), kadar nitrogen dalam feses, tetapi meningkatkan produksi telur. Ekstrak daun katuk tidak berpengaruh secara nyata terhadap kualitas telur. Ekstrak daun katuk mampu menurunkan jumlah Salmonella sp dalam feses dan kerabang telur, jumlah E. coli dan Staphylococcus sp dalam feses. Oleh karena diduga senyawa aktifnya adalah alkaloid, maka pada pebelitian tahun 2 diteliti pengaruh partisi alkaloid dari ekstrak daun katuk (sedang berjalan).

Eucommia ulmoides, Oliver (Tu-chung)
Pemberian tepung daun Tu-chung sebanyak 5% ke dalam ransum yang mengandung kolesterol rendah meningkatkan aktivitas enzim acetyl-CoA carboxylase tetapi menurunkan aktivitas enzim 3-hydroxy-3-methylglutaryl-CoA reductase tanpa berpengaruh terhadap aktivitas enzim fatty acid synthetase (Santoso et al., 2000b). Namun, penambahan tepung ini kepada ransum yang mengandung kolesterol tinggi tidak berpengaruh terhadap aktivitas ketiga enzim tersebut di atas. Penambahan tepung Tu-chung ke dalam ransum berkolesterol rendah meningkatkan kadar trigliserida hati, sementara penambahan ke dalam ransum berkadar kolesterol tinggi menurunkan kadar trigliserida dalam hati. 

Penambahan tepung ini ke dalam ransum berkolesterol tinggi menurunkan konsentrasi kolesterol ester, kolesterol bebas, fosfolipid dan trigliserida dalam serum. Penambahan tu-chung ke dalam ransum berkolesterol rendah menurunkan konsentrasi kolesterol dalam serum.. Penurunan trigliserida disebabkan sebagian oleh turunnya aktivitas acetyl-CoA carboxylase, sementara turunnya konsentrasi kolesterol disebabkan oleh turunnya aktivitas enzim 3-hydroxy-3-methylglutaryl-CoA. Paper ini merupakan publikasi pertama di level internasional.

Tanaman Keji beling
Kandidat menemukan bahwa ekstrak daun keji beling menurunkan deposisi lemak pada perut dan karkas (Santoso, 2000a). Ekstrak diperoleh dengan cara merebus 50 g daun keji beling dalam satu liter air, dan diperas. Hasil perasan kemudian ditambahkan air sampai volumenya satu liter, dan diberikan kepada broiler sebagai air minum. Wijayakusuma (1996) menyatakan bahwa daun keji beling mengandung flavonoid dan saponin. Telah diketahui bahwa flavonoid dan saponin mempunyai kemampuan menekan deposisi lemak.
Selain itu, pemberian ekstrak ini dapat mencegah terjadinya fatty liver syndrome pada ayam (Santoso, 2000a). 

Namun, pemberian ekstrak harus dibatasi karena dapat meningkatkan suhu tubuh dan menurunkan efisiensi penggunaan ransum. Dikarenakan kandungan kaliumnya tinggi, maka daun keji beling dapat digunakan untuk meningkatkan rasa daging ayam. Ekstrak ini meningkatkan berat hati dan rempelo tetapi menurunkan berat limfa. Belum ada publikasi tentang pemberian daun keji beling sebagai feed supplement pada ayam broiler.

Referensi:
https://sivitasakademika.wordpress.com

loading...

FOLLOW and JOIN to Get Update!

Social Media Widget SM Widgets




Peternakan dan Herbal Updated at: 21:17
Copyright@2014-2016. www.AgrobisnisInfo.com . Powered by Blogger.