loading...

Plus Minus Sapi Jenis Brahman Cross Untuk Breeding

Posted by

Kelebihan dan Kekurangan Sapi Impor Brahman Cross Australia Untuk Breeding
Program breeding pemerintah beberapa tahun yang lalu dengan menggunakan sapi Brahman Cross sepertinya gagal. Program ini sebenarnya baik sekali, hanya sayangnya penggunaan sapi Brahman Cross (BX) sebagai indukannya tidak lebih dahulu dikaji secara matang. Apalagi dengan pemeliharaan di penduduk yang sapinya diikat atau ditongar/dikeluh. Banyak peternak yang mendapatkan kucuran program ini mengeluhkan sapinya susah bunting dan sudah dilakukan beberapa kali IB tetap menemui kegagalan.

Sebenarnya efektif atau tidak penggunaan sapi BX untuk program breeding? Jika melihat produksi sapi BX di Australia yang berlimpah setiap tahun seharusnya tidak ada masalah sapi BX untuk program breeding. Yang perlu diteliti adalah pelaksanaan programnya apakah dengan kawin alam atau dengan IB, mana yang lebih efektif. Untuk mengetahui hal tersebut berikut ulasan mengenai plus minus sapi Brahman Cross untuk breeding dan apa saja kendala yang terjadi dilapangan. Disarikan dari tulisan Dr. Drh. Prabowo Purwono Putro, M.Phil. :

Sapi Brahman Cross

Sapi Brahman Cross (BX) merupakan sapi potong dengan darah Brahman dominan. Sapi ini merupakan tipe sapi potong yang tahan panas, tahan caplak, tahan kutu dan tahan kekeringan. Sifat sapi Brahman Cross sebagai hewan dengan reproduksi lambat (slow breeder), sulit dideteksi birahinya membuat pelaksanaan IB pada sapi banyak menjumpai kegagalan. 

Budidaya sapi ini dengan sistem peternakan intensif tradisional akan menimbulkan fenomena reproduksi, terutama berupa infertilitas nutrisi yang dimanifestasikan dengan birahi tenang, anestrus dan kawin berulang. Fenomena reproduksi pada sapi Brahman-Cross tersebut dapat dieliminasi dengan perbaikan manajemen peternakan, peningkatan pakan serta manajemen reproduksinya.

Mengenal  Sapi Brahman Cross (BX)
Sapi Brahman termasuk spesies Bos indicus yang berasal dari India merupakan tipe potong yang banyak dipilih untuk dikembangkan di dunia karena mempunyai daya tahan dan kemampuan beradaptasi tinggi, sehingga banyak dimanfaatkan dalam program crossbreeding. Bangsa sapi ini resisten terhadap caplak, kutu dan penyakit, tahan terhadap panas dan kering, mempunyai sifat keindukan bagus dan kemampuan reproduksi alami panjang. 

Sapi Brahman mempunyai penampilan luar yang mengesankan, dengan ciri-ciri kuping lebar dan terkulai ke bawah, punuk dan gelambir yang besar, badan panjang dengan kedalaman sedang, mempunyai kaki agak panjang, serta muka agak panjang. Warna bervariasi dari putih, kemerahan sampai kehitamam, namun umumnya putih atau abu-abu. Sapi jantan dewasa biasanya berwarna gelap pada leher, bahu, paha dan panggul bagian bawah. Kulit kendor, halus dan lembut, ketebalannya sedang dan biasanya berpigmen. Tanduk berjarak lebar, tebal dan panjangnya sedang. Prepusium tidak terlalu menggantung. Ambing dan puting sapi Brahman berukuran sedang.

Sapi Brahman Cross merupakan silangan sapi Brahman dengan sapi Eropa (Bos taurus), awalnya merupakan bangsa sapi American Brahman diimpor ke Australia pada tahun 1933, kemudian dikembangkan di stasiun CSIRO’s Tropical Cattle Research Centre, Rockhampton, Australia. Sapi ini merupakan persilangan antara sapi Brahman, Hereford dan Shorthorn dengan proporsi darah berturut-turut 50%, 25% dan 25%, sehingga secara fisik bentuk fenotip dan keistimewaan sapi Brahman Cross cenderung lebih mirip sapi American Brahman. 

Pengamatan sapi Brahman Cross di Australia menunjukkan angka kelahiran 81,2%, rata-rata berat lahir 28,4 kg, rata-rata berat sapih 193 kg, kematian sebelum sapih 5,2%, kematian umur 15 bulan 1,2% dan kematian dewasa 0,6%. Tujuan utama dari persilangan ini utamanya adalah menciptakan bangsa sapi potong tropis/subtropis yang mempunyai produktivitas tinggi, namun mempunyai daya tahan terhadap suhu tinggi, caplak, kutu, serta adaptif terhadap lingkungan tropis yang relatif kering. 

Di negeri asalnya, Australia, sapi ini umumnya dilepas di padangan dan digunakan kawin alami dengan pejantan sebagai program pengawinannya. Dengan manajemen peternakan lepas (grazing) pada padang penggembalaan yang sangat luas, mempunyai kesempatan exercise yang tanpa batas, tanpa tali hidung, dalam kumpulan, dengan pengawinan alami menggunakan pejantan, serta dengan ketersediaan pakan hijauan maupun pakan penguat secara kuantitatif maupun kualitatif mencukupi.

Reproduksi Sapi Brahman Cross
Asupan nutrisi sangat berpengaruh terhadap umur pubertas sapi Brahman Cross, sapi-sapi dengan nutrisi rendah umur pubertas adalah 704,2 hari, dengan nutrisi sedang umur pubertas 690,8 hari dan dengan nutrisi bagus umur pubertas adalah 570,4 hari. Umur pubertas dipengaruhi oleh faktor genetik dan faktor lingkungan. Pada industri perbibitan sapi Brahman Cross, umur beranak pertama pada umur 3 tahun menjadi pertimbangan penting. Sapi Brahman Cross muda mencapai pubertas pada umur yang lebih tua daripada sapi Eropa. Semua bangsa sapi Bos indicus dilaporkan mencapai masa pubertas lebih lambat dibandingkan dengan sapi Eropa (Bos taurus).

Rendahnya fertilitas pada sapi Brahman Cross disebabkan karena pengamatan birahi yang kurang akurat dengan lama masa estrus 6,7 ± 0,8 jam dengan intensitas gejala birahi relatif lemah. Asupan nutrisi dan lamanya induk menyusui dapat menyebabkan terjadinya anestrus postpartum pada sapi Brahman Cross, tertundanya pengeluaran plasenta setelah beranak dan adanya infeksi serta peradangan pada selaput lendir uterus (endometritis) yang dapat memperpanjang jarak beranak. Masalah besar yang sering timbul pada peternakan sapi Brahman Cross di daerah tropis dan sub tropis adalah panjangnya masa anestrus postpartum (anestrus pasca beranak), hal ini disebabkan oleh pakan yang diberikan kurang kualitas maupun kuantitasnya, temperatur lingkungan yang terlalu panas, investasi parasit, penyakit reproduksi, kondisi tubuh yang kurus (SKT rendah, di bawah 2,0), dan stres akibat menyusui.

Setelah mencapai pubertas, sapi Brahman Cross akan mengalami siklus rerata 3 minggu (18 – 24 hari). Pada sapi Brahman Cross terkadang menunjukkan gejala birahi semu yang tidak diikuti dengan pelepasan sel telur. Gejala birahi yang paling penting adalah diam bila dinaiki oleh temannya atau standing position. Tetapi juga perlu diperhatikan hal lain seperti seringkali melenguh (gejala 2 B: bengak-bengok), gelisah, mencoba untuk menaiki teman-temannya (gejala 2 C: clingkrak-clingkrik). Sapi tampak lebih jinak terhadap orang dari biasanya. Vulva membengkak, keluar lendir, terlihat lebih merah dan hangat apabila diraba (gejala 3A: abang, abuh dan anget).

Sebagian besar sapi Brahman Cross (50 – 85%), mengeluarkan sedikit darah dari vulva beberapa jam setelah standing heat berakhir. Keadaan ini disebut perdarahan met-estrus (metestrual bleeding), ditandai dengan keluarnya darah segar bercampur lendir dari vulva dalam jumlah sedikit beberapa hari setelah birahi. Perdarahan ini biasanya akan berhenti sendiri setelah beberapa saat. Yang perlu diingat adalah bahwa tidak semua siklus birahi pada sapi berakhir dengan keluarnya darah. Keluarnya darah tidak selalu berarti ovulasi telah terjadi dan tidak selalu menunjukkan bahwa bila diinseminasi ternak akan bunting atau tidak. Keluarnya darah hanya akan menunjukkan bahwa ternak telah melewati siklus birahi.

Agar perkawinan sapi Brahman Cross berhasil, sangat penting memperhatikan mereka pada saat standing heat (puncak birahi, tandanya tetap diam bilamana dinaiki sapi lain). Ada waktu-waktu tertentu dimana pengamatan tanda-tanda birahi akan lebih berhasil. Secara alamiah sapi induk dan dara Brahman Cross lebih banyak menunjukkan aktivitas seksual di malam dan pagi hari daripada waktu siang hari. Amati tanda-tanda birahi berdasarkan suatu jadwal tertentu. Melakukan pengamatan birahi selama 25 menit, 4 kali sehari, hendaknya menjadi bagian pada saat mereka tidak terganggu oleh aktivitas-aktivitas lain seperti pemberian pakan, atau pembuangan kotoran kandang. Mayoritas birahi (standing heat) terjadi antara jam 4.00-6.00 sore dan 5.00-7.00 pagi. Pengamatan visualisasi pada malam hari (night watch) sangat dianjurkan untuk deteksi pada sapi Brahman Cross. Sapi betina yang terikat dalam kandang harus diberi latihan (exercise) secara teratur dengan kondisi kaki yang baik agar dapat menunjukkan aktivitas menaiki dan dinaiki temannya, serta ekspresi birahi akan lebih kelihatan.

Kualitas dan kuantitas pakan yang kurang optimum menyebabkan SKT rendah saat bunting tua, berakibat gangguan pada waktu beranak seperti prolapsus uteri, retensi plasenta, distokia, produksi susu induk sedikit dan berat lahir pedet rendah. Gangguan pada waktu beranak berakibat pada waktu estrus postpartum lebih lama muncul bahkan bisa menyebabkan anestrus yang panjang sehingga setelah beranak tidak dapat birahi atau bunting lagi. Untuk mengatasi hal tersebut diatas maka perlu diperhatikan kualitas pakan yang diberikan pada saat bunting sampai menyusui.

Secara normal ± 42 hari setelah beranak mulai timbul gejala birahi pertama, tetapi sapi tidak perlu di IB karena biasanya hasil angka konsepsinya masih rendah. Pada periode birahi berikutnya (± 63 hari setelah melahirkan) sapi dapat mulai dikawinkan kembali. Birahi pada periode berikutnya tetap terus diamati untuk menentukan tindakan yang akan dilakukan. Setelah 21 hari, sapi yang diinseminasi kemudian tidak minta kawin lagi ada kemungkinan telah terjadi kebuntingan. Untuk memastikan bunting atau tidak, maka perlu dilakukan pemeriksaan kebuntingan (sebaiknya pada umur kebuntingan 3 bulan) oleh petugas yang sudah dilatih pemeriksaan kebuntingan.

Skor kondisi tubuh (SKT) sapi Brahman Cross berhubungan dengan performan reproduksi dan dapat dipergunakan untuk membuat suatu keputusan manajemen pemeliharaan. Kondisi status nutrisi dan endoparasit (terutama cacing) merupakan pengaruh terbesar dalam penampilan skor kondisi tubuh sapi. Angka SKT dimulai dari angka 1 (sangat kurus), 2 (kurus), 3 (optimum), 4 (gemuk) dan 5 (sangat gemuk). Angka SKT dengan nilai 3 adalah rata-rata, sedang atau optimum (diantara sangat kurus dan sangat gemuk). Nilai SKT optimum untuk keperluan reproduksi sapi Brahman Cross adalah 3,0 – 3,5.

Hubungan SKT dengan reproduksi sapi Brahman Cross adalah pada calving interval (jarak beranak). Penilaian harus dilakukan 80 hari sesudah melahirkan untuk menentukan program pemeliharaan, agar tercapai calving interval 365 hari. Status SKT optimum 3 – 3,5 pada sapi bunting tua sangat diperlukan bagi persiapan kelahiran (partus) dan periode menyusui pedet. Sapi Brahman Cross bunting tua dengan SKT kurang dari 2 (kurus) akan berresiko terjadinya pengeluaran vagina dan servik saat bunting (broyongen, prolapsus vagina et cervix) serta prolapsus uteri pasca beranak.

Fenomena Reproduksi Sapi Brahman Cross di Indonesia
Sapi Brahman Cross mulai didatangkan ke Indonesia (Sulawesi Selatan) dari Australia pada tahun 1973. Hasil pengamatan di Sulawesi Selatan menunjukkan persentase beranak 40,91%, calf crops 42,54%, mortalitas pedet 5,93%, mortalitas induk 2,92%, bobot sapih (8-9 bulan) 141,5 kg (jantan) dan 138,3 kg betina, pertambahan bobot badan sebelum disapih sebesar 0,38 kg/hari. Pada tahun 1975, sapi Brahman Cross didatangkan ke pulau Sumba dengan tujuan utama untuk memperbaiki mutu genetik sapi Ongole di pulau Sumba. Importasi Brahman Cross dari Australia untuk UPT perbibitan, BPTU Sembawa, Palembang, dilakukan pada tahun 2000 dan 2001 dalam rangka revitalisasi UPT. Importasi besar-besaran sapi Brahman Cross terjadi pada tahun-tahun belakangan ini. Setelah sapi Brahman-Cross didatangkan ke Indonesia dan dibagikan kepada rakyat, sapi-sapi tersebut dipasangi tali hidung, dikandangkan sendiri atau dalam kelompok kecil di tempat sempit, tanpa kesempatan exercise sama sekali, dengan pakan yang tidak mencukupi kualitas maupun kuantitasnya, terjadilah berbagai gangguan lambannya reproduksi atau sering disebut sebagai slow breeder. 

Dengan adanya perubahan lingkungan, pakan, ditambah adanya heat stress terjadilah keadaan yang disebut sebagai depresi reproduksi (reproductive depression), sapi tidak menunjukkan gejala birahi sama sekali (anestrus) pada sapi yang belum bunting maupun setelah beranak (anestrus postpartum) serta seringnya terjadi kawin berulang (repeat breeding) pada sapi yang tampaknya birahi normal. Fenomena reproduksi sapi Brahman Cross adalah sifat birahi tenang (silent heat, sub-estrus), birahi pendek (short estrus) dan lebih banyak estrus terjadi pada hari gelap, sangat sulit dikenali saat birahinya, serta ovulasi tertunda (delayed ovulation), sehingga inseminasi buatan yang dilakukan banyak menjumpai kegagalan.

Fenomena reproduksi pada sapi Brahman-Cross yang dibagikan kepada rakyat dilaporkan dalam bentuk terutama kasus-kasus infertilitas, antara lain tidak bunting walau sudah diinseminasi beberapa pada sapi dara maupun sapi dewasa yang pernah beranak, tidak birahi sama sekali (anestrus) pada sapi pasca beranak, birahi tenang serta jarak beranak yang terlalu panjang. Gejala umum dari sapi Brahman-Cross sebagian besar menunjukkan infertilitas metabolik dan nutrisi disertai dengan penurunan skor kondisi tubuh. Banyak laporan menyatakan sapi Brahman Cross bunting yang dibagikan ke peternak setelah proses partus tidak mau birahi kembali (anestrus postpartum), sehingga tidak dapat dikawinkan atau sudah dikawinkan berulang kali tetapi tidak berhasil bunting kembali (repeat breeding). Sehingga di kalangan peternak timbullah mitos yang tidak benar, bahwa sapi Brahman Cross akan sulit bunting kembali setelah beranak bawaan.

Fenomena reproduksi tersebut menyebabkan rendahnya reproduktivitas sapi Brahman-Cross milik rakyat. Gangguan reproduksi ini menjadi lebih nyata dengan digunakan sistem pengawinan yang diatur (hand mating), dengan penggunaan inseminasi buatan dimana diperlukan pengamatan birahi oleh manusia. Di samping itu, tercatat pula relatif tingginya kasus-kasus obstetri dan ginekologi pada sapi Brahman-Cross bila dipelihara dengan manajemen peternakan rakyat trasisional, seperti banyaknya kejadian prolapsus vagina et cervix maupun prolapsus uteri (prolapsus vagina dan serviks maupun prolapsus uteri) dan kasus distokia (kesulitan beranak).

Dari pengalaman lapangan dalam menangani sapi Brahman-Cross, termasuk Brahman-Angus (Brangus), Simmental-Brahman (Sim-Bra) fenomena reproduksi yang muncul bila dipelihara dengan cara pemeliharaan rakyat tradisional antara lain:
  • Birahi tenang (silent heat, sub-estrus)
  • Tidak birahi sama sekali (anestrus)
  • Hipofungsi ovaria (kurang atau tidak berfungsinya ovaria dalam menghasilkan ovum secara rutin, karena tidak terbentuk folikel dan tidak ada ovulasi, sehingga juga tidak timbul gejala birahi)
  • Korpus luteum persisten (menyebabkan progesteron akan terus dihasilkan mengakibatkan terjadi anestrus)
Sapi Brahman-Cross yang mengalami anestrus 80% disebabkan oleh hipofungsi ovaria ini, termasuk juga atrofi ovaria. Penyebab utama dari hipofungsi ovaria karena adanya defisiensi hormon gonadotrofin, akibat dari berbagai faktor antara lain :
  • Defisiensi nutrisi, pakan yang tidak memadai, termasuk enerji, protein, vitamin dan mineral,
  • Menyusui pedet,
  • Penyakit-penyakit yang menyebabkan kekurusan,
  • Parasit cacing, terutama sapi Brahman Cross lebih peka terhadap cacing hati (Fasciolasis) dan cacing porang (Paramphistomiasis) dibanding sapi lokal lain, seperti sapi PO dan Bali.
Penanganan Perbaikan Reproduks Sapi Brahman Cross
Cara agar terjadi perbaikan efisiensi reproduksi pada sapi Brahman Cross sebagai berikut:
  • Mitos bahwa sapi Brahman Cross akan sulit bunting kembali setelah beranak adalah tidak benar. Artinya bahwa manajemen yang salah merupakan penyebab kegagalan kebuntingan pada sapi Brahman Cross, utamanya adalah pakan, sitem perkandangan dan pengamatan birahi.
  • Kandang lepas, tanpa ditambat, atau adanya tempat umbaran untuk exercise merupakan keharusan bagi sapi Brahman Cross.
  • Pakan yang mencukupi kualitas dan kuantitasnya, untuk mempertahankan SKT optimum untuk reproduksi (3,0-3,5), di samping pemberian obat cacing berspektrum luas untuk mengatasi cacing hati (Fasciolasis) dan cacing porang (Paramphistomiasis), paling tidak 2 kali setahun.
  • Pemeriksaan khusus infertilitas untuk identifikasi permasalahan individual sapi Brahman-Cross yang bermasalah. Perlu ditentukan apakah sapi hanya mengalami birahi tenang, anestrus atau infertilitas bentuk lain.
  • Kasus prolapsus vagina dan serviks maupun prolapsus uteri dan kasus distokia pada sapi Brahman Cross dapat dihindari dengan mempertahankan SKT antara 3,0-3,5 pada saat bunting, serta diberi cukup banyak exercise pada tempat umbaran. Penambahan mineral, termasuk mikromineral, penting diberikan harian untuk mencegah terjadinya abnormalitas reproduksi lebih jauh.
Referensi
Britt, J.S. and Gaska, J. (1998). Comparison of two estrus synchronization programs in a large, confinement-housed beef herd. JAVMA 212:210-212
Gunawan; Abubakar; Tri Pambudi, G; Karim, K; Nista, D; Purwadi, A.dan Putro, P. P. 2008. Petunjuk Pemeliharaan Sapi Brahman Cross. BPTU Sapi Dwiguna dan Ayam Sembawa. Direktorat Jenderal Peternakan, Departemen Pertanian.
Putro, P.P. (1992). Performans reproduksi sapi Brahman-Cross asal Australia di beberapa daerah di Jawa Tengah, Jawa Timur and Daerah Istimewa Yogyakarta. Laporan Monitoring, tidak dipublikasi.
Putro, P.P. (1993). Induksi birahi and Ovulasi pada sapi Brahman-Cross yang mengalami anestrus and subestrus. Fakultas Kedokteran Hewan UGM Yogyakarta.
Putro, P. P. 2006. Gangguan Reproduksi pada Sapi Brahman Cross. Bagian Reproduksi dan Kebidanan FKH UGM Yogyakarta.
Putro, P. P. 2008. Sapi Brahman Cross, Reproduksi dan Permasalahannya. Bagian Reproduksi dan Kebidanan FKH UGM Yogyakarta.
Youngquist, R.S. (1997). Therigenology in Large Animals. W.B. Saunders Co., London. Pp 80-88
Dr. Drh. Prabowo Purwono Putro, M.Phil. Bagian Reproduksi dan Obstetri Fakultas Kedokteran Hewan UGM Yogyakarta. e-mail: prabowopp@yahoo.co.id

loading...

FOLLOW and JOIN to Get Update!

Social Media Widget SM Widgets




Peternakan dan Herbal Updated at: 19:42
Copyright@2014-2016. www.AgrobisnisInfo.com . Powered by Blogger.