loading...

Plus Minus Operasi Caesar Pada Ternak Sapi Potong dan Sapi Perah

Posted by


Kelebihan dan Kekurangan Operasi Caesar Pada Sapi, Waspadai Komplikasi Yang Terjadi Pada Induk Sapi

Pengertian Operasi Caesar. “Sectio Caesaria” atau ”Pembedahan Caesar” adalah pengeluaran foetus, umumnya pada waktu partus, melalui laparohisteretomi atau pembedahan pada perut dan uterus, Bedah ini dilakukan apabila mutasi, tarik paksa dan foetotomi tidak dapat atau sangat sulit dilakukan untuk mengeluarkan foetus atau peternak menginginkan supaya foetus dikeluarkan dalam kedaan hidup.

Operasi Caesar Pada Sapi

Kata “Caesaria” berasal dari kata-kata Latin yaitu “caeso matris utera” yang berarti memotong uterus induk (Johnston, 1968). Sectio-caesaria atau yang lebih dikenal dengan operasi sesar merupakan tindakan terakhir yang harus diambil oleh seorang dokter hewan untuk menghentikan masa kebuntingan, baik yang disebabkan oleh distokia maupun oleh sebab-sebab yang lain. Dan pada kasus-kasus tertentu operasi sesar merupakan tindakan pertama untuk menyelamatkan induk atau anak ataupun kedua-duanya. Akan tetapi operasi sesar umumnya dilakukan terhadap hewan yang mengalami distokia. Indikasi untuk melakukan operasi sesar bermacam-macam, begitu pula dengan teknik yang akan dilakukan. Hal ini sangat tergantung pada kondisi dan spesies hewan tersebut.

Teknik dan Tata Cara Operasi Caesar Pada Sapi 

Persiapan operasi
Rambut sapi pada daerah legok lapar (flank) kiri dicukur. Lebarnya sekitar 5 cm dengan panjang 30-40 cm. Tujuan  melakukan operasi Caesar dari flank kiri karena gangguan organ viscera saat mengeksteriorasi uterus bisa minimal karena hanya berbatasan dengan rumen. Flank kanan akan banyak omentum yang ikut keluar, belum lagi bila intestine juga tereksteriorasi keluar. Lebih sulit.

Premedikasi

10 ml Clenbuterol (Planipart ®) diberikan intra vena sebagai uterine relaxant. 4 ml Lidokain diberikan secara epidural antara vertebrae sacral terakhir dengan vertebrae coccigeae 1. Sapi masih dalam posisi berdiri, kepala dijepit dalam head lock di ruang operasi.

Alat-alat yang dibutuhkan: mata skalpel, gunting, jarum setengah lingkaran dengan diameter lingkaran 3-4 cm, pemegang jarum (needle holder), arteri klem, dan kadang-kadang pinset. Jangan lupa juga cat gut USP 3 (besar) dan monofilament non absorbable silk, 2 botol LR dan Penstrep. Glove steril, pakaian operasi dan desinfektan atau sabun untuk membersihkan tangan, kuku dan lengan kita sebelum melakukan operasi.


Setelah premedikasi selesai, persiapan flank untuk insisi selesai dan dibersihkan maka anastesi lokal di daerah insisi dilakukan. Ada beberapa cara melakukan anastesi pada daerah flank ini. Ada yang diberikan infiltrasi disepanjang daerah yang akan diinsisi, bisa juga dengan anasteri regional. Anastesi regional dilakukan untuk memblok syaraf yang menginervasi daerah flank dan sekitarnya (cabang ventral dari syaraf T13, L1 dan L2). Bisa dilakukan dengan inverted L, proximal paravertebral atau bisa juga distal paravertebral. Cara yang paling gampang adalah dengan anastesi infiltrasi disepanjang daerah yang akan diinsisi. Namun cara ini boros Lidokain. Untuk satu operasi Caesar bisa membutuhkan 150-200 ml Lidokain. Untungnya harganya tidak mahal. Anastesi regional membutuhkan relatif sedikit Lidokain, hanya anda harus mengenali struktur dan benar-benar memahami anatomi dari tulang belakang khususnya daerah thorac dan lumbal dan persyarafannya.


Lakukan  anastesi lokal infiltrasi. Tunggu sekitar 10-15 menit . Anastesi ini sebenarnya juga bisa dilakukan sebelum rambut dicukur untuk menghemat waktu. Setelah yakin teranastesi sempurna, insisi dilakukan. Kulit kemudian jaringan lemak kemudian m. transversus eksternus, internus, obliquus abdominis dan peritoneum. Buat lubang insisi sekalian lebar, sekitar 30 cm karena mempertimbangkan ukuran pedet yang akan keluar melewati lubang insisi tersebut. Begitu flank kiri sudah terbuka, terlihat rumen yang menutupi hampir semua lubang insisi.

Identifikasi uterus.

Hal ini relatif mudah karena ukurannya yang besar. Palpasi dinding uterus, bila masih ada perputaran (torsio) kembalikan sampai posisi normal. Palpasi uterus dan temukan ujung kuku pedet. Pada posisi anterior, maka kuku kaki belakang yang harus terpegang. Posisikan ujung kuku pedet tadi mendekat ke lubang insisi yang telah dibuat.

Begitu ujung kuku pedet yang sudah terpegang bisa diposisikan di mulut lubang insisi, siapkan skalpel untuk memulai insisi dinding uterus. Cari lokasi insisi yang berdekatan dengan ujung kornua uteri. Jangan melakukan insisi pada daerah yang berdekatan dengan cervic. Penjahitan akan sulit dilakukan. Hindari teririsnya kotiledon saat mengiris dinding uterus karena itu akan menyebabkan perdarahan pasca operasi. Buat insisi selebar kira-kira pinggul pedet bisa melewatinya. Dinding uterus sudah terbuka, akan terlihat kaki pedet yang masih terbungkus selaput amnion. Robeklah selaput amnion tadi sehingga cairannya keluar dan kaki bisa terpegang. Cari satu kaki lainnya. Dua kaki sudah terpegang, dengan bantuan 2 orang asisten, pedet ditarik dan keluar. Saat menarik pedet yang masih hidup dengan posisi anterior, proses pengeluaran pedet harus berlangsung cepat. Jika tidak, pedet akan mengalami pneumonia aspirasi, bahkan bisa mati. Hal ini bisa terjadi karena bila kaki belakang pedet ditarik keluar lebih dahulu, maka saluran pusar akan terputus, padahal kepala pedet masih ada di dalam selaput amnion yang berisi cairan. Bila prosesnya lama, pedet akan bernafas di dalam cairan amnion.


Pedet yang telah ditarik di urus sedemikian rupa oleh asisten, sedangkan penjaitan uterus yang berlubang 30 cm dilanjutkan. Karena efek Clenbuterol, uterus akan tetap relaksasi setelah pedet keluar. Bila tanpa Clenbuterol, uterus akan mengkerut dengan cepat sekali, sehingga penjahitan dinding uterus akan sulit dilakukan. Biarkan plasenta didalam, masukkan yang menggantung diluar dan jangan berusaha menarik plasenta sesaat setelah operasi. Siapkan 2 meter cat gut, jarum dan needle holder.


Mulai melakukan penjahitan dinding uterus dengan model jahitan Lambert sampai dinding uterus tertutup, benar-benar rapat. Proses penjahitan sebisa mungkin dilakukan diluar rongga perut dengan cara dinding uterus ditarik keluar. Boleh melakukan hanya satu kali penjahitan pada dinding uterus. Namun bila kurang yakin akan kekuatannya, atau khawatir akan terjadi kebocoran, lakukan dua kali.


Selesai melakukan penjahitan, bersihkan rongga abdomen dari darah yang membeku dan runtuhan jaringan yang berasal dari rongga uterus. Bersihkan dengan larutan LR yang dicampur dengan Penstrep. Pembersihan ini penting untuk menghindari terjadinya adhesi antar organ viscera pasca operasi. Berikan Antibiotik lewat injeksi intra muskular.


Bila rongga perut sudah bersih, mulai melakukan penjahitan lapisan otot dan kulit. Saya biasanya melakukan dua kali penjahitan (dua lapis). Satu lapis pertama adalah jahitan gabungan antara peritoneum, m. obliquus abdominis dan m. transversus internus. Lapis kedua baru m. transversus externus. Lapis terakhir kulit dengan silk. Pastikan saat melakukan penjahitan, lapis demi lapis otot bergabung, menyatu satu sama lain untuk menghindari adanya dead space yang bisa menyebabkan infeksi pasca operasi.


Injeksikan oksitosin 5 ml begitu operasi selesai. Oksitosin merupakan antidote dari Clenbuterol. Oksitosin akan membuat uterus berkontraksi dan proses involusi segera dimulai, plasenta akan terbantu keluar dengan kontraksi uterus.


Jahitan kulit pada lapisan terluar bisa dilepas setelah 3 minggu operasi.

Perawatan pasca operasi yang dilakukan adalah antibiotik selama 5 hari intra muscular (Penstrep), anti inflamasi 3 hari pertama (Flunixin Meglumin). Oksitosin diberikan setiap 3 jam sekali atau sampai 12 jam pasca operasi sampai plasenta keluar. Masa kritis selama 24 jam pertama.

Suhu tubuh harus selalu dipantau. Bila terjadi infeksi, kenaikan suhu tubuh biasanya terjadi antara hari ke 3-5 pasca operasi. Masa kritis 24 jam pertama, bila terlewati akan terlihat bahwa sapi sehat, mau makan, produksi susu terus meningkat dan plasenta keluar 12 jam pertama pasca operasi. Bila lewat 7 hari pasca operasi sapi terlihat sehat, produksi susu meningkat, tidak terjadi kenaikan suhu tubuh (>39.5 C), nafsu makan baik, bisa dianggap operasi berhasil.

Dari sekian sapi yang dioperasi Caesar, 80-90 % diantaranya survive dan bisa melanjutkan masa laktasinya. Namun secara reproduksi, masa tunggu pasca melahirkan (VWP = voluntary waiting period) relatif lebih panjang dari sapi yang melahirkan normal, proses involusinya juga lebih lama dan kemungkinan menjadi bunting juga relatif lebih kecil.

Komplikasi-Komplikasi Pada Induk Sapi Pasca Operasi Sesar dan penangananya
Ganguan Luka Operasi
Ganguan pada luka bekas operasi dapat terjadi dalam beberapa bentuk, antara lain terjadinya infeksi pada luka bekas operasi, jahitan yang terbuka. Jahitan yang terlalu kencang dapat menyebabkan robeknya jaringan pada pinggir luka yang dapat menyebabkan luka menjadi terbuka dan menimbulkan infeksi.Gangguan pada luka biasanya terjadi pada lapisan luar, ini dapat terjadi pada beberapa hari pasca operasi.

Penanganan gangguan luka operasi dapat dilakukan dengan cara pengambilan jaringan yang mengalami infeksi (nekrotik), kemudian luka dicuci dengan menggunakan antiseptik.

Peritonitis
Jika terjadi kebocoran pada uterus pada waktu operasi atau pasca operasi sesar, maka cairan uterus akan memasuki rongga peritonium. Akibatnya rongga peritonium akan mengalami infeksi. Infeksi ini biasanya akan terjadi pada hari ketiga pasca operasi. Hewan yang mengalami peritonitis akan menunjukkan gejala lesu, nafsu makan menurun bahkan hilang dan juga kelihatan nyeri apabila bagian abdomen diraba.

Penanganan pada kasus ini dapat dilakukan dengan terapi antibiotika, dan anti inflamasi. Pada kasus yang berat kadang-kadang dapat melibatkan ovarium yang dapat menyebabkan infertilitas.

Pembentukan Seroma Pembentukan kantung yang berisi cairan serosa pada lapisan otot atau di bawah kulit pada daerah bekas operasi sesar merupakan komplikasi yang sering terjadi pada hewan terutama pada sapi. Pada daerah tempat terbentuknya seroma kelihatan membesar, dengan pemeriksaan ultrasonografi akan ditemukan penumpukan cairan non-purulen yang berwarna jernih pada daerah bekas operasi.

Pada kasus ini biasanya tidak diperlukan penanganan, seroma akan menghilang dengan sendirinya. Akan tetapi jika volume cairan yang terbentuk semakin banyak, maka dapat dikeluarkan melalui hisapan jarum yang steril ataupun pemasangan drainase.

Retensi Membran Fetus Retensio membran fetus terjadi apabila mebran fetus (plasenta) tidak keluar selam 12 jam setelah hewan (sapi) melahirkan ataupun pasca bedah sesar, kasus ini sangat sering terjadi pada kuda. Sedangkan pada anjing sangat jarang terjadi, kadang-kadang sering dicurigai retensio membran fetus pada anjing.

Penanganan retensio membran fetus dapat dilakukan secara pemberian oksitosin atau dengan cara melakukan pengeluaran secara manual, hal ini sangat tergantung pada spesies hewan. Pada kuda bila membran fetus tidak keluar selama 6 jam pasca operasi, maka dapat diberikan oksitosin dengan dosis 10 – 40 IU secara intramuskuler. Bila 12 jam setelah disuntikkan oksitosin plasenta belum juga keluar, maka harus dilakukan pengeluaran secara manual dan perlu dilakukan terapi antibiotika.

Metritis
Kejadian metritis pada hewan pasca operasi sesar dapat terjadi akibat pelaksanaan operasi sesar yang tidak asepsis. Akan tetapi umumnya terjadi karena adanya kematian fetus sebelum operasi sesar dilakukan dan isi uterus tidak dibersihkan secara sempurna. Sisa-sisa organ tubuh fetus mati yang ada dalam uterus membusuk sehingga menyebabkan infeksi pada uterus. Kasus ini umumnya terjadi beberapa hari setelah operasi.

Infertilitas
Komplikasi pasca operasi sesar berupa infertilitas pada induk sangat jarang terjadi apabila pelaksanaan operasi dilakukan dengan benar. Infertilitas biasanya terjadi akibat komplikasi-komplikasi lain seperti metritis, dan salpingitis. Untuk mencegah terjadinya infertilitas pada induk, maka sebaiknya pembersihan darah yang keluar pada saat operasi perlu diperhatikan. Dan pemeriksaan rutin terhadap induk pasca operasi sesar perlu dilakukan sampai kira-kira 3 minggu postnatal.

Catatan Pojok
Bahwa sapi yang baru pertama melahirkan rentan akan kejadian distokia apalagi perkawinan dari hasil inseminasi dengan bibit yang besar misalnya simmental, Limosin, Brangus dan yang lainnya. Menurut Robert, (1971) bahwa pada sapi umur muda lebih sering terjadi distokia dari pada sapi yang tua. Disarankan untuk kawin alam atau inseminasi buatan dengan jenis yang sama ( sapi Bali sengan straw sapi Bali, PO dengan PO  ) pada perkawinan/kebuntingan pertama untuk menghindari distokia.
Tips Hari Ini:
Jika anda ingin mengajak anak kecil untuk melakukan hal yang benar maka Berilah Contoh dan bukan hanya dengan menyuruh...  semoga bermanfaat.

Sumber:
Drh. Langgeng Anggitobum, http://bptu-sembawa.blogspot.com
Anonimous. 2007. http://koranpdhi.com/buletin-edisi6
Anonimous 2006. What is a Caesarean, http://www.petplace.com
Anonymous.2007.http://www.vetstoria.co.uk/templates/cow_caesarean_section-8-357familyfarm.html
Jackson, P, G. 2007. Handbook Obstetrik Veteriner. Edisi ke-2. Diterjemahkan oleh Aris Junaidi. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.
Johnton, D. R. 1963. History of Human Infertility, Fert and Steril, W.B Saunders Company.
Mozes R, T. 1979. Fisiologi Reproduksi Pada Ternak. Penerbit Angkasa, Bandung.
Mozes R, T. 1979. Ilmu Kebidanan dan Kemajiran. Penerbit Angkasa, Bandung.
Tillman, H. 1968. Dystocya in Reciprocally Crossing Angus, Charolais and Hereford http://erwinvetsurgery.blogspot.com
https://dokterhewanku.wordpress.com

loading...

FOLLOW and JOIN to Get Update!

Social Media Widget SM Widgets




Peternakan dan Herbal Updated at: 19:09
Copyright@2014-2016. www.AgrobisnisInfo.com . Powered by Blogger.