loading...

Legume CP: Centrosema pubescens, Hijauan Pakan Ternak Pencegah Erosi

Posted by

Centrosema pubescens. Banyak hijauan pakan yang potensial guna menunjang kebutuhan dalam penyedian hijauan pakan salah satunya adalah tanaman leguminosa dari jenis Centrosema. Centrosema pubescens adalah tanaman yang berasal dari Amerika Selatan dan telah ditanam di daerah tropik dan sub tropik dan sering disebut Centro. Merupakan tanaman yang berumur panjang yang bersifat merambat dan memanjat.

Centrosema pubescens
Batang agak berbulu dan panjang dapat mencapai 5 m. berdaun tiga pada tangkainya daun berbentuk elips agak kasar dan berbulu lembut pada kedua permukaanya, bunga berbentuk kupu-kupu berwarna violet keputihputihan, buah polong panjang mencapai 9-17 cm berwarna hijau pada waktu muda setelah tua berubah warna menjadi kecoklat-coklatan tiap buah berisi 12–20 biji yang berwarna coklat (SUDARSONO, 1991; SMITH, 1985).

Centrosema pubescens merupakan tanaman yang tahan keadaan kering, dan dapat hidup dibawah naungan serta lahan yang tergenang air (IBRAHIM, 1995) lebih lanjut REKSOHADIPRODJO (1981) menyatakan bahwa Centrosema pubescens dapat ditanam secara campuran dengan rumput dan memperlihatkan
pertumbuhan dengan baik adalah dengan jenis rumput Panicum maximum, Melinis minutiflora serta Cynodon plectostachyon. SALAM dan NASRULLAH (1995) menyatakan bahwa penelitian Centrosema pubescens dengan ditumpangsarikan dengan jambu mente dihasilkan pertambahan tingginya dan jumlah daunnya yang lebih tinggi. Dibandingakan dengan jenis Arachis, Dioclea dan Stylosanthes. Lebih lanjut BAHAR et al., (1992) dalam penelitian campuran antara rumput dengan Centrosema pubescens berat keringnya lebih tinggi dibandingkan dengan ditanam tunggal Jika demikian halnya maka untuk mendapatkan suatu hijauan pakan yang mendukung usaha peternakan harus memanfaatkan hijauan yang mempunyai sifat-sifat mampu menghasilkan produksi yang lebih baik dan dapat ditanam baik secara tunggal maupun secara campuran.

Taksonomi
Centrosema pubescens termasuk tanaman sub famili papilionaceae dari familia leguminoceae, species ini berasal dari Amerika selatan dan telah ditanaman dengan hasil baik didaerah daerah tropik dan sub tropik
sedangkan masuk ke Indonesia belum diketahui dengan pasti, tanaman centro tahan terhadap kondisi lingkungan kering, seperti yang dikemukakan oleh REKSOHADIPRODJO (1981) bahwa tanaman Centrosema pubescens termasuk tanaman legum yang tahan terhadap kondisi kering dan dapat ditanam pada naungan.

Botani
Tanaman Centrosema pubescen merupakan tanaman yang berumur panjang yang bersifat merambat dan memanjat. Batang agak berbulu dan panjang dapat mencapai 5 m. berdaun tiga pada tangkainya daun berbentuk elips agak kasar dan berbulu lembut pada kedua permukaanya, bunga berbentuk kupu-kupu
berwarna violet keputih-putihan, buah polong panjang mencapai 9-17 cm berwarna hijau pada waktu muda setelah tua berubah warna menjadi kecoklat-coklatan tiap buah berisi 12–20 biji yang berwarna coklat (SUDARSONO, 1991; SMITH, 1985).

Produksi biji
Centrosema pubescens termasuk jenis legum yang potensial menghasilkan biji. Akan tetapi pemasakkan biji pada tanaman centro termasuk kedalam tanaman yang mempunyai kemasakan biji tidak seimbang atau tidak
serentak bersama-sama hal ini menyulitkan para penangkar benih untuk memanennya seperti yang dikatakan ALLEN (1958), dan VERHOEVEN (1958). Yang mengatakan bahwa Centrosema pubescens adalah tanaman yang potensial untuk menghasilkan benih yang diperkirakan sekitar 340 sampai 680 kg/ha/tahun dan untuk mendapatkan benih yang komersial dihasilkan sekitar 140–180 kg/ha, ini juga dikarenakan pemasakan benih yang tidak merata sehingga pemanenannya menjadi kesulitan bagi para pengumpul biji.

Lebih lanjut REKSOHADIPRDJO (1981) mengatakan biji Centro yang telah dikembangkan untuk tujuan komersial dapat diperoleh dari Malaysia, Papua New Guinea Ceylon sedangkan Indonesia sementara ini belum terlihat dan belum menjadi perhatian dari pemerintah khususnya Departemen Pertanian. SIREGAR (1992) mengatakan hasil penelitian di Citanduy bahwa Centrosema pubescens termasuk kedalam penghasil bunga yang sedang tetapi penghasil biji yang baik..

Ekologi
Centrosema pubescens tanaman yang bersifat memanjat dan merambat yang dapat dijumpai ditempat seperti pinggiran sungai, pantai, jalan dan perkebunan-perkebunan tertutama di perkebunan kelapa, dan dapat
tumbuh baik pada tanah asam dan agak buruk drainase yang buruk (SMITH, 1985). Lebih lanjut HUMPHREY (1974) mengatakan bahwa tanaman centro dapat tumbuh baik pada berbagai tipe tanah. Centrosema tanaman yang tahan terhadap musim kemarau yang agak panjang dengan curah hujan rata 1.000 sampai 1.270 mm/tahun (SUDARSONO, 1991). Sedangkan menurut REKSOHADIPRODJO (1981)
tanaman Centro dapat tumbuh baik pada daerah daerah dengan curah hujan 1016 mm/tahun. Dan WHITMEN et al., (1974), mengatakan bahwa pertumbuhan Centro akan terlambat pada temperatur 18–24OC. Penelitian yang dilakukan oleh LUKIWATI et al., (1991) di Surakarta pada dataran rendah dan dataran tinggi bahwa pertumbuhan Centro terhambat begitu juga produksi hijauan bila ditanam pada dataran tinggi, lebih lanjut NURJAYA et al., (1983) yang mengatakan bahwa didataran rendah pertumbuhan Centro lebih baik.

Untuk Hama dan penyakit pada umunya tanaman Centro tahan terhadap hama dan penyakit walaupun ada hanya tanda-tanda hama seperti apa yang dikatakan oleh SHAW (1967) bahwa tanaman Centro di Queesland (Australia) merupakan tanaman yang bebas dari hama dan penyakit. Sedang menurut PURWANTARI et al., (2003) mengatakan bahwa penelitian di Ciawi mengatakan bhwa tanaman Centro tahan terhadap serangan hama dan penyakit walupun ada hanya terlihat tandatanda serangan baik itu penyakit maupun hama. Begitu juga yang dikatakan SIREGAR (1992) melaporkan penelitian di Citanduy
bahwa Centrosema tahan terhadap serangan penyakit.

PEMANFATAN CENTROCEMA. Tanaman Centro selain sebagai pakan hijauan ternak banyak dipakai sebagai cover crop. Seperti yang dikatakan REKSOHADIPRODJO (1981) bahwa Centro di Malaysia banyak digunakan senbagai pencegah erosi dan penutup tanah, sedangkan di Indonesia digunakan untuk menekan pertumbuhan alang-alang selain sebagai pakan ternak. Untuk pemanfaatannya sebagai pakan
ternak Centrosema biasanya ditanam secara campuran dengan tanaman rumput. Hal ini karena tanaman legum dapat memberikan unsur hara kedalam tanah terutama unsur nitrogen sehingga nitrogen dalam tanah selalu tersedia dan dapat dipergunakan oleh tanaman rumput untuk meningkatkan pertumbuhan dan
produksinya,  Pada umumnya padang rumput alam di Indonesia masih sangat memprihatinkan dilihat dari segi kualitasnya, untuk meningkatkan kualitas padang alam tersebut dicarikan cara permasalahan yaitu dengan mengintroduksi jenis rumput unggul maupun jenis leguminosa unggul yang dapat meningkat dan memenuhi
kebutuhan hijauan pakan ternak sepanjang tahun baik kuantitas dan kualitasnya serta waktu yang tepat dalam pemotongan hijauan pakan.

Nutrisi Centrosema pubescens
Hijauan pakan ternak selain kuantitas perlu diperhatikan juga kualitas dari hijauan tersebut Centrosema merupakan hijauan dari leguminosa yang mempunyai kandungan protein cukup baik sekitar 21,63%
(PURWANTARI et al., (2003). Guna menigkatkan kandungan protein hijauan rumput sebaiknya penanaman hijauan dilakukan dengan cara campuran antara tanaman rumput dan leguminosa.

Penanaman leguminosa yang dapat meningkatkan nitrogen bebas dari udara dan dapat meningkatkan kesuburan tanah, serta meningkatkan gizi hijauan bila ditanaman dengan bersama-sama rumput. Dibandingkan dengan rumput yang ditanam tunggal dan diberi nitrogen. Kandungan protein kasar hijauan dari tanaman rumput yang ditanam secara campuran menunjukkan kandungan proteinnya lebih tinggi dibandingkan dengan tanaman rumput yang ditanam secara tunggal. Menurut SMITT (1977) bahwa bila dibandingkan dengan  pertanaman tunggal maka pada pertanaman campuran dapat meningkatkan kandungan
protein sebagaimana diperlihatkan pada tanaman campuran antara rumput P. maximum dengan Neonaotonia wightii dan Macroptilium atropurpureum begitu juga dengan tanaman legum lainnya bila dibandingkan dengan
tanaman rumput yang ditanaman tunggal.

Lebih lanjut MANIDOOL (1974) bahwa spesies rumput yang kandungan proteinnya rendah dapat diupayakan agar lebih tinggi melalui pertanaman campuran dengan legum. Hal ini juga diperkuat dengan pernyataan SACHEZ (1993) yang mengatakan bahwa peranan leguminosa dalam hijauan campuran leguminosa dan rumput adalah memberikan tambahan nitrogen pada rumput dan memperbaiki secara menyeluruh pada padang penggembalaan terutama kandungan proteinnya. Selanjutnya SACHEZ (1993) mengemukakan bahwa persentase kenaikan komponen leguminosa dalam hijauan dapat meningkatkan bobot badan ternak yang juga berarti menaikkan produksi daging tetapi jika meningkatnya komponen leguminosa di atas 50% maka dapat menurunkan produksi daging karena kebutuhan energi dari rumput akan berkurang. Hal ini juga dipengaruhi oleh keadaan musim dimana pada musim hujan nisbah leguminosa dan rumput dimana rumput tumbuh lebih subur dan kualitas lebih baik, sebaliknya pada musim kemarau menjadi berkurang sedangkan sebagian besar leguminosa tetap mengandung protein yang tingggi (SANCHEZ, 1993)

Catatan:
Tanaman Centrosema pubescens relatif tahan terhadap kekeringan, hama dan penyakit serta mudah tumbuh pada berbagai tipe tanah, drainase yang jelek, dan perkebunan. Centrosema termasuk tanaman legum yang
mudah berbunga, berbiji serta dapat dipakai sebagai tanaman campuran dengan berbagai jenis tanaman rumput maupun sebagai tanaman sisipan pada padang penggembalaan. Tanaman Centrosema juga dapat meningkatkan kualitas hijauan terutama pada kandungan protein .


Referensi:
ALLEN, G. H. 1958. Pasture Seed is a Cash Crop, Queensland Agriculture Journal 84:74 in Tropical Grassland Vol 10.No 1. 1976.
BAHAR SYAMSU, R. RAKHMAT, D. BULO dan R. SALAM. 1992. Pengaruh Pertanaman Campuran Rumput Cenchrus cilliaris cv Molopo Dengan Lima Jenis Leguminosa Herba terhadap Produksi dan Kualitas Hijauan Pakan. Proc. Pertemuan Pengolahan dan Komunikasi Hasil Penelitian Peternakan Di Sulawesi Selatan Sub Balai Penelitian Ternak Gowa. Badan Penelitian Dan Pengembangan Pertanian Deptan.
BAHAR SYAMSU, R. RAKHMAT, D. BULO dan R.SALAM. 1992. Produksi dan Kualitas Rumput
Urochloa pullulans yang Ditanam Tunggal dan Campuran dengan Beberapa Jenis Leguminosa Herba. Dalam Jurnal Ilmiah Penelitian Ternak Grati Vol.3 No.1
BAHAR SYAMSU, U. ABDUH dan R. RAKHMAT,. 1997.Penyisipan Legum Centrosema pubescens.
untuk Meningkatakan Produktivitas Padang Pengembalaan Alam. Proc. Seminar Nasional Peternakan dan Veteriner Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Deptan.
BULO DANIEl. 1992. Introduksi Beberapa Jenis Leguminosa Herba Pada Padang Penggembalaan Alam. Proc. Pertemuan Pengolahan dan Komunikasi Hasil Penelitian Peternakan di Sulawesi Sealatan. Sub Balai
Penelitian Ternak, Gowa. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Deptan.
HERAWATI, T., IRWA KASOEP dan M. NAJIB. 2004. Pasing Grade Kepemilikan Ternak untuk
Mencapai Nilai Upah Minimum Regional di Propinsi Riau, dalam Prosiding Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner, Bogor 4-5 Agustus 2004, Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian.
IBRAHIM. 1995. Daya Adaptasi Rumput dan Legume Asal Ciat (Colombia) dan CSIRO (Australia)
Di Kalimantan Timur. Dalam Proseding Seminar Nasional Sains dan Teknologi Peternakan 1995. Pusat Penelitian dan Lokakarya Nasional Tanaman Pakan Ternak Pengembangan Peternakan. Badan Penelitian
dan Pengembangan Pertanian.
KISMONO, J. 1977. Kontribusi kacang-kacangan di dalam suatu sistem padang penggembalaan. Bulletin Makanan Ternak. IPB vol 3. No 10

Tips Hari Ini:
Jika saat ini anda sering resah, galau, hati tidak tenang : Bacalah Al-Qur'an

loading...

FOLLOW and JOIN to Get Update!

Social Media Widget SM Widgets




Peternakan dan Herbal Updated at: 20:24
Copyright@2014-2016. www.AgrobisnisInfo.com . Powered by Blogger.