loading...

Kelebihan dan Kekurangan Sapi Crossbreeding dengan Inseminasi Buatan (IB)

Posted by

Sapi Persilangan. Crossbreeding merupakan persilangan antar ternak dari bangsa (breed) yang berbeda. Crossbreeding sapi potong mempunyai tujuan antara lain:
  • Membentuk bangsa teranak baru (composite breed), 
  • Meningkatkan produksi ternak lokal, 
  • Mendapatkan efek heterosis (sifat yang muncul dari persilangan yang berbeda dari induknya), 
  • Mendapatkan komplementari bangsa (breed complementary). 
Di dunia sapi potong praktek persilangan ini banyak dilakukan untuk membentuk terminal cross atau composite breed antara Bos taurus dan Bos indicus. Australia merupakan negara peternakan yang banyak melakukan praktek ini untuk membentuk bangsa sapi baru yang tahan panas, tahan kering dan tahan caplak, namun mempunyai produktivitas yang tetap tinggi. 
Tercatat antara lain muncullah bangsa sapi baru silangan Bos taurus-Bos indicus, antara lain :
  • Simbrah (Simmental-Brahman), 
  • Brangus (Brahman-Angus), 
  • Australian Milking Zebu, 
  • Draught Master, 
  • Brahman Cross, 
  • Sahiwal Cross. 
Sejauh ini tidak dilaporkan adanya penurunan tingkat fertilitas secara signifikan bangsa sapi silangan tersebut di Australia dengan manajemen peternakan pastura ekstensif.
Sapi Brangus

Di Indonesia, aplikasi inseminasi buatan pada sapi potong secara intensif telah memungkinkan terjadinya crossbreeding antara sapi-sapi lokal (Peranakan Onggole = PO atau Bali) dengan semen beku Bos taurus, utamanya Simmental, Limousin dan Angus, sehingga permintaan semen bekunya tetap tinggi. Sebaliknya semen beku pejantan lokal semakin kurang diminati oleh peternak.

Belum adanya breeding policy sapi potong dari Pemerintah yang rinci dalam program crossbreeding ini, serta diberlakukannya otonomi daerah, menyebabkan program inseminasi buatan dilakukan oleh peternakan rakyat, tanpa kontrol dari pemerintah. Belum lagi adanya ancaman punahnya bangsa sapi lokal, seperti semakin langkanya sapi PO di pulau Jawa.

Alasan mengapa peternak sapi potong di Indonesia lebih menyukai persilangan dengan Bos taurus (Simmental dan Limousin), antara lain karena:
  • Berat lahir lebih besar, 
  • Pertumbuhan lebih cepat, 
  • Adaptasi baik pada lingkungan serta pakan yang sederhana, 
  • Ukuran tubuh dewasa lebih besar
  • Penampilan yang eksotik. 
Alasan ini mengakibatkan nilai jual lebih tinggi, pendapatan peternak lebih besar, serta dapat menjadi kebanggaan peternak.

Kondisi saat ini program crossbreeding dalam grading up sapi lokal dengan semen beku Simmental atau Limousin semakin banyak dijumpai di pedesaan indukan sapi silangan F1 (50% darah Bos taurus), F2 (75%), F3 (87,5%), F4 (93,75%) dan F5 (96,875%). 
Fakta menunjukkan bahwa sapi silangan indukan milik rakyat dengan darah Bos taurus lebih dari 87,5% mempunyai kecenderungan sulit bunting, bahkan dari fertilitasnya sudah kelihatan adanya penurunan sejak F1.

Kinerja dan Anomali Reproduksi Sapi Betina Crossbreeding
Aplikasi IB pada indukan sapi silangan menunjukkan penurunan kinerja reproduksi, antara lain semakin menurunnya angka konsepsi (conception rate = CR), semakin meningkatnya jumlah inseminasi per kebuntingan (services per conception = S/C) dan hari-hari kosong (days open) dengan semakin tingginya darah Bos taurus. Pengamatan Putro (2008) pada kelompok sapi PO dan silangan akseptor IB di Daerah Istimewa Yogyakarta menunjukkan hal tersebut (Tabel 1).

Kinerja reproduksi sapi PO dan silangan PO-Simmental akseptor IB

Kinerja Reproduksi                          PO          F1       F2       F3       F4
Angka konsepsi (CR)                       80%       68%    60%    39%    34%
Inseminasi per konsepsi (S/C)           1,20      1,90     2,30     3,40    3,50
Days open (Hari-hari kosong)         158 hari   189      205      236     219
Anestrus pasca beranak                     38%       44%   58%     68%    76%
Endometritis                                       8%        17%    22%     31%    28%
Repeat breeding                                28%       38%     47%     62%    68%
Korpus luteum persisten                     6%        13%    15%     19%    16%

Penurunan kinerja reproduksi terlihat dengan semakin menurunnya angka konsepsi, meningkatnya jumlah inseminasi per konsepsi dan hari-hari kosong pasca beranak dengan semakin banyaknya angka F, atau dengan semakin tingginya darah Bos taurus.

Pada kasus ini kebetulan semua sapi betina diinseminasi buatan dengan semen beku bangsa Simmental. Pada peternakan sapi rakyat, pemeliharaan tradisional dan pakan yang kurang memadai dari segi kualitas maupun kuantitasnya agaknya merupakn penyebab utama menurunnya kunerja reproduksi ini. Disamping itu, masalah pakan sangat mempengaruhi skor kondisi tubuh (SKT) yang umumnya lebih rendah dari optimum bagi proses reproduksi (3,0-3,5, dari skor 1,0-5,0). Rerata SKT sapi silangan yang relatif rendah ini sangat berpengaruh pada kinerja reproduksi.

Penurunan kinerja reproduksi ini oleh Diwyanto (2002) diduga sebagai akibat adanya pengaruh genetic environmental interaction, di samping kemungkinan telah banyak terjadi inbreeding akibat persilangan yang tidak terencana dan tidak tercatat. Dari pengamatan pedet-pedet hasil IB, perkawinan silang akan banyak memunculkan sifat-sifat gen resesif, antara lain berbentuk kematian pedet dalam kandungan, lahir mati (stillbirth), kasus-kasus teratologi seperti hidrosephalus dan atresia ani (tidak mempunyai lubang anus).
Pengamatan penulis juga mencatat, semakin tinggi darah Bos taurus akan membuat sapi semakin rentan terhadap investasi cacing hati (fasciolasis) dan cacing porang (paramphistomiasis). Keadaan ini sangat mengurangi efisiensi pakan dan akibatnya jelas kondisi sapi yang terlalu kurus atau mempunyai SKT rendah (dibawah 2,0) serta berakibat dengan tumbulnya infertilitas metabolik.

Anomali reproduksi sangat berkaitan erat dengan rendahnya SKT dan infertilitas metabolik, terutama berbentuk hipofungsi ovaria (ovarian quiscence), sista folikel (anovulatory follicle), ovulasi tertunda (delayed ovulation) dan korpus luteum persisten (persistency of corpus luteum) dan endometritis subklinis (subclinical endometritis).

Hipofungsi ovaria (ovarian quiscence), erat kaitannya dengan SKT rendah atau infertilitas metabolik. Pada sapi crossbreeding keadaan ini lebih umum dijumpai daripada sapi PO, akibat lebih pekanya sistem reproduksi terhadap malnutrisi. Kejadian malnutrisi menyebabkan defisiensi kronis follicle stimulating hormone (FSH), akibatnya tidak terjadi perkembangan folikel serta pengecilan ukuran ovaria. Pada kasus ini tidak dijumpai adanya perkembangan folikel dan ovulasi, sehingga sapi akan mengalami anestrus. Perbaikan SKT dengan peningkatan pakan akan segera memulihkan keadaan ini, dengan catatan kondisi belum melanjut menjadi atrofi ovaria.

Sista folikel (anovulatory follicle), keadaan ini lebih ringan daripada hipofungsi ovaria, walaupun lebih karena defisiensi luteinizing hormone (LH). Folikel yang berkembang maksimum tidak mengalami ovulasi, karena kuantitas LH kurang mencukupi untuk menginisiasi ovulasi. Sista folikel terbukti juga lebih banyak terjadi serta kejadiannya cenderung lebih meningkat pada sapi silangan dengan darah Bos taurus lebih tinggi.
Ovulasi tertunda (delayed ovulation), juga akibat defisiensi LH lebih ringan lagi. Folikel ovulasi yang sudah masak mengalami penundaan ovulasi akibat LH kurang optimum. Kondisi ini juga lebih sering dijumpai pada sapi silangan dengan Bos taurus, serta prevalensinya lebih meningkat dengan semakin tingginya angka F.
Korpus luteum persisten (persistency of corpus luteum), terkait dengan adanya peradangan dan infeksi endometrium, terjadi karena kegagalan produksi dan atau pembebasan prostaglandin F2 karena lesi pada endometrium. Sapi penderita korpus luteum persisten biasanya mengalami gejala tidak birahi atau anestrus. Endometritis subklinis (subclinical endometritis), merupakan peradangan ringan endometritis, namun tidak menghentikan siklus estrus penderita. Endometritis subklinis biasanya mempunyai gejala repeat breeding (kawin berulang), yaitu keadaan dimana betina dengan siklus birahi normal kawin lebih dari 3 kali dengan pejantan atau semen fertil namun tetap tidak berhasil bunting. Pada sapi crossbreeding kejadian infeksi dan alat reproduksi atau endometrium dan menyebabkan repeat breeding memang lebih banyak terjadi pada sapi dengan darah Bos taurus lebih tinggi.

Penulis mempunyai pengalaman bahwa kalau sapi crossbreeding dengan Bos taurus dengan perawatan yang memadai, dengan pakan yang mencukupi baik dari kualitas dan kuantitasnya, maka kinerja reproduksi akan dapat dipertahankan sama atau lebih ditingkatkan daripada sapi lokal (PO). Begitu pula dengan anomali reproduksinya nyaris tidak ditemui, termasuk hipofungsi ovaria, ovulasi tertunda, sista folikel, korpus luteum persisten maupun endometritis subklinis. Kinerja reproduksi juga dapat menunjukkan angka normal, misalnya angka konsepsi mendekati 60%, jumlah inseminasi per kebuntingan sekitar 1,5 kali dan hari-hari kosong sekitar 150 hari. Perbaikan manajemen peternakan dan pakan menjadi kata kunci dalam menangani masalah anomali reproduksi sapi crossbreeding indukan. Semakin tinggi darah Bos taurus berarti semakin mempersyaratkan pemeliharaan, pakan serta kesehatan ternak lebih baik untuk tercapainya produktivitas dan reproduktivitas maksimum.

Bentuk reproduksi klinis sapi silangan indukan yang lazim ditemui adalah semakin banyaknya kejadian prolapsus vagina pada sapi bunting maupun prolapsus uteri (Bahasa Jawa: broyongen) dengan semakin tingginya darah Bos taurus. Hal serupa dijumpai pada kejadian kesulitan beranak (dystocia) dan retensio plasenta. Kasus-kasus klinis ini erat kaitannya dengan defisiensi pakan dan manajemen perkandangan pada peternakan sapi potong rakyat. Kasus reproduksi klinis ini juga bisa diminimumkan dengan perbaikan pakan dan manajemen peternakan.

Analog dengan turunan betina, pada sapi jantan hasil crossbreeding antara sapi PO atau Bali dengan semen beku Bos taurus (Simmental dan Limousin) dicatat anomali reproduksi bilamana ternak dipelihara dengan kondisi tradisional. Bentuk anomali sapi jantan silangan antara lain rendahnya libido atau keinginan mengawini (sex drive), rendahnya kualitas semen terutama rendahnya konsentrasi dan motilitas spermatozoa, beberapa kasus bahkan dicatat adanya azoospermia (tidak mempunyai spermatozoa yang hidup).

Berdasarkan temuan mengenai status reproduksi sapi crossing sapi lokal X Bos taurus dan Brahman-Cross dengan segala permasalahannya maka perbaikan efisiensi reproduksinya bisa dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut:
  • Breeding policy untuk sapi potong perlu segera diimplementasikan, seperti ditetapkan dalam crossbreeding darah Bos taurus-nya jangan melebihi 75% (maksimum F2) setelah itu disilangkan balik (backcrossing), untuk meminimumkan kasus anomali reproduksi.
  • Pakan yang mencukupi kualitas dan kuantitasnya, untuk mempertahankan SKT optimum untuk reproduksi (3,0-3,5), di samping pemberian obat cacing berspektrum luas untuk mengatasi cacing hati (Fasciolasis) dan cacing porang (Paramphistomiasis), paling tidak 2 kali setahun merupakan kunci bagi penanggulangan reproduksi klinis sapi crossing sapi lokal x Bos taurus.
  • Manajemen peternakan yang keliru merupakan penyebab rendahnya efisiensi reproduksi pada sap silangan dan Brahman Cross, utamanya adalah defisiensi pakan, sistem perkandangan dan pengamatan birahi.
  • Kandang lepas, tanpa ditambat, atau adanya tempat umbaran untuk exercise merupakan keharusan bagi sapi Brahman Cross.
  • Pemeriksaan khusus infertilitas untuk identifikasi permasalahan individual sapi silangan dan Brahman-Cross yang bermasalah. Perlu ditentukan apakah sapi hanya mengalami birahi tenang, anestrus atau infertilitas bentuk lain.
  • Penanganan infertilitas metabolik dan nutrisi, dengan perbaikan pakan dan perbaikan skor kondisi tubuh.
  • Penanganan Klinis kasus anestrus karena hipofungsi ovaria, yang merupakan kasus infertilitas terbesar pada sapi Brahman, juga mirip dengan penanganan birahi tenang,
Inseminasi buatan memungkinkan program crossbreeding antara sapi betina lokal dan semen beku pejantan Bos taurus. Keadaan ini menyebabkan jumlah sapi silangan F1, F2, F3 dan F4 semakin banyak dijumpai, serta semakin sulitnya ditemui sapi PO di pulau Jawa. Fakta menunjukkan bahwa terjadi penurunan kinerja reproduksi dan peningkatan anomali reproduksi pada sapi-sapi indukan tersebut. Kinerja reproduksi dan anomali reproduksi pada sapi indukan silangan dapat diperbaiki dengan peningkatan manajemen peternakan, perbaikan pakan dan kesehatan hewan.

Referensi
Britt, J.S. and Gaska, J. 1998. Comparison of two estrus synchronization programs in a large, confinement-housed beef herd. JAVMA 212:210-212.
Diwyanto, K., 2002. Program Pemuliaan Sapi Potong: Suatu Pemikiran. Makalah Seminar Nasional Kebijakan Breeding, Puslitbangnak, Deptan RI, Bogor.
Gunawan; Abubakar; Tri Pambudi, G; Karim, K; Nista, D; Purwadi, A.dan Putro, P. P. 2008. Petunjuk Pemeliharaan Sapi Brahman Cross. BPTU Sapi Dwiguna dan Ayam Sembawa. Direktorat Jenderal Peternakan, Departemen Pertanian.
Putro, P.P. 1992. Performans reproduksi sapi Brahman-Cross asal Australia di beberapa daerah di Jawa Tengah, Jawa Timur and Daerah Istimewa Yogyakarta. Laporan Monitoring, tidak dipublikasi.
Putro, P.P. 1993. Induksi birahi and Ovulasi pada sapi Brahman-Cross yang mengalami anestrus and subestrus. Fakultas Kedokteran Hewan UGM Yogyakarta.
Putro, P. P. 2006. Gangguan Reproduksi pada Sapi Brahman Cross. Bagian Reproduksi dan Kebidanan FKH UGM Yogyakarta.
Putro, P. P. 2008. Kinerja reproduksi sapi betina crossing PO-Simmental. Bagian Reproduksi dan Kebidanan FKH UGM Yogyakarta.
Sumadi, 2009. Sebaran Populasi, Peningkatan Produktivitas dan Pelestarian Sapi Potong di Pulau Jawa. Pidato Pengukuhan Guru Besar dalam Bidang Produksi Ternak, Fakultas Peternakan UGM, Yogyakarta.
Youngquist, R.S. 1997. Therigenology in Large Animals. W.B. Saunders Co., London. Pp 80-88

loading...

FOLLOW and JOIN to Get Update!

Social Media Widget SM Widgets




Peternakan dan Herbal Updated at: 20:08
Copyright@2014-2016. www.AgrobisnisInfo.com . Powered by Blogger.