loading...

Ini "Biang Kerok" Penyebab Naiknya Harga Daging Sapi di Jabodetabek

Posted by

Berikut Beberapa "Biang Kerok" yang menyebabkan harga daging naik meroket tinggi terutama di Jabodetabek.


Dikutip dari Liputan6.com tentang rancunya data sapi yang digunakan oleh pemerintah dan dianggap sebagai stock sapi potong. Mantan Ketua Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) Nawir Messi mengatakan, data merupakan persoalan utama dalam pengendalian harga daging sapi. Pasalnya, selama ini data pasokan daging masih tak jelas. Dia mencontohkan, misalnya seorang petani memiliki sapi sebanyak 2 sampai 3 ekor. Kepemilikan sapi tersebut dihitung sebagai pasokan daging sapi masyarakat.  "Angka-angka yang ada, seolah yang di daerah itu industri peternakan. Petani yang punya 2-3 ekor. Mereka melakukan itu sebagai tabungan. Dipotong kalau menikah," katanya, di Jakarta.  Dengan kondisi tersebut, dia mengatakan penurunan pasokan sapi pun tak terelakan. "Itu dihitung sebagai pasokan. Alhasil di Idul Firtri semua menjerit, sapi perah pun dipotong," tuturnya. Sejalan dengan itu, keinginan pemerintah untuk swasembada dengan mengurangi impor secara drastis membuat harga daging sapi terkerek naik. Padahal, produksi dalam negeri sendiri belum mencukupi. Hal itu ditambah pula dengan belum menunjangnya pendukung industri peternakan seperti industri pakan dan bibit.

Indikasi bahwa data konsumsi daging sapi perkapita pertahun yang digunakan pemerintah "under estimate". Disinyalir angka konsumsi perkapita penduduk Indonesia terhadap daging saat ini sudah lebih dari 3 kg/kapita/tahun, sementara data yang dipakai pemerintah hanya sekitar 2 kg. Pantaslah jika kebutuhan daging tidak pernah terpenuhi jika data yang dipakai juga tidak valid.

Penerbitan Ijin import sapi yang "terkesan" sembarangan, kadang berlebihan kadang terlalu sedikit. Hal ini membuat dunia usaha sapi selalu bergejolak.

Belum dibenahinya sarana dan prasarana angkutan sapi terutama angkutan laut dari daerah-daerah yang surplus sapi seperti di NTB, BTT dan Bali yang mengakibatkan biaya transportasi jadi tinggi atau mahal.

Buruknya Koordinasi antara pemerintah atau dinas terkait dengan kalangan pengusaha dan banyaknya kepentingan yang "menunggangi" bisnis sapi dan berharap mendapatkan rupiah yang sangat besar dari kacaunya harga sapi dan tingginya harga daging sapi.

Tidak pernah "didengarkannya" masukan-masukan dari instansi  independen seperti kampus atau universitas yang menyoroti masalah data populasi dan data konsumsi daging sapi di Indonesia serta asumsi-asumsi yang mereka buat yang pada garis besarnya membuktikan bahwa Indonesia memang benar-benar belum memiliki data valid populasi ternak sapi, berapa ekor yang siap potong, berapa ekor produksi pertahun dan berapa ekor sebenarnya kebutuhan import. Kalau data saja tidak valid bagaimana mungkin bisa membuat keputusan yang tepat? Jadi wajar saja jika setiap tahun gejolak harga sapi dan daging akan selalu terjadi.

loading...

FOLLOW and JOIN to Get Update!

Social Media Widget SM Widgets




Peternakan dan Herbal Updated at: 02:35
Copyright@2014-2016. www.AgrobisnisInfo.com . Powered by Blogger.