loading...

Dasar-Dasar Cara Membuat Ransum Pakan Kambing Perah Berdasarkan Kebutuhan Nutrisinya

Posted by

Kebutuhan Nutrisi Kambing Perah Sebagai Dasar Menyusun Ransum Pakan Kambing Etawa
 
Kambing Perah. Jenis kambing perah yang sangat terkenal adalah kambing Etawa. Kambing ini berukuran besar dan jauh lebih besat dan tinggi jika dibandingkan dengan kambing kacang pada umur yang sama. Perseilangan kambing Etawa dengan kambing kacang terlahir jenis baru yaitu kambing persilangan bernama Peranakan Etawa (PE).

Kambing Etawa

Pakan untuk kambing perah berbeda dengan kambing pedaging karena pakan kambing perah harus memperhatikan kebutuhan nutrisi kambing saat laktasi agar produksi susunya bisa optimal dan kambing tidak mengalami malnutrisi atau kurang gizi.

Susu memegang peranan penting dalam memenuhi kebutuhan protein hewani bagi masyarakat. Permintaan susu semakin meningkat dengan bertambahnya jumlah penduduk, kemajuan ekonomi dan peningkatan kesadaran masyarakat akan pentingnya gizi dalam kehidupan manusia. Permintaan susu baru dapat terpenuhi ± 64,35%, yaitu 99,81%nya berasal dari susu sapi dan 0,19% lainnya berasal dari susu kambing. 

Berdasarkan hal tersebut, maka usaha ternak kambing perah masih mempunyai peluang yang besar untuk dikembangkan, dimana kambing peranakan Etawah (PE) menjadi salah satu komoditas ternak pilihan. Usaha ternak kambing perah ini mempunyai banyak keuntungan antara lain membutuhkan modal yang relatif lebih kecil dan harga susu kambing masih relatif tinggi, sehingga tingkat keuntungannya juga lebih tinggi. Selain itu tatalaksana pemeliharaannya juga relatif lebih mudah dibandingkan dengan sapi perah.

Permasalahan yang terjadi di tingkat peternak adalah produktivitas kambing perah rata-rata masih rendah. Hal ini disebabkan kualitas ransum, bibit dan tatalaksana pemeliharaan yang belum optimal. Salah satu upaya pemecahan masalah rendahnya produksi susu adalah dengan meningkatkan kualitas ransum pada saat laktasi. Peningkatan kualitas ransum terutama kandungan Protein Kasar (PK) dan Total Digestible Nutrients (TDN) diperlukan pada saat laktasi. Hal ini berkaitan dengan meningkatnya proses metabolisme tubuh untuk memenuhi kebutuhan hidup pokok dan produksi susunya. Ransum yang biasanya diberikan pada kambing atau domba di tingkat peternak pada umumnya memiliki kandungan protein kasar antara 9 – 12% (Siregar, 1994). Dengan kisaran tersebut akan menimbulkan permasalahan yaitu kebutuhan dasar protein untuk ternak serta perkembangan mikroba rumen kurang, karena mikroba rumen akan dapat berkembang dengan baik pada saat kadar protein kasar ransum yang diberikan pada ternak sebesar 13,4% (Tamminga, 1979).

Pakan Kambing PE

Pakan kambing terdiri dari hijauan dan konsentrat. Hijauan yang digunakan sebagai pakan, dapat berupa hijauan segar maupun hijauan kering. Disamping itu, harus memenuhi persyaratan sebagai pakan antara lain tidak mengandung racun dan bermanfaat bagi ternak untuk kelangsungan hidupnya. Hal itu berlaku juga dengan konsentrat sebagai pakan ternak.
Menurut Lubis (1992), hijauan adalah bahan pakan dalam bentuk daun-daunan yang kadang-kadang masih bercampur dengan batang, ranting serta bunga yang pada umumnya berasal dari tanaman sebangsa rumput dan kacang-kacangan. Hijauan dapat pula diartikan sebagai pakan yang mengandung serat kasar yang relatif tinggi.

Hijauan yang dapat digunakan sebagai pakan kambing adalah rumput gajah (Pennisetum purpureum), kaliandra, lamtoro, gamal, turi, daun nangka, dan lain-lain. Rumput gajah baik digunakan untuk pakan karena penanaman mudah, produksi dan nilai nutrisinya tinggi (Lubis, 1992). Produksi rumput gajah ± 150 ton/ha/tahun dengan pemotongan pertama pada umur 50 – 60 hari dan pemotongan selanjutnya dilakukan setiap 30 – 50 hari sekali (Reksohadiprodjo, 1981). Komposisi zat nutrisi yang terkandung dalam rumput gajah berdasarkan bahan keringnya adalah abu 10,6%, protein kasar 9,6%, serat kasar 32,7%, lemak kasar 1,9%, bahan ekstrak tanpa nitrogen (BETN) 45,2% dan total digestible nutrients (TDN) 54% (Siregar, 1994) .

Tanaman kaliandra dibedakan menjadi dua jenis yaitu kaliandra berbunga merah dan kaliandra berbunga putih. Kaliandra merah merupakan penghasil pakan ternak dengan kandungan protein di dalam daunnya cukup tinggi dan jumlah daun cukup banyak (Lembaga Biologi Nasional, 1983). Komposisi zat nutrisi yang terkandung dalam daun kaliandra merah berdasarkan bahan keringnya adalah abu 9,3%, protein kasar 27,7%, serat kasar 28,9%, lemak kasar 3,3%, bahan ekstrak tanpa nitrogen (BETN) 30,8% dan total digestible nutrients (TDN) 62% (Siregar, 1994).

Daerah tropis yang suhunya relatif lebih panas mempunyai kualitas hijauan yang cenderung lebih rendah, sehingga untuk pemenuhan zat-zat gizi yang tidak tersedia di dalam pakan hijauan dipenuhi melalui pakan konsentrat. Konsentrat adalah pakan yang mengandung serat kasar/bahan yang tak tercerna relatif rendah. Jenis bahan pakan penyusun konsentrat antara lain dedak padi, bungkil kelapa, ampas tahu, ampas kecap, bungkil kedelai, polard, onggok, dan lain-lain (Sutardi, 1981). Menurut Schmidt (1971) yang disitasi oleh Prihadi (1996), pakan konsentrat berfungsi sebagai penambah energi, disamping mengandung protein lebih dari 20% dan kandungan serat kasar kurang dari 18% serta mudah dicerna.

Menghitung Kebutuhan Nutrisi

Dalam menghitung kebutuhan nutrisi ternak ditentukan oleh performance / penampilan ternak, dimana hal ini dapat berupa berat badan, pertambahan berat badan harian, masa kebuntingan dan menyusui. Bila seekor ternak diberi makanan untuk kepentingan pertumbuhan, penggemukan, produksi air susu atau untuk kepentingan fungsi produksi lainnya, maka sebagian makanan itu dipergunakan untuk menunjang proses dalam tubuh yang harus dilaksanakan walaupun ada atau tidak ada pembentukan jaringan baru atau produksi.

Kebutuhan-kebutuhan akan makanan untuk menjaga integritas jaringan tubuh dan mencukupi energi guna proses essensial organisme hidup disebut kebutuhan hidup pokok organisme tersebut. Sehingga bisa dikatakan bahwa apabila kebutuhan hidup pokoknya sudah terpenuhi, maka sisa nutrisi dalam makanan tersebut akan digunakan untuk proses produksi. Jika ternak tidak mendapatkan suplai makanan yang cukup untuk kebutuhan pokok hidupnya, maka dia tidak akan bisa memenuhi target untuk berproduksi. Bahkan ternak tersebut akan merombak cadangan makanan di dalam tubuhnya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, sehingga ternak menjadi kurus.

Kebutuhan Nutrisi Kambing Perah

Hartutik (1995) menyatakan bahwa kebutuhan nutrien ternak ditentukan oleh hidup pokok dan tingkat produksinya. Kebutuhan hidup pokok merupakan kebutuhan untuk mempertahankan bobot hidup. Apabila pakan yang diperoleh melebihi dari kebutuhan hidup pokok maka sebagian kelebihan akan digunakan untuk produksi.

Pemberian nutrien kepada ternak terutama protein kasar, apabila sudah melebihi kebutuhan hidup pokok, maka akan dapat meningkatkan produktivitasnya. Ternak yang mendapatkan protein ransum lebih tinggi akan mempunyai pertambahan bobot badan (PBB) yang lebih tinggi dan lebih efisien dalam menggunakan pakan (Weston, 1982). Kebutuhan protein tertinggi diperlukan saat ternak berada pada status pertumbuhan awal, melahirkan dan awal laktasi (Preston dan Leng, 1987).

Selain itu protein dibutuhkan pula untuk produksi susu khususnya untuk produksi kasein. Kebutuhan protein kasar ransum untuk hidup pokok (maintenance) adalah 4,15 g/W kg 0,75 dan untuk produksi susu adalah 77 g/kg susu dengan kadar lemak 4,5% (NRC, 1981), sehingga produksi susu akan sangat ditentukan oleh protein dalam ransum.
Disamping protein, ternak juga memerlukan energi untuk pemeliharaan tubuh (hidup pokok), memenuhi kebutuhannya akan energi mekanik untuk gerak otot, dan sintesa jaringan – jaringan baru. Bila hewan dalam keadaan kekurangan makanan, ia tetap memerlukan energi untuk melaksanakan fungsi normal dari tubuh, misalnya aktivitas kerja mekanik, otot-otot, kerja kimia, seperti gerakan zat makanan ke dalam sel menentang konsentrasi yang lebih pekat, untuk sintesa enzym-enzym essensial dan hormon yang penting untuk proses-proses kehidupan, dan lain-lain. Energi yang diperlukan untuk kepentingan-kepentingan tersebut diperoleh dari hasil katabolisme zat-zat cadangan dalam tubuh, misalnya : glikogen, lemak dan protein.

PEMBERIAN PAKAN KAMBING
Prinsip pemberian pakan terbaik adalah microba dpt tumbuh/berkembang scr maximal dlm LAMBUNG shg kondisi lambung harus stabil terutama pH. Disarankan frekuensi pemberian pakan 4 kali sehari semalam (selalu tersedia/ad libitum) dan pakan komplit (pakan kasar dicampur konsentrat). Pemberian pakan pada malam hari : HARUS & WAJIB terutama pada daerah panas.


JENIS PAKAN KASAR

  • Merupakan pakan utama KAMBING yang mengandung serat kasar tinggi sbg sumber energi.
  • Rumput-rumputan : R. Lapang, R Gajah, H Jagung, dan lain-lain
  • Kacang-kacangan : turi, lamtoro, kaliandra, gliricidia, centro, stylosanthes, kelor , dan lain-lain
  • Rambanan : daun nangka, pisang, waru, dan lain-lain
  • Limbah pertanian : jerami padi, jagung, kacang tanah, kc. Kedele, ubi jalar, ketela pohon, pucuk tebu, dan lain-lain
JENIS PAKAN PENGUAT/KONSENTRAT
  • Merupakan PAKAN UNTUK MENGUATKAN PRODUKSI.
  • Bahan pakan berserat kasar rendah, protein tinggi dan mudah dicerna.
  • Sbg sbr energi konsentrat mengandung PK < 20 % dan SK < 18 %, misalnya bekatul, dedak,pollar, onggok, empok, molases, jagung, shorgum dan lain-lain.
  • Sbg sbr protein mengandung protein > 20 %, misalnya bk kedele, bk kacang, bk kapuk, tp ikan, dan lain-lain.
RANSUM SEIMBANG KAMBING
  • Kebutuhan nutrisi sesuai konsumsi ransum pakan.
  • Perlu pengetahuan kebutuhan nutrisi dan kandungan nutrisi dalam bahan pakan.
  • Kebutuhan energi merupakan kendala utama dalam menyusun ransum. Sedangkan untuk memenuhi protein mudah dicapai krn dapat dicukupi dari NPN.
  • Pemberian pakan kasar berupa hijauan sangat diperlukan untuk perbibitan kambing. Perbandingan hijauan : konsentrat = 60 : 40.
  • Sedangkan penggemukan 85 % BK pakan dpt berasal dari konsentrat. 
Pakan Kambing Secara Umum
Kebutuhan pakan kambing:
  • Kambing sedang, Rumput 60%, hijauan kacang-kacangan 40%, dan pemberian konsentrat 200-250 gram / ekor / hari.
  • Kambing jantan dan betina dewasa, Rumput 75%, hijauan kacang-kacangan 25% dan pemberian konsentrat 200-250 gram / ekor / hari.
  • Kambing betina bunting, Rumput 60%, hijauan kacang-kacangan 40%, pemberian konsentrat 200-250 gram / ekor / hari.
  • Kambing induk menyususi; Rumput 50%, hijauan kacang-kacangan 50%, konsentrat 200-250 gram / ekor / hari.
  • Kambing pejantan / pemacek; Rumput 75% hijauan kacang-kacangan 25% dan konsentrat 250 gram / ekor / hari.

loading...

FOLLOW and JOIN to Get Update!

Social Media Widget SM Widgets




Peternakan dan Herbal Updated at: 07:20
Copyright@2014-2016. www.AgrobisnisInfo.com . Powered by Blogger.