loading...

Bone: Daerah Sentra Sapi Potong di Sulawesi Selatan Yang Terus Mengembangkan Ternak Lokal

Posted by

Jika selama ini daerah yang lebih dikenal sebagai lumbung sapi Indonesia adalah Jawa Timur karena populasi sapi lokalnya memang tertinggi diantara daerah-daerah lain di Indonesia. Ribuan ternak sapi keluar dari Jawa Timur setiap bulannya. Apalagi menjelang hari raya Qurban, akan lebih banyak lagi sapi yang dikirim keluar Jawa Timur menuju propinsi-propinsi lain di Indonesia. Salah satu konsumen utama sapi dari Jawa Timur adalah Jabodetabek.

Apabila diamati menjelang hari raya kurban atau Idhul Adha di sekitar Jakarta, Bandung, Bogor dan Banten maka tidak hanya sapi dari Jawa Timur saja yang ada disana. Sebagian juga ada sapi Bali, Sapi Kupang, Sapi Madura dan sapi Lampung.

Ada satu daerah yang jarang dikenal masyarakat peternakan Indonesia, daerah ini sebenarnya merupakan salah satu lumbung sapi juga yaitu Sulawesi Selatan.

Pedet / Anak Sapi (ilustrasi)
Bone Sentra Sapi Potong Sulawesi Selatan

Sekitar 30 % populasi sapi potong di Sulawesi Selatan (Sulsel) terdapat di Kabupaten Bone. Di akhir tahun lalu tercatat populasi sapi potong di kabupaten yang berulang tahun ke-685 di tahun ini sekitar 300.007 ekor.

Kepala Dinas Peternakan Kabupaten Bone, Aris Handono menerangkan, setiap tahunnya sekitar 24 ribu ekor dipasok dari sentra sapi potong ini ke wilayah lain untuk bibit dan potong seperti ke Sulawesi, Kalimantan, dan Indonesia Timur (Papua, Ambon, Ternate), dan Kalimantan. “Ada sekitar Rp 200 miliar per tahun yang didapatkan dari penjualan sapi potong ke berbagai wilayah di Indonesia ini,” ungkapnya ketika ditemui saat acara Expo dan Kontes Ternak Bone 2015 (3-4/4).

Saat ini skala kepemilikan ternak antara 5-10 ekor sapi potong. Tetapi ada juga peternak yang memiliki puluhan dan ratusan ekor sapi potong dengan menerapkan sistem gaduh. “Para peternak di Bone sudah memanfaatkan teknologi IB (inseminasi buatan) dengan angka kelahiran di tahun lalu dari introduksi ini sekitar 3.000 ekor. Sedangkan di tahun ini ditargetkan angka kelahiran dari IB mencapai 5.000 ekor,” jelasnya. Meskipun begitu di Bone juga masih ada lokasi pemurnian sapi bali yaitu di Kecamatan Bontocane dan Kecamatan Tellulimpoe.

Populasi sapi potong yang terus meningkat di Bone didukung oleh tersedianya sumber pakan lokal yang melimpah. “Sumber hijauan di Bone masih melimpah sehingga pemeliharaan sapi masih dilakukan dengan cara dilepas di area ladang yang luas. Juga pemanfaatan daun tebu yang melimpah karena ada pabrik gula di Bone sebagai pakan sapi,” ujar Aris.

Kepala Dinas Peternakan Sulsel, Abdul Aziz, pemerintah provinsi Sulsel menargetkan pencapaian populasi sapi dan kerbau sebanyak 2 juta ekor pada 2018. Sedangkan populasi sapi dan kerbau di akhir tahun lalu masih mencapai sekitar 1,3 juta ekor.

Aziz melanjutkan, sampai saat ini Sulsel telah mampu memasok sapi potong baik untuk bibit maupun konsumsi ke 15 provinsi di Indonesia. Adapun sentra sapi di Sulsel selain Bone yaitu Wajo, Sinjai, Maros, dan Sidrap.

Ia menyatakan, pertambahan populasi sapi potong terus dimaksimalkan dengan meningkatkan produktivitas dari populasi yang ada. “Pertumbuhan populasi dimaksimalkan dengan salah satu upayanya mengendalikan pemotongan betina produktif karena harga betina lebih murah dari sapi jantan. “Kita akan membuat peraturan daerah (perda) provinsi dan kabupaten/kota untuk mengendalikan pemotongan betina produktif,” tandas Aziz.

Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian, Syukur Iwantoro mengakui Bone merupakan salah satu sentra sapi potong terbesar di Sulsel. “Beternak sapi sudah menjadi budaya bagi masyarakat Sulsel khususnya di Bone dan Sinjai sehingga pendapatan terbesar dari sapi potong,” tandasnya.

Syukur berpendapat, percepatan populasi di Bone dan Sinjai akan memberikan pengaruh yang signifikan terhadap populasi sapi di Sulsel. Apalagi Sulsel memasok sapi tidak hanya untuk internal tetapi untuk luar Sulsel juga. “Sentuhan teknologi pengolahan pakan yang diperlukan peternak Sulsel saat ini untuk meningkatkan pertumbuhan bobot badan harian sapi peliharaannya,” ujarnya.

Percepatan Peningkatan Populasi
Pemerintah melakukan upaya percepatan peningkatan populasi sapi melalui beberapa cara yaitu dengan gertak birahi, embrio transfer, dan mendatangkan indukan dari luar negeri. “Untuk sapi indukan tahun ini kami akan mengimpor sekitar 28.000 – 30.000 ekor dengan anggaran sekitar Rp 800 miliar,” ungkap Syukur.

Ia menyatakan, impor sapi indukan ini sebagai pemicu sentra produksi sapi potong untuk meningkatkan populasinya. Pemerintah akan mendistribusikan sapi indukan itu ke sentra produksi sapi potong yang bisa dikembangbiakkan yaitu Nusa Tenggara Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, Lampung, Sumatera Utara, Sumatera Selatan, Bengkulu, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Tengah. “Jumlah sapi yang didistribusikan sesuai usulan dari pemerintah daerah,” ungkap Syukur.

Untuk Sulsel dialokasikan sekitar 2.300 ekor sapi indukan yang bernilai sekitar Rp 87 miliar. Dan khusus untuk Bone dialokasikan sekitar 200 ekor sapi indukan untuk 8 kelompok peternak sapi atau setiap kelompok mendapat 25 ekor. Selain itu terdapat bantuan untuk 1 kelompok peternak sapi bali dan kontainer semen beku untuk gerakan gertak birahi.

Syukur menyatakan, pemberian bantuan kepada kelompok ini tidak sembarangan. Kelompok yang terpilih adalah kelompok terbaik dan harus memiliki pengalaman dalam bidang pengembangbiakan sapi dan bukan kelompok pemula. Kelompok juga harus memiliki lahan yang luas untuk penggembalaan semi intensif sesuai karakter asal sapi indukan dan memiliki keterampilan dalam pengolahan pakan.

Sementara itu, Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman mengatakan, tahun ini pihaknya akan membagikan sebanyak 2 juta dosis semen beku untuk akseptor sapi di seluruh Indonesia. khusus untuk Sulawesi Selatan mendapat jatah 300 ribu dosis semen beku. “Kalau saja dari 300 ribu semen beku sukses sekitar 70 % maka ada sekitar 200 ribu ekor sapi yang bertambah,” ujarnya.

Ia menegaskan, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Selatan, Bali, dan Jawa Timur adalah beberapa wilayah yang menjadi prioritas pihaknya untuk program sapi potong. “Perlu sinergi seluruh elemen bangsa dan seluruh stakeholder pertanian untuk menyelesaikan segala persoalan,” ajaknya.

Sapi Kabupaten Muna Sulawesi Selatan
Makassar, Sulawesi Selatan, merupakan pasar terbesar produksi sapi potong asal Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara. Kepala Dinas Peternakan Kabupaten Muna, Abdul Madjid, mengatakan dalam sekali pengiriman sapi potong ke Makassar mencapai 1.000-1.500 ekor.  "Hampir setiap bulan ada pengiriman produksi sapi potong asal Muna ke Makassar," katanya, Minggu (16/2/2014).


Menurutnya, kualitas daging sapi asal Muna lebih baik dibandingkan dengan produksi sapi dari berbagai daerah di Indonesia. Selain serat daging sapinya lembut, juga cita rasa dagingnya enak dan gurih. 


"Hasil penelitian dari Insitut Pertanian Bogor (IPB) seperti itu, kualitas daging sapi asal Muna lebih baik dari daging sapi dari berbagai daerah di Indonesia," katanya. Oleh karena kualitas daging sapi asal Muna lebih baik, maka pemerintah pusat dalam hal ini Kementerian Pertanian menetapkan Muna sebagai sentra produksi sapi potong di kawasan Timur Indonesia.

"Saat ini, jumlah populasi sapi potong di Muna mencapai kurang lebih 56.000 ekor," katanya.

Menurut Madjid, selain memasok kebutuhan sapi ke Maassar, produksi sapi potong Muna juga dipasok ke Kota Baubau, Pasarwajo dan Kota Kendari.

Sumber:
www.trobos.com 
http://sulawesi.bisnis.com/

loading...

FOLLOW and JOIN to Get Update!

Social Media Widget SM Widgets




Peternakan dan Herbal Updated at: 07:25
Copyright@2014-2016. www.AgrobisnisInfo.com . Powered by Blogger.