loading...

Sapi Impor Australia, Berapa Ribu Sebenarnya Ijin Impor Yang Akan Diterbitkan?

Posted by

Import Sapi Australia Yang Belum Jelas Jumlahnya Pada Kuartal III




Gonjang-ganjing mengenai import sapi semakin membuktikan bahwa pemerintah dalam hal ini Dinas Terkait seperti kementrian pertanian terutama dirjen peternakan tidak memiliki data yang valid dan akurat berapa sebenarnya kebutuhan sapi atau daging sapi seluruh Indonesia. Dan ini juga menunjukkan mereka tidak memiliki data akurat berapa sebenarnya jumlah stock sapi lokal yang siap atau tersedia dilapangan. Berapa kemampuan sapi lokal dalam memenuhi kebutuhan daging dalam negeri. Sehingga yang lebih parah, penerbitan ijin import sapi pyn terkesan trial and error alias coba-coba dulu berapa angka kecukupan import sapi sebenarnya.

Kemana data BPS tentang populasi sapi di Indonesia? Apakah data survey tersebut sudah dianggap tidak cukup valid untuk sekedar memprediksi populasi sapi di negara kita dan untuk menentukan besaran sapi import yang harus masuk ke Indonesia? 

Simpang siurnya berita tentang kuota import sapi pada kuartal III tergambar dari info import berikut ini yang berhasil dirangkum dari liputan6.com dan sumber lainnya. Pemerintah Indonesia berencana untuk membatasi impor ternak. Rencananya, pemerintah hanya akan mengizinkan pengiriman 50 ribu ekor sapi pada kuartal-III 2015, turun dari 250 ribu ekor pada kuartal sebelumnya. Para eksportir menuding ketegangan politis antara Indonesia dan Australia menjadi memicu kebijakan pemangkasan impor ternak dari Australia.

Melansir laman sbs.com.au, Selasa (14/7/2015), para eksportir ternak hidup sangat terkejut dengan keputusan yang kabarnya telah dibuat pekan lalu dan mulai merebak ke publik pekan ini. Meski begitu, pembatasan izin ekspor sapi hidup itu masih belum secara resmi dirilis pemerintah Indonesia.


Para eksportir masih menebak-nebak apa yang menyebabkan pemerintah Indonesia mengambil keputusan tersebut secara tiba-tiba. Banyak pihak yang menuduh bahwa keputusan tersebut merupakan imbas dari urusan pilitik. Namun sebagian besar eksportir yang tak yakin ada alasan politik di balik keputusan itu.


Bagi eksportir, hubungan dengan Indonesia telah membaik setelah keputusan eksekusi mati pengedar narkoba Australia Andrew Chan dan Myuran Sukumaran dilakukan beberapa waktu lalu.


"Saya rasa banyak orang berpikir, itu merupakan salah satu alasannya. Tapi kami tidak berpikir begitu," ungkap Chief Executive Australian Livestock Exsporters Council Alison Penfold.


Hal itu dibenarkan juru bicara Departemen Pertanian Joel Fitzgibbon yang mengatakan, hubungan pemerintah Australia dan Indonesia baik-baik saja. Keputusan itu, menurutnya, lantaran pemerintah Indonesia ingin memberdayakan hewan ternak di negaranya sendiri.


"Saya dengan tulus berharap hubungan dengan Indonesia di tataran politik bukan alasan yang memicu pembatasan impor sapi hidup ini," kata Fitzgibbon.


Sebagai gantinya, dia berharap pemerintah Indonesia akan mengimpor lebih banyak daging sapi dari Australia.


Sejauh ini, para eksportir sudah mulai mengalami guncangan industri lantaran izin ekspor terlambat dirilis. Apalagi ditambah isu pembatasan impor dari Indonesia yang kian meresahkan, lantaran biaya mengembangbiakkan sapi semakin mahal.


"50 ribu adalah jumlah yang luar biasa kecil, apalagi menjelang Lebaran seperti sekarang dan jumlahnya justru dikurangi. Itu jumlah yang sangat rendah," tandas Haydn Sale, dari Yougawalla Station di Kimberley region, Western Australia.



Membuka "Peluang" Import Sapi dari Negara Lain?
Pemerintah melalui Kementerian Perdagangan (Kemendag) menyatakan peluang impor sapi hidup dari negara lain, selain Australia sangat terbuka lebar. Hal itu lantaran kebutuhan impor sapi Indonesia mencapai 750 ribu setiap tahun.


Menteri Perdagangan (Mendag), Rachmat Gobel mengatakan kebutuhan impor sapi hidup Indonesia mencapai 750 ribu ekor per tahun. "Tapi itu mungkin ada peningkatan," ucap dia saat Konferensi Pers Neraca Perdagangan Juni di kantor BPS, Jakarta, Rabu (15/7/2015).


Ia menuturkan, pemerintah membuka kesempatan untuk mengimpor sapi hidup dari negara lain. Jadi tidak hanya dari Australia saja supaya bisa menekan harga sampai ke tingkat konsumen. Salah satunya India.


"Kami lihat semuanya, kemungkinannya iya, kami lihat mana yang lebih murah untuk kepentingan nasional kita. Bisa saja kami pelajari dari (India)," ujar Rachmat.


Rachmat menuturkan, biaya produksi atau logistik mengalami peningkatan sehingga akan berdampak ke harga jual di tingkat konsumen maupun inflasi. Tentu, sambung dia, pemerintah harus berupaya menekan biaya agar konsumen tidak merasa terbebani.


"Bisa mempelajari impor sapi dari India atau negara lain. Yang pasti menurunkan biaya supaya enggak melebihi harga di konsumen," terang dia.


Hanya saja, kata Rachmat, kuota impor jangan sampai membuat stok di dalam negeri berlebihan sehingga kesulitan menjual di pasar Indonesia, terutama mengganggu pasar peternak lokal. Kebijakan impor sapi harus memperhatikan peternak dalam negeri. "Jangan seolah-olah tidak memperhatikan peternak lokal. Makanya kita dorong berapa besar sebetulnya sehingga mengambil keputusan impor bisa tepat," kata Rachmat.


Bantahan Berita / Isu Import sapi dibatasi hanya 50.000 ekor pada kuartal III
Isu itu dibantah Menteri Perdagangan (Mendag) Rachmat Gobel. Pemerintah memungkinkan penambahan kuota impor sapi dari Australia dengan memperhatikan stok dan kebutuhan dalam negeri."Kebijakan impor sapi Australia itu kebijakan terakhir. Kita harus evaluasi berapa stok yang ada di dalam negeri. 50 ribu ekor itu yang dikeluarkan tahap I sekarang ini, tapi bukan berarti dibatasi," ujar dia saat Konferensi Pers di kantor BPS, Jakarta, Rabu (15/7/2015).



Ditegaskan Rachmat, tidak ada batasan impor sapi apakah 50 ribu ekor, 200 ribu ekor bahkan 250 ribu ekor. Paling penting, sambungnya, pemerintah harus mengevaluasi atau mencocokkan antara stok sapi di dalam negeri dengan kebutuhannya sehingga ada kepastian untuk kuota impor sapi hidup.

"Mungkin saja kuartal III ditambah lagi kuotanya, bukan berarti harus 50 ribu ekor. Tapi kan harus dievaluasi dulu berapa kebutuhan dan stok yang ada di sini," paparnya.


Rachmat mengaku, ketika akan impor, fakta di lapangan menunjukkan bahwa sapi lokal Nusa Tenggara Barat tidak bisa dijual karena tidak ada pasar. "Kita punya sapi berlebihan di sini tapi kok harganya naik ya," terang dia. 


Menteri Perdagangan Rachmat Gobel berjanji membatasi impor daging sapi kuartal III tahun 2015. Gobel mengklaim pembatasan itu merupakan upaya melindungi peternak sapi lokal.

"Kami dapat masukan dari peternak di Nusa Tenggara Barat (NTB). Kalau impor sapi banyak, sapi mereka tak bisa dijual," kata dia di tengah open house di rumah dinas di Jalan Widya Chandra, Jakarta Selatan, Jumat 17 Juli 2015. Untuk kuartal III, volume impor hanya 50 ribu ekor.

Menurut Gobel, meski produksi sapi lokal mencukupi, tak serta merta dapat menghilangkan impor. Daging sapi impor masih dibutuhkan sebagai penyeimbang harga daging lokal yang cenderung mahal.

Selain itu, kata Gobel, pemerataan distribusi daging pun masih harus dilakukan. Meski di sentra produksi stok berlimpah, banyak daerah lain masih kekurangan stok sehingga harga naik. Kelancaran suplai stok menjadi kunci penting untuk mengendalikan inflasi.

Selain pengurangan volume impor, menurut Gobel dibutuhkan juga pemerataan sentra daging sapi di seluruh Indonesia untuk mengembangkan industri daging lokal. "Biar tak mengandalkan dari daerah lain, supaya lebih murah," kata dia.


Tanggapan Pemerintah Australia Terkait Pembatasan Import Sapi
Juru bicara Menteri Pertanian Australia Barnaby Joyce menanggapi kabar tersebut dengan menyatakan bahwa pemerintah Australia menghormati keputusan Indonesia, namun tetap merasa kecewa jika hal itu benar.

Sementara itu CEO Asosiasi Eksportir Ternak Australia (ALEC) Alison Penfold mengatakan kabar tersebut sangat mengejutkan kalangan industri.

"Jumlahnya jauh di bawah harapan kami dan harapan kalangan importir di Indonesia sendiri," jelasnya.

Alison Penfold mengatakan pihaknya yakin bahwa pengurangan ini tidak ada kaitannya dengan isu lain, misalnya kebijakan pemerintah Australia yang mencegat dan memulangkan perahu pencari suaka kembali ke perairan Indonesia.

"Hal ini semata-mata berkaitan dengan masalah produksi sapi di Indonesia. Jadi isunya adalah masalah pasokan sapi," katanya.

Menurut Alison, hubungan perdagangan ternak antara kedua negara telah berlangsung selama 30 tahun. "Kita telah melewati jatuh-bangun dalam hubungan perdagangan ini," katanya.

Namun juru bicara Oposisi urusan Pertanian Joel Fitzgibbon mengatakan pihaknya menduga kondisi hubungan kedua negara telah menjadi faktor yang mempengaruhi pengurangan impor sapi ini.

"Tentu saja cara pemerintahan Abbott menjalin hubungan dengan Indonesia dan memburuknya hubungan kedua negara, sama sekali tidak akan membantu," kata Fitzgibbon.

Sementara itu CEO Asosiasi Eksportir Ternak Northern Territory (NTLEA) Stuart Kemp juga menyatakan kekecewaannya atas pengurangan itu.

"Ini akan berdampak pada Pelabuhan Darwin. Untuk kuartal ketiga rata-rata di tahun-tahun sebelumnya jumlah sapi yang diangkut di atas 100 ribu ekor," katanya.

"Dengan jumlah yang jauh di bawah angka iyu, tentu saja kami sangat kecewa," kata Kemp.

Dia menjelaskan, pengurangan itu akan sangat terasa apalagi jika dibandingkan dengan jumlah ekpsor tahun lalu.

Sepanjang 2014, menurut catatan ABC, Indonesia mengimpor sekitar 750 ribu ekor sapi Australia. Jika jumlah kuota kuartal ketiga 2015 ini hanya 50 ribu ekor, berarti sejauh ini Indonesia hanya mengimpor sekitar 375 ribu ekor.


Referensi:
www.liputan6.com
www.kompas.com
www.tempo.co 

loading...

FOLLOW and JOIN to Get Update!

Social Media Widget SM Widgets




Peternakan dan Herbal Updated at: 04:43
Copyright@2014-2016. www.AgrobisnisInfo.com . Powered by Blogger.