loading...

Mencuri Dalam Shalat Adalah Sejahat-jahat Pencuri, Apa Maksudnya?

Posted by

Para Pencuri dalam Shalat


Masjid Al-Aqsa
Kita semua tahu bahwa perbuatan mencuri adalah perbuatan tercela dan diharamkan atau dilarang dalam agama Islam.

Mencuri harta, sudah sering kita dengar sebagai conto mencuri harta rakyat yang dilakukan oleh para pejabat negara atau pejabat pemerintahan yang kita sebut koruptor atau pelaku korupsi. Juga pencuri harta yang sering beraksi dimalam hari menggasak harta penduduk yang disebut maling dan lain-lain.

Tetapi tahukah anda ada pencuri yang digolongkan sebagai seburuk-buruk pencuri yaitu pencuri yang mencuri dalam shalat.

Mencuri dalam shalat? Apakah mungkin orang sedang shalat melakukan pencurian? Bukankah saat shalat seorang hamba harus sedang benar-benar bersih hatinya dan sedang bermunajad dan berkomunikasi dengan sang khaliq? Lalu apa sebenarnya yang dimaksud mencuri dalam shalat itu.

Mencuri dalam shalat disebut jauh lebih buruk daripada mencuri harta dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menganggapnya sebagai pencuri yang paling buruk, sebagaimana disebutkan dalam Musnad Imam Ahmad dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, bahwa beliau bersabda,

أَسْوَأُ النَّاسِ سَرِقَةً الَّذِي يَسْرِقُ مِنْ صَلاَتِهِ، قَالُوْا: يَا رَسُوْلَ اللهِ وَكَيْفَ يَسْرِقُ مِنْ صَلاَتِهِ؟ قَالَ: لاَ يُتِمُّ رُكُوْعُهَا وَلاَ سُجُوْدُهَا.

“Sejahat-jahat pencuri adalah yang mencuri dari shalatnya”. Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana mencuri dari sholat?”. Rasulullah berkata, “Dia tidak sempurnakan ruku dan sujudnya” (HR Ahmad no 11532, dishahihkan oleh al Albani dalam Shahihul Jami’ 986). 

Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menganggap perbuatan mencuri dalam shalat ini lebih buruk dan lebih parah daripada mencuri harta.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berkata kepada orang yang shalatnya salah,

إِذَا قُمْتَ إِلَى الصَّلَاةِ فَكَبِّرْ ثُمَّ اقْرَأْ مَا تَيَسَّرَ مَعَكَ مِنْ الْقُرْآنِ ثُمَّ ارْكَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ رَاكِعًا ثُمَّ ارْفَعْ حَتَّى تَعْتَدِلَ قَائِمًا ثُمَّ اسْجُدْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ سَاجِدًا ثُمَّ ارْفَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ جَالِسًا ثُمَّ اسْجُدْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ سَاجِدًا ثُمَّ افْعَلْ ذَلِكَ فِي صَلَاتِكَ كُلِّهَا

“Jika Anda hendak mengerjakan shalat maka bertakbirlah, lalu bacalah ayat al Quran yang mudah bagi Anda. Kemudian rukuklah sampai benar-benar rukuk dengan tumakninah, lalu bangkitlah (dari rukuk) hingga kamu berdiri tegak, setelah itu sujudlah sampai benar-benar sujud dengan tumakninah, lalu angkat (kepalamu) untuk duduk sampai benar-benar duduk dengan tumakninah, setelah itu sujudlah sampai benar-benar sujud, Kemudian lakukan seperti itu pada seluruh shalatmu” (HR Bukhari 757 dan Muslim 397 dari sahabat Abu Hurairah)

Para ulama mengambil kesimpulan dari hadits ini bahwa orang yang ruku’ dan sujud namun tulangnya belum lurus, maka shalatnya tidak sah dan dia wajib mengulangnya, sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang berkata kepada orang yang tata cara shalatnya salah ini, “Ulangi shalatmu, sejatinya Anda belumlah shalat”.

Dari hadits diatas tergambar apa sebenarnya yang dicuri oleh para pencuri dalam shalat, yaitu tuma'ninah. Tuma'ninah masuk dalam rukun shalat, jadi jika seseorang shalat tetapi tidak tuma'ninah maka shlatnya tidak sah karena meninggalkan salah satu rukun shalat dan berarti juga dia telah mencuri dalam shalat sebagaimana tersebut dalam hadits Nabi SAW diatas.

Fenomena ini (tidak tuma'ninah dalam shalat) masih sering terjadi, dan lebih memprihatinkan lagi karena terjadinya pada bulan Ramadhan yang paling sering yaitu saat shalat tarawih. Masih banyak kita jumpai imam shalat terawih yang hanya sekedar mengejar jumlah rakaat sehingga mengabaikan tuma'ninah.

Shalat terawih dilakukan dengan cara "kilat khusus". Coba dibayangkan shalat 23 rakaat hanya dilakukan dalam tempo kurang dari 15 menit, astaghfirullah hal'adzim. Yang lebih parah lagi sang imam menganggap apa yang dilakukannya adalah benar, alasannya karena inilah yang dilakukan alias yang diwariskan alias yang dicontohkan oleh kiai-kiai generasi sebelumnya. Tidakkah mereka pernah membaca hadits tersebut diatas? Tidakkah mereka tahu bahwa tuma'ninah adalah salah satu rukun shalat yang jika ditinggalkan akibatnya shalat tidak sah dan orang yang meninggalkan dianggap belum shalat. Ingatlah sabda Nabi Muhammad Shalallahu 'alaihi wasalam, "Sejahat-jahat pencuri adalah yang mencuri dari shalatnya." Semoga Allah Subhanahu wata'ala menghindarkan dan menjauhkan kita semua dari perbuatan seperti itu. Aamiin.

Catatan : 
Kadar thuma’ninah dalam ruku’ dan sujud menurut ulama Syafi’iyah adalah sudah mendapat sekali bacaan tasbih. Lihat Al Fiqhu Al Manhaji karya Syaikh Prof. Dr. Musthofa Al Bugho, dkk, hal. 134.
Kalau di bawah kadar itu, berarti tidak ada thuma’ninah. Kalau tidak ada thuma’ninah berarti hilanglah rukun shalat dan membuat shalat tidak sah.


Jika Ingin tahu mana yang lebih baik Shalat Tarawih 11 Rakaat atau 23 Rakaat?, KLIK DISINI

Silahkan Sebarkan dan bagikan artikel ini, semoga bermanfaat bagi keluarga dan orang-orang yang anda sayangi agar terhindar dari perbuatan mencuri dalam shalat. Mudah-mudahan bisa menjadi ladang amal bagi kita semua. Terima kasih.

loading...

FOLLOW and JOIN to Get Update!

Social Media Widget SM Widgets




Peternakan dan Herbal Updated at: 15:36
Copyright@2014-2016. www.AgrobisnisInfo.com . Powered by Blogger.