loading...

Kisruh Harga Daging Sapi : Pemerintah Wajib Batasi Sapi Import

Posted by

Maksud pemerintah untuk mengontrol atau menurunkan harga daging dengan jalan menggelontor import sapi dari Australia tampaknya tidak tercapai. Harga daging saat ini terus merangkak naik, sampai-sampai Mendag Gobel menegur para produsen sapi / importir sapi karena tidak ikut mengontrol atau mengatur harga daging tetapi malah melepaskan mekanisme harga sesuai pasaran. Mendag bahkan sempat mengancam akan membatalkan ijin import sapi jika produsen tetap tidak bisa mengatur harga daging agar sampai kekonsumen masih wajar tidak terus naik atau mahal.

Daging Sapi di RPH
Sepertinya langkah import sapi yang tiap tahun selalu dilakukan pemerintah dengan alasan agar kebutuhan daging terpenuhi menjelang hari raya dan harga tidak melonjak perlu dievaluasi secara serius dan hati-hati. Benarkah langkah tersebut? ataukah perlu pembatasan import meskipun jelang hari raya, karena kenyataannya setiap jelang hari raya harga daging selalu melonjak tinggi baik sapi sedikit maupun sapi berlimpah jumlahnya. Itulah mekanisme pasar yang akan sangat sulit diatur maupun dikontrol jika permintaan sangat tinggi maka pedagang akan mengambil oportuniti untuk mendapatkan untung berlipat dengan jalan menaikkan harga barang dagangannya tidak terkecuali daging sapi. 

Perlunya pembatasan import pernah dilontarkan oleh seorang peneliti LIPI seperti yang dimuat pada antaranews.com, Pemerintah harus membatasi impor daging sapi untuk menstimulasi pembangunan sektor perternakan dalam negeri, kata peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Pusat Penelitian dan Pengembangan Perternakan Tjeppy D Soedjana. "Impor itu bukan suatu yang tabu untuk saat ini di tengah globalisasi karena sejatinya tidak ada lagi suatu negara yang bisa memenuhi kebutuhannya sendiri. Tapi harus diingat harus dibatasi, tidak boleh jor-joran karena bisa mematikan pembangunan di dalam negeri," kata Tjeppy di Palembang, Senin.

Ia yang diwawancarai seusai menjadi pembicara pada acara workshop "Kebijakan Pengembangan Ternak Perah di Luar Jawa Guna Peningkatan Produksi Daging dan Konsumsi Susu Segar" mengatakan jika terjadi pembatasan impor daging sapi maka secara otomatis ada upaya dari pemerintah sendiri untuk membangun industri di dalam negeri. Salah satunya seperti yang saat ini sedang dijalankan yakni pengembangan perternakan kerbau dan sapi di beberapa provinsi di Indonesia. "Indonesia sudah terlalu lama mengekspor barang baku sehingga lupa untuk menambah nilai tambah, sehingga untuk barang jadi terpaksa selalu menginpor. Ke depan hal ini harus dikikis secara bertahap dengan mulai membatasi impor, salah satu langkah nyatanya dengan mulai membangun infrastruktur," kata dia.

Menurutnya, model seperti ini sudah diterapkan Korea pada era tahun 80-an. Pada masa itu, Indonesia dan Korea sama-sama belajar ke Jepang mengenai teknik pengembangan unggas.  "Korea hanya mengimpor kira-kira dua hingga tiga tahun saja bibit dari Jepang, selebihnya mereka mengurangi dengan maksud industri pembibiatan dalam negeri mau belajar dan memulai. Berbeda dengan Indonesia, yang tidak bisa berhenti hingga sekarang karena merasa menjual barang mentah saja bisa untung lantas mengapa berhenti seperti halnya di sawit dan karet," kata dia.

Untuk itu, ia menyambut positif keinginan pemerintah untuk mandiri di sektor pangan dan ternak meski belum sepakat dengan istilah swasembada karena menilai tidak ada negara yang mampu mandiri secara total. "Nawacita yang diusung pemerintahan Joko Widodo dan Jusuf Kalla ini sudah demikian luhur, dan ini harus didukung oleh masyarakat. Jika ini sukses di sektor pangan dan peternakan harus ada sinergi dari berbagai lembaga yakni dari Kementerian Perindustrian, Kementerian Perdagangan, dan Kementerian Perternakan, dan Kementerian Pertanian," kata dia.  Kementerian Pertanian (Kementan) dalam APBN-P 2015 menjalankan program percepatan kelahiran ternak sapi dan pembukaan lahan ternak sapi sebesar 1 juta hektar.

Asosiasi Pengusaha Protein Hewan Indonesia (APPHI) memperkirakan pada tahun ini kebutuhan daging sapi Indonesia diperkirakan mencapai 640.000 ton, yakni naik 8 persen dari tahun 2014 sebesar 590.000 ton. Selama 8 tahun terakhir produksi daging memang mengalami peningkatan namun jumlahnya masih lebih kecil dari tingkat kebutuhan nasional sehingga terpaksa mengimpor sapi dari Australia.

Banyak faktor yang mempengaruhi harga daging, tidak hanya karena daging berlimpah terus harga bisa tiba-tiba turun. Faktor "timing" sangat mempengaruhi pergerakan harga. Dan selalu menjelang lebaran adalah waktunya para pedagang daging mengais untung besar dengan menaikkan harga daging tidak perduli stock daging mereka banyak atau sedikit. Sisa yang tidak laku tinggal simpan dalam freezer untuk dijual dikesempatan yang lain, tidak ada masalah bukan? Harga tinggi, untung banyak dan masih punya simpanan daging adalah "sesuatu" yang menjadi andalan dan rahasia pedagang daging yang tidak sembarang pelaku perdagangan barang lain memilikinya. PR yang sangat besar untuk bisa mengontrol atau mengatur harga daging sapi setiap jelang Lebaran.

loading...

FOLLOW and JOIN to Get Update!

Social Media Widget SM Widgets




Peternakan dan Herbal Updated at: 19:16
Copyright@2014-2016. www.AgrobisnisInfo.com . Powered by Blogger.