loading...

Harga Sapi di Pasar Hewan dan Feedlotter Terus Naik, Alami atau Permainan?

Posted by

Akhir Juli 2015 ini kalangan pelaku peternakan terutama para jagal sapi mulai mengeluhkan harga sapi yang naik terus. Jika sebelumnya peternak sapi lokal yang mengeluhkan harga di pasar hewan turun maka sekarang berubah 180 derajat, peternak lokal "happy" karena harga sapi terus merambat naik sedangkan jagal mulai "panik" dan sudah mulai melakukan pembelian secara tidak terkontrol yang penting bisa memiliki sapi setelah sebelum lebaran dan saat "munggahan" lebaran sapi digelontor untuk dipotong di RPH. Banyaknya sapi yang sudah dipotong di RPH tidak sepenuhnya menggunakan mekanisme jual beli putus atau tunai dan lunas saat itu juga, tetapi kebanyakan tetap menggunakan sistem hutang dan dibayar pada pemotongan berikutnya.



Untuk jagal yang menggunakan sistem tersebut maka mau tidak mau harus mempunyai stock sapi agar uangnya yang belum dibayar pedagang saat munggahan bisa ditarik karena kalau tidak ada suply sapi ke pedagang maka hutang pedagang daging akan mustahil dibayar dengan kata lain uang tidak berputar. Fenomena inilah salah satu pemicu kepanikan para jagal sapi melihat kenaikkan harga yang terus merambat pasti.

Apa sebenarnya pemicu cepatnya kenaikan harga sapi dipasar hewan maupun di feedlot-feedlot? Fakta yang paling jelas dan kasat mata adalah sejak adanya berita bahwa import sapi BX asal Australia pada kuartal III yaitu Juli-Agustus-September sementara hanya sebanyak 50.000 ekor. Dan angka ini berarti menunjukkan penurunan yang sangat drastis dibanding kuartal II yang angka impornya mencapai 250.000 ekor.

Sejak angka impor tersebut ramai dimedia, feedlot-feedlot secara serempak menaikkan harga jual sapi BX nya dari awalnya dikisaran Rp 35.000 - 38.0000/kg menjadi Rp 39.000 - Rp 42.000/kg. Kenaikan harga sampai Rp 4.000/kg harga sapi dalam tempo kurang dari 2 minggu adalah satu kenyataan yang menunjukkan para feedlotter "shock" dan panik dengan angka ijin impor yang diterbitkan pemerintah dalam hal ini kemendag untuk kuartal III.

Pelan tapi pasti harga sapi lokal di Jawa Tengah dan Jawa Timur mulai naik dan hal ini sangat nyata terdongkrak oleh naiknya harga BX di Jabodetabek yang juga mendorong harga karkas sapi BX dari sebelumnya  Rp 75.000 - Rp 76.000/kg menjadi Rp 82.000 - Rp 84.000/kg.

Feedlotter mulai terjun lagi kepasar hewan dan bersaing dengan pedagang sapi dari Jabodetabek yang suply sapinya tersendat akibat banyak feedlotter yang menahan jualan sapinya. Dan saat berita atau artikel ini saya tulis, harga sapi dipasar hewan terutama di Jawa Timur sudah merangkak naik lagi sampai angka Rp 43.000 - Rp 45.000/kg. Makin kecil ukuran sapinya harga per kilogramnya semakin mahal.

Adakah kenaikkan ini hanya permainan? Fakta menunjukkan sebaliknya bahwa kenaikan ini alami sebagai hasil kepanikan pedagang terutama di Jabodetabek akibat demikian drastisnya penurunan ijin import yang diterbitkan pemerintah/Kemendag.

Apakah Fenomena ini bagus atau jelek? Tergantung dari sudut mana anda memandangnya. Bagi peternak kecil sepertinya ini merupakan jawaban keluhan mereka saat harga sapi terus turun pada bulan Juni 2015 lalu. Bagi Feedlotter sepertinya ini merupakan tindakan nyata dari Kemendag yang sempat "mengancam" akan menyetop atau mengurangi impor karena harga daging tetap tinggi sedangkan sapi sudah digelontor ratusan ribu ekor. Sedangkan feedlotter atau importir hanya lepas tangan terhadap mekanisme harga daging. Naik turunnya harga daging oleh feedlotter diserahkan ke mekanisme pasar sehingga sepertinya Kemendag sempat "mencak-mencak" akibat importir tidak mau tahu dengan naiknya harga daging di pasaran.

Mendag sepertinya tidak begitu mau tahu atau tidak memahami bahwa fenomena menjelang lebaran harga daging selalu naik tinggi terlepas sapi banyak apalagi jika sapi sedikit karena saat itulah pedagang-pedagang mengeruk keuntungan tidak terkecuali pedagang daging.

Jadi kesimpulan apakah naiknya harga di minggu ke 4 atau minggu terakhir bulan Juli 2015 ini memang ada permainan atau memang alami akibat permintaan tinggi dan suply yang terbatas? Kita tunggu kabar selanjutnya dan yang pasti kita tunggu langkah apa yang akan dilakukan pemerintah. Apakah pemerintah akan membuka lagi kran impor lebar-lebar seperti kuartal II? Seperti yang diberitakan oleh media-media nasional bahwa angka impor 50.000 ekor tersebut menurut Mendag masih bisa berubah dan akan dievaluasi menunggu data dari Menteri Pertanian. Tetapi andaikata kuota impor ditambah lagi oleh Mendag sedangkan nilai tukar Rupiah sudah mencapai Rp 13.400 per 1 US$, masihkah sapi BX akan tetap murah? Mudah-mudahan pemerintah berpihak pada peternak lokal, sehingga hati-hati dalam "memainkan" kuota impor sapi BX Australia. Pemerintah "wajib" menjaga agar harga sapi lokal tetap stabil dan tidak sampai "terjun bebas". Semoga....... (AgrobisnisInfo.com).

loading...

FOLLOW and JOIN to Get Update!

Social Media Widget SM Widgets




Peternakan dan Herbal Updated at: 01:11
Copyright@2014-2016. www.AgrobisnisInfo.com . Powered by Blogger.