loading...

Cara Menanam dan Budidaya Jahe Gajah Yang Menguntungkan

Posted by

Jahe Gajah. Jahe (Zingiberceace officianale) adalah tanaman rimpang yang sangat populer sebagai rempah-rempah dan bahan obat. Jahe berasal dari Asia Pasifik dari China sampai india. Oleh karena itu kedua bangsa ini disebut-sebut sebagai salah satu bangsa yang pertama kali memanfaatkan jahe terutama untuk bahan minuman, bumbu dapur dan juga bahan baku obat.  
Jahe gajah, cara menanam jahe gajah, jahe gajah menguntungkan, budidaya jahe gajah, jahe di polybag, hasil panen jahe gajah, isu tentang jahe gajah, hasil panen jahe gajah per hektar.


Jahe
Tanaman Jahe dibagi menjadi tiga Yaitu: Jahe putih/Jahe kuning kecil atau jahe emprit. Jahe ini memiliki ruas yang kecil tetapi Kandungan minyak atsirinya cukup besar sehingga rasanya lebih pedas dari pada jenis jahe lainya Jahe ini cocok untuk ramuan obat-obatan, atau untuk diekstrak oleoresin dan minyak atsirinya. Jenis jahe yang kedua adalah jahe merah rimpangnya berukuran kecil sama seperti jahe putih kecil dan juga memiliki banyak kadungan minyak atsiri sehingga cocok untu bahan obat-obatan. Jenis jahe berikutnya adalah Jahe putih/ jahe kuning besar atau sering kita sebut jahe gajah. 

Dari namanya mungkin kita sudah bisa menebak kalau jahe jenis ini adalah jahe dengan ukuran paling besar daripada jenis jahe lainya sehingga sangat cocok untu dibudidayakan. karena selain beratnya yang berbobot jahe ini juga memiliki kelipatan tumbuh yang sangat besar dari bibit awal kita tanam (1 kg bibit bisa jadi 10 Kg) dan juga penanamanya tergolong mudah. Jadi saya sarankan untuk yang ingin budidaya jehe, sebaiknya mulailah dengan budidaya jahe gajah. Kenapa saya katakan budidaya jahe gajah (menanam jahe) itu mudah bahkan sangat mudah. 

Pertama dari pada tanaman lainya tanaman jahe adalah salah satu tanaman yang tidak banyak memerlukan lahan (20-40 ton/ha), dan sering juga kita dengar ada yang menanam jahe dalam karung atau pot sehingga evisiensi lahan dan pengelolaanya sangat baik. 

Kedua umur penanaman yang relatif singkat yaitu berkisar antara 9-12 bulan membuat kita tidak perlu menunggu terlalu lama untuk memetik hasilnya. Coba saja anda bandingkan dengan jika kita menanam tanaman seperti albasia yang butuh waktu sekitar 4-8 tahun untuk waktu panenya atau tanaman-tanaman yang harus kita tunggu berbuah (sekitar 5-10 tahun) kita baru bisa memanen buahnya. 

Ketiga biaya perawatan yang sedikit, sebenarnya tidak sedikit-sedikit amat. Seperti saya sudah katakan tadi kalau tanaman jahe adalah tanaman yang tidak memerlukan banyak lahan. dari situ jga sudah dapat kita simpulkan kalu pastinya kita tidak perlu memerlukan banyak pekerja untuk proses perawatan bahkan saat penanaman. 

Keempat, menanam jahe terutama menanam jahe gayah yaitu karena kelipatan tumbuhnya yang sangat besar misal kita punya bibit 1 kg maka kita akan memanen 10 kg, jika jita punya bibit 10 kg maka kita akan memanen 100 kg dan seterusnya. Kita misalkan saja punya bibit 1 ton (1000 kg) dan harga per kg saat panen adalah 10.000,-, Silakan dihitung.

Cara Menanam Jahe
Syarat tumbuh:

Iklim
Tanaman jahe membutuhkan curah hujan relatif tinggi, yaitu antara 2.500-4.000 mm/tahun.
Pada umur 2,5 sampai 7 bulan atau lebih tanaman jahe memerlukan sinar matahari. Dengan kata lain penanaman jahe dilakukan di tempat yg terbuka sehingga mendapat sinar matahari sepanjang hari.
Suhu udara optimum utk budidaya tanaman jahe antara 20-35°C.

Media Tanam
Tanaman jahe paling cocok ditanam pada tanah yg subur, gembur & banyak mengandung humus.
Tekstur tanah yg baik adalah lempung berpasir, liat berpasir & tanah laterik. Tanaman jahe dapat tumbuh pada keasaman tanah (pH) sekitar 4,3-7,4. Tetapi keasaman tanah (pH) optimum utk jahe gajah adalah 6,8-7,0.

Ketinggian Tempat
Jahe tumbuh baik di daerah tropis & subtropis dengan ketinggian 0-2.000 m dpl..
Di Indonesia pada umumnya ditanam pada ketinggian 200 - 600 m dpl.

Pembibitan Jahe
Persyaratan Bibit Jahe : Bibit berkualitas adalah bibit yg memenuhi syarat mutu genetik, mutu fisiologik (persentase tumbuh yg tinggi), & mutu fisik. yg dimaksud dengan mutu fisik adalah bibit yg bebas hama & penyakit. Oleh karena itu kriteria yg harus dipenuhi antara lain:

Bahan bibit diambil langsung dari kebun (bukan dari pasar).
Dipilih bahan bibit dari tanaman yg sudah tua (berumur 9-10 bulan).
Dipilih pula dari tanaman yg sehat & kulit rimpang tidak terluka atau lecet.

Teknik Penyemaian Bibit : utk pertumbuhan tanaman yg serentak atau seragam, bibit jangan langsung ditanam sebaiknya terlebih dahulu dikecambahkan. Penyemaian bibit dapat dilakukan dengan peti kayu atau dengan bedengan.

Penyemaian pada peti kayu : Rimpang jahe yg baru dipanen dijemur sementara (tidak sampai kering), kemudian disimpan sekitar 1-1,5 bulan. Patahkan rimpang tersebut dengan tangan dimana setiap potongan memiliki 3-5 mata tunas dan dijemur ulang 1/2-1 hari.

Selanjutnya potongan bakal bibit tersebut dikemas ke dalam karung beranyaman jarang, lalu dicelupkan dalam larutan fungisida dan zat pengatur tumbuh sekitar 1 menit kemudian keringkan. Setelah itu dimasukkan kedalam peti kayu. Lakukan cara penyemaian dengan peti kayu sebagai berikut: pada bagian dasar peti kayu diletakkan bakal bibit selapis, kemudian di atasnya diberi abu gosok atau sekam padi, demikian seterusnya sehingga yg paling atas adalah abu gosok atau sekam padi tersebut. Setelah 2-4 minggu lagi, bibit jahe tersebut sudah disemai.

Penyemaian pada bedengan : Buat rumah penyemaian sederhana ukuran 10 x 8 m utk menanam bibit 1 ton (kebutuhan jahe gajah seluas 1 ha). Di dalam rumah penyemaian tersebut dibuat bedengan dari tumpukan jerami setebal 10 cm. Rimpang bakal bibit disusun pada bedengan jerami lalu ditutup jerami, dan di atasnya diberi rimpang lalu diberi jerami pula, demikian seterusnya, sehingga didapatkan 4 susunan lapis rimpang dengan bagian atas berupa jerami.

Perawatan bibit pada bedengan dapat dilakukan dengan penyiraman setiap hari dan sesekali disemprot dengan fungisida. Setelah 2 minggu, biasanya rimpang sudah bertunas. Bila bibit bertunas dipilih agar tidak terbawa bibit berkualitas rendah..Bibit hasil seleksi itu dipatah-patahkan dengan tangan dan setiap potongan memiliki 3-5 mata tunas & beratnya 40-60 gram.

Penyiapan Bibit Jahe : Sebelum ditanam, bibit harus dibebaskan dari ancaman penyakit dengan cara bibit tersebut dimasukkan ke dalam karung & dicelupkan ke dalam larutan fungisida sekitar 8 jam. Kemudian bibit dijemur 2-4 jam, barulah ditanam.

Pengolahan Media Tanam
Persiapan Lahan : Untuk mendapatkan hasil panen yg optimal harus diperhatikan syarat-syarat tumbuh yg dibutuhkan tanaman jahe. Bila keasaman tanah yg ada tidak sesuai dengan keasaman tanah yg dibutuhkan tanaman jahe, maka harus ditambah atau dikurangi keasaman dengan kapur.

Pembukaan Lahan : Pengolahan tanah diawali dengan dibajak sedalam kurang lebih dari 30 cm dengan tujuan utk mendapatkan kondisi tanah yg gembur atau remah dan membersihkan tanaman pengganggu. Setelah itu tanah dibiarkan 2-4 minggu agar gas-gas beracun menguap serta bibit penyakit dan hama akan mati terkena sinar matahari. Apabila pada pengolahan tanah pertama dirasakan belum juga gembur, maka dapat dilakukan pengolahan tanah yg kedua sekitar 2-3 minggu sebelum tanam dan sekaligus diberikan pupuk kandang dengan dosis 1.500-2.500 kg.

Pembentukan Bedengan : Pada daerah-daerah yg kondisi air tanahnya jelek dan sekaligus utk mencegah terjadinya genangan air, sebaiknya tanah diolah menjadi bedengan-bedengan engan ukuran tinggi 20-30 cm, lebar 80-100 cm, sedangkan anjangnya disesuaikan dengan kondisi lahan.

Pengapuran : Pada tanah dengan pH rendah, sebagian besar unsur-unsur hara didalamnya, Terutama fosfor (p) & calcium (Ca) dalam keadaan tidak tersedia atau sulit diserap. Kondisi tanah yg masam ini dapat menjadi media perkembangan beberapa cendawan penyebab penyakit fusarium sp & pythium sp. Pengapuran juga berfungsi menambah unsur kalium yg sangat diperlukan tanaman utk mengeraskan bagian tanaman yg berkayu, merangsang pembentukan bulu-bulu akar, mempertebal dinding sel buah & merangsang pembentukan biji.

Derajat keasaman < 4 (paling asam): kebutuhan dolomit > 10 ton/ha.
Derajat keasaman 5 (asam): kebutuhan dolomit 5.5 ton/ha.
Derajat keasaman 6 (agak asam): kebutuhan dolomit 0.8 ton/ha.

Teknik Penanaman Jahe.
Penentuan Pola Tanaman : Pembudidayaan jahe secara monokultur pada suatu daerah tertentu memang dinilai cukup rasional, karena mampu memberikan produksi & produksi tinggi. Namun di daerah, pembudidayaan tanaman jahe secara monokultur kurang dapat diterima karena selalu menimbulkan kerugian. Penanaman jahe secara tumpangsari dengan tanaman lain mempunyai keuntungan-keuntungan sebagai berikut:

  • Mengurangi kerugian yg disebabkan naik turunnya harga.
  • Menekan biaya kerja, seperti: tenaga kerja pemeliharaan tanaman.
  • Meningkatkan produktivitas lahan.
  • Memperbaiki sifat fisik dan mengawetkan tanah akibat rendahnya pertumbuhan gulma (tanaman pengganggu). Praktek di lapangan, ada jahe yg ditumpangsarikan dengan sayur-sayuran, seperti ketimun, bawang merah, cabe rawit, buncis & lain-lain. Ada juga yg ditumpangsarikan dengan palawija, seperti jagung, kacang tanah & beberapa kacang-kacangan lainnya.
Pembutan Lubang Tanam : utk menghindari pertumbuhan jahe yg jelek, karena kondisi air tanah yg buruk, maka sebaiknya tanah diolah menjadi bedengan-bedengan. Selanjutnya buat lubang-lubang kecil atau alur sedalam 3-7,5 cm utk menanam bibit.

Cara Penanaman : Cara penanaman dilakukan dengan cara melekatkan bibit rimpang secara rebah ke dalam lubang tanam atau alur yg sudah disiapkan.

Perioda Tanam : Penanaman jahe sebaiknya dilakukan pada awal musim hujan sekitar bulan September dan Oktober. Hal ini dimungkinkan karena tanaman muda akan membutuhkan air cukup banyak utk pertumbuhannya.

Pemeliharaan Tanaman
Penyulaman : Sekitar 2-3 minggu setelah tanam, hendaknya diadakan utk melihat rimpang yg mati. Bila demikian harus segera dilaksanakan penyulaman agar pertumbuhan bibit sulaman itu tidak jauh tertinggal dengan tanaman lain, maka sebaiknya dipilih bibit rimpang yg baik serta pemeliharaan yg benar.

Penyiangan : Penyiangan pertama dilakukan ketika tanaman jahe berumur 2-4 minggu kemudian dilanjutkan 3-6 minggu sekali. Tergantung pada kondisi tanaman pengganggu yg tumbuh. Namun setelah jahe berumur 6-7 bulan, sebaiknya tidak perlu dilakukan penyiangan lagi, sebab pada umur tersebut rimpangnya mulai besar..

Pembubunan : Tanaman jahe memerlukan tanah yg peredaran udara dan air dapat berjalan dengan baik, maka tanah harus digemburkan. Disamping itu tujuan pembubunan utk menimbun rimpang jahe yg kadang-kadang muncul ke atas permukaan tanah. Apabila tanaman jahe masih muda, cukup tanah dicangkul tipis di sekeliling rumpun dengan jarak kurang lebih 30 cm.

Pada bulan berikutnya dapat diperdalam dan diperlebar setiap kali pembubunan akan berbentuk gubidan dan sekaligus terbentuk sistem pengairan yg berfungsi utk menyalurkan kelebihan air. Pertama kali dilakukan pembumbunan pada waktu tanaman jahe berbentuk rumpun yg terdiri atas 3-4 batang semu, umumnya pembubunan dilakukan 2-3 kali selama umur tanaman jahe. Namun tergantung kepada kondisi tanah dan banyaknya hujan.

Pemupukan : Pemupukan Organik : Pada pertanian organik yg tidak menggunakan bahan kimia termasuk pupuk buatan & obat-obatan, maka pemupukan secara organik yaitu dengan menggunakan pupuk kompos organik atau pupuk kandang dilakukan lebih sering disbanding kalau kita menggunakan pupuk buatan. Adapun pemberian pupuk kompos organik ini dilakukan pada awal pertanaman pada saat pembuatan guludan sebagai pupuk dasar sebanyak 60 – 80 ton per hektar yg ditebar dan dicampur tanah olahan.

Untuk menghemat pemakaian pupuk kompos dapat juga dilakukan dengan jalan mengisi tiap-tiap lobang tanam di awal pertanaman sebanyak 0.5 – 1kg per tanaman. Pupuk sisipan selanjutnya dilakukan pada umur 2 – 3 bulan, 4 – 6 bulan, & 8 – 10 bulan. Adapun dosis pupuk sisipan sebanyak 2 – 3 kg per tanaman. Pemberian pupuk kompos ini biasanya dilakukan setelah kegiatan penyiangan & bersamaan dengan kegiatan pembubunan.

Pemupukan Konvensional : Selain pupuk dasar (pada awal penanaman), tanaman jahe perlu diberi pupuk susulan kedua (pada saat tanaman berumur 2-4 bulan). Pupuk dasar yg digunakan adalah pupuk organik 15-20 ton/ha. Pemupukan tahap kedua digunakan pupuk kandang & pupuk buatan (urea 20 gram/pohon; TSP 10 gram/pohon; dan ZK 10 gram/pohon), serta K2O (112 kg/ha) pada tanaman yg berumur 4 bulan. Pemupukan juga dilakukan dengan pupuk nitrogen (60 kg/ha), P2O5 (50 kg/ha), dan K2O (75 kg/ha).

Pupuk P diberikan pada awal tanam, pupuk N dan K diberikan pada awal tanam (1/3 dosis) dan sisanya (2/3 dosis) diberikan pada saat tanaman berumur 2 bulan & 4 bulan. Pupuk diberikan dengan ditebarkan secara merata di sekitar tanaman atau dalam bentuk alur dan ditanam di sela-sela tanaman.

Pengairan dan Penyiraman : Tanaman Jahe tidak memerlukan air yg terlalu banyak utk pertumbuhannya, akan tetapi pada awal masa tanam diusahakan penanaman pada awal musim hujan sekitar bulan September;

Waktu Penyemprotan Pestisida : Penyemprotan pestisida sebaiknya dilakukan mulai dari saat penyimpanan bibit yg utk disemai dan pada saat pemeliharaan. Penyemprotan pestisida pada fase pemeliharaan biasanya dicampur dengan pupuk organik cair atau vitamin-vitamin yg mendorong pertumbuhan jahe.

Hama Tanaman Jahe
Hama yg dijumpai pada tanaman jahe adalah:
Kepik, menyerang daun tanaman hingga berlubang-lubang.
Ulat penggesek akar, menyerang akar tanaman jahe hingga menyebabkan tanaman jahe menjadi kering dan mati. Kumbang.

Penyakit Tanaman Jahe
Penyakit layu bakeri
Gejala: Mula-mula helaian daun bagian bawah melipat dan menggulung kemudian terjadi perubahan warna dari hijau menjadi kuning dan mengering. Kemudian tunas batang menjadi busuk dan akhirnya tanaman mati rebah. Bila diperhatikan, rimpang yg sakit itu berwarna gelap dan sedikit membusuk, kalau rimpang dipotong akan keluar lendir berwarna putih susu sampai kecoklatan. Penyakit ini menyerang tanaman jahe pada umur 3-4 bulan dan yg paling berpengaruh adalah faktor suhu udara yg dingin, genangan air dan kondisi tanah yg terlalu lembab.

Pengendalian: Jaminan kesehatan bibit jahe; karantina tanaman jahe yg terkena penyakit; pengendalian dengan pengolahan tanah yg baik; pengendalian fungisida dithane M-45 (0,25%), Bavistin (0,25%).

Penyakit busuk rimpang
Penyakit ini dapat masuk ke bibit rimpang jahe melalui lukanya. Ia akan tumbuh dengan baik pada suhu udara 20-25 derajat C dan terus berkembang akhirnya menyebabkan rimpang menjadi busuk.

Gejala: Daun bagian bawah yg berubah menjadi kuning lalu layu & akhirnya tanaman mati.
Pengendalian:

  • Penggunaan bibit yg sehat;
  • Penerapan pola tanam yg baik;
  • Penggunaan fungisida.
  • Penyakit bercak daun
  • Penyakit ini dapat menular dengan bantuan angin, akan masuk melalui luka maupun tanpa luka.
Gejala: Pada daun yg bercak-bercak berukuran 3-5 mm, selanjutnya bercak-bercak itu berwarna abu-abu dan ditengahnya terdapat bintik-bintik berwarna hitam, sedangkan pinggirnya busuk basah. Tanaman yg terserang bisa mati.

Pengendalian: baik tindakan pencegahan maupun penyemprotan penyakit bercak daun sama halnya dengan cara-cara yg dijelaskan di atas.

Gulma
Gulma potensial pada pertanaman temu lawak adalah gulma kebun antara lain adalah rumput teki, alang-alang, ageratum, & gulma berdaun lebar lainnya.

Pengendalian hama/penyakit secara organik
Dalam pertanian organik yg tidak menggunakan bahan-bahan kimia berbahaya melainkan dengan bahan-bahan yg ramah lingkungan biasanya dilakukan secara terpadu sejak awal pertanaman utk menghindari serangan hama dan penyakit tersebut yg dikenal dengan PHT (Pengendalian Hama Terpadu) yg komponennya adalah sbb:

Mengusahakan pertumbuhan tanaman yg sehat yaitu memilih bibit unggul yg sehat bebas dari hama dan penyakit serta tahan terhadap serangan hama dari sejak awal pertanaman.
Memanfaatkan semaksimal mungkin musuh-musuh alami.
Menggunakan varietas-varietas unggul yg tahan terhadap serangan hama dan penyakit.
Menggunakan pengendalian fisik/mekanik yaitu dengan tenaga manusia.

Menggunakan teknik-teknik budidaya yg baik misalnya budidaya tumpang sari dengan pemilihan tanaman yg saling menunjang, serta rotasi tanaman pada setiap masa tanamnya utk memutuskan siklus penyebaran hama dan penyakit potensial.

Penggunaan pestisida, insektisida, herbisida alami yg ramah lingkungan dan tidak menimbulkan residu toksik baik pada bahan tanaman yg dipanen ma maupun pada tanah. Disamping itu penggunaan bahan ini hanya dalam keadaan darurat berdasarkan aras kerusakan ekonomi yg diperoleh dari hasil pengamatan.
Beberapa tanaman yg dapat dimanfaatkan sebagai pestisida nabati dan digunakan dalam pengendalian hama antara lain adalah:

Tembakau (Nicotiana tabacum) yg mengandung nikotin utk insektisida kontak sebagai fumigan atau racun perut. Aplikasi utk serangga kecil misalnya Aphids.

Piretrum (Chrysanthemum cinerariaefolium) yg mengandung piretrin yg dapat digunakan sebagai insektisida sistemik yg menyerang urat syaraf pusat yg aplikasinya dengan semprotan. Aplikasi pada serangga seperti lalat rumah, nyamuk, kutu, hama gudang, dan lalat buah.

Tuba (Derris elliptica & Derris malaccensis) yg mengandung rotenone utk insektisida kontak yg diformulasikan dalam bentuk hembusan dan semprotan.

Neem tree atau mimba (Azadirachta indica) yg mengandung azadirachtin yg bekerjanya cukup selektif. Aplikasi racun ini terutama pada serangga penghisap seperti wereng & serangga pengunyah seperti hama penggulung daun (Cnaphalocrocis medinalis). Bahan ini juga efektif utk menanggulangi serangan virus RSV, GSV dan Tungro.

Bengkuang (Pachyrrhizus erosus) yg bijinya mengandung rotenoid yaitu pakhirizida yg dapat digunakan sebagai insektisida dan larvasida.

Jeringau (Acorus calamus) yg rimpangnya mengandung komponen utama asaron dan biasanya digunakan utk racun serangga dan pembasmi cendawan, serta hama gudang Callosobrocus.

PANEN

Ciri - ciri dan Umur Panen Jahe: Pemanenan dilakukan tergantung dari penggunaan jahe itu sendiri. Bila kebutuhan utk bumbu penyedap masakan, maka tanaman jahe sudah bisa ditanam pada umur kurang lebih 4 bulan dengan cara mematahkan sebagian rimpang dan sisanya dibiarkan sampai tua. Apabila jahe utk dipasarkan maka jahe dipanen setelah cukup tua.

Umur tanaman jahe yg sudah bisa dipanen antara 10-12 bulan, dengan ciri-ciri warna daun berubah dari hijau menjadi kuning dan  batang semua mengering. Misal tanaman jahe gajah akan mengering pada umur 8 bulan dan akan berlangsung selama 15 hari atau lebih.

Cara Panen : Cara panen yg baik, tanah dibongkar dengan hati-hati menggunakan alat garpu atau cangkul, diusahakan jangan sampai rimpang jahe terluka. Selanjutnya tanah dan  kotoran lainnya yg menempel pada rimpang dibersihkan dan bila perlu dicuci. Sesudah itu jahe dijemur di atas papan atau daun pisang kira-kira selama 1 minggu. Tempat penyimpanan harus terbuka, tidak lembab dan  penumpukannya jangan terlalu tinggi melainkan agak disebar.

Periode Panen : Waktu panen sebaiknya dilakukan sebelum musim hujan, yaitu diantara bulan Juni – Agustus. Saat panen biasanya ditandai dengan mengeringnya bagian atas tanah. Namun demikian apabila tidak sempat dipanen pada musim kemarau tahun pertama ini sebaiknya dilakukan pada musim kemarau tahun berikutnya. Pemanenan pada musim hujan menyebabkan rusaknya rimpang & menurunkan kualitas rimpang sehubungan dengan rendahnya bahan aktif karena lebih banyak kadar airnya.

Perkiraan Hasil Panen : Produksi rimpang segar utk klon jahe gajah berkisar antara 15-25 ton/hektar, sedangkan utk klon jahe emprit atau jahe sunti berkisar antara 10-15 ton/hektar.

PASCAPANEN

Penyortiran Basah dan Pencucian : Sortasi pada bahan segar dilakukan utk memisahkan rimpang dari kotoran berupa tanah, sisa tanaman, dan gulma. Setelah selesai, timbang jumlah bahan hasil penyortiran dan tempatkan dalam wadah plastik utk pencucian. Pencucian dilakukan dengan air bersih, jika perlu disemprot dengan air bertekanan tinggi.

Amati air bilasannya dan jika masih terlihat kotor lakukan pembilasan sekali atau dua kali lagi. Hindari pencucian yg terlalu lama agar kualitas dan senyawa aktif yg terkandung didalam tidak larut dalam air. Pemakaian air sungai harus dihindari karena dikhawatirkan telah tercemar kotoran dan banyak mengandung bakteri/penyakit. Setelah pencucian selesai, tiriskan dalam tray/wadah yg belubang-lubang agar sisa air cucian yg tertinggal dapat dipisahkan, setelah itu tempatkan dalam wadah plastik/ember.

Perajangan : Jika perlu proses perajangan, lakukan dengan pisau stainless steel dan alasi bahan yg akan dirajang dengan talenan. Perajangan rimpang dilakukan melintang dengan ketebalan kira-kira 5 mm – 7 mm. Setelah perajangan, timbang hasilnya dan taruh dalam wadah plastik/ember. Perajangan dapat dilakukan secara manual atau dengan mesin pemotong.

Pengeringan : Pengeringan dapat dilakukan dengan 2 cara, yaitu dengan sinar matahari atau alat pemanas/oven. pengeringan rimpang dilakukan selama 3 - 5 hari, atau setelah kadar airnya dibawah 8%. pengeringan dengan sinar matahari dilakukan diatas tikar atau rangka pengering, pastikan rimpang tidak saling menumpuk. Selama pengeringan harus dibolak-balik kira-kira setiap

4 jam sekali agar pengeringan merata. Lindungi rimpang tersebut dari air, udara yg lembab & dari bahan-bahan disekitarnya yg bisa mengkontaminasi. Pengeringan di dalam oven dilakukan pada suhu 50 ° C - 60 ° C. Rimpang yg akan dikeringkan ditaruh di atas tray oven dan pastikan bahwa rimpang tidak saling menumpuk. Setelah pengeringan, timbang jumlah rimpang yg dihasilkan.

Penyortiran Kering : Selanjutnya lakukan sortasi kering pada bahan yg telah dikeringkan dengan cara memisahkan bahan-bahan dari benda-benda asing seperti kerikil, tanah atau kotoran-kotoran lain. Timbang jumlah rimpang hasil penyortiran ini (untuk menghitung rendemennya).

Pengemasan : Setelah bersih, rimpang yg kering dikumpulkan dalam wadah kantong plastik atau karung yg bersih dan kedap udara (belum pernah dipakai sebelumnya). Berikan label yg jelas pada wadah tersebut, yg menjelaskan nama bahan, bagian dari tanaman bahan itu, nomor/kode produksi, nama/alamat penghasil, berat bersih dan metode penyimpanannya.

Penyimpanan : Kondisi gudang harus dijaga agar tidak lembab & suhu tidak melebihi 30 ° C dan gudang harus memiliki ventilasi baik dan lancar, tidak bocor, terhindar dari kontaminasi bahan lain yg menurunkan kualitas bahan yg bersangkutan, memiliki penerangan yg cukup (hindari dari sinar matahari langsung), serta bersih dan terbebas dari hama gudang. 


Info Menyesatkan Tentang Jahe Gajah dan Info Yang Realistis

Pertama Tentang Panen Jahe 100 ton per hektar

Secara genetik tidak ada jahe di Indonesia, atau bahkan di dunia yang potensi produksinya bisa setinggi itu. Potensi genetik ini adalah batasan dari 'sono'nya. Kenyataan dilapangan tidak ada yang melebihi potensi ini, umumnya selalu di bawah potensi produksinya. Produksi jahe paling top yang pernah saya baca di China hanya pol di angka 88 ton per ha. Itu cuma dari satu jurnal. Jurnal-jurnal yang lain jauh di bawah itu, kebanyakan di bawah angka 60 ton per ha. Rata-ratanya di bawah lagi, 30-40 ton pe ha. Ini di China dan India, dua negra produsen jahe paling top di dunia. Di Indonesia, menurut data dari BPS dan Deptan (Silahkan di googling sendiri), produksi di lapangan yang paling bagus adalah 27 ton per ha, ada yang melaporkan sampai 30 ton per ha. Menurut Balitro, potensi produksinya kurang lebih 35 ton per ha untuk jahe gajah. Jahe emprit dan jahe merah cuma 1/3 sampai 1/2-nya saja. Di Indoensia belum ada varietas jahe yang potensi produksinya sangat-sangat tinggi melebihi potensi produksi varietas jahe dari China atau India. Mengapa angka-angka itu menyesatkan? Karena kalau dihitung potensi produksinya akan jauh di atas angka-angka potensi produksi jahenya. Misalkan saja, untuk produksi jahe 20 kg per polybag. Kalau dikalikan per ha, kurang lebih setara dengan 120 ton per ha. Kalau ada yang bilang satu tunas satu polybag bisa keluar 10 kg, berarti satu hanya hampir 200 ton. INI MUSTAHIL. Petani-petani yang sudah beberapa kali panen dengan sistem polybag menyampaikan jika satu polybag bisa dapat 3 kg sudah bagus sekali. Kalau bisa dapat 5 kg per polybag masih bisa dinalar, karena per hanya sekitar 30 ton. NORMAL. Kebanyakan petani mengeluhkan jika per polybag cuma dapat 1,2 kg atau bahkan ada yang kurang dari 1 kg. 


Kedua Tentang Panen Jahe 10 Kg per polybag

Produksi jahe bisa diperkirakan dari hara yang diserap oleh tanaman jahe sampai produksi. Sudah banyak penelitian yang menghitung berapa banyaknya hara tanaman yang dibutuhkan untuk panen 1000 rimpang jahe segar. Silahkan baca di link ini: Pola Makan Tanaman Jahe. Bisa dihitung kok berapa kebutuhan hara NPK untuk bisa panen 10 kg, 20 kg per polybag atau 120 ton per ha. Ini baru kebutuhan, belum aplikasi riil di lapangan. Laporan di China, untuk bisa panen 50 ton per ha, dibutuhkan pupuk urea sebanyak 1 ton. Buanyak banget kan. Nah, kalau dihitung jumlah hara yang terkandung di dalam media tanam jahe, plus pupuk cair yang disemprotkan ke tanaman jahe, nilainya jauh di bawah jahe yang bisa dipanen. Hara NPK yang ada di dalam media tanam tidak bisa seluruhnya diserap oleh tanaman jahe, hanya sebagian kecil saja. JADI SANGAT TIDAK MUNGKIN SATU POLYBAG UKURAN 60 CM X 60 CM BISA PANEN 20 KG. 


Ketiga Tentang Hasil Panen Yang Wajar

Masalah hama dan penyakit jahe. Budidaya semua tanaman tidak ada yang bisa bebas dari serangan hama dan penyakit. Apalagi jahe gajah adalah tanaman jahe yang sangat rentan terhadap serangan penyakit, terutama penyakit bercak daun dan busuk rimpang. Lebih-lebih budidaya jahe gajah tidak bisa menggunakan pestisida kimia. Serangan hama dan penyakit menjadi salah satu tantangan terberat petani jahe, khususnya jahe gajah. Serangan hama dan penyakit ini bisa membuat gagal panen atau mengecilkan produksi jahe.

HASIL PANEN YANG WAJAR Hasil penen jahe yang wajar menurut saya adalah 20-30 ton per ha untuk jahe gajah. Target produksi yang lebih tinggi, misal: 40 - 50 ton per ha, masih memungkinkan dengan menggunakan varietas baru jahe yang potensi sangat tinggi. Untuk jahe merah dan jahe emprit dapat 10 - 15 ton per ha sudah bagus. Hasil panen per polybag untuk jahe gajah dapat 3 kg sudah bagus, kalau bisa dapat 5 kg per polybag perlu upaya keras dan pemupukan yang baik, selain bebas hama dan penyakit. Hasil panen jahe kecil (merah dan emprit) dapat 1,3 kg sudah bagus. Dari angka-angka ini, petani jahe bisa menghitung berapa potensi pendapatannya dengan harga pasar yang wajar. Petani jahe juga bisa mengatur pengeluaran biaya-biaya untuk budidaya jahe ini.

Referensi:
www.kompasiana.com,  http://www.kompasiana.com/abimosaurus
https://budidayajahegajah.wordpress.com/
http://holikulanwar.blogspot.com

loading...

FOLLOW and JOIN to Get Update!

Social Media Widget SM Widgets




Peternakan dan Herbal Updated at: 07:24
Copyright@2014-2016. www.AgrobisnisInfo.com . Powered by Blogger.