loading...

Focus Group Discussion, Memajukan Industri Sapi Potong Nasional

Posted by


Ikatan Sarjana Peternakan Indonesia (ISPI) menyoroti relevansi swasembada sapi dan isu penggunaan zat kimia berbahaya beta agonist 2 (BA2) pada penggemukan sapi.




Ketua Pengurus Besar (PB) ISPI Prof Ali Agus menyatakan pertumbuhan penduduk dan meningkatnya jumlah midleup class membuat meningkatnya permintaan daging sapi dan sumber protein hewani lainnya. “Untuk mencukupi kebutuhan daging sapi yang pasti akan terus meningkat itu perlu roadmap pembangunan sapi potong Indonesia yang jelas,”ungkapnya pada Focus Group Discussion (FGD) dan Animal Production Press Club “Memajukan Industri Sapi Potong Nasional” di Hotel Park Cawang – Jakarta pada 10/6.

Menurut Ali Agus, langkah yang lebih memungkinkan untuk dilakukan pemerintah adalah swasembada protein hewani dan tidak relevan swasembada sapi. Sebab kata dia, swasembada sapi membutuhkan waktu lama. Protein hewani pun bisa dicukupi dengan sumber-sumber protein lain seperti daging unggas.

Unggas merupakan alternatif pilihan yang sudah swasembada sehingga keterlibatan pemerintah didalamnya minim. Swasta sudah mengembangkan perunggasan lebih maju baik dari pembibitan, tata laksana budidaya hingga pemasarannya.

Agroindustri sapi, urai Ali Agus, masih menemui jalan buntu pada penyediaan bibit, sistem produksi dan pemasarannya. Solusi untuk hal ini adalah dengan mengkombinasikan konsep kelompok tani dengan penerapan praktek industri dan penerapan teknologi sehingga efisiensi produksi dapat tercapai.

Isu BA2
Isu Beta Agonist 2 dan salbutamol yang belakangan marak diakibatkan dari desakan kebutuhan yang kian meninggi dari tahun ke tahun.  Salah satu cara untuk menggenjot pertumbuhan sapi adalah menggunakan additif BA2 dalam pakan sapi. “Cara tersebut tidak aman dan melanggar undang-undang,” tegas Ali Agus.

Sayangnya, kata Ali hasil uji laboratorium yang dilakukan pemerintah masih bervariasi dan belum bisa diandalkan. “Maka perlu pemerintah melengkapi laboratorium uji dengan peralatan yang mampu mendeteksi keberadaan BA2 seperti alat untuk uji HPLC yang dimiliki Singapura,” sarannya.

Pada konferensi pers, Ali menyatakan tahu seluk beluk pengujian BA2 ini. Ia menceritakan teknik pengujian kasus ini menjadi salah satu disertasi doktor peternakan. "Dan saya menjadi salah satu pengujinya pada tahun 1990 an," terang Ali.

Ali mengingatkan, pengujian kandungan zat berbahaya pada pakan yang digunakan industri feetloter butuh akurasi tinggi. Prosedur dan metode analisis menentukan akurasi hasilnya. "Sampel sama,kalau metode pengujiannya berbeda maka hasilnya akan berbeda. Jadi, perlu akurasi sampling. Karena dosisnya sangat kecil," kata Dekan Fakultas Peternakan UGM ini.

Ali menyatakan pencegahan pelanggaran penggunaan BA2 dan salbutamol dapat dilakukan dengan melibatkan pengawas mutu pakan dan asosiasi profesi untuk melakukan audit pakan di pabrik pakan dengan konsumenumum maupun pabrik pakan dengan konsumen terbatas. Audit pakan yang transparan dan akuntabel menciptakan rasa aman bagi konsumen.

Terkait pemasukan jerohan (sapi) impor, Ali menegaskan perlunya pemerintah harus memperketat pengawasan dan pencegahan. Menurutnya ada sinyalemen masih masuknya jeroan impor dalam jumlah yang masif. “Kekhawatiran utama dari jeroan impor adalah kehalalannya yang jelas diragukan,” jelasnya.(Trobos.com)

loading...

FOLLOW and JOIN to Get Update!

Social Media Widget SM Widgets




Peternakan dan Herbal Updated at: 23:38
Copyright@2014-2016. www.AgrobisnisInfo.com . Powered by Blogger.