loading...

Buah Pinang, Obat Cacing Alami Yang Ampuh Untuk Ternak

Posted by

Penyakit cacingan pada pedet merupakan penyakit yang paling sering menyerang dan salah satu yang paling merugikan peternak. Banyak obat cacing yang beredar saat ini yang diproduksi pabrik, tetapi kadang jangkauan obat ini tidak sampai ke pelosok-pelosok pedesaan apalagi daerah-daerah terpencil. Untuk mengatasi serangan cacing ini, alternatifnya adalah menggunakan obat tradisional yaitu ramuan tradisional dengan buah Pinang ( Areca catechu L).


Bagi masyarakat yang sering memanfaatkannya, pinang dikenal sebagai stimulansia yang dicampur dengan sirih dan kapur atau terkadang dicampur tembakau.  Tetapi bagi peternak atau mereka yang berkecimpung di bidang peternakan walaupun belum dikenal secara meluas, pinang sangat besar khasiatnya, karena kandungan zat kimianya yang dapat digunakan untuk mengobati ternak yang sakit. (Naipospos, TSP. 2007)

Umumnya di Indonesia dengan sistem usaha peternakan yang masih bersifat tradisional, sebagian besar waktu ternak diumbar di pekarangan atau sekeliling rumah.  Pada ayam buras misalnya, sebagian besar faktor penyebab terjangkitnya penyakit disebabkan oleh bakteri, virus atau parasit.  Cacing adalah salah penyakit pada ayam buras yang disebabkan oleh parasit yaitu cacing gelang (Ascaradia galli) yang menyebabkan askariasis, sedangkan pada ternak ruminansia seperti cacing hati (fasciola hepatica)

Kerugian menyebabkan kematian pedet umur 2 bulan ke atas yang sangat tinggi
  • Parasit yang paling banyak ditemukan meliputi Neoascaris vitulorum, Trichostrongylus, Ostertagia, Nematodirus, bunostomum dan Haemonchus contortus
  • Pneumonia verminosa, disebabkan oleh cacing Dictyocaulus viviparus. Pedet yang terserang terbanyak berumur 4-5 bulan keatas
  • Kerugian ekonomis yang ditimbulkan akibat parasit cacing tersebut adalah pengurangan pertambahan bobot badan harian (average daily gain = ADG) mencapai 0,1 kg per hari,
  • Penurunan status reproduksi (calving interval menjadi lebih panjang), serta kematian pedet maupun sapi muda.
  • Kerugian  ekonomi   akibat fasciola  berupa penurunan berat badan dan karkas, produksi susu, gangguan reproduksi hingga kematian. Beberapa usaha pencegahan berupa pemusnahan hospes intermedier (siput) dan rotasi penggembalaan telah dilakukan. Hal tersebut sangat sulit dan tidak efektif dilakukan di Indonesia karena peternak umumnya hanya memiliki sedikit hewan (1-5 ekor) dan kurangnya lahan rumput untuk penggembalaan.
  • Kerugian ekonomi yang disebabkan oleh Fasciola diperkirakan sekitar 153,6 milyar rupiah setiap tahunnya (Anonim, 1990). Kerugian ekonomi tersebut berupa kerusakan hati, kekurusan, dan penurunan tenaga kerja pada sapi/kerbau yang terinfeksi.
Parasitisme internal ini mempengaruhi produktivitas dan reproduktivitas sapi betina, menurunkan daya tahan terhadap penyakit dan merupakan penyebab signifikan kematian pedet.

Cacing merupakan endoparasit yang sering menyerang manusia dan ternak, danAscaradia galli termasuk dalam klas Nematoda yang hidup dalam saluran pencernaan tepatnya pada dinding usus halus tubuh inangnya.  Kondisi yang seperti ini menyebabkan bahan makanan yang tercerna menjadi molekul-molekul yang lebih sederhana secara kompetitif diserap juga oleh cacing.  Oleh karena itu walaupun ternak mengkonsumsi pakan dalam  jumlah yang cukup, pertambahan bobot badannya sangat kecil sekali.

Gejala penyakit
Khusus pada ayam buras, jika terserang penyakit cacing penampilannya tampak pucat, lesu, kurus dengan sayap menggantung serta kondisi yang berangsur-angsur menurun hingga dapat menyebabkan terjadinya kematian.  Gejala akan jelas terlihat setelah dua minggu terjadinya infeksi, dan ini lebih banyak disebabkan karena larva cacing menembus dan merusak mukosa usus.  Infeksi ini dapat menurunkan daya tahan tubuh ayam sehingga mudah terserang penyakit lain sehingga dapat menyebabkan kematian. (Naipospos, TSP. 2007)

Pada ternak ruminansia seperti kambing, sapi dan kerbau penyakit cacingan muncul akibat infeksi parasit dalam yang ditimbulkan oleh cacing dengan gejala : nafsu makan yang bervariasi, gangguan pencernaan, turunnya kondisi (badan kurus), kulit kusam,bulu berdiri,  anemia, lapisan mukosa pucat, adanya kotoran di mata/belekan,  sembelit atau diare, batuk dengan gejala bronchitis kebengkakan di bawah rahang terus ke bagian perut.  Penyebabnya adalah cacing pita, cacing gelang (Neoascaris vitulorum), cacing lambung (Haemonchus contortus), dan cacing hati(Fasciola hepatica). (Naipospos, TSP. 2007)

PINANG (Areca catechu L)
Klasifikasi                                                      
·   Divisi                                :   Spermatophyta
·   Sub divisi                        :   Angiospermae
·   Kelas                               :   Monocotyledoneae
·   Bangsa                             :   Aracales
·   Suku                                  :   Palmae
·   Marga                               :   Areca
·   Jenis                                  :   Areca catechu L
       
 Nama umum/dagang:   PINANG

Kandungan kimia   :
Pinang sirih (Areca catechu Linn) merupakan jenis tanaman dengan nilai ekonomis tinggi dibandingkan jenis lainnya.  Penyebaran jenis pinang ini banyak terdapat di Pulau Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Nusa Tenggara Timur dan Papua.

Buah pinang sirih terdiri dari serat kulit yang membungkus bijinya.  Biji pinang mengandung berbagai macam zat kimia antara lain tannin (11,10%), alkaloid (0,56%), lemak (13,90%), air (11,5%), minyak atsiri dan sedikit gula.  Tanin, lemak dan alkaloid merupakan komponen yang memegang peranan penting dan utama.  Alkaloid yang terkandung dalam buah pinang berupa minyak basa keras yang disebut arekolin bersifat kolienergik yang berfungsi memberi efek penenang.  Senyawa inilah yang berguna dalam pengobatan penyakit askariasis pada ternak

Didalam buah pinang seperti Arecoline yang merupakan sebuah ester metil-tetrahidrometil-nikotinat yang berwujud minyak basa keras. Dulu, zat tersebut digunakan dalam bentuk arecolinum  hydrobromicum yang berfungsi untuk membasmi cacing pita pada hewan seperti unggas, kucing, dan anjing, sebelum ditemukannya obat cacing sintetik, seperti piperazine, tetramisole, dan pyrantel pamoate. 

Senyawa kimia  lainnya yang terkandung dalam biji pinang adalah Arecaidine atau arecaine, Choline atau bilineurine, Guvacine, Guvacoline, dan Tannin dari kelompok ester glukosa yang menggandeng beberapa gugusan pirogalol. Sifat astringent dan hemostatik dari zat tannin inilah yang berkhasiat untuk mengencangkan gusi dan menghentikan perdarahan. (Sihombing, 2010)

Khasiat dan kegunaan   :

Cara pengendalian penyakit yang paling mudah adalah dengan memutuskan siklus hidup cacing pada tahap telur.  Cara lain yaitu dengan membuang  feces atau kotoran ayam agak jauh dari areal pemeliharaan agar telur-telur cacing tidak masuk ke dalam tubuh.

Pengobatan pada ayam yang sakit ditujukan agar cacing yang berada dalam usus keluar bersama dengan telurnya juga menghindari infeksi cacing pada ayam.

Secara tradisional, pengobatan askariasis dapat dilakukan dengan menggunakan biji pinang sesuai dosis yang tepat. Pemberian 0,5 bagian biji pinang sirih ditambah 10 ml air dapat melumpuhkan cacing pada ternak kambing.  Sebaliknya pada ayam buras penggunaan biji pinang untuk mengobati askariasis dapat mengikuti anjuran menurut Suharsono (1994) sebagai berikut:

Umur ayam
Dosis pengobatan
1-3 bulan
0,125 bagian + 5 ml air
3-6 bulan
0,250 bagian + 7,5 ml air
> 6 bulan
0,500 bagian + 10 ml air

Ramuan   :

Dalam pengobatan ini biji pinang yang digunakan adalah biji yang tua dan kering dalam bentuk bubuk.  Pembuatan bubuk biji pinang dapat dilakukan sesuai dengan prosedur yaitu dosis biji pinang yang akan digunakan ditumbuk hingga halus, campurkan bubuk biji pinang dengan dosis air yang disarankan, pemberian dapat dilakukan dengan mencampurkan bubuk biji pinang dengan air minum setiap hari selama periode pengobatan. Namun ada cara lain yang bisa dilakukan yaitu dengan 2 gram serbuk dan biji Areca catechu L. diseduh dengan air matang panas ½ gelas, setelah dingin disaring. Hasil saringan diminum, biasanya larutan diberikan 1 bulan 1 kali untuk pemeliharaan. Untuk pengobatan larutan diberikan 1 kali sehari selama 2 - 3 hari dan biasanyaa cacing akan keluar dalam waktu 24-48 jam.

Biji buah pinang yang tua adalah obat cacing yang efektif, terutama terhadap cacing ascaris (kremi), baik pada manusia maupun hewan.  Bahan lain yang juga banyak dikenal adalah temu ireng (Curcuma phaeocaulis Val) dan daun papaya.  Peternak biasa membuat campuran kombinasi dari kedua bahan tersebut. Yang biasa dilakukan adalah membuat tumbukan biji buah pinang dicampur air dan diminumkan pada ternak

Di daerah-daerah yang jangkauan terhadap fasilitas kesehatan hewan masih jauh dari cukup , maka pemanfaatan tanaman obat yang banyak tersedia di sekitar kita akan sangat membantu mengobati ternak yang sakit.

Pustaka
Naipospos, TSP. 2007. Kesehatan Hewan Untuk Kesejahteraan Manusia. Bogor ;Civas Press
Sihombing, J. 2010. Pinang dan Khasiatnya. Volume 25, Nomor 4, 2010. Jurnal Biologi Kemasyarakatan. Medan : Unpress.
Suska, Damen. 2013, Kasus Cacingan Pada Ruminansia Sapi, Kambing, Domba dan Rusa. Diakses dari  http://info.medion.co.id. 5 April 2015.
Tim Dosen. 2013. Tinjauan Pustaka – Tanaman Pinang. Kupang. Nusa Tenggara Timur. Fakultas Peternakan : Universitas Nusa Cendana
Sumber artikel : http://bbppkupang.net, Drh. Berlian Natalia, BBPP Kupang – Nusa Tenggara Timur

loading...

FOLLOW and JOIN to Get Update!

Social Media Widget SM Widgets




Peternakan dan Herbal Updated at: 20:50
Copyright@2014-2016. www.AgrobisnisInfo.com . Powered by Blogger.