loading...

Berapa Besar Potensi SISKA? Sistem Integrasi Sapi dan Kelapa Sawit, Untuk Menaikkan Populasi Sapi di Indonesia

Posted by

Sistem pemeliharaan sapi di perkebunan kelapa sawit ditujukan untuk  mengefisienkan biaya breeding sapi. Seperti diketahui usaha breeding atau pembibitan sapi yang dirintis beberapa perusahaan peternakan besar seperti PT Santori yang bertempat di Lampung, kurang berhasil. Hal ini dikarenakan beban biaya breeding yang sangat besar terutama dari biaya pakan, disamping itu juga angka kematian atau mortality pedet yang tinggi juga menyumbang kerugian yang sangat signifikan.


Jika merujuk pada program pembibitan atau breeding di Australia, mereka melakukan breeding secara ekstensif dalam arti sapi-sapi indukan dibiarkan hidup di padang rumput secara bebas sehingga biaya pakan bisa sangat ditekan karena ternak sapi hanya makan dari rumput-rumput yang ada di padang rumput. Dan terbukti cara ini efektif, sehingga sampai saat ini Australia tetap menjadi eksportir sapi hidup terbesar ke Indonesia.

Sebagai upaya untuk "meniru" cara Australia yang membiarkan sapinya bebas dipadang rumput maka dipilihlah program Sawit-Sapi dimana sapi indukan dibiarkan hidup bebas di perkebunan kelapa sawit dengan sistem manajemen pemeliharaan tertentu, dengan membuat petak-petak penggembalaan di perkebunan sebagai cara menjaga kontinuitas rumput sebagai pakan utamanya.

Sementara produk sampingan dari industri kelapa sawit yang  sudah lama digunakan sebagai salah satu bahan baku ransum ternak sapi adalah bungkil sawit. Komposisi Nutrisi bungkil sawit :
  • Bahan kering 89%, 
  • Protein kasar 19%, 
  • Protein tercerna 74%, 
  • serat 13%, ME 12,2 M) / kg, 
  • Kalsium 0,30%
  • Phosphore 0,7 %.
Pelaku sawit diarahkan pemerintah untuk membantu pengadaan sapi potong lewat kebijakan integrasi sapi-sawit. Dari 1.500 perusahaan sawit, baru 15 perusahaan yang membudidayakan sapi di perkebunan. Penyebabnya, kekurangan bibit sapi dan bisnis  sapi potong dinilai belum menjanjikan. Seperti dikutip dari sawitindonesia.com, minimnya pasokan daging di dalam negeri membuat pemerintah harus berpikir keras untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Tidak seimbangnya suplai daging dengan permintaan menjadikan kegiatan impor terus berjalan tiap tahun. Kendala utama adalah tidak ada lahan skala luas yang sesuai dijadikan peternakan sapi. Salah satu program yang digalakkan pemerintah dengan mendorong pelaku usaha dan petani sawit untuk memelihara sapi potong. 

Rusman Heriawan, Wakil Menteri Pertanian, beberapa waktu lalu menjanjikan bantuan dan kemudahan kepada pelaku sawit yang berminat beternak sapi. Beberapa kemudahan tersebut seperti kemudahan izin impor. Pasalnya, impor sapi yang dilakukan beberapa perusahaan kelapa sawit menghadapi kendala lantaran belum ada payung hukum terkait impor sapi mereka. 

Pemberian insentif layak dipertimbangkan karena sedikitnya peminat integrasi sapi potong dan sawit semenjak tiga tahun terakhir. Baru 15 perusahaan kelapa sawit milik swasta dan pemerintah yang menyatakan berminat. Sebagian besar datang dari perusahaan perkebunan negara. Berdasarkan data Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian, BUMN yang menjadi peserta adalah PTPN I, II, III, IV, V, VI, VII, VIII dan PTPN XIII, dan PT Rajawali Nusantara Indonesia (RNI) area Sumatera dan Kalimantan.

Minat BUMN Perkebunan ini tidak terlepas dari instruksi Dahlan Iskan, Menteri BUMN. Sekitar dua tahun lalu, pria kelahiran Magetan ini, mencetuskan program pengembangan sapi di perkebunan sawit kepada perusahaan perkebunan negara. Ketika berkunjung di PT Perkebunan Nusantara (PT PN) VI) di Jambi, dia menjelaskan program ini sangat mulia karena dapat mengurangi angka kemiskinan di pedesaan lewat bantuan sapi dan bantuan pakan yang disediakan perusahaan. 

Caranya, perusahaan menyediakan kandang sebagai fasilitas tempat pemeliharaan sapi milik masyarakat. Sementara, pakan ternak sapi dapat diambil dari bungkil dan pelepah daun. Dua tahun lalu, dirinya menargetkan 100 ribu ekor sapi dapat dibudidayakan di perkebunan sawit milik perusahaan negara. Tetapi pada awal tahun ini, target ini dipangkas menjadi 20 ribu ekor. Dirinya mengakui perusahaan perkebunan kesulitan mencari anak sapi untuk menjadi bibit. 

Di sektor swasta, baru lima perusahaan kelapa sawit serius mengembangkan sapi. Mereka adalah PT Agricinal di Bengkulu Utara, PT Citra Borneo Indah, PT Medco Agro, PT
Bumitama Guna Jaya Agro di Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah, dan PT Buana Karya Bakti di Kalimantan Selatan.

Meski demikian, setiap perusahaan mempunyai motif berbeda-beda dalam pengembangan budidaya sapi. Sebagai contoh, PT Agricinal menyediakan sapi untuk dipelihara pekerjanya. Dengan tujuan memberikan pendapatan lebih kepada karyawan setiap bulan.Nelson Manurung, Pemilik PT Agricinal, mengakui pengembangan sapi di perkebunan sawit ditujukan menambah penghasilan tenaga kerja pemanen. Tujuan lainnya, kegiatan pemanenan lebih efisien dari pohon ke tempat pengumpulan hasil lewat penggunaan sapi. Sekarang ini, jumlah sapi di PT Agricinal mencapai 3.000 ekor.

“Program integrasi ini membantu perusahaan supaya tenaga pemanen betah bekerja di kebun sawit. Kalau punya kebun sawit sebaiknya pelihara sapi,” ujar Nelson.
PT Citra Borneo Indah melalui anak usahanya PT Sulung Ranch merintis program Sistem Integrasi Sapi-Kelapa Sawit (SISKA) semenjak 2006. Program ini meliputi kegiatan pembibitan dan penggemukan sapi. Beberapa waktu lalu, Dwi Hartanto, Ranch Manager PT Sulung Ranch, menjelaskan kegiatan pembibitan dijalankan lewat sistem semi intensif, caranya sapi digembalakan di kebun. Sapi yang dipelihara adalah sapi murni dan campura. Proses pengawasan memakai kawat beraliran listrik rendah sebagai pembatas. Aktivitas penggemukan memakai metode intensif dengan menempatkan sapi di kandang dan penyediaan pakan. Perusahaan menargetkan tahun 2015 akan mempunyai populasi sapi berjumlah 15 ribu ekor. 

Manfaat integrasi sapi-sawit ini, menurut Dwi Hartanto, dapat menekan biaya herbisida sebesar 30%. Herbisida merupakan produk kimia untuk pengendalian gulma di perkebunan sawit. Di sisi lain, biaya pakan sapi dapat dihemat sampai 80% karena memanfaatkan solid, pelepah dan bungkil sawit sebagai pakan sapi.

Syukur Iwantoro, Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian, menjelaskan pengembangan integrasi sapi-sawit membantu pekebun sawit untuk memanfaatkan limbah sawit dan gulma yang melimpah di kawasan perkebunan sebagai pakan sapi. Dan juga menyediakan pupuk bagi tanaman sawit dengan kotoran dan kencing sapi. 

Lebih lanjut, menurut Syukur Iwantoro, integrasi bisnis sawit dan peternakan meminimalisir biaya produksi. Selain, akan memberikan produk CPO yang optimal serta terjadi percepatan peningkatan populasi sapi dan ketersediaan daging sapi tanpa adanya penambahan luasan lahan.

Walaupun ada yang menerima penyatuan bisnis perkebunan dan peternakan. Adapula pelaku usaha yang tidak berminat mengembangkan sapi. Sumarjono Saragih, Komisaris Utama PT ZTE Agribusiness Indonesia, mengakui belum tertarik untuk memelihara sapi di perkebunannya. Untuk saat ini, perusahaan masih fokus kepada pengembangan sawit dulu. PT ZTE Agribusiness Indonesia adalah pemain baru di sektor kelapa sawit, yang mengelola lahan seluas 32 ribu hektare yang berlokasi di Sambas, Kalimantan Barat dan Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah. “Tapi tidak tertutup untuk kami melakukan integrasi sapi apabila SDM, teknis dan hitungan bisnisnya sudah menjanjikan,” ujar Sumarjono.

Sementara itu, Mona Surya, Direktur Minanga Grup masih mempertimbangkan pengembangan sapi di perkebunan karena baru saja meremajakan tanaman sawit yang berusia tua. Mengingat, perusahaan juga menanam tanaman penutup tanah (cover crop) karena dikhawatirkan sapi akan memakannya. Cover crop ini bertujuan meningkatkan produktivitas sawit lebih tinggi dan membantu perawatan.
“Biaya perawatan tanaman lebih murah dengan cover crop ini. Kalau sapi memakan cover crop kan sayang juga,” paparnya.

Tungkot Sipayung, Direktur Eksekutif Palm Oil Agribusiness Strategic Policy Institute, menjelaskan program integrasi sapi dengan sawit kalau itu menguntungkan tanpa disuruh juga masyarakat akan memelihara sapi. Sumber kerugian sapi bakalan terlalu mahal sama dengan harga sapi hidup siap potong apabila Average Daily Gain (ADG) atau rata-rata penambahan bobot sapi harian, terlalu rendah. ADG baru untung kalau mencapai rata- rata 1,5 kilogram per ekor per hari. 

“Integrasi sapi- sawit itu tidak menarik secara bisnis.Karena bisnis sapi baru dapat untung apabila dijual sampai kepada hilir atau karkas, bukannya sapi hidup,” ungkap Tungkot. 

Hambatan dalam pengelolaan bisnis ternak sapi adalah pemasaran kepada konsumen. Seperti dikatakan Muhammad Ghani, Sekretaris Perusahaan PT PN IV, kesulitan yang dihadapi berupa pemasaran daging sebab wilayah Medan dan sekitarnya tidak pernah kekurangan pasokan daging. Ini berarti, wilayah Sumatera Utara potensi daging masih mencukupi dalam pemenuhan kebutuhan daerahnya. 

“Program pemberdayaan ke depan lebih kepada peternak sekitar peternakan. Harapannya, lebih maju secara usaha tani dengan pendekatan CSR,” jelas Muhammad Ghani. Kalangan petani merespon baik pengembangbiakan sapi di perkebunan sawit. Mansuetus Darto, Ketua Serikat Petani Kelapa Sawit, menyatakan kelompok petani sawit di Tanjung Jabung Barat, Jambi sudah mulai pelihara sapi. Dari sekitar 80 ekor sapi yang ada, anggota SPKS di Tanjung Jabung Barat menggunakan kotoran sapi untuk pupuk kompos. Limbah urine sapi juga dijual dalam dalam bentuk literan.

Namun, pemerintah belum terlalu respon untuk integrasi sapi dan sawit dalam konteks produktifitas sementara petani sudah memulainya,” keluh Mansuetus dalam jawaban tertulis. Ditambahkan kembali, sebaiknya pemerintah perlu memfasilitasi pola teknologi untuk penggemukan sapi dan teknologi biogas. Karena itu, pemerintah harus mengarah kesana. Sedangkan untuk sapi potong itu hanya untuk penyediaan daging sebagai solusi atas impor daging sapi Australia.

Asmar Arsjad, Sekretaris Jenderal Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia, menyatakan keinginannya supaya petani dibantu benih dan teknologi inseminasi. Pasalnya, anggota mereka lebih berminat kepada pembibitan sapi bukan sapi potong. Memang, teknologi pembenihan sapi sangatlah mahal tetapi cukup berkesinambungan “Kalau sapi potong, itu cara pemerintah yang berpikir sesaat saja sudah gemuk dipotong lalu habis,” kata Asmar.

Syukur Iwantoro menyambut baik inistiatif petani kelapa sawit namun sebaiknya dimulai dari sapi potong dulu baru dilanjutkan kepada pengembangan sapi indukan. Jumlah total populasi sapi yang telah difasilitasi pemerintah untuk budidaya di perkebunan sawit sekitar 26.630 ekor. Namun, jumlah ini dapat jauh lebih banyak kalau ditambah dengan sapi dari masyarakat dan karyawan perkebunan sawit. 

Tungkot Sipayung meminta supaya pemerintah jangan memindahkan ketidakmampuannya dalam menyelenggarakan program swasembada daging sapi. Sebagai solusi, sebaiknya pemerintah membuat BUMN terintegrasi dari hulu (penghasil sapi bakalan), industri pakan, penggemuka sampai kepada jual karkas.

Hasil samping perkebunan kelapa sawit sebagai berikut :

1. Pelepah Daun Sawit  
Hasil pengamatan di PT. Agricinal menunjukkan bahwa setiap pohon kelapa sawit dapat menghasilkan 22 pelepah/tahun  dengan bobot pelepah per batang rata-rata 7 kg (Dwiyanto et al. 2004). 
Jumlah ini setara dengan 20.020 kg (22 pelepah x 130 pohon x 7 kg)  pelepah segar untuk setiap hektar dalam setahun. Total Bahan Kering (BK) pelepah yang dihasilkan dalam setahun mencapai 5.219 kg/ha (20.020 kg x 26,07%).  Jika diasumsikan kebutuhan BK ternak dengan bobot 300 kg adalah 9 kg (3 % x 300 kg), maka  kebutuhan BK selama 1 tahun  adalah 3.285 ton/ekor (9 kg x 365 hari). Jika pelepah daun sawit hanya boleh diberikan 50% dari suplai Hijauan Makanan Ternak (HMT), maka 1 hektar lahan kelapa sawit potensial dapat memenuhi kebutuhan 3 ekor sapi/tahun (5.219 kg / 3.285 kg / 50%). 
Tingkat kecernaan bahan kering pelepah dan daun kelapa sawit pada sapi mencapai 45%. Demikian pula daun kelapa sawit dapat digunakan sebagai sumber  atau pengganti pakan hijauan. Namun, adanya lidi pada pelepah daun kelapa sawit  akan menyulitkan ternak dalam mengkonsumsinya. Masalah tersebut dapat diatasi dengan perancangan alat pencacah yang tepat sehingga dapat diperoleh cacahan pelepah dan daun beserta lidi dengan ukuran 0,5 – 1 cm. PPKS telah berhasil memproduksi alat tersebut sehingga pemanfaatan pelepah daun kelapa sawit sebagai bahan pakan sapi dapat mencapai 70%. Pemberian pelepah kelapa sawit sebagai bahan pakan sapi dalam jangka panjang menghasilkan kualitas karkas yang baik (Balai Penelitian Ternak, 2003).  

2. Bungkil Inti Sawit
Bungkil Inti Sawit (BIS) adalah produk samping dari ekstraksi minyak inti sawit melalui proses kimiawi atau cara mekanik.  Rendemen bungkil inti sawit mencapai ± 50 % dari berat inti sawit.
Walaupun kandungan proteinnya agak baik tapi karena  serat  kasarnya tinggi dan palatabilitasnya rendah menyebabkan kurang cocok bagi ternak monogastrik dan lebih cocok pada ternak ruminansia.
Bungkil inti sawit merupakan produk samping yang berkualitas karena  mengandung protein kasar yang cukup tinggi 16  –  18%. Sementara kandungan  serat kasar mencapai 16 %. Pemanfaatannya perlu disertai produk samping kelapa sawit lainnya  untuk mengoptimalkan penggunaan bungkil inti sawit  bagi ternak. Bungkil inti sawit  dapat diberikan 30% dalam pakan sapi (Batubara et al, 1993).

3. Serat Perasan Buah Kelapa Sawit  (Ampas Pressan)
Serat perasan buah merupakan limbah yang diperoleh dari buah  dalam proses pemerasan. Limbah ini  biasa digunakan sebagai bahan bakar boiler di PMS dan abunya digunakan sebagai pupuk karena kaya akan unsur K. Sebagai bahan campuran  makanan ternak, serat perasan buah kelapa sawit ini cenderung cocok diberikan kepada ternak ruminansia (seperti sapi, kerbau), karena kandungan serat kasarnya dan ligninnya tinggi. Tingkat penggunaan serat perasan kelapa sawit dalam pakan sapi dan kerbau adalah 10 – 20 %, sedangkan untuk domba dan kambing 10 – 15 % (Jalaludin dan Hutagalung, 1982). 
Untuk sapi perah, serat perasan buah kelapa sawit dapat diberikan sebagai pengganti rumput disertai dengan pemberian  molases, urea, mineral dan vitamin. 
Serat perasan buah kelapa sawit yang dapat diberikan kepada ternak sapi ± 20% dari total ransum, karena jika lebih tinggi akan menghalangi tingkat kecernaan.

4. Tandan Kosong Sawit (Tankos)
Tandan kosong mengandung serat kasar yang tinggi, yang diindikasikan dengan kandungan serat detergen asam (ADF) yang mencapai 61%, serta memiliki nilai biologis yang rendah. Oleh karena itu, pemanfaatannya disarankan dicampur dengan bahan pakan yang berkualitas dan harus dicacah terlebih dahulu agar ukurannya layak dikonsumsi (± 2 cm).  Tankos belum digunakan dalam ransum sapi karena memerlukan perlakuan awal yang cukup rumit.

5. Lumpur Sawit / Solid
Lumpur sawit merupakan hasil ikutan ekstraksi minyak sawit dan mengandung air cukup tinggi. Produk samping ini dapat menimbulkan masalah lingkungan sehingga upaya untuk mengatasinya dilakukan dengan mengurangi kandungan air lumpur sawit untuk selanjutnya digunakan sebagai bahan pakan. Produk hasil pemisahan lumpur sawit dari airnya disebut solid.
Lumpur sawit mengandung protein kasar 12-14%, namun kandungan air yang tinggi (75%) menyebabkan produk samping ini kurang disukai ternak. Kandungan energi yang rendah dengan abu yang tinggi menyebabkan lumpur sawit tidak dapat digunakan secara tunggal sebagai pakan.

loading...

FOLLOW and JOIN to Get Update!

Social Media Widget SM Widgets




Peternakan dan Herbal Updated at: 21:33
Copyright@2014-2016. www.AgrobisnisInfo.com . Powered by Blogger.