loading...

Balon Udara Khas Wonosobo, Tradisi Unik Sambut Idul Fitri

Posted by

Jika kita menengok ke belakang, mencari kapan sejarah dimulainya tradisi menerbangkan balon udara kertas maka akan sulit sekali menelusurinya. Seperti juga tradisi menerbangkan balon udara yang ada di kampung kami, kampung yang sebenarnya tidak terlalu kecil karena sudah dibelah dengan adanya jalan raya yang lumayan lebar.



Saat memasuki bulan Ramadhan, semasa masih anak-anak dulu dikampung ada satu pengalaman yang tidak mungkin terlupakan yaitu membuat balon udara dari kertas. Balon yang dibuat biasanya dengan dana iuran
per RT dan harus selesai saat lebaran/idul fitri tiba. Pembuatannya cukup sederhana hanya bermodalkan kertas minyak, lem, gunting dan benang kasur.

Sebelum membuat balon dibuatlah pola terlebih dahulu lengkap dengan ukurannya dan motif gambar atau pola yang akan ditampilkan dibalon kertas tersebut. Pola inilah yang menjadi dasar untuk menentukan warna dan potongan kertas minyak yang harus disediakan. Setelah potongan-potongan kertas siap sesuai pola maka bisa dimulai pengeleman dan jangan lupa ditiap sambungan vertikal kertasnya dari atas ke bawah diberi benang kasur yang berfungsi sebagai rangka.

Inilah tradisi yang menjadi rutinitas kampung kami, sebuah kampung dipegunungan yang masih termasuk wilayah Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah. Semua orang akan berkomentar sama ketika berbicara tentang pegunungan. Udaranya dingin menggigit terutama saat subuh hari hampir mirip seperti di eropa. Namun ada beberapa hal akan terlihat berbeda dengan daerah lain di Indonesia. Ketika mengunjungi Wonosobo. Sebuah kota kecil di tengah provinsi jawa tengah.


Wonosobo terletak di dataran tinggi, sehingga suhu dingin dapat terasa sampai ke permukaan kulit. Setiap pagi di beberapa tempat tertutup kabut putih yang indah. Dua gunung mengapit daerah ini., Sindoro dan Sumbing. Ladang padi, tembakau, jagung, dan sayuran terhampar sejauh mata memandang. Akan kau dapati sosok petani berbalut jaket tebal, bersapih sarung, dan gagah memakai sepatu boat mencangkul ladang siap tanam.

Suasana yang begitu damai ketika fajar menyingsing. Kicauan burung, aliran air kali bergemericik, sampai bunyi ban gerobak pagi buta mulai di dorong ke pasar. Seperti kayuhan ban sepeda di jalanan Groningen.
Setiap pagi jalanan dipadati oleh lalu lalang pengais rejeki fajar. Menaruh barang dagangannya di pinggir selai aspal yang mengeras. Keranjang bambu penuh sayuran, meja kayu bertumpuk daging ayam lunglai tak berdaya, Pedagang sayuran yang meneriaki pembeli dengan orasi rayuan harga dan kualitas bagus.

Pemandangan alam indah tampak pada kawasan Wonosobo, hijau pepohonan di satu sisi, biru menjulang gunung-gunung ketika pagi menyingsing, dan hamparan rerumputan basah oleh embun.

Seketika orang bergumam, “ di kawasan pegunungan lain juga seperti Wonosobo. Jangan terlalu mengklaim daerah sendiri”. Sebagai anak manusia yang lahir di tempat ini, tidaklah menafikkan keindahan kampung halaman dan bangga atasnya. Tapi kota ASRI ini berbeda, satu tahun sekali langit daerah yang pernah dipimpin oleh Tumenggung R. Setjonegoro ini benar-benar seperti eropa.

Ketika melihat dan mencari tentang eropa, akan kau dapati wisata balon udara di beberapa negara eropa, swiss atau belanda. Pemandangan ini hampir nampak sama dengan kawasan langit eropa. Bagaimana tidak, sejauh mata memandang banyak balon udara beterbangan dengan aneka warna. Berlomba berkejaran dengan awan putih. Saat kau melintasi langit Wonosobo bertepatan dengan perayaan idul fitri hari pertama sampai ke tujuh.

Bedanya adalah balon di Eropa besar dan berpenumpang, sedangkan balon di Wonosobo tidak sebesar di eropa dan tidak berpenumpang serta terbang menggunakan sumbu api kecil. Pada bagian bawah sumbu api diikat semacam parasut dan petasan. Setelah diterbangkan, maka parasut terjun bebas pada ketinggian tertentu dan suara dentuman petasan akan terdengar di langit.

Pemandangan ini sangat jarang terlihat selain di Wonosobo. Warna-warni dan motif balon dibuat sesuai dengan kreasi warga. Hal semacam ini sudah menjadi tradisi saat perayaan hari besar islam, Idul Fitri. Biasanya sepuluh hari sebelum lebaran warga Rukun Tetangga [RT] berbondong-bondong iuran dan mulai membuat balon dengan kertas maupun plastik. Sudut-sudut mushola dan pekarangan serta lapangan dijadikan area “penerbangan” sejumlah balon menggunakan peralatan sederhana.

Tungku kayu untuk membuat asap dan bambu panjang yang ditegakkan berjajar persegi agar balon dapat ditopang ketika hendak diterbangkan. Ketika balon melayang, riuh sorai akan memecah suasana dan para photographer pelbagai kamera siap mendokumentasikan momentum “hiasan langit”.



Pemerintah kabupaten biasanya mengadakan Festival Balon Udara untuk menampung kreasi masyarakat. Hal ini juga untuk menarik mata wisatawan berkunjung ke daerah penghasil kentang dan carica tersebut. Alun-alun wonosobo menjadi saksi bisu terbangnya puluhan balon udara aneka gambar dari berbagai sudut desa. Maka, birunya langit Wonosobo dipadati oleh balon udara.

Jika anda ingin menyaksikan riuhnya "pawai" balon udara maka datanglah ke Wonosobo saat lebaran hari ke 2 karena biasanya pada hari kedua inilah pesta "penerbangan" balon udara kertas yang berwarna-warni diluncurkan ke atas awan Wonosobo.  Dan jangan lupa siap-siap dengan kerasnya bunyi petasan jika sumbu yang dipakai tidak sesuai dengan perhitungan tingginya balon saat di udara. Sering terjadi, balon baru mulai naik, petasan yang digantungkan sudah mulai berbunyi, kadang juga balon sudah lama naik petasan tidak juga berbunyi dan inilah seni membunyikan petasan di balon udara, jika salah bisa tidak meledak sama sekali. Selamat berkunjung ke Wonosobo dan nikmati meriahnya balon udara kertas warna-warni.

loading...

FOLLOW and JOIN to Get Update!

Social Media Widget SM Widgets




Peternakan dan Herbal Updated at: 06:38
Copyright@2014-2016. www.AgrobisnisInfo.com . Powered by Blogger.