Keunggulan dan Kelemahan Pohon Trembesi, Si Pohon Raksasa Yang Bisa Berumur Ratusan Tahun

Apa Itu Pohon Trembesi?

Ki hujan, pohon hujan, atau trembesi merupakan sebuah tumbuhan pohon besar, tinggi, dengan tajuk yang sangat melebar. Tumbuhan ini pernah populer sebagai tumbuhan peneduh. Pohon ini mempunyai beberapa julukan nama seperti Saman, Pohon Hujan dan Monkey Pod, dan ditempatkan dalam genus Albizia. Trembesi termasuk tumbuhan yang agresif dan invasif sehingga menghambat pertumbuhan spesies lain di bawah atau di dekatnya. Terlebih jika kita ingin menanam tumbuhan buah-buahan atau hortikultura di sekitar rumah kita pasti pertumbuhannya akan terhambat jika ada Trembesi di dekatnya. Ingat, Trembesi bukan spesies asli Indonesia, spesies berpredikat ”impor” biasanya merupakan tanaman yang invasif seperti akasia berduri (Acacia nilotica) yang menjadi gulma yang mengancam Kehidupan Banteng Liar di Taman Nasional Baluran yang sejatinya didatangkan dari Australia untuk meminimalisir kebakaran savana.
Penanaman pohon trembesi sedang ramai dilakukan apalagi setelah ada sebuah pabrikan rokok yang mensponsori penanaman pohon trembesi ini sepanjang jalur Pantura yang tentu saja membutuhkan ribuan pohon. Sebagai tanaman tahunan yang bisa berusia sampai puluhan bahkan ratusan tahun maka pohon ini dipilih pemerintah untuk proyek penghijauan terutama dilahan-lahan yang terbengkalai. Seperti apa sebenarnya habitat dan sifat pohon trembesi ini, apakah aman untuk penghijauan sepanjang jalan raya utama ataukah ada bahaya yang tersembunyi karena sifat dahannya yang mudah patah? Sehingga bisa membahayakan pemakai jalan raya? Berikut ulasan tentang pohon trembesi mulai dari pembibitan serta serba serbi sifat pohon trembesi jika digunakan untuk reboisasi.


Budidaya Pohon Trembesi

Pembibitan
Pembibitan Dengan Biji
Perkecambahan biji akan tumbuh dengan baik sekitar 36-50% tanpa perlakuan. Perkecambahan biji yang tidak diperlakukan akan tumbuh di tahun pertama penyimpanan biji (seed storage)

Pembibitan Biji Dengan Perlakuan
Pembibitan biji dapat dilakukan dengan memberi perlakuan tertentu pada biji trembesi untuk mendapatkan hasil yang lebih baik dan lebih cepat. Adapun perlakuan untuk mendpatkan hasil yang lebih baik yaitu
  • Memasukan biji dalam air selama 1-2 menit dengan suhu 800C (1760F) dengan volume air 5X lebih banyak dari volume biji
  • Aduk biji kemudian keringkan
  • Remndam biji dalam air hangat dengan suhu 30-400 C (86-1040F) selama 24 jam
Metode seperti ini akan membantu perkecambahan biji 90-100%. Skarifikasi biji (pengelupasan) akan tampak 3-5 hari setelah perlakuan dengan menyimpannya dalam tempat teduh dengan pemberian air yang konstan untuk membantu pertumbuhan biji
Biji sudah siap untuk ditanam setelah perkecambahan. Saat itu panjang kecambah 20-30m. Bibit yang mempunyai diameter  >10mm dapat lebih bertahan dari air hujan. Perkiraan ukuran bibit saat penanaman yaitu ketika mempunyai tinggi sekitar 15-30 cm (6-12 inci) dengan panjang akar sekitar 10 cm (4 inci). Diameter batang dari bibit harus mencapai 5-30mm. Penanaman ini dapat dilakukan di pasir (tempat pembibitan) atau di tanam di polibag yang berukuran 10x20 cm dengan komposisi 3:1:1 (tanah:pasir:kompos)
Perawatan bibit diperlukan untuk menjaga bibit agar bisa tumbuh besar terutama dari serangan hama dan terpaan angin. Perawatan ini dilakukan sampai trembesi menjadi lebih tinggi dan siap untuk melindungi. Selesia, silahkan coba untuk mempraktekan teknik pembibitan pohon trembesi


Persiapan Lahan
Lahan bisa bertempat di lahan milik ( halaman rumah, kebun masyarakat atau milik perusahaan / lembaga dan lahan negara, dimana kepemilikan dan pengelolaannya dibawah pengawasan pemerintah ). Lahan yang dipilih untuk penanaman harus dijamin tidak akan berubah peruntukannya dalam jangka panjang. Pertumbuhan pohon - pohon apalagi di lahan hutan memerlukan waktu yang panjang ( diatas 10 tahun ) untuk dapat terciptanya ekosistem hutan yang baik dan berfungsi optimal. Jadi pikirkan dengan matang agar penanaman pohon bukan sekedar seremonial.

Penanaman Bibit Trembesi
Setelah ditemukan lokasi yang cocok, langkah berikutnya adalah memilih jenis bibit yang akan ditanam. Jenis - jenis yang akan ditanam adalah sesuai dengan kondisi lahan, peruntukan dan fungsi bagi lingkungan. Bila ingin lingkungan kita teduh maka pilihlah jenis pohon yang daunnya rindang dan perawakannya besar seperti Trembesi, Flamboyan, Kersen atau Beringin. Pada lahan yang kurang subur, pohon Sengon dan Akasia bisa bertahan hidup.

Bila menginginkan kita bisa menikmati panen buah, maka tanamlah pohon buah - buahan seperti Mangga, Alpukat, Rambutan, Durian, dll. Namun, jangan menanam Durian di tempat dengan lalu lintas yang ramai karena kalau buahnya jatuh bisa membuat orang celaka. Bila untuk jalur hijau pinggiran jalan, carilah jenis pohon yang buahnya kecil - kecil, tidak banyak daun rontok, cepat tumbuh dan bisa juga yang memiliki bunga seperti Angsana, Kersen, Malabar, Bungur, Flamboyan, Asam Jawa dan lain - lain. Ingat tanaman pinggir jalan jangan yang akarnya menonjol ke permukaan tanah karena akan merusak jalan dan membahayakan pengguna jalan.


Persiapan Penanaman

Bibit yang sudah dipilih, kini saatnya siap ditanam. Sediakan lubang tanam yang dibuat sehari sebelum penanaman ( sebaiknya ). Langkah ini dilakukan agar suhu udara didalam dan diatas permukaan tanah tempat penanaman stabil sehingga dapat membantu mengurangi stess pada tanaman. Tanaman yang stress akan sulit beradaptasi dengan lingkungan yang baru. Lubang tanam dibuat minimal 20 cm x 20 cm ( sesuai besar bibit ) dengan kedalam 30 cm – 40 cm ( sesuai media dan bentuk akar ). Pada awal penanaman perlu ditambahkan pupuk kandang atau kompos untuk membantu menambah hara atau nutrisi.

Pelaksanaan penanaman hendaknya dilakukan mulai jam 07.00 - 09.00 dan 17.00 – 18.00 ( tergantung Waktu setempat, WIB / WITA / WIT ), karena pada jam - jam tersebut suhu permukaan tanah tidak terlalu tinggi dan stabil sehingga dapat menghindari stres pada bibit tanaman. Apabila tidak memungkinkan menanam pada waktu tersebut dapat dilakukan pada jam yang lain, namun setelah ditanam segeralah membuat naungan untuk menghindari terik matahari yang menerpa bibit yang dapat membakar hijau daun tanaman. Bibit yang terbakar terik matahari menyebabkan klorofil daun tidak dapat melalukan fungsinya dalam proses fotosintesis dan menyebabkan tanaman bisa mati dalam waktu cepat.

Merawat Pohon
Bibit yang akan ditanam terlebih dahulu dilepaskan dari kantung - kantung media tumbuhnya ( polybag ) kemudian ditanaman bersama media tumbuhnya. Saat melepas polybag perlu tindakan yang hati - hati agar media tumbuhnya tidak rusak, Tanaman ditempatkan pada posisi tegak agar proses pertumbuhan dapat berkembangan dengan baik dan bila perlu disanggah dengan bambu. Lalu tutup lubang tanaman dengan memasukkan tanah galian dan menekan secara perlahan di sekeliling tanaman sampai bibit dapat berdiri dengan baik.


Merawat sama pentingnya dengan menanam. Maka setelah menanam hendaknya dilakukan pemeliharaan terhadap gulma, semak, alang - alang, hama, kebakaran, tangan manusia dan gangguan lain agar ruang tumbuh tanaman dapat berkembang dengan baik. Selain itu jangan biarkan tanaman kekurangan gizi. Berilah kebutuhan pokoknya dengan menyiramnya dengan rutin, memberi pupuk yang sesuai dan memberi perhatian dan doa pada bibit - bibit itu. Perawatan bibit pohon bisa dilakukan sampai tanaman berumur 2 tahun. Umumnya pohon diatas umur 2 tahun sudah bisa survival dan hidup mandiri dari alam, namun tetap dijaga dari unsur perusak.
Serba serbi pohon Trembesi yang patut diketahui
Trembesi termasuk tumbuhan yang agresif dan invasif sehingga menghambat pertumbuhan spesies lain di bawah atau di dekatnya. Terlebih jika kita ingin menanam tumbuhan buah-buahan atau hortikultura di sekitar rumah kita pasti pertumbuhannya akan terhambat jika ada Trembesi di dekatnya. Ingat, Trembesi bukan spesies asli Indonesia, spesies berpredikat ”impor” biasanya merupakan tanaman yang invasif seperti akasia berduri (Acacia nilotica) yang menjadi gulma yang mengancam Kehidupan Banteng Liar di Taman Nasional Baluran yang sejatinya didatangkan dari Australia untuk meminimalisir kebakaran savana.

Perlu kita ketahui, Trembesi dulu digunakan oleh Pemerintah Kolonial Belanda untuk menghijaukan taman-taman luas (seperti di Istana Merdeka) ataupun Tempat Pelelangan Kayu (TPK) agar kayu gelondongan hasil tebangan yang diletakkan di bawah Pohon Trembesi tidak retak terpapar panas matahari. Namun di jalan-jalan utama misalnya Jalan Daendels (Pantura) mereka lebih memilih menggunakan Pohon Kenari ataupun Asam Jawa yang memang mempunyai perakaran dalam dengan tajuk yang tidak terlalu lebar namun cukup memberi keteduhan tanpa merusak badan jalan.
Trembesi yang cepat tumbuh dan besar dalam waktu relatif singkat memang efektif memberikan keteduhan dan mempengaruhi iklim mikro daerah sekitarnya menjadi lebih sejuk. Trembesi juga pohon yang terbukti menyerap CO2 dalam jumlah besar, namun keberadaannya lebih tepat jika ditanam sebagai penghijauan hutan kota, taman, atau lahan terbuka yang relatif luas. Namun perlu diingat, trembesi tidak boleh ditanam secara masif pada suatu lahan terbuka kritis semata-mata biar cepat ‘hijau’, karena sifatnya yang rakus air berpotensi mengganggu ketersediaan air tanah dangkal bagi masyarakat di sekitarnya. Lebih baik menggunakan aneka jenis tanaman bambu untuk lahan terbuka kritis, selain sama-sama merupakan spesies yang cepat tumbuh, bambu merupakan tanaman yang terbukti efektif untuk menjaga ketersediaan air tanah (konservasi air tanah).
Trembesi cepat tumbuh, dalam lima tahun diameter batang bisa mencapai 25 sentimeter-30 sentimeter. Tetapi, keunggulan yang sama juga dimiliki berbagai pohon spesies asli Indonesia, di antaranya keluarga meranti, jabon, ketapang, atau pulai.

Menurut peneliti senior Biotrop Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor (IPB), Supriyanto, jenis trembesi saat ini juga belum diteliti apakah termasuk jenis yang invasif atau bukan. Jenis invasif itu mampu mendesak atau mematikan jenis tanaman lain di sekitarnya. Hasil penelitian pada trembesi dengan diameter tajuk 10-15 meter menunjukkan, trembesi menyerap karbon dioksida 28,5 ton per tahun. Ini angka terbesar di antara 43 jenis tanaman yang diteliti, bahkan ditambah 26 jenis tanaman lain, daya serap karbon dioksida trembesi tetap terbesar. Meskipun demikian, Endes belum bisa menjelaskan 68 jenis pohon lainnya yang diteliti. Dia mengaku, belum meriset secara rinci kapasitas evaporasi trembesi. Diketahui pula, trembesi memiliki sistem perakaran yang mampu bersimbiosis dengan bakteri Rhizobium untuk mengikat nitrogen dari udara. Kandungan 78 persen nitrogen di udara memungkinkan trembesi bisa hidup di lahan-lahan marjinal, juga lahan-lahan kritis, seperti bekas tambang, bahkan mampu bertahan pada keasaman tanah yang tinggi.


FOLLOW and JOIN to Get Update!

Peternakan dan Herbal Updated at: 23:06
Copyright@2014-2018. www.AgrobisnisInfo.com . Powered by Blogger.