Pantangan dan Kesalahan Ketika Bekam

loading...
Sebenarnya secara umum bekam (hijamah) sangatlah aman dan mudah dilakukan oleh siapapun asalkan pembekam tersebut telah membekali diri dengan dasar-dasar pengetahuan tentang pantangan berbekam dan kesalahan-kesalahan yang sering dilakukan terutama bagi pembekam pemula.


PANTANGAN dalam BEKAM
Berikut ini adalah kondisi yang harus dihindari untuk dilakukan bekam :

1. Hindari membekam pasien yang fisiknya sangat lemah, sedang mengalami kelelahan berat dan yang memiliki tekanan darah kurang dari 80 mmHg. Hal ini bisa menyebabkan resiko pasien syok/pingsan. Demikian juga sebaiknya menghindari untuk membekam pasien yang sudah jompo dan lemah fisiknya serta anak-anak yang tubuhnya lemah atau di bawah 3 tahun.



2. Hindari membekam wanita hamil pada usia kehamilan 3 bulan pertama (trimester awal). Jangan membekam wanita yang sedang haidh dan nifas karena pada kondisi tersebut wanita sedang banyak mengeluarkan darah alami sehingga dikhawatirkan akan melemahkan kondisi fisiknya. Jangan melakukan bekam tepat di atas perut wanita hamil.

3. Tidak dianjurkan membekam pasien yang dalam kondisi perut kekenyangan, kehausan, kelaparan, kelelahan, setelah beraktivitas berat, tubuh lemah dan tubuh demam (kedinginan).

4. Jangan melakukan bekam langsung setelah makan besar (bekam dapat dilakukan minimal dua jam setelah makan). Setelah makan juga jangan langsung makan, melainkan hanya minum yang manis-manis semisal madu atau selainnya.

5. Jangan melakukan bekam langsung setelah mandi, terutama setelah mandi dengan air dingin. Tidak dianjurkan langsung mandi setelah bekam, melainkan setelah 2 jam. Dianjurkan mandi dengan air hangat.

6. Hindari melakukan bekam basah pada pasien leukimia (kanker darah), hepatitis yang parah, TBC aktif, HIV/ODA, hemofilia, malignant anemia, trombositopenia, penderita kelainan klep jantung/yang menggunakan alat pacu jantung serta penyakit lainnya yang parah kecuali oleh ahli bekam yang berpengalaman dan dengan pengawasan dokter.

7. Tidak dianjurkan melakukan bekam basah pada penderita diabetes dengan kadar gula darah sewaktu (GDS) di atas 250 mg/dL kecuali oleh pembekam yang ahli dan berpengalaman.

8. Jangan melakukan bekam basah pasien yang baru memberikan donor darah atau orang yang baru kecelakaan sehingga darahnya berkurang.

9. Hindari membekam pasien yang menderita penyakit kulit merata atau menderita alergi kulit yang parah seperti ulserasi (luka koreng basah/bernanah) dan edema.

10. Hindari membekam pasien yang sedang mengonsumsi obat pengencer darah. Bekam bisa dilakukan setelah 48 jam sebelumnya pasien telah menghentikan terlebih dahulu obat-obat tersebut.

11. Jangan membekam langsung pada daerah luka, urat sendi yang robek, patah tulang, tumor serta varises. Bekam pada varises dilalukan beberapa cm di sekitar pembuluh darah yang rusak.

12. Jangan membekam daerah perut terlalu keras. Bagian perut sangat lemah karena lapisan ototnya sangat tipis.

13. Hindari melakukan bekam pada bagian tubuh berikut: lubang alamiah tubuh (mata, hidung, telinga, mulut, kemaluan, anus dan puting susu), daerah sistem nodus limfa/kalenjar getah bening (bawah ketiak, selangkangan/pangkal paha bagian depan dekat kemaluan, leher bagian samping/bawah telinga, dll), dan tepat di atas pembuluh darah yang besar.
Beberapa poin di atas sebenarnya masih bisa dilakukan oleh seorang ahli bekam yang profesional, berpengalaman serta atas pengawasan dokter yang berkompeten.

KESALAHAN dalam BEKAM
Kesalahan dalam bekam bisa disebabkan karena minimnya pengetahuan tentang anatomi fisiologis tubuh, keterbatasan ilmu tentang penyakit serta cara kerja dan mekanisme bekam. Bekam sendiri merupakan salah satu tindakan medis (bedah minor) oleh karenanya maka proses bekam haruslah mengedepankan standarisasi medis. Contoh kesalahan berbekam antara lain:

1. Persiapan pasien yang kurang. Sebelum dilakukan bekam, seorang pembekam harus memeriksa kondisi umum dan penyakit yang dideqita pasien. Pemeriksaan tekanan darah (tensi) merupakan pemeriksaan minimal yang wajib dilakukan. Kesalahan pada poin ini bisa membahayakan pasien terutama jika kondisinya sedang drop.

2. Mengabaikan masalah riwayat penyakit yang diderita pasien seperti pada penderita diabetes, hepatitis, AIDS, dan penyakit lain yang bisa beresiko tertularnya penyakit pada pasien lain dan pembekam.

3. Melakukan bekam di area terbuka/di luar ruangan atau terlalu dingin. Dikhawatirkan luka sayatan bekam dapat terkena debu/kotoran yang beterbangan. Selain itu juga tidak disarankan melakukan bekam di tempat dengan sirkulasi udara yang kurang/pengap. Jangan menyalakan kipas angin/blower tepat di atas pasien yang sedang dibekam.

4. Mengabaikan sterilitas. Banyak pembekam hanya mengandalkan proses sterilisasi kop dan alat hijamah pada detergen, pemutih, rebusan air atau alkohol. Tidak dimilikinya alat sterilisator standar bisa menyebabkan resiko tinggi terkena infeksi kuman selama bekam.

5. Peralatan ala kadarnya. Dalam praktek bekam, di antara pembekam hanya menggunakan alat-alat sekedarnya tanpa memperhatikan faktor kebersihan alat dan lingkungan, sterilisasi dan higienisnya, seperti penggunaan tisu untuk membersihkan darah, apalagi tisu gulung untuk toilet. Akibatnya muncul tanggapan negatif terhadap praktek bekam secara umum. Setiap pasien dengan riwayat sakit hepatitis, narkoba dan HIV/AIDS (ODA) harus memiliki peralatan bekam sendiri yang dipisahkan dengan pasien yang lain.

6. Menggunakan silet atau jarum. Kedua alat tersebut sama sekali bukan merupakan peralatan medis standar yang dirancang untuk melakukan tindakan medis bekam. Luka yang dihasilkan sangat berpotensi infeksi dan terkontaminasi bahan-bahan yang terkandung pada permukaan logam silet dan jarum.

7. Kesalahan dalam menentukan titik bekam. Selain tidak efektif, keterbatasan pengetahuan mengenai lokasi titik bekam yang tepat akan memengaruhi hasil pembekaman secara signifikan.

8. Mitos “semakin banyak titik bekam maka semakin cepat sembuh”. Padahal banyak titik pada saat bekam tidaklah berarti menjadikan bekam semakin efektif, namun yang benar adalah pemilihan titik yang tepat adalah kunci tercapainya tujuan bekam.

9. Terlalu lama membekam pada satu titik. Penyedotan kop yang melebihi 20 menit bisa menimbulkan efek samping keluarnya bulla (kantong cairan bening seperti cacar). Hal ini bisa menyebabkan keluhan perih dan beresiko infeksi.

10. Melakukan penyayatan luka yang terlalu dalam. Hal ini selain memperlambat penyembuhan luka juga menimbulkan resiko mengenai pembuluh darah besar sehingga bisa timbul perdarahan.

11. Harus puasa dulu sebelum bekam. Pada pasien tertentu dimana kondisi tubuhnya sedang drop maka puasa justru bisa membahayakan pasien. Sebaiknya makanlah 2 jam sebelum berbekam, dalam tempo waktu tersebut diharapkan proses pencernaan makanan sebagian besar telah selesai dan bisa memperkecil resiko “pingsan” akibat bekam.

Demikian pembahasan seputar pantangan dan kesalahan dalam berbekam. Wallahu a’lam bish-shawab.
Penulis: dr. Abu Hana El-Firdan
Sumber: Jurnal Asy Syifa edisi 02 1432 / 2011, hal. 48-52, dengan sedikit perubahan.

Catatan: Metode bekam ada dua jenis: bekam basah dan bekam kering. Bekam basah adalah metode bekam dengan mengeluarkan darah, sedang bekam kering dengan tanpa mengeluarkan darah yang biasa dilakukan untuk mengeluarkan/mengurangi angin dari dalam tubuh.

Artikel Terkait:

loading...

FOLLOW and JOIN to Get Update!

Peternakan dan Herbal Updated at: 02:06
loading...
Copyright@2014-2018. www.AgrobisnisInfo.com . Powered by Blogger.