Manisnya Gula Pahitnya Petani Tebu



Petani tebu selalu menghadapi permasalahan  klasik saat panen tiba, rendemen yang jelek, hasil panen kurang maksimal dan yang terpenting lagi adalah harga gula bisa tiba-tiba turun saat panen raya tebu tiba. Salah satu kelemahan petani tebu adalah dia tidak bisa menjual produknya ke tempat lain selain ke pabrik gula, jadi kelemahan inilah yang sering dimanfaatkan oknum-oknum pabrik untuk mempermainkan harga. Mau jual harga anjlok tidak mau jual mau diapain si tebu dilahan yang sudah terlanjur berumur. Itulah dilema petani tebu, meski tebu terasa manis tetapi kadang terasa pahit juga bagi petani tebu. Jadi kalau mau jujur, pasar tebu adalah tipe pasar monopoli murni, yaitu harga dikendalikan atau dimonopoli oleh pabrik gula. Petani tebu selalu dipihak yang kalah, kenapa? Karena tidak ada pilihan lain, jual tebu ke pabrik atau tebu dibiarkan meranggas di lahan terus dibakar sehingga tidak perlu keluar biaya lagi untuk panen.
 
Salah satu alasan mengapa pemerintah setiap tahun selalu membuka pintu import gula, terutama gula rafinasi karena kebutuhan gula rafinasi yang belum bisa dipenuhi pabrik gula nasional memaksa pemerintah kembali membuka impor gula mentah. Hal ini terus berulang setiap tahun, apa yang salah? Padahal pabrik tersedia dan lahan tebu juga melimpah ruah. Alasan klise yang selalu mengemuka adalah peralatan pabrik dan teknologi yang digunakan sudah usang alias peninggalan Belanda, sehingga susah untuk menggenjot produksi gula mentah atau gula rafinasi. Benarkah demikian? Atau adakah kesengajaan untuk tidak memutakhirkan peralatan pabrik sehingga produksinya juga segitu-segitu saja setiap tahun, sehingga kran import gula terus dibuka setiap tahun yang tentu saja menguntungkan importir gula. Mereka-mereka yang berkepentinganlah yang paling tahu.
 
Akhir Maret lalu pemerintah melalui Kementerian Perdagangan (Kemendag) menerbitkan izin impor gula mentah (raw sugar) untuk memenuhi kebutuhan industri makanan dan minuman dalam negeri selama kuartal II 2015 (April-Juni) dan kuartal III (Juli-September). Kuota impor ini ditetapkan sejumlah 945.643 ton atau 60% dari angka rekomendasi Kementerian Perindustrian yang sebesar 1.576.000 ton.
Dari data Kemendag,  sampai 23 Maret 2015 realisasi impor gula mentah sebesar 636.782 ton dari kuota impor yang disediakan sebesar 672.000 ton. Kemendag memprediksi tahun ini kebutuhan kebutuhan impor gula mentah sebesar 2,8 juta ton. Angka ini belum termasuk 400 ribu ton raw sugar untuk sektor Usaha Kecil Menengah (UKM). 

Data proyeksi Kementerian Koordinator bidang Perekonomian mengurai, kebutuhan gula nasional pada 2015 sekitar 5,82 juta ton, terdiri atas Gula Kristal Putih (GKP) 2,89 juta ton yang diproduksi 63 Pabrik Gula (PG) berbasis tebu domestik untuk dikonsumsi langsung (warung, rumah tangga, hotel, restoran, dan usaha rumah tangga). Sedangkan kebutuhan Gula Kristal Rafinasi (GKR) sebanyak 2,93 juta ton yang diproduksi 11 PG berbasis gula mentah impor memenuhi kebutuhan industri makanan dan minuman (Mamin), farmasi (industri obat‐obatan), dan produsen monosodium glutamat (MSG).

Sepertinya kita memang lebih senang import daripada membuat sendiri gula rafinasi karena butuh biaya lumayan besar untuk  memutahirkan peralatan pabrik disamping juga untuk perbaikan dan peningkatan kapasitas produksi pabrik tebu kita yang kebanyakan memang sudah tua-tua. Nampaknya harapan petani tebu agar tiap panen harga tetap stabil masih harus menunggu dan menunggu, sampai kapan?
Baca Juga:

Benalu, Tanaman Parasit Yang Bermanfaat Bagi Kesehatan

Rumput Odot, Cepat Tumbuh, Cepat Panen

Lagi, Indigofera Hijauan Alternatif dengan Protein 27%

 

 


loading...

FOLLOW and JOIN to Get Update!

Peternakan dan Herbal Updated at: 19:15
Copyright@2014-2018. www.AgrobisnisInfo.com . Powered by Blogger.