Kentang, Antara Stabilnya Harga dan Produksi

loading...
Kentang memang bukan makanan pokok rakyat Indonesia, tetapi konsumsi kentang di Indonesia tidak bisa diremehkan. Dari tahun ke tahun permintaan komoditas ini selalu meningkat, karena ditunjang banyaknya produk makanan yang berbahan dasar kentang. Meningkatnya jumlah penduduk dan juga jumlah wisatawan asing ikut berperan dalam menaikkan konsumsi kentang. Banyaknya pabrik-pabrik makanan kecil atau snack untuk anak-anak yang memanfaatkan kentang sebagai bahan bakunya juga memegang andil yang tidak sedikit. Komoditas hortikultura yang satu ini lumayan aman dari gejolak. Harga jualnya di tingkat petani dan konsumen relatif stabil tanpa guncangan yang cukup berarti.
Harga Relatif Stabil
Menurut Dwi Iswari, Direktur Produksi dan Pascapanen Sayuran dan Tanaman Obat, Ditjen Hortikultura, Kementerian Pertanian, harga kentang di tingkat petani selama empat tahun terakhir berada pada kisaran Rp3.500 – Rp7.500/kg. Pada 2014, ungkap Ari, sapaannya, harga kentang dari sentra produksi seperti Probolinggo (Jatim), Aceh Tengah (NAD), Simalungun (Sumut), Wonosobo (Jateng), Garut dan Bandung (Jabar), Solok (Sumbar) bergerak pada level Rp4.000 – Rp7.500/kg.  

Pun serupa penuturan Asep Zaenal, Ketua Kelompok Tani Agro Papandayan, Kec. Cisurupan, Garut, Jabar. Dua tahun lalu harga kentang di tingkat petani rata-rata di atas Rp6.000/kg. “Sekarang sedikit rendah, cuma Rp5.000/kg. Itu terpengaruh oleh petani (kentang) atlantik sekarang ganti tanam (kentang) granola,” ujar Asep kepada AGRINA, Selasa (24/2). Tahun lalu saat panen raya, harganya stabil, Rp6.000 – Rp6.500/kg. Dengan harga Rp5.000/kg, sambungnya, petani akan tetap untung dengan produksi minimal 15 ton/ha karena biaya produksi saat ini antara Rp75 juta – Rp80 juta/musim.
Ari menjelaskan, harga kentang cenderung stabil dibandingkan sayuran lain lantaran kentang tidak dikonsumsi setiap hari. Hanya orang-orang tertentu yang sehari-hari makan kentang, seperti ekspatriat atau pelaku diet gula. Pemilik nama ilmiah Solanum tuberosum ini juga bisa disimpan selama 2-5 bulan dan tidak cepat rusak sehingga bisa didistribusian ke lokasi yang cukup jauh. Petani-pedagang mengatur suplai-permintaan sehingga pemenuhan kebutuhan kentang relatif terjaga meski hari raya tiba. 
Tentang tren produksi kentang, ungkap Ari, selama tiga tahun terakhir cenderung stabil mengikuti laju pertambahan jumlah penduduk dengan tingkat konsumsi per kapita yang tidak banyak berubah. Produksi pada 2013 dan 2014 sebesar 1,12 juta ton dan 1,019 juta ton. “Tahun 2015 kita coba tingkatkan 1,2 juta ton,” ujarnya. Sentra produksi utama kentang di antaranya terletak di Garut, Banjarnegara, dan Bandung.
Musim tanam kentang di setiap sentra produksi, menurut Iman Segara, Marketing Manager – Vegetable Crop Marketing PT Syngenta Indonesia, mengikuti musim hujan dan ketersediaan air. Iman menjelaskan, musim hujan di wilayah Indonesia bagian selatan dan utara berbeda. Dalam satu tahun, musim hujan di Indonesia bagian selatan, seperti Jawa berbentuk kurva U yang puncaknya terjadi pada Januari – Februari dan November – Desember lantas akan menurun saat April – Agustus. Sedangkan Indonesia bagian utara seperti Sumatera Utara dan Aceh musim hujan cukup tinggi pada April – Agustus. Untuk meminimalkan risiko, petani menarapkan tumpang sari atau secara bergilir agar bisa panen berturut-turut.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, luas panen kentang pada 2013 sebesar 70.187 ha dengan produktivitas rata-rata 16,02 ton/ha. Produktivitas tertingginya 25-30 ton/ha yang dicapai petani di Aceh Tengah dan Bener Meriah karena daerahnya masih alami, tidak terlalu banyak organisme pengganggu tumbuhan (OPT), dan menggunakan pupuk organik.
Menurut Asep, rata-rata produktivitas di Garut 16-20 ton/ha. Pada kondisi hujan, 15 ton/ha pun sudah bagus karena penyinaran kurang. Pria yang menghasilkan kentang 20 ton/ha ini menuturkan, produksi kentang akan lebih bagus jika ditanam di sebagian musim hujan dan kemarau akhir Februari atau Maret. “Satu bulan masih dapat hujan, bulan kedua dan ketiganya kemarau. Kalau sudah umur dua bulan nggak kehujanan itu nggak apa, malah bagus untuk pengisian umbi. Biaya produksi juga lebih murah 30% dibanding musim hujan,” paparnya. 
Pengembangan dan peningkatan Produksi serta Kendala Penyakit
Meski produksi kentang relatif stabil, Ari tidak memungkiri adanya kendala produksi. “Tantangan produksi itu penyakit yang banyak berupa Phytophthora, petani belum mengikuti kaidah GAP (Good Agriculture Practices), masih kurangnya benih kentang Atlantik yang selama ini diimpor, tantangan alih fungsi lahan di beberapa lokasi. Hal lain, kentang ini juga disoroti sebagai pengganggu keseimbangan lingkungan karena biasanya ditanam di dataran tinggi di atas 1.000 m dpl, kemiringannya tajam, lalu tidak diinginkan adanya sengkedan,” urai Ari.

Untuk itu, Badan Litbang Pertanian tengah merekayasa varietas baru yang lebih tahan penyakit. Khusus kentang atlantik, ada varietas baru Kikondo dan Rahayu yang telah dicoba dan dikembangkan di Garut dan beberapa sentra lain. “Di Garut kentang Rahayu ini setiap panen disisihkan untuk dijadikan bibit dan konsumsi olahan berupa kripik. Sedangkan varietas atlantik sudah ada tiga turunannya yaitu median, amabile, dan maglia namun masih dalam tahap penelitian akhir,” imbuh lulusan S2 di The University of Adelaide, Australia ini.
Sementara, alih fungsi lahan dan anggapan pengganggu keseimbangan lingkungan diatasi dengan membuka lahan budidaya baru di lokasi dataran tinggi yang mendatar, seperti Kec. Modoinding, Minahasa Selatan, Sulut. Selain itu, ada juga sentra baru di Solok Selatan (Sumbar), Ende dan Ngada (NTT) juga Kota Tomohon, Sulut. (Sumber: Agrina)
Beberapa contoh produk makanan berbahan kentang antara lain, keripik kentang, kue lumpur, donut, yang sedang ngetrend ada kentang ngebor dan yang pasti kentang rebus sebagai teman makan steak diresto-resto diperkotaan dan di tempat-tempat wisata. 
Baca Juga:

Manisnya Gula Pahitnya Petani Tebu

Benalu, Tanaman Parasit Yang Bermanfaat Bagi Kesehatan

Rumput Odot, Cepat Tumbuh, Cepat Panen

Lagi, Indigofera Hijauan Alternatif dengan Protein 27%

loading...

FOLLOW and JOIN to Get Update!

Peternakan dan Herbal Updated at: 19:34
loading...
Copyright@2014-2018. www.AgrobisnisInfo.com . Powered by Blogger.