Mengapa Kita Wajib Menjauhi Ahli Sihir dan Nujum?

Bahaya Ahli Sihir dan Ahli Nujum

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu pernah berdialog dengan sekelompok ahli nujum di Damaskus. Beliau menjelaskan kerusakan perbuatan mereka dengan dalil-dalil ‘aqli yang kebenarannya diakui oleh mereka sendiri. Salah satu pemuka ahli nujum di antara mereka berkata kepada Syaikhul Islam, “Demi Allah, sesungguhnya kami membuat seratus kedustaan dengan harapan ada kebenaran pada salah satunya.” (Al-Fatawa Al-Kubra)
Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullahu dan Ilmu Nujum

Sebagian kalangan menisbahkan kedustaan kepada Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullahu tentang ilmu nujum. Mereka meyakini, Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullahu mampu memastikan usia bayi yang baru dilahirkan hanya dengan memerhatikan keadaan bulan pada hari itu. Dengan berpegang dengan tiga riwayat lemah bahkan palsu, mereka dengan lancang menyatakan bahwa Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullahu pun menguasai ilmu nujum.

Di antara yang disebutkan adalah sebuah riwayat yang dibawakan oleh Al-Hakim dari Muhammad, cucu Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullahu. Ia bercerita: Al-Imam Asy-Syafi’i di masa mudanya senang mempelajari ilmu nujum. Padahal Al-Imam Asy-Syafi’i jika mempelajari satu cabang ilmu pasti akan menjadi yang terbaik.

Suatu hari beliau sedang duduk dan ada seorang wanita yang akan melahirkan. Setelah menghitung pergerakan bintang, Al-Imam Syafi’i berkata, “Dia akan melahirkan bayi perempuan yang matanya buta sebelah dan di kemaluannya ada tahi lalat berwarna hitam. Bayi ini akan berumur hanya sampai sekian hari.” Ternyata wanita itu melahirkan bayi dengan ciri-ciri yang telah disebutkan Al-Imam Asy-Syafi’i dan beberapa lama kemudian bayi itu meninggal. Tepat seperti yang disebutkan Al-Imam Asy-Syafi’i. Kemudian, Al-Imam Asy-Syafi’i bertekad tidak akan menggunakan ilmu nujum untuk selamanya.

Riwayat ini adalah satu dari tiga riwayat yang dinisbahkan kepada Al-Imam Asy-Syafi’i. Perlu diketahui bahwa cucu Al-Imam Asy-Syafi’i yang bernama Muhammad tidak pernah sekalipun bertemu dengan Al-Imam Asy-Syafi’i. Sebagaimana dijelaskan secara panjang lebar oleh Ibnul Qayyim rahimahullahu di dalam Miftah Dar As-Sa’adah (3/250).

Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullahu mengomentari riwayat-riwayat di atas dengan menyatakan, “Kami akan menjelaskan tentang cerita-cerita di atas disertai dengan keadaan sanadnya. Sehingga akan menjadi jelas bahwa penisbatan itu adalah sebuah kedustaan atas nama Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullahu.”

Yang benar dari Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullahu adalah sebuah riwayat dari Ar-Rabi’ bin Sulaiman, murid senior beliau, tentang penafsiran ayat:

وَهُوَ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ‏‎ ‎النُّجُومَ لِتَهْتَدُوا بِهَا فِي‎ ‎ظُلُمَاتِ الْبَرِّ وَالْبَحْرِ‏‎ ‎قَدْ فَصَّلْنَا الْآيَاتِ‏‎ ‎لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ

“Dan Dialah yang menjadikan bintang-bintang bagimu, agar kamu menjadikannya petunjuk dalam kegelapan di darat dan di laut. Sesungguhnya Kami telah menjelaskan tanda-tanda kebesaran (Kami) kepada orang-orang yang mengetahui.” (Al-An’am: 97)

Dan ayat:

وَأَلْقَى فِي الْأَرْضِ رَوَاسِيَ‏‎ ‎أَنْ تَمِيدَ بِكُمْ وَأَنْهَارًا‎ ‎وَسُبُلًا لَعَلَّكُمْ‏‎ ‎تَهْتَدُونَ)15(وَعَلَامَاتٍ‏‎ ‎وَبِالنَّجْمِ هُمْ يَهْتَدُونَ

“Dan Dia menancapkan gunung-gunung di bumi supaya bumi itu tidak goncang bersama kamu, (dan Dia menciptakan) sungai-sungai dan jalan-jalan agar kamu mendapat petunjuk. Dan (Dia ciptakan) tanda-tanda (penujuk jalan). Dan dengan bintang-bintang itulah mereka mendapat petunjuk.” (An-Nahl: 15-16)

Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullahu menjelaskan, “Tanda-tanda itu adalah gunung-gunung yang mereka ketahui letak posisinya. Demikian juga matahari, bulan, dan bintang, dengan arah peredarannya. Serta jenis angin yang ciri-cirinya mereka ketahui untuk menunjukkan arah Baitullah Al-Haram.”

Tabir yang Harus Dikuak

Alasan paling kuat yang digunakan untuk membenarkan ilmu nujum adalah pernyataan mereka, “Kami telah mencoba dan meneliti pada beberapa anak yang diramalkan kehidupannya, ternyata kami menemukan kebenaran ramalan itu.”

Maka jawabannya, “Kalau seandainya yang kalian sampaikan cukup sebagai bukti kebenaran pendapat kalian, maka apakah bedanya antara pernyataan kalian dengan pernyataan orang lain, ‘Bukti kesalahan pernyataan kalian adalah percobaan dan penelitian kami pada beberapa anak yang diramalkan kehidupannya, ternyata ramalan itu tidak benar bahkan meleset seluruhnya’.” (Miftah Dar As-Sa’adah, Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullahu, 3/165)

Alasan mereka yang lain adalah ilmu nujum pun dipelajari oleh Nabi Ibrahim ‘alaihis salam. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

فَنَظَرَ نَظْرَةً فِي النُّجُومِ.‏‎ ‎فَقَالَ إِنِّي سَقِيمٌ

“Lalu ia memandang sekali pandang ke bintang-bintang. Kemudian ia berkata: “Sesungguhnya aku sakit.” (Ash- Shaffat: 88-89)

Maka jawabannya, “Hal ini adalah sebuah kedustaan atas nama Nabi Ibrahim ‘alaihis salam. Dalam ayat di atas, Nabi Ibrahim ‘alaihis salam tidak menghubungkan sakit beliau dengan keadaan bintang. Ayat di atas hanyalah menjelaskan Nabi Ibrahim ‘alaihis salam ketika itu memandang bintang, setelah itu beliau menyatakan, ‘Saya sakit.’ Beliau melakukannya guna menyelamatkan diri dari kezaliman kaumnya. Lebih dari itu, tidak ada seorang pun yang butuh untuk memerhatikan bintang untuk mengetahui apakah dirinya sehat atau sakit. Karena sakit dapat dirasakan dan pasti diketahui oleh dirinya sendiri.” (Miftah Dar As-Sa’adah, Al-Imam Ibnul Qayyim, 3/166)

Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah rahimahullahu telah mengupas secara panjang lebar tentang kebatilan ilmu nujum. Beliau mematahkan pelbagai dalih ahli nujum pada bagian terakhir dalam kitabnya yang berjudul Miftah Daris Sa’adah. Ulasan beliau itu sangat baik dan sangat bermanfaat.

Bahaya Ilmu Nujum Di Sekitar Kita

Melalui pembahasan ini maka kita dapat memberikan kesimpulan bahwa ilmu astrologi, horoskop, zodiak, ataupun shio, adalah ilmu yang dilarang secara syariat Islam.

Astrologi adalah ilmu yang menghubungkan antara gerakan benda-benda tata surya (planet, bulan, dan matahari) dengan nasib manusia. Dalam astrologi, horoskop adalah sebuah bagan atau diagram yang menggambarkan posisi matahari, bulan, planet-planet, aspek-aspek astrologis, dan sudut-sudut sensitif pada saat kelahiran seorang anak.

Kata horoskop berasal dari bahasa Yunani yang berarti mengamati waktu. Kata horoskop digunakan sebagai metode ramalan mengenai peristiwa-peristiwa yang berkaitan dengan waktu-waktu tertentu yang digambarkan dalam dasar-dasar astrologis.

Dalam penggunaan sehari-hari, horoskop seringkali dihubungkan dengan penafsiran ahli astrologi yang biasanya dilakukan melalui sistem lambang-lambang astrologi. Dalam berbagai majalah dan surat kabar, kita dapat menemukan kolom atau artikel yang memuat ramalan-ramalan yang didasarkan pada posisi matahari dalam kaitannya dengan hari kelahiran seseorang.

Horoskop dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah pengamatan posisi bintang-bintang pada waktu tertentu, seperti pada hari lahir seseorang dengan tujuan meramalkan masa depannya. Sebagai contoh zodiak horoskop adalah Capricornus (Kambing Laut). Bintang ini diberikan kepada orang yang dilahirkan antara 21 Januari sampai dengan 16 Februari. Demikian juga bintang Scorpius (Kalajengking) yang diberikan kepada orang dengan tanggal kelahiran antara 23 November sampai dengan 18 Desember.

Shio adalah zodiak Tionghoa yang memakai hewan-hewan untuk melambangkan tahun, bulan, dan waktu dalam astrologi Tionghoa. Setiap individu diasosiasikan dengan satu shio sesuai dengan tanggal kelahirannya. Sebagai contoh adalah shio Kerbau. Orang dengan shio kerbau diyakini memiliki sifat cenderung keras kepala, pekerja keras, jujur, dan agak pemarah.

Khatimah

Setelah dipaparkan dalil dari Al-Qur’an dan As-Sunnah dilengkapi keterangan ulama maka tidaklah pantas seorang muslim mempelajari atau meyakini kebenaran ilmu astrologi, horoskop, zodiak, ataupun shio. Ingatlah selalu firman Allah Subhanahu wa Ta’ala tentang ciri orang beriman:

إِنَّمَا كَانَ قَوْلَ‏‎ ‎الْمُؤْمِنِينَ إِذَا دُعُوا إِلَى‎ ‎اللهِ وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ‏‎ ‎بَيْنَهُمْ أَنْ يَقُولُوا‎ ‎سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا‎ ‎وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

“Sesungguhnya jawaban orang-orang mu’min, bila mereka dipanggil kepada Allah dan Rasul-Nya agar Rasul mengadili di antara mereka ialah ucapan “Kami mendengar dan kami patuh.” Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (An-Nur: 51)

Apa yang mereka sebutkan tentang ilmu-ilmu tersebut hanyalah kedustaan yang dibangun di atas kedustaan pula. Supaya kaum muslimin jauh dari sikap tawakkal dan tsiqah (percaya penuh) kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Untuk meruntuhkan tauhid sebagai fondasi ibadah seorang hamba.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu pernah berdialog dengan sekelompok ahli nujum di Damaskus. Beliau menjelaskan kerusakan perbuatan mereka dengan dalil-dalil ‘aqli yang kebenarannya diakui oleh mereka sendiri. Salah satu pemuka ahli nujum di antara mereka berkata kepada Syaikhul Islam, “Demi Allah, sesungguhnya kami membuat seratus kedustaan dengan harapan ada kebenaran pada salah satunya.” (Al-Fatawa Al-Kubra)

Wallahu a’lam.


FOLLOW and JOIN to Get Update!

Peternakan dan Herbal Updated at: 05:26
Copyright@2014-2018. www.AgrobisnisInfo.com . Powered by Blogger.