Mengenal Jenis Jenis Belut dan Budidayanya

loading...
Belut bisa didefinisikan sebagai berikut: sekelompok ikan berbentuk mirip ular yang termasuk dalam suku Synbranchidae. Suku ini terdiri dari empat genera dengan total 20 jenis. Jenis-jenisnya banyak yang belum diperikan dengan lengkap sehingga angka-angka itu dapat berubah. Anggotanya bersifat pantropis (ditemukan di semua daerah tropika).
Tiga Jenis Belut yang di kenal di Indonesia

1. Belut sawah (Monopterus albus Zuieuw)
Panjang badan belut sawah adalah 20 x tingginya, di punggung bagian belakang perut terdapat permulaan sirip, dan belut sawah ini mempunyai tiga lengkung insang.

2. Belut rawa (Synbranchus bengalensis Mc. Clell)
Panjang badan belut rawa adalah 30 x tingginya. Letak permulaan sirip punggung berada di muka dubur. Belut rawa memiliki lubang insang kecil terletak di bagian perut dan memiliki empat lengkung insang.

3. Belut bermata sangat kecil (Macrotrema caligans/Cantor)
Belut ini mempunyai mata yang sangat kecil berada di atas bibir bagian tengah, letak permulaan sirip punggung berada di bagian tengah dubur dan memiliki empat lengkung insang.

Belut tidak sama dengan sidat. Ikan ini bisa dikatakan tidak memiliki sirip, kecuali sirip ekor yang juga tereduksi, sementara sidat masih memiliki sirip yang jelas. Ciri khas belut yang lain adalah tidak bersisik (atau hanya sedikit), dapat bernapas dari udara, bukaan insang sempit, tidak memiliki kantung renang dan tulang rusuk. Belut praktis merupakan hewan air darat, sementara kebanyakan sidat hidup di laut meski ada pula yang di air tawar. Mata belut kebanyakan tidak berfungsi baik; jenis-jenis yang tinggal di gua malahan buta.Ukuran tubuh bervariasi. Monopterus indicus hanya berukuran 8,5 cm, sementara belut marmer Synbranchus marmoratus diketahui dapat mencapai 1,5m. Belut sawah sendiri, yang biasa dijumpai di sawah dan dijual untuk dimakan, dapat mencapai panjang sekitar 1m (dalam bahasa Betawi disebut moa).

Belut tidak suka berenang dan lebih suka bersembunyi di dalam lumpur. Semua belut adalah pemangsa. Daftar mangsanya biasanya hewan-hewan kecil di rawa atau sungai, seperti ikan, katak, serangga, serta krustasea kecil. Belut merupakan jenis ikan yang bisa berubah kelamin (hermaprodit) yaitu dimasa usia muda berjenis kelamin betina, dimasa berikutnya yaitu jika sudah usia tua akan berubah menjadi berjenis kelamin jantan.

Klasifikasi ilmiah menurut wikipedia :
Kerajaan:
Animalia
Filum:
Chordata
Kelas:
Actinopterygii
Ordo:
Synbranchiformes
Upaordo:
Synbranchoidei
Famili:
Synbranchidae
Genera
Macrotrema
Monopterus
Ophisternon
Synbranchus

Budidaya Belut

Secara klimatologis belut tidak membutuhkan kondisi iklim dan geografis yang spesifik. Ketinggian tempat budidaya ikan belut dapat berada di dataran rendah sampai dataran tinggi. Begitu pula dengan kelembaban dan curah hujan tidak ada batasan yang spesifik.
Kualitas air untuk pemeliharaan belut harus bersih, tidak terlalu keruh dan tidak tercemar bahan-bahan kimia beracun, dan minyak/limbah pabrik. Kondisi tanah dasar kolam tidak beracun.
Suhu udara/temperatur optimal untukpertumbuhan belut yaitu berkisar antara 25-31 derajat C.
Pada prinsipnya kondisi perairan adalah air yang harus bersih dan kaya akan osigen terutama untuk bibit/benih yang masih kecil yaitu ukuran 1-2 cm. Sedangkan untuk perkembangan selanjutnya belut dewasa tidak memilih kualitas air dan dapat hidup di air yang keruh.

Untuk kolam yang terpenting adalah media untuk dasar kolam. Media dasar kolam terdiri dari bahan-bahan organik seperti pupuk kandang, sekam padi dan jerami padi. Caranya kolam yang masih kosong untuk lapisan pertama diberi sekam padi setebal 10 cm, diatasnya ditimbun dengan pupuk kandang setebal 10 cm, lalu diatasnya lagi ditimbun dengan ikatan-ikatan merang atau jerami kering. Setelah tumpukan-tumpukan bahan organik selesai dibuat (tebal seluruhnya sekitar 30 cm), berulah air dialirkan kedalam kolam secara perlahan-lahan sampai setinggi 50 cm (bahan organik + air). Dengan demikian media dasar kolam sudah selesai, tinggal media tersebut dibiarkan beberapa saat agar sampai menjadi lumpur sawah. Setelah itu belut-belut diluncurkan ke dalam kolam.

Pengembangbiakan : Pemijahan dilakukan di kolam pemijahan dengan kapasitas satu ekor pejantan dengan dua ekor betina untuk kolam seluas 1 m 2 . Waktu pemijahan kira-kira berlangsung 10 hari baru telur-telur ikan belut menetas. Dan setelah menetas umur 5-8 hari dengan ukuran anak belut berkisar 1,5–2,5 cm. Dalam ukuran ini belut segera diambil untuk ditempatkan di kolam pendederan calon benih/calon bibit. Anak belut dengan ukuran sedemikian tersebut diatas segera ditempatkan di kolam pendederan calon bibit selama ± 1 (satu) bulan sampai anak belut tersebut berukuran 5-8 cm. Dengan ukuran ini anak belut sudah bisa diperlihara dalam kolam belut selama dua bulan atau empat bulan sebelum siap panen. Bila diperlukan bisa diberi makanan tambahan berupa cacing, kecoa, ulat besar(belatung) yang diberikan setiap 10 hari sekali.
Penyakit yang umum menyerang adalah penyakit yang disebabkan oleh organisme tingkat rendah seperti virus, bakteri, jamur, dan protozoa yang berukuran kecil.
Kepadatan penebaran benih di kolam lokasi budidaya adalah 1.5kg/m2 luas kolam. Setelah dibesarkan selama 2 bulan, jumlah belut perlu dikurangi dengancara memindahkan sebagian belut ke kolam pembesaran lain. Belut juga membutuhkan pakan tambahan seperti cacing tanah, ikan, anak kodok, atau belatung. Jumlah pakan tambahan yang harus diberikan adalah 5%/hari dari berat tubuh belut, pakan tambahan diberikan 1 kali/hari pada sore menjelang magrib karena belut mengkonsumsinya pada malam hari.

loading...

FOLLOW and JOIN to Get Update!

Peternakan dan Herbal Updated at: 02:37
loading...
Copyright@2014-2018. www.AgrobisnisInfo.com . Powered by Blogger.