Mengenal Jenis dan Budidaya Ikan Lele

Mengenal Jenis Jenis Ikan Lele


1. Clarias batrachus, dikenal sebagai ikan lele (Jawa), ikan kalang (Sumatera Barat), kan maut (Sumatera Utara), dan ikan pintet (Kalimantan Selatan).
2. Clarias teysmani, dikenal sebagai lele Kembang (Jawa Barat), Kalang putih (Padang).Clarias melanoderma, yang dikenal sebagai ikan duri (Sumatera Selatan), wais (Jawa Tengah), wiru (Jawa Barat).
3. Clarias nieuhofi, dikenal sebagai ikan lindi (Jawa), limbat (Sumatera Barat), kaleh (Kalimantan Selatan).
4. Clarias loiacanthus, dikenal sebagai ikan keli (Sumatera Barat), ikan penang (Kalimantan Timur).
5. Clarias gariepinus, dikenal sebagai lele Dumbo (Lele Domba), King cat fish, berasal dari Afrika.
Dari keseluruhan jenis ikan lele tersebut, Clarias batrachus (lele local) dan Clarias gariepinus (lele dumbo) adalah varietas ikan lele yang paling popular, sedang jenis yang lain kurang popular bahkan sudah langka dan jarang ditemukan. Sejalan dengan semakin tingginya minat masyarakat untuk mengkonsumsi ikan lele ini, jenis lele unggulan yang dewasa ini paling banyak dibudidayakan oleh peternak ikan lele, yaitu :
Ikan lele sangkuriang Ikan lele sangkuriang resmi dilepas oleh Departemen Kelautan dan Perikanan pada tahun 2004. Penelitian ikan lele sangkuriang dilakukan oleh Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Tawar (BBPAT) Sukabumi sejak tahun 2002. Penelitian ini berawal dari kekhawatiran para peternak dengan menurunnya kualitas lele dumbo yang beredar di masyarakat. Penurunan disebabkan oleh kesalahan dalam menghasilkan benih dan penyilangan yang terjadi secara terus menerus. Hingga akhirnya diupayakan untuk mengembalikan sifat-sifat unggulnya dengan cara persilangan balik (back cross).
Ikan lele sangkuriang dihasilkan dari indukan betina lele dumbo generasi ke-2 atau F2 dan lele dumbo jantan F6. Induk betina merupakan koleksi BBPAT, keturunan F2 dari lele dumbo yang pertama kali didatangkan pada tahun 1985. Sedangkan indukan jantan merupakan keturunan F6 dari keturunan induk betina F2 itu. Penamaan Sangkuriang diambil dari cerita rakyat Jawa Barat tentang seorang anak yang bernama Sangkuriang yang mengawini ibunya sendiri. Sama seperti yang dilakukan BBPAT yang mengawinkan lele jantan F6 dengan induknya sendiri lele betina F2.
Dari hasil perkawinan ini ternyata didapatkan sifat-sifat unggul seperti kemampuan bertelur hingga 40.000-60.000 butir per sekali pemijahan. Jauh berbeda dengan kemampuan bertelur ikan lele lokal yang berkisar 1.000-4.000 butir. Lele Sangkuriang juga lebih tahan terhadap penyakit, dapat dipelihara di air minim, dan kualitas daging yang lebih baik.
Hanya saja kelemahannya, peternak tidak bisa membenihkan lele Sangkuriang dari induk lele Sangkuriang. Apabila ikan lele Sangkuriang dibenihkan lagi, kualitasnya akan turun. Jadi pembenihan lele Sangkuriang harus dilakukan dengan persilangan balik.
Saat ini BBPAT sedang menggodok varian baru lele Sangkuriang, yaitu ikan lele Sangkuriang II. Jenis ini merupakan perbaikan dari Sangkuriang I. Ikan lele ini persilangan antara indukan jantan F6 Sangkuriang I dengan indukan betina F2 lele dari Afrika. Indukan lele Afrika dipilih karena ukurannya yang besar, bisa sampai 7 kilogram. Hal ini dipandang bisa memperbaiki sifat genetis lele Sangkuriang. Berdasarkan pemulianya, yaitu BBPAT, ikan lele Sangkuriang II pertumbuhannya lebih besar 10 persen ketimbang Sangkuriang dan bobotnya pun lebih bongsor.
Ikan lele sangkuriang II belum dilepas secara bebas. Pihak BBPAT masih melakukan uji multilokasi di daerah Bogor (Jawa Barat), Gunung Kidul (Yogyakarta), Kepanjen (Jawa Timur) dan  Boyolali (Jawa Tengah). Daerah tersebut memang dikenal sebagai sentra-sentra produksi lele nasional.

Ikan lele phyton
Berbeda dengan varietas unggul lainnya yang biasanya ditemukan oleh para peneliti, ikan lele phyton ditemukan oleh para peternak ikan lele di Kabupaten Pandeglang, Banten, pada tahun 2004. Ikan lele phyton merupakan hasil dari silangan induk lele eks Thailand F2 dengan induk lele lokal. Sayangnya tidak diketahui apa spesies dari indukannya dan dari generasi keberapa indukan ikan lele lokalnya berasal. Menurut para penemunya, indukan didapat dari ikan lele lokal yang banyak dibudidayakan masyarakat setempat secara turun temurun. Tapi berdasarkan beberapa literatur, lele phyton berasal dari induk betina lele eks Thailand F2 dengan induk jantan lele dumbo F6.
Ikan lele phyton mempunyai ketahanan terhadap cuaca dingin, tingkat kelangsungan hidup (survival rate) lebih dari 90%. Sementara itu, FCR mencapai 1, artinya satu kilogram pakan menjadi satu kilogram daging dihitung mulai benih ditebar sampai panen dengan siklus pemeliharaan selama 50 hari.Pada awalnya proyek Ikan lele phyton ini dilakukan untuk menjawab keluhan para peternak lele di Desa Banyumundu, Kabupaten Pandeglang. Mereka sering mengalami kerugian karena tingkat mortalitas yang tinggi dari benih lele yang dibeli dipasaran, seperti lele dumbo. Benih lele tersebut rupanya tidak cocok dibudidayakan di Desa Banyumundu yang beriklim dingin, pada malam hari berkisar 17 derajat celcius. Dengan metode try and error selama lebih dari 2 tahun akhirnya mereka menemukan varietas lele yang kemudian dinamakan Ikan lele phyton. Kualitas lele phyton ini juga diakui oleh Dinas Perikanan Budidaya Provinsi Banten.

Lele Dumbo
Jenis lele yang ini banyak dibudidayakan. Secara umum sosok lele dumbo mirip dengan lele local hanya ukuran tubuh lele dumbo lebih besar (cenderung lebih panjang dan lebih gemuk) dibanding jenis local. Qarna tubuh lele dumbo akan berubah bercak-bercak hitam dan putih bila ikan terkejut atau stress. Kondisi tersebut bersifat sementara dan akan segera normal kembali jika kondisi lingkungan kolam sudah stabil.
Jumlah sirip lele local dan lele dumbo sama, tetapi sirip keras (patil) pada lelel local lebih berbahaya daripada lele dumbo. Patil lele dumbo tidak begitu beracun bila dibandingkan dengan lele local, ukurannya juga lebih pendek dan tumpul. Sedangkan sungut lele dumbo relative lebih panjang dibandingkan dengan lele lokal. Lele dumbo tidak merusak pematang. Beberapaliteratur menyebutkan menyebutkan lele dumbo merupakan hasil perkawinan silang dua species, yakni antara lele betina Clarias fuscus dari Taiwan dan lele jantan Clarias mossambicus dari Kenya, Afrika. Dari hasil perkawinan tersebut, diduga sifat-sifat lele jantan lebih dominan.
Teknik Budidaya (Sumber : Trobos) Cara yang cukup unik dan telah berhasil dilakukan oleh Suminto, marketing dan pendiri Kelompok Pembudidaya Ikan (Pokdakan) dan UPR (Unit Perbenihan Rakyat) Dumboys yang beralamat di Mandiraja, Banjarnegara, Jawa Tengah. “Kami justru kembali ke cara organik, sistem air tertutup. Air tidak diganti dan tidak ditambah jika tidak terpaksa,” kata penyuluh perikanan swadaya ini.
Menurut pengakuan Minto, panggilan akrabnya, ia mengadopsi teknik flok/bioflok, meski tidak secanggih teknik aslinya. Sistem ini tidak dimaksudkan untuk mempercepat panen, tetapi untuk mengefisienkan penggunaan pakan dan menurunkan angka kematian.
Prinsip
Menurut Dwi Purnomo, Technical Service PT Suri Tani Pemuka wilayah Banyumas, kunci dari sistem tertutup ini adalah penggunaan kompos dan probiotik untuk menumbuhkan pakan alami seperti daphnia dan flok yang dihasilkan oleh koloni bakteri. Daphnia akan segera habis dalam beberapa hari sejak benih dimasukkan ke kolam. Setelah itu adanya sisa-sisa pakan dan kotoran ikan yang mengandung unsur C dan N akan dimanfaatkan oleh bakteri untuk membentuk flok.
Indikator keberhasilannya adalah warna air kemerahan, tanda bahwa yang tumbuh adalah bakteri, bukan plankton. “Tetapi karena kolamnya terbuka, sehingga saat penghujan air masuk kolam. Sehabis hujan itu biasanya air menghijau karena tumbuh plankton. Warna kemerahan terlihat nyata saat kemarau,” paparnya.
Pembuatan Kompos
Minto menggunakan kompos dari kotoran sapi basah yang diperam selama 20 hari – 1 bulan hingga tidak berbau. “Komposnya juga basah, toh nanti juga akan dimasukkan ke kolam jadi tidak usah dikeringkan,” katanya. Sebelum difermentasi, setiap 100 kg kotoran sapi diberi larutan mengandung tetes tebu 2 kg, probiotik 60 ml, tepung ikan 4 kg,dan urea satu sendok makan. Setelah larutan diaduk de dalam kotoran sapi, lalu ditutup dengan terpal.
“Sebulan saya menghasilkan 4 – 5 ton kompos basah. Sebagian saya jual Rp 1.000/kg,” terang Minto. Ia menyatakan kompos tidak mesti memakai kotoran sapi. Bisa juga dipakai kotoran ternak lainnya seperti kotoran kambing maupun puyuh. “Tetapi pemeramannya (fermentasi) harus lebih lama, karena sifatnya lebih ‘keras’,” jelasnya. Apalagi kotoran kambing yang lebih padat, sebaiknya dipecah terlebih dahulu. Karena tidak mau repot dan terlalu lama pengkomposannya, maka Minto menyatakan lebih suka memakai kotoran sapi.Menurut Dwi Purnomo, penggunaan tetes tebu, tepung ikan dan urea adalah untuk memberi suplai unsur C/N pada bakteri dalam kotoran dan probiotik sebagaimana prinsip flok di atas. “Urea hanya sedikit dipakai, hanya untuk membangunkan bakteri dalam kotoran sapi,”jelasnya.
Sistem Tertutup
Minto membagi dua macam air untuk kolamnya. Pertama air baru yang akan digunakan untuk budidaya. Air ini membutuhkan perlakuan khusus berupa pengkomposan dan penumbuhan pakan alami agar bisa digunakan untuk budidaya. Kedua air kolam bekas yang di-recycle/re-use agar bisa digunakan kembali. “Air bekas jika ditangani dengan benar justru lebih baik karena didalamnya sudah ada koloni bakteri yang dibutuhkan,” katanya.
Sebelum menggunakan sistem air tertutup ini, Minto harus menguras 10 petak kolam dari 70 petakan setiap hari. “Air cepat kotor, berbau, dan dinding bak/kolam juga tertutup lumut. Sehingga boros waktu, tenaga dan air,”paparnya. Setelah mengadopsi sistem baru ini, bau menyengat amonia maupun amis sisa pakan lenyap tak bersisa dari kompleks kolamnya.


FOLLOW and JOIN to Get Update!

Peternakan dan Herbal Updated at: 00:38
Copyright@2014-2018. www.AgrobisnisInfo.com . Powered by Blogger.