Loading...

Tips Petani: Amankan Produksi lewat Asuransi Pertanian

Loading...

Pemerintah bekerja sama dengan pihak swasta tengah mengembangkan asuransi pertanian demi melindungi petani dari risiko kegagalan usaha.
Puso atau gagal panen seringkali diderita petani padi. Penyebabnya mulai dari kekeringan, serangan hama sangat hebat, banjir, hingga bencana alam melanda daerah persawahan yang sulit dihindari.
Kondisi itu merupakan pukulan telak bagi petani, terutama yang kepemilikan lahannya sempit. Hasil jerih payah selama 100 hari sirna begitu saja. Belum lagi untuk mulai menanam kembali, tidak sedikit petani terpaksa berutang dari para rentenir. Imbasnya, petani kerap terkendala dalam pelunasan akibat bunga yang tidak wajar.
Untuk itu, pemerintah memberikan perlindungan bagi petani untuk meminimalkan dampak dari kegagalan panen melalui UU no.19 tahun 2013 tentang Perlindungan dan Pemberdayaan. Mulyadi Hendiawan, Direktur Pembiayaan, Ditjen Prasarana dan Sarana Pertanian Kementerian Pertanian, mengatakan, perlindungan ini akan diberikan dalam bentuk asuransi. “Jadi petani akan mendapat penggantian kerugian jika mengalami gagal panen sehingga terhindar dari peminjaman modal kerja dari pelepas uang berbunga tinggi,” terangnya ketika ditemui AGRINA.
Upaya pemerintah dilakukan cara dengan memberikan subsidi bagi petani berbentuk pembayaran premi asuransi. Dalam hal ini pemerintah akan menanggung 80% biaya premi, sedangkan sisanya merupakan kewajiban petani. Angka premi itu 3% dari pertanggungan yang dipatok Rp6 juta per hektar, atau setara dengan Rp180 ribu. Artinya petani cukup membayar premi sebesar Rp36 ribu/hektar.
Layanan ini terbilang baru bagi dunia pertanian sehingga dibutuhkan uji coba sebagai pengenalan kepada para petani. Menurut Mulyadi, uji coba itu berlangsung sejak 2012 dan sudah melampaui target untuk menjaring 3.000 ha sawah. “Realisasinya sudah sampai 3.685 ha,” imbuhnya.
Lokasi yang dipilih merupakan kombinasi antara daerah yang kecil dengan yang besar potensinya terjadi puso. Tujuannya, supaya ada dinamika di dalam praktik asuransi ini. “Memang dipilih lokasi yang kemungkinan ada klaim. Jangan sampai nggak ada klaim, kalau uji coba nggak ada klaim nggak bisa dites, bagaimana cara klaimnya, bagaimana petani ambil uangnya, pengecekan lapangannya, untuk mengetahui pihak asuransi siap atau tidak dengan kondisi seperti itu,” jelas pemegang gelar Magister Manajemen dari IPB ini.

Loading...

FOLLOW and JOIN to Get Update!

Social Media Widget SM Widgets




Peternakan dan Herbal Updated at: 19:37
Copyright@2014-2018. www.AgrobisnisInfo.com . Powered by Blogger.