Keunggulan SapiI Bali, Sapi dengan Fertilitas Super / Tinggi

Mengenal Sapi Bali, Karakteristik dan Keunggulannya 


Kapan Sapi Bali Mulai di Domestikasi? Sapi Bali adalah pemilik nama latin Bos Sondaicus merupakan  sapi asli Indonesia. Sapi tersebut  hasil penjinakan (domestikasi) dari banteng liar. Para ahli meyakini bahwa penjinakan tersebut telah dilakukan sejak akhir abad ke 19 di Bali sehingga sapi jenis ini dinamakan sapi Bali. Sampai saat ini banteng liar tersebut masih dapat ditemukan di kawasan hutan Ujung Kulon Jawa Barat, Ujung Wetan Jawa Timur terutama di Taman Nasional Baluran, dan Taman Nasional Bali Barat.

Menurut Blakely dan Bade (1992),  Romans et al. (1994)  sapi bali mempunyai klasifikasi taksonomi sebagai berikut:
  • Phylum: Chordata
  • Subphylum: Vertebrata
  • Class: Mamalia
  • Sub class: Theria
  • Infra class: Eutheria
  • Ordo: Artiodactyla
  • Sub ordo: Ruminantia
  • Infra ordo: Pecora
  • Famili: Bovidae
  • Genus : Bos (cattle)
  • Group: Taurinae
  • Spesies: Bos sondaicus (banteng/sapi Bali)
Sebagai keturunan banteng, sapi Bali memiliki warna dan bentuk tubuh persis seperti banteng liar. Kaki sapi Bali jantan dan betina berwarna putih dan terdapat telau, yaitu bulu putih di bagian pantat dan bulu hitam di sepanjang punggungnya.
Sapi bali adalah jenis sapi yang unggul asli dari Bali Indonesia, sapi ini hasil domestikasi dari banteng atau bibos banteng. Sapi ini sudah cukup banyak populasinya dan dikembangbiakkan oleh warga bali sendiri sejak lama.
Sebagaimana banteng, sapi Bali tidak berpunuk, badannya montok, dan dadanya dalam. Dibandingkan dengan sapi lain, sapi Bali jantan terkenal lebih agresif. Sapi Bali jantan bertanduk dan berbulu warna hitam kecuali kaki dan pantat. Berat sapi Bali dewasa berkisar 350 hingga 450 kg, dan tinggi badannya 130 sampai 140 cm. Sapi Bali betina juga bertanduk dan berbulu warna merah bata kecuali bagian kaki dan pantat. Dibandingkan dengan sapi Bali jantan, sapi Bali betina relatif lebih kecil dan berat badannya sekitar 250 hingga 350 kg.
Dinamakan Sapi Bali karena memang penyebaran populasi bangsa sapi ini terdapat di pulau bali. Sapi bali (Bos sondaicus) adalah  salah satu bangsa sapi asli dan murni Indonesia, yang merupakan keturunan asli banteng (Bibos banteng) dan telah mengalami proses domestikasi yang terjadi sebelum 3.500 SM, sapi bali asli mempunyai bentuk dan karakteristik sama dengan banteng. Sapi Bali dikenal juga dengan nama Balinese cow yang kadang-kadang disebut juga dengan nama Bibos javanicus, meskipun sapi bali bukan satu subgenus dengan bangsa sapi Bos taurus atau Bos indicus. Berdasarkan hubungan silsilah famili Bovidae, kedudukan sapi Bali diklasifikasikan ke dalam subgenus Bibovine tetapi masih termasuk genus bos.  Payne dan Rollinson (1973) menyatakan bahwa bangsa sapi ini diduga berasal dari pulau Bali, karena pulau ini sekarang merupakan pusat penyebaran/distribusi sapi untuk Indonesia, karena itu dinamakan sapi bali dan tampaknya telah didomestikasi sejak jaman prasejarah 3500 SM.
Sewaktu lahir sampai usia tertentu baik sapi Bali jantan maupun betina berwarna merah bata. Setelah dewasa kelamin, warna bulu sapi Bali jantan berubah menjadi hitam karena pengaruh hormon testosteron. Karena itu, bila sapi Bali jantan dikebiri, warna bulunya yang hitam akan berubah menjadi merah bata.

Sebagai salah satu ternak penghasil daging sapi Bali mempunyai keunggulan pada tulangnya yang relatif kecil sehingga persentase dagingnya bisa lebih tinggi dibandingkan sapi lainnya. Namun dengan tulang yang kecil tersebut sapi ini sering mengalami "accident" patah tulang saat turun dari truk apabila tidak disediakan fasilitas unloading yang memenuhi syarat.

Sapi Bali Betina dikenal memiliki tingkat fertilitas yang sangat bagus sehingga sangat baik apabila dikembangbiakkan secara intensif karena calving intervalnya yang lebih bagus dibanding sapi lain.

Secara fisik, sapi bali mudah dikenali karena mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:
  1. Warna bulunya pada badannya akan berubah sesuai usia dan jenis kelaminnya, sehingga termasuk hewan dimoprhism-sex. Pada saat masih “pedet”, bulu badannya berwarna sawo matang sampai kemerahan, setelah dewasa sapi bali jantan berwarna lebih gelap bila dibandingkan dengan sapi bali betina. Warna bulu sapi bali jantan biasanya berubah dari merah bata menjadi coklat tua atau hitam setelah sapi itu mencapai dewasa kelamin sejak umur 1,5 tahun dan menjadi hitam mulus pada umur 3 tahun. Warna hitam dapat berubah menjadi coklat tua atau merah bata kembali apabila sapi bali jantan itu dikebiri, yang disebabkan pengaruh hormon testosterone.
  2. Kaki di bawah persendian telapak kaki depan (articulatio carpo metacarpeae) dan persendian telapak kaki belakang (articulatio tarco metatarseae) berwarna putih. Kulit berwarna putih juga ditemukan pada bagian pantatnya dan pada paha bagian dalam kulit berwarna putih tersebut berbentuk oval (white mirror). Warna bulu putih juga dijumpai pada bibir atas/bawah, ujung ekor dan tepi daun telinga. Kadang-kadang bulu putih terdapat di antara bulu yang coklat (merupakan bintik-bintik putih) yang merupakan kekecualian atau penyimpangan  yang ditemukan sekitar kurang daripada 1% . Bulu sapi bali dapat dikatakan bagus (halus) pendek-pendek dan mengkilap.
  3. Ukuran badan berukuran sedang dan bentuk badan memanjang.
  4. Badan padat dengan dada yang dalam.
  5. Tidak berpunuk dan seolah-olah tidak bergelambir
  6. Kakinya ramping, agak pendek menyerupai kaki kerbau.
  7. Pada tengah-tengah (median) punggungnya selalu ditemukan bulu hitam membentuk garis (garis belut) memanjang dari gumba hingga pangkal ekor.
  8. Cermin hidung, kuku dan bulu ujung ekornya berwarna hitam
  9. Tanduk pada sapi jantan tumbuh agak ke bagian luar kepala, sebaliknya untuk jenis sapi betina tumbuh ke bagian dalam.
Ditinjau dari karakteristik karkas dan bentuk badan yang kompak dan serasi, sapi bali digolongkan sapi pedaging ideal, bahkan nilai mutu dagingnya lebih unggul daripada sapi pedaging Eropa seperti Hereford, Shortorn (Murtidjo, 1990).  Oleh karena itu dianggap lebih baik sebagai ternak pada iklim tropik yang lembab karena memperlihatkan kemampuan tubuh yang baik dengan pemberian makanan yang bernilai gizi tinggi (Williamson dan Payne, 1993). Sedangkan Saka et.al (2005) melaporkan untuk karkas sapi bali jantan (beef) tidak ideal karena perempatan karkas depan (nilai ekonominya lebih rendah) lebih besar (52%) daripada perempatan karkas belakang (48%), kecuali kalau dikastrasi ketika masih pedet.


FOLLOW and JOIN to Get Update!

Peternakan dan Herbal Updated at: 22:38
Copyright@2014-2018. www.AgrobisnisInfo.com . Powered by Blogger.